Lose-lose Solution

Kemarin malam, seorang kawan menyapa saya via Y!M dengan nada panik sesaat sesudah Y!M saya aktifkan.
“Mas, dah saya tunggu dari tadi. Saya ada masalah super pelik!”
“He?”
Okay, saya memang sering jadi tempat curhat dan konsultasi, di dunia nyata maupun maya, tapi jarang yang setergesa ini. Belum juga saya bertanya…
“Saudara perempuan saya dipaksa nikah!”

Ugh, okay, this is shit…

“Siapa yang paksa menikah?”
Refleks investigasi saya langsung bereaksi dengan mengumpulkan informasi.
“Ibunya. Keluarga menilai calon mantu yang dipilih mereka itu baik, padahal saudari saya tahu bagaimana brengseknya orang itu!”
“Umur berapa si cewek?”
“21, mas. Pernikahan ala Siti Nurbaya ternyata masih ada ya~”

Ya, masih ada. Saya membatin. Pikiran saya melayang ke kasus-kasus sikap-otoriter-orangtua serupa yang pernah saya temui pada teman dan kenalan. Mereka yang dinikahkan paksa untuk memuaskan hasrat orangtua, dan ada juga yang tuk mbayar hutang. Atau pada tingkat yang lebih rendah, mereka-mereka yang tidak direstui melanjutkan hidup dengan pasangan pilihannya. Orangtua pasti tau yang terbaik? Sebodoh itukah kita?

Seperti membaca pikiran saya, kawan itupun bertanya:
“Terpaksa menuruti kehendak orang tua yang seperti itu atas nama berbakti pada orang tua, apa pandangan mas?”
Entah kenapa saya jadi tertohok dengan pertanyaan yang lingkupnya sebenarnya sangat luas itu. Di mana perjodohan hanyalah satu variabel kecil didalamnya.

“Menurut saya sih, salah total. Orangtua harusnya mendukung anak menemukan hidupnya sendiri, dan bukannya mengarahkan hidup anak tuk menjadi pelengkap/sumber kebahagiaan ortu. Menyenangkan orang tua itu wajib sih, cuma kalo sampai harus mengorbankan diri sendiri…”
Saya mulai sulit bicara filosofis seperti ini. Saya belum jadi orangtua, tetapi juga masih merasa sangat tak puas dengan sejarah hidup yang pernah saya alami sebagai anak. Sulit menjawab obyektif…

“Beberapa minggu lagi dia akan dijodohkan, dan tadi dia ngontak saya: ‘Daripada dijodohkan dan menikah dengan laki-laki brengsek itu, lebih baik mbak bunuh diri!’. Saya kaget sekali. Saya bingung bisa bantu apa untuknya…”
Saya juga kaget, tentu saja. (berencana) memilih mati daripada dijodohkan itu putus asa sekali. Tapi apa solusinya? Satu hal yang selalu buat saya marah pada diri sendiri adalah ketika tidak mampu menolong saat ingin menolong.
“Ah, maaf saya sudah menyeret-nyeret mas. Saya cuma menduga, siapa atau mas ada solusi. Tak adapun tak apa.” Sang kawan melanjutkan.

Menolong…. Solusi…. Tunggu dulu!

“Ya, saya ada solusi. Tapi rada ekstrim. Cewek itu ada pacarnya? Atau orang yang disukainya gitu?
“Tak ada. Dia tak suka pacaran. Maksud mas minta dibawa lari?
“Belum sampai situ. Sekarang, seberapa besar peluangnya tuk lolos dari perjodohan ini dengan cara apapun?”
“Tak ada. Semua pihak keluarga melihat laki-laki ini baik”
“Menurutmu sendiri tentang laki-laki itu?”
“Saya tak tau, mas. Kami tinggal lain pulau. Dan ini mendadak sekali beritanya”
“Berapa lama lagi sisa waktunya sebelum perjodohan?”
“Satu atau dua minggu lagi, dan sepertinya sulit digagalkan.”

Okay, data yang cukup tuk memilih solusi. Ada tiga pihak yang terlibat di sini. Keluarga si cewek, sang jodoh, dan si cewek sendiri. Dua pihak yang pertama jelas tak bisa diakses (diperintah, dipersuasi, dieliminasi, whatever…), apalagi oleh kawan saya ini. Yang bisa diakses cuma bisa si cewek yang “sebatang kara”. Berontak tak mungkin. Kabur? Itu juga berat. Maka pilihan yang tersisa dengan berat hati saya sampaikan.

“Yang bisa saya pikirkan adalah: in those 1 or 2 weeks, she must lose her virginity to somebody else, someone she decide on her own. Kalo memang harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, jangan sampai laki-laki itu mendapatkan semuanya dari saudarimu itu!”

Lama kawan saya tertegun, dan hanya mengetikkan beberapa karakter titik-titik pada jendela chatting tuk meyampaikannya. Saya paham itu, tentu…
Setelah beberapa saat dia membalas:
“Oke, saya mendapat cukup masukan. Saya sakit kepala mendengarnya, tapi ini baik untuk dipertimbangkan. Pasti saya pertimbangkan. Terimakasih, mas…”
“Sama-sama..”







Tuk kali ini, saya yakin sekali pada solusi yang saya berikan. Yakin bahwa tak ada win-win solution pada masalah ini, sehingga lose-lose solution adalah ide terbaik. Apa pembaca juga yakin?







PS: Ini kisah nyata, & masih ada waktu sebelum perjodohan benar-benar terjadi. Kalo ada ide yang lebih jenius silahkan disampaikan, siapa tau bisa memecahkan masalah dan bisa dijadikan preseden jika ada kasus-kasus pelik seperti ini lagi. Tentu saja sebelum si cewek positif belah duren dengan lelaki pilihannya… ;)

47 Responses to “Lose-lose Solution”


  1. 1 jensen99 Januari 7, 2009 pukul 3:39 pm

    Saya selalu ingin bisa seperti Kurosaki Ichigo dkk di Bleach, yang menyelamatkan Kuchiki Rukia (dan sekarang Orihime Inoue), juga Monkey D. Ruffy di One Piece yang menyelamatkan Nico Robin. Keduanya menyerbu, bertarung habis-habisan, dan menang. Betul-betul cara idaman menyelamatkan cewek. :mrgreen:

  2. 2 frozen Januari 7, 2009 pukul 3:46 pm

    hah?! kok sama ya seperti yang dialami teman-teman saya :shock:
    kemarin saja ada tiga orang yang curhat soal ginian… :-?
    .

    …juga Monkey D. Ruffy di One Piece yang menyelamatkan Nico Robin. Keduanya menyerbu, bertarung habis-habisan, dan menang. Betul-betul cara idaman menyelamatkan cewek. :mrgreen:

    ah, yang di Ennies Lobby itu? :-D
    yah, Luffy juga kan dibantu kawan-kawannya, mengalahkan anggota Cipher Pol :mrgreen:

  3. 3 lambrtz Januari 7, 2009 pukul 3:54 pm

    in those 1 or 2 weeks, she must lose her virginity to somebody else, someone she decide on her own

    Dan tentu saja susah mencari pria idaman dalam 1-2 minggu. :?

    Emangnya orang tua wanita tersebut itu sekeras kepala apa sih? Ga bisa diajak diplomasi sama sekali ya?

  4. 4 Catshade Januari 7, 2009 pukul 4:02 pm

    Solusi saya #1: Pura-pura stres, lalu pura-pura gila. Dan mintalah cewek itu berakting gila dengan total; sedikit ngiris2 tangan atau mutilasi diri tak mengapa.

    Solusi saya #2: Berbuatlah kriminal. Dia ketahuan, diadili, dan masuk penjara, tapi setidaknya bebas dari laki-laki itu.

    Solusi lainnya kalau kepikiran akan menyusul. :?

  5. 5 The Bitch Januari 7, 2009 pukul 4:11 pm

    me? i’m outta there. peduli setan, yg penting pergi. mo brenang brenang deh.

    hey… catshade? YO, BISCUIT!

  6. 6 frozen Januari 7, 2009 pukul 4:22 pm

    @ Catshade
    bener2 dari sisi ilmu psikologi nih :-?
    btw, saya kok melihatnya (solusi 2), seperti bukan solusi. Seperti gali lubang tutup lubang gitu, dan eksesnya tidak tanggung2; dipenjara! Bukannya sama-sama nyiksa tuh :-?
    furthermore, your 1st solution, seperti gimana gitu ya, ini bukan akting kan (ya? mas jensen? kisah nyata). susah deh sepertinya, kalau yang bersangkutan tak ahli memerankan role orang yang kurang waras :-?
    .
    problematis bener…
    *garuk-garuk dagu*

  7. 7 sitijenang Januari 7, 2009 pukul 4:27 pm

    bersembunyi sambil memantu informasi sikap ortu. mongsok solusinya melepas keperawanan…

  8. 8 Irene Januari 7, 2009 pukul 5:14 pm

    ck ck edan gitu.
    tp extreme banget solusi jensen.

    kalo gw milih lari. mo dikutuk jadi batu jug silahkan. tapi gw pose nya sambil ngasih jari tengah. hahaha..tapi serius. kalo diplomasi bukan lagi option, ya its either u berontak atau diem dan hidup dengan fakta bahwah lu akan miserable for the rest of your life.

  9. 9 jensen99 Januari 7, 2009 pukul 5:45 pm

    @ frozen (1)

    hah?! kok sama ya seperti yang dialami teman-teman saya :shock:

    (salah satu) Stereotype orangtua di negara ini? :?

    yah, Luffy juga kan dibantu kawan-kawannya, mengalahkan anggota Cipher Pol :mrgreen:

    Nah, itu. Andai mungkin pasti kawan saya juga dah pimpin pasukan bebasin saudarinya. Tapi mosok mo ngalahin ortu si cewek? :|

    *dilematis*

    @ lambrtz

    Dan tentu saja susah mencari pria idaman dalam 1-2 minggu. :?

    Padahal imbalannya menggiurkan lho. Keperawanan si cewek! yang penting si cewek bisa senang sesaat sebelum “berbakti pada orangtua”. Harusnya gak ada yang nolak. :)

    Emangnya orang tua wanita tersebut itu sekeras kepala apa sih? Ga bisa diajak diplomasi sama sekali ya?

    Yang mau ngajak diplomasi siapa? Wong semua keluarga setuju. :|

    @ Catshade

    Solusimu serem… :shock:
    Knapa gak sekalian aja jodohnya atau ortunya yang diiris? :P

    @ The Bitch

    me? i’m outta there. peduli setan, yg penting pergi. mo brenang brenang deh.

    Mo durhaka ya durhaka deh. Stuju! Moga aja ceweknya brani. :D

    @ Frozen (2)

    (ya? mas jensen? kisah nyata)

    Keterlaluan banget kalo saya dicurhati kasus bohongan! :P

    problematis bener…

    Makanya kuposting. Siapa tau ada komen pencerahan datang. ;)

    @ sitijenang

    mongsok solusinya melepas keperawanan…

    Maunya, menjebak calon jodohnya dengan skandal seks? (sewa PSK, rekam pake HP diam2, sebarluaskan…) Sulit ah. :?

    @ Irene

    kalo gw milih lari.

    Mestinya sih…

    kalo diplomasi bukan lagi option, ya its either u berontak atau diem dan hidup dengan fakta bahwah lu akan miserable for the rest of your life.

    Apa harus ada UU Anti Perjodohan ya? :roll:

  10. 10 peristiwa Januari 7, 2009 pukul 5:59 pm

    *istilah belah duren lucu juga :-) , eh tapi duren kan bau! waduh kok malah ngomong ini sih *

    kalau untuk bayar utang sih ya dilihat kembali apakah sang anak rela mengorbankan dirinya untuk mengantikan beban orang tua itu. kalau iya, penderitaan apapun tak masalah!

    jadi perempuan harus kuat seperti Nyai Ontosoroh. kalau pendamping hidup anda ‘bukan manusia’ ya harus bisa menjaga diri dari dia, menjaga bukan berarti menjauh. atau jauh bukan berarti diukur dengan jarak. kalaupun suami sendiri kalau memang brengsek juga harus disiasati. saya memandang suatu masalah kasus per kasus, berbakti ya berbakti, nikah ya nikah, ibadah ya ibadah, brengsek ya brengsek, maisng-masing diberi imbalan yang sesuai. meskipun orangnya brengsek kalau mau membantu kita…?? meskipun anak brengsek kalau ngerti ma orang tua..?? ah, tap ya terserah deh..

    katanya mbah Pram, manusia harus adil sudah sejak dalam pkiran, apalagi dalam perbuatan *halah*

    atau kalau punya uang tuk bayar utang ortu ya di bayar saja, meski utang teman. gali lubang tutup lubang gak apa, yang penting gak masuh mulut singa!

    *tapi sepertinya cewek yang akan dijodohkan tak berdaya melawan, jadi yah..selamat tertindas, dan pesan lagi tuk mbak ceweknya, jangan berharap keadilan dari seorang brengsek!

    sekian, terimakasih

    eh, tapi sebelumnya numpang tanya, setelah komentar sepanjang ini saya merasa kehilangan sesuatu. bagi yang merasa menemukan mohon segera dikembaliken. hormat saya!

    saya kehilangan akal sehat

  11. 11 peristiwa Januari 7, 2009 pukul 6:07 pm

    upacara belah durennya apa mirip upacara ritual illuminati dalam novel da vinci code itu yah? eh, atau illuminati itu dalam novel iblis dan malaikat ya, kok lupa saya..

  12. 12 om4gus Januari 7, 2009 pukul 6:53 pm

    paling tidak masih ada satu pihak yang tau kalo hal itu adalah sebuah kesalahan. jadi, tinggal pergi dua minggu, siapa tau boleh balik lagi. lain
    lagi kalau sang gadis sudah di doktrin sejak bayi untuk selalu nurut orang tuanya apapun keputusan bodoh yang mereka ambil. apakah ini juga termasuk pemaksaan?

  13. 14 dnial Januari 8, 2009 pukul 12:09 am

    Opsi yang kepikiran :

    1. Nggak perlu se-ekstrim kehilangan keperawanan (beneran). Sebuah pengakuan bohong pada sang calon suami(paksaan), “Mas, tapi saya sudah nggak perawan lagi” itu cukup. Lain lagi kalau sang suami jujur menjawab, “Saya juga, berarti kita cocok” (doh!) Opsi lain mengaku kena penyakit Raja Singa atau HIV AIDS (pokok harus STD – Sexually Transimtted Disease).

    2. Seperti kata Irene. Diam berarti setuju, tidak melawan berarti menerima. Semakin keras perlawanan maka akan semakin menunjukkan keseriusan. Siapa tahu ortu memang (hanya) menganggap enteng keengganan sang cewek sebagai, “cold feet” biasa. Lari memang opsi yang baik untuk menunjukkan keseriusan. Seminggu – sebulan mungkin cukup. Efek lebih besar jika sang anak ternyata biasanya nurut.

    3. Membongkar kebusukan sang cowok. Lengkap dengan foto dan video. Emang bisa dalam 2 minggu?

    4. Cari orang yang dihormati untuk bicara sama ortu. Keluarga? Kalau semua keluarga setuju, bisa beralih ke pihak luar, Pendeta, Ustadz, Pak Polisi, atau teman keluarga yang dihormati.

    5. Keempat cara di atas tidak mutually exclusive, artinya bisa dilakukan bersamaan. Maksudnya, sambil negosiasi berlangsung oleh orang yang dihormati, si cewek lari ke tempat lain setelah mengaku nggak perawan ke cowok itu ataupun ke keluarga, di sisi lain temannya menguntit cowok itu.

    Itu dulu deh… Prinsip dasar problem solving-ku sih, “mulut, tangan, kaki” Diomongin dulu, kalau nggak mempan ditangani, kalau nggak mempan dilangkahi. :P

    Semoga menemukan solusi yang baik.

  14. 15 dnial Januari 8, 2009 pukul 12:23 am

    “Yang bisa saya pikirkan adalah: in those 1 or 2 weeks, she must lose her virginity to somebody else, someone she decide on her own. Kalo memang harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, jangan sampai laki-laki itu mendapatkan semuanya dari saudarimu itu!”

    Sok psikolog :
    Biasanya, saat orang tertekan, pikiran bawah sadarnya muncul. Sebuah pola yang dia percayai muncul. Dalam statemen ini terlihat bahwa Jensen memang mesum. :P

    *dilempar bom*

  15. 16 sunsettowner Januari 8, 2009 pukul 12:49 am

    sarankan yang di atas saya, batalkan/tarik kembali saran anda

  16. 17 itikkecil Januari 8, 2009 pukul 5:03 am

    kalo memang benar-benar brengsek sih, kalau saya… ini kalau saya…
    minggat dari rumah dan minta perlindungan ke pihak lain, kalau perlu ke komnas HAM…..

  17. 18 frozen Januari 8, 2009 pukul 5:19 am

    Padahal imbalannya menggiurkan lho. Keperawanan si cewek! yang penting si cewek bisa senang sesaat sebelum “berbakti pada orangtua”. Harusnya gak ada yang nolak.

    YOU’RE ROCK!
    .

    Keterlaluan banget kalo saya dicurhati kasus bohongan! :P

    tapi kalau saya amati penggal2 dialog kawan mas di atas, sepertinya dia serius :-?
    .
    .
    .
    @ dnial

    Biasanya, saat orang tertekan, pikiran bawah sadarnya muncul. Sebuah pola yang dia percayai muncul. Dalam statemen ini terlihat bahwa Jensen memang mesum. :P

    THIS! THIS! THIS!!™ :lol:

  18. 19 frozen Januari 8, 2009 pukul 5:19 am

    *lho, trade marknya nggak jalan* :-?

  19. 20 Ardianto Januari 8, 2009 pukul 7:23 am

    Masih ada ya orang tua seperti itu…

    Minta pembunuh bayaran bunuh calonnya saja :-P

  20. 21 frozen Januari 8, 2009 pukul 7:34 am

    *lah, sekarang trade marknya muncul beneran* :-?
    ada campur tangan admin blog inikah:-?

  21. 22 sitijenang Januari 8, 2009 pukul 9:29 am

    ini sebetulnya hasil akhir yg diharapkan apa ya? hutang lunaskah? mestinya orang yg tau latar belakang keluarga & cewek itulah yg paham.

  22. 23 hawe69 Januari 8, 2009 pukul 10:10 am

    oh.. karena curhat ini toh YM aku dicuekin hehehehe. anyway, that’s one of good idea, tapi agak extreme. emang tuh mbak masih virgin ? hare gene susah kali dapet cewek virgin hehehe.
    kalo pendapat gw, udah terima aja nikahnya… trus kalau memang gak kuat ngejalanin pernikahan, minta cerai aja.
    ini bukan karena dijodohin buat bayar hutang kan? ortu gw dijodohin kok, tapi ok-ok aja rumah tangganya, malah salut sama mereka.
    jadi belum tentu dijodohkan itu selalu buruk.

  23. 24 grace Januari 8, 2009 pukul 4:02 pm

    saran saya…pura2 bunuh diri aja!
    saran catshade oke itu..ada case sodara saya yang gitu, and it works. tentunya kalo orang tuanya masih punya hati ga tega liat anaknya jadi “gila”.
    Btw, yang di jodohin baik ga orgnya?
    cakep ga?
    pinter ga?
    tajir ga?
    kalo iya, ya sudahlah…kali aja emang jodhnya…belom di coba kan lagian?
    *sempet kepikiran minta di jodohin saja ma org tua malahan* :mrgreen:

  24. 25 plain love Januari 8, 2009 pukul 5:09 pm

    udah encoba hamil atau pura-pura hamil belum ituh cewek ?

  25. 26 hikarianna Januari 8, 2009 pukul 6:36 pm

    “she must lose her virginity to somebody else”
    huh gk setuju bgt aq

    “Dia tak suka pacaran”
    so, kenapa gk dicoba dgn yg dijodohin, toh dia lg gk pacaran, jgn terlalu memandang perjodohal itu malapetaka

  26. 27 joesatch yang legendaris Januari 8, 2009 pukul 6:36 pm

    okelah…sini, sini, sini bawa sini! :twisted:

    ah, pura2 aja bilang kalo memang udah ga perawan. atau khawatir ada yang mau ngetes saking nggak percayanya? diamput tenan nek iku…

    eh, mbaknya temenku malah sempet kabur dari rumah gara2 kasus model ginian, lho. dan ternyata cara itu cukup ampuh ;)

  27. 28 joesatch yang legendaris Januari 8, 2009 pukul 6:39 pm

    @ hikarianna

    lha kan si cewek udah tau kalo cowoknya brengsek. makanya dia ndak mau dijodohin. piye tho?

  28. 29 isma Januari 9, 2009 pukul 2:09 am

    setuju sama hikarianna

    walaupun menikah tidak boleh atas dasar paksaan, tapi solusi untuk melepas keperawanan oleh orng lain itu bukan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah.

    saran saya? tetep usahakan komunikasi yang baik dengan orangtua.

  29. 30 deepthroat Januari 9, 2009 pukul 3:17 am

    udah sisa berapa hari?

    aktifkan agen2 tidur yg ada di sekitar ‘cowok brengsek’ tadi. kumpulkan data2 kebrengsekannya.. disertai bukti2 foto (yg ada d hp), sms2 (colong aja hpnya dulu), semua bukti yang mungkin ada di kamarnya. dan sisanya biar roy suryo yang ngatur.

    tapi kalau sudah deadline data2nya kurang lengkap, umpankan perek terseksi (yah paling juga modal 200rb) untuknya, sebelumnya siapkan kamera hidden (pernah dengar glodok?) di kamar tempat doi bakal maen. hal ini ga jahat, kalo memang doi brengsek ya dimakanlah tu cewek (hmm…kalau cara ngetesnya seperti ini semua lelaki bisa jadi brengsek yah)

    bikin copy bukti2 tersebut menjadi 2 buah. kirim 1 ke koran gossip yang paling terkenal di kota asal tu cowok, dan yang satu kirim ke saya =P~ (tenang, semua yg ada disini nanti saya bikinin copy nya)

    ingat, pembicaraan ini tidak pernah terjadi.

  30. 31 deepthroat Januari 9, 2009 pukul 3:34 am

    yg harus diperhatikan agar misi berjalan sesuai dengan yang diharapkan :

    1. loyalitas agen tidur anda harus dipastikan kepada anda, bukan kepada dia.
    2. pastikan masing2 agen anda kunci dan sebisa mungkin bergerak dalam bentuk sel yg tidak saling kenal , paling banyak 2 orang tiap sel.
    3. brief dengan serius agen2 anda, sebelum dan sesudah misi. sentuh tombol panas empatis mereka. ngerti kan caranya menyentuh tombol panas tiap orang?

    jika mau bikin tape dengan perek :
    1. si perek tidak perlu tahu misi anda
    2. brief si perek untuk bisa memancing doi sebutin namanya saat direkam
    3. edit hasil rekaman.. pastikan dengan menggunakan tools editing wajah si perek disamarkan SECARA senatural mungkin (engineer saya bisa bikin seperti wajah yang selalu tertimpa bayangan/backlight)
    4. buat beberapa foto juga dari si perek dengan doi.

    ingat, pembicaraan ini tidak pernah ada

  31. 32 hawe69 Januari 9, 2009 pukul 5:53 am

    @deepthroat : sepertinya anda ahli dalam urusan ini.. penulis script sinetron yak hahhha

  32. 33 Fritzter Januari 9, 2009 pukul 6:50 am

    Orangtua pasti tau yang terbaik? Sebodoh itukah kita?

    Sayangnya ya, untuk sebagian besar “kita”.
    Lebih bodoh lagi, kalau sudah tau orangtua belum pasti tau yang terbaik, tapi tetap saja masih mengharapkan sandang-pangan-papan dari mereka. Konsekuensinya, aspirasi merdeka jadi tidak valid, karena manakala seorang anak yang masih “butuh” lalu menuntut tanggung jawab dan tugas hakiki orang tua :

    Orangtua harusnya mendukung anak menemukan hidupnya sendiri

    maka dengan mudahnya akan dijawab oleh si orang tua :

    Lha lalu tanggung jawabmu sendiri mana? Apa-apa masih minta orang tua gitu!

    Kebebasan dan kemerdekaan itu bukan hak yang melekat, namun adalah hak yang harus direbut. You have to earn freedom, not ask for it.

    …si cewek yang “sebatang kara”. Berontak tak mungkin. Kabur? Itu juga berat.

    Tipe protagonis sinetron? Perempuan menye2 yang gak bisa apa2?
    Yang model begini memang layak terinjak dan teraniaya.
    Kalo segala gak mungkin, segala berat, ya telan saja itu pil pahit. Kalo beruntung, bisa jadi itu putaw. Orang yang memilih untuk jadi korban, memilih untuk tidak berbuat apa-apa dan hanya mengharapkan belas kasihan, tidak layak diselamatkan.
    God helps those who help themselves.

    Yakin bahwa tak ada win-win solution pada masalah ini, sehingga lose-lose solution adalah ide terbaik. Apa pembaca juga yakin?

    Tidak.
    Dari win-win kok loncat ke lose-lose.
    Lha win-lose dikemanakaaaan? Helloooo??
    Kenapa harus korbankan semua pihak kalo masih ada satu (bahkan dua) pihak yang bisa dikorbankan?
    Tinggalkan orang tua. Jadi TKI kek, tukang cuci piring kek, jaga toko kek, pembokat kek, apa kek. Mau bebas merdeka? MANDIRIlah.
    Gak sanggup? Ya sudah dia saja yang korbankan dirinya, jadi pihak yang kalah demi kemenangan orang tua dan calon suami.
    Itu ending yang layak buat orang yang malas berjuang dan mengorbankan kasih sayang platonik demi kemerdekaan hakiki.

    “Yang bisa saya pikirkan adalah: in those 1 or 2 weeks, she must lose her virginity to somebody else, someone she decide on her own. Kalo memang harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, jangan sampai laki-laki itu mendapatkan semuanya dari saudarimu itu!”

    Ah, akhirnya ada juga post yang komedik di blog ini.
    *hembus nikotin*

  33. 34 Fritzter Januari 9, 2009 pukul 7:28 am

    Btw, kalo memang belah duren itu solusi terbaik, sebenarnya gak perlu nyari orang lagi. Robek aja sendiri pake jari. Beres.
    Senengane kok repot. :cool:

  34. 35 Yudhi Abe Januari 9, 2009 pukul 7:30 am

    Kabur aja dach kalau gw, dari pada sengsara di kemudian hari

  35. 36 kahfinyster Januari 9, 2009 pukul 2:46 pm

    bner,, kabur ajah,, :mrgreen:

  36. 37 jensen99 Januari 9, 2009 pukul 3:50 pm

    Nah, sudah lebih banyak masukan. Mungkin saja bakal ada yang dianggap lebih bagus oleh kawan saya tuk disampaikan ke saudarinya daripada masukan saya sendiri (atau berharap saja si cewek tau2 ngenet trus nyasar kesini). :P
    Komen balasan saya samasekali tidak ditujukan tuk mempengaruhi opini apapun ya? :mrgreen:

    @ peristiwa

    *istilah belah duren lucu juga [...]

    Pernah baca artikel ntah dimana yang pake istilah itu. Saya niru. :P

    kalau untuk bayar utang sih ya dilihat kembali apakah sang anak rela mengorbankan dirinya untuk mengantikan beban orang tua itu.

    Itu kasus kenalan saya lho, bukan kasus diatas. Kerelaannya saya tak tau, karena saya juga cuma diceritain temannya.

    saya memandang suatu masalah kasus per kasus, berbakti ya berbakti, nikah ya nikah, ibadah ya ibadah, brengsek ya brengsek, maisng-masing diberi imbalan yang sesuai.

    Hmmm…. Ini patut digarisbawahi juga…

    [...] jadi yah..selamat tertindas, [...] jangan berharap keadilan dari seorang brengsek!

    Nah, angkat tangan juga. :mrgreen:

    BTW saya blum baca itu novel2 Dan Brown, jadi blank soal ritual belah duren disitu. :D

    @ om4gus

    Ah, welkam om! :D

    [...] apakah ini juga termasuk pemaksaan?

    Hmm… IMO itu opininya bisa macam2 tergantung banyak variabel om, gak bisa jawab saya. :)

    @ edy

    Yo! Fuckin’ shit…

    @ dnial

    Deretan solusi yang menarik. Smoga ada yang pas dan bisa diaplikasikan. :D

    Biasanya, saat orang tertekan, pikiran bawah sadarnya muncul. Sebuah pola yang dia percayai muncul. Dalam statemen ini terlihat bahwa Jensen memang mesum. :P

    Sialan! :evil: :lol:

    @ sunsettowner

    Semua komen dibaca kok sama yang kawan yang minta masukan. Lagian dia belum bilang kalo saran saya sudah disampaikan ke si cewek. Tenang saja. ;)

    @ itikkecil

    [...] minggat dari rumah dan minta perlindungan ke pihak lain, kalau perlu ke komnas HAM…..

    Kita doakan berani kabur

    @ frozen

    Heh, sumbang saran dong! Malah ikut2 ngatain saya mesum! :evil: :mrgreen:

    @ Ardianto

    Minta pembunuh bayaran bunuh calonnya saja :P

    Mengeliminasi si calon sebenarnya sudah kuanggap ide yang berat direalisasikan. Tapi ya liat saja.

    @ sitijenang

    ini sebetulnya hasil akhir yg diharapkan apa ya? hutang lunaskah?

    Eeh, perkara hutang itu kasus lain yang saya sertakan sebagai contoh perjodohan, tapi bukan kasus yang sedang kita bicarakan ini. :D
    Hasil akhir? Ntahlah. Biasanya sih perjodohan itu tuk mempererat hubungan (ntah apa) kedua orang tua pasangan; kadang juga perjanjian; sering juga sekedar tradisi dalam suatu masyarakat. Dan lain-lain…

    @ hawe69

    oh.. karena curhat ini toh YM aku dicuekin hehehehe.

    Waduuuh, maaf.. maaf.. m(_ _)m

    emang tuh mbak masih virgin ?

    Saya tak punya info itu (& tak mau tanya juga). Itu asumsi berdasarkan info kalo si mbak “tak suka pacaran”.

    hare gene susah kali dapet cewek virgin hehehe.

    Hmm… :|

    ini bukan karena dijodohin buat bayar hutang kan?

    AFAIK bukan.

    jadi belum tentu dijodohkan itu selalu buruk.

    Betul sih. tapi ini masalahnya kan si cewek dah gak suka calonnya dari pertama. Kalo calonnya diganti mungkin aja mau.

    @ grace

    saran catshade oke itu..ada case sodara saya yang gitu, and it works.

    Sungguh? Wah, berarti memang hebat si kucing itu… :D

    *berbalik memuji*

    Btw, yang di jodohin baik ga orgnya?

    Kata si cewek ke sang kawan sih, cowok itu brengsek.. (ada ditulis diatas koq)

    *sempet kepikiran minta di jodohin saja ma org tua malahan* :mrgreen:

    Gak ada resiko bakal gak direstui, ya? :mrgreen:

    @ plain love

    udah encoba hamil atau pura-pura hamil belum ituh cewek ?

    Sejauh diceritain sih belum, cel. Tapi kalo musti hamil kan tu cewek musti punya pacar dulu kan? Masa hamil dari temen? :?

    @ hikarianna

    huh gk setuju bgt aq

    Just feel free, mbak. Makasih dah join :)

    joesatch yang legendaris

    Nah, datang ini sang legenda!

    okelah…sini, sini, sini bawa sini! :twisted:

    Kalo sama kamu sih, saya percaya si cewek bakal merem-melek puas & minta nambah. Masalahnya setau saya si cewek jauh dari Jogja, eh… :P
    Saranmu kabur juga ya? Sip2

    @ isma

    [...] bukan menyelesaikan masalah, malah menambah masalah.

    Namanya saja solusi sama-sama rugi. :P

    @ deepthroat

    udah sisa berapa hari?

    Eeh, ini kuposting 2 hari sesudah si kawan curhat. & gak ada apdet apapun sampai komen ini kuketik.

    Anyway, kawan saya juga membaca komen anda. Saya mewakilinya ngucapin makasih. Selebihnya kita serahkan pada kawan saya.

    @ Fritzter

    Eh, dateng juga… :D
    Opinimu tentang relasi ortu-anak, no komen deh!
    Soal si cewek:

    Kalo segala gak mungkin, segala berat, ya telan saja itu pil pahit.

    Nah, yang kukasi juga cuma painkiller kan? :P

    Lha win-lose dikemanakaaaan? Helloooo??

    Hm? Terpaksa nikah saat perawan itu kan kuanggap win tuk pihak ortu/jodoh saja, sementara berontak & kabur (batal nikah whatever) kuanggap win tuk si cewek saja (dan infonya: “gak bisa”). Jadi saya skip langsung ke double lose.
    Lagian banyak ide win-lose dari blogger lain disini kan?

    Gak sanggup? Ya sudah dia saja yang korbankan dirinya, jadi pihak yang kalah demi kemenangan orang tua dan calon suami.

    Kalo dia bisa mandiri (sebagai modal berontak) dalam waktu 2 minggu kurang ya baguslah. Dalam benak saya “ending yang layak” seperti katamu itu juga tak terhindarkan, makanya saya cuma sarankan “pelarian sesaat” ketimbang ide-ide lebih rasional seperti dari blogger2 lain disini. ;)

    Robek aja sendiri pake jari. Beres.

    Tujuan belah duren adalah menjadikan si brengsek sebagai bukan-yang-pertama. Idemu gak memenuhi tujuan.

    @ Yudhi Abe | kahfinyster

    Kabur juga? Sip, nanti yang punya masalah yang mutusin. :)

  37. 38 grace Januari 9, 2009 pukul 4:15 pm

    Gak ada resiko bakal gak direstui, ya?

    Bukan itu, masalahnya biasanya kalo yang nyodorin calon ibu saya, mantap-mantap! saya dan beliau setipe sih :P
    Masalahnya, beliau itu ndak mau jodohin saya..katanya saya ga ada yang bisa di banggain, mangkanya ibu saya bakal malu kalo jodohin saya..
    *benar2 ibu yang kejam*
    Waktu orang-orang dipaksa di jodohin sama orang tuanya, saya malah maksa-maksa orang tua saya buat di jodohin ma mereka :mrgreen:

  38. 39 restlessangel Januari 9, 2009 pukul 6:31 pm

    hohohho….solusinya, soooooo jensen banget, gt loh :lol:
    kok ga heran ya… :mrgreen:

    kl kuperhatikan, sptnya hubungan antara temenmu dan saudarinya itu cukup dekat ya. sebaiknya, temenmu itu mendampingi saudarinya, walau ga bisa hadir. at least kasi dukungan moril lwt teknologi, hp kek.
    si cewe kan bisa dikasi ide utk meminta didampingi oleh orang yg cukup disegani ortunya tp juga mau membantu si cewe, misal gurunya ato siapa kek.

  39. 40 Fritzter Januari 10, 2009 pukul 5:37 am

    Nah, yang kukasi juga cuma painkiller kan? :P

    Oi, buat tipe mainstream macam gitu itu mah pain-generator.
    Masih jarang ada perempuan Indonesia yang secara fisik bisa menikmati seks pertamanya. That’s a fact.
    Apalagi kalo tujuannya cuma mengamankan keperawanan.

    Tujuan belah duren adalah menjadikan si brengsek sebagai bukan-yang-pertama. Idemu gak memenuhi tujuan.

    Lho fingering juga menjadikan dia sebagai bukan-yang-pertama.
    Siapa lagi yang lebih layak jadi yang pertama selain si cewek sendiri? :roll:
    Apalagi untuk tipe “tak suka pacaran”. Ini malah win-win lho.

  40. 41 jensen99 Januari 12, 2009 pukul 11:06 am

    @ grace

    Saya takjub pada ceritamu, sungguh! :shock:
    Sejauh saya kenal grace, kamu terlalu bagus tuk ditolak. Karena itu saya harap grace bisa nemu sendiri pacarmu, seseorang yang mampu melihat (& membanggakan) apa yang tidak mampu dilihat (& dibanggakan) oleh Ibunda. ;)

    @ restlessangel

    hohohho….solusinya, soooooo jensen banget, gt loh :lol:
    kok ga heran ya… :mrgreen:

    Saya juga gak heran kok kalo kamu ngerti. :mrgreen:

    *siul-siul*

    @ Fritzter

    Oi, buat tipe mainstream macam gitu itu mah pain-generator.

    Heh? (o_0)”\

    Masih jarang ada perempuan Indonesia yang secara fisik bisa menikmati seks pertamanya.

    Kecuali cowoknya selevel Joesatch atau kamu, IMO… :mrgreen:

    Siapa lagi yang lebih layak jadi yang pertama selain si cewek sendiri? :roll:

    Well, secara teknis memang perawannya ilang, tapi secara hukum dia masih perawan kalo cuma pake jari, bahkan dildo sekalipun.
    Senggama. Harga mati. ;) :mrgreen:

  41. 42 The Bitch Januari 12, 2009 pukul 7:57 pm

    At least when I masturbate I made love with the person I love the most.

    — Woody Allen

    HAIL FINGER AND DILDO!!!

    emang cuma cowok aja yg bisa ‘menipu’ kelaminnya?!

  42. 43 jensen99 Januari 13, 2009 pukul 10:52 am

    The Bitch

    HAIL FINGER AND DILDO!!!

    Okay.. okay… Hail Fleshlight either… ;)

    emang cuma cowok aja yg bisa ‘menipu’ kelaminnya?!

    Kalo konfrontasi sama kamu saya nyerah deh… :mrgreen:

  43. 44 lambrtz Januari 25, 2009 pukul 6:48 am

    Ini gimana kabarnya? Sudah lebih dari 2 minggu kan?

  44. 45 jensen99 Januari 25, 2009 pukul 7:06 am

    @ lambrtz

    Euh, saya tidak dikabari lagi sama sekali tuh, ntah tentang saran mana yang disampaikan, atau tentang jadi tidaknya perjodohan. Tak ada kabar apapun. :)
    & karena saya juga tidak penasaran sama sekali, jadi gak berniat tanya apdet. :mrgreen:
    Biar sajalah…

    Harap saja temen yang curhat kasus ini baca komenmu diatas. ;)

  45. 46 Eka Situmorang-Sir November 24, 2009 pukul 3:01 am

    Skr gimana kabarnya itu perempuan?

  46. 47 jensen99 November 24, 2009 pukul 1:54 pm

    ^

    Seperti reply saya buat lambrtz tepat diatas komen mbak itu, saya gak dikabari lagi apdet kasus itu, dan tidak juga menanyakannya. ;)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Januari 2009
M S S R K J S
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

Lapak Berkicau

  • @nonadita "diam-diam Dewi mengambil sebilah pisau yang disimpan di tas kecilnya..." 2 hours ago
  • @alderina org korea itu homogen, wajar kalo satu negara pny standar kecantikan (bentuk mata, hidung, rahang dll) yg sama. No problem. 3 hours ago
  • RT @CiFWatch: Zionism is the right of the Jewish people to self determination. No more, no less. Its roots lie in the Jewish exodus from #E3 hours ago
  • @alderina takut apa? 3 hours ago
  • Nyaris jam 3. Internet macet. Mari tidur... 3 hours ago
  • RT @RyuDeka: Udah lama gak ada yang bilangin "Kamu hati-hati ya. Nanti sampe rumah kabarin biar aku tau kamu udah sampe dengan selamat.." n… 6 hours ago
  • @alexatjeh btw mensen dr @CatatanGentole kok gak muncul di tab mensen sy ya? Jd bingung alex reply soal apa. :| 6 hours ago

Follow me on Twitter


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.101 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: