Sepanjang senin (6/4) mulai sore sampai berjam-jam sesudahnya, semua stasiun TV dipenuhi berita seputar jatuhnya pesawat Fokker 27 TNI-AU di Bandung yang menewaskan 24 anggota TNI.
Berita itu masih hangat (breaking news) saat ayah saya nonton TV sore itu dan segera mengeraskan volume TV. Sayapun segera merapat ke dekat TV, menyimak beberapa liputan dari TKP. Tak lama kemudian saya berkomentar:
“orang tewas segitu sih gak masalah, tapi rugi pesawatnya.”
Ayah saya segera mendelik dengan pandangan tidak senang.
“Kamu ni gimana sih? Ya lebih berharga orangnya dong!”
“Tentara sih gampang diganti, tapi gak ada sejarahnya pesawat AURI jatuh trus diganti.”
“Tapi ini orang meninggal blablabla…”
“lebih mahal pesawatnya!”
“…”
Beliau masih ngomel-ngomel sendiri tanda tak setuju dengan saya, dan mungkin akan makin tersentuh dengan kecelakaan ini manakala berita-berita selanjutnya fokus ke suasana haru keluarga korban atau profil-profil korban.
Sementara saya -yang pemerhati militer dan aviasi- malah jadi masygul begitu stasiun TV mulai kilas balik pesawat-pesawat TNI yang jatuh setahun terakhir; statistik Fokker-27 (termasuk milik maskapai sipil) yang celaka beberapa tahun terakhir; dan hampir ngambil kalkulator waktu tau kalo pesawat yang jatuh ini merusakkan tidak kurang dari 6 pesawat dan helikopter lain di hangar yang jadi lokasi jatuhnya.
Yo, IMO, setiap individu memang spesial, tapi secara sumber daya tidak sulit (terjangkau secara biaya dan ketersediaan SDM) menggantikan personil TNI yang hilang, sekalipun andai yang meninggal Jenderal semua.
Sementara pesawat, well… dengan anggaran militer TNI sekarang, mahal untuk mengganti pesawat yang hancur dengan produk sejenis (yang sudah tidak diproduksi lagi), sementara masalah ini juga menimpa seluruh skadron TNI-AU yang arsenalnya pernah mengalami kecelakaan. Walhasil, makin sedikit saja jumlah pesawat militer kita yang rata-rata sudah perlu diganti itu, dan makin berkurang juga kekuatan udara TNI.
Jadi, lebih berharga pesawatnya kan?
29 years old mediocre PES 2009 player. Currently have no job & no girlfriend. Protestant by religion; Zionist by ideology. Better schemata in social field than science field. Fans of Chelsea, Internazionale & Persipura.

Well, kalo saya sih pake operator union aja. Secara finansial dan administratif kamu benar. Secara kemanusiaan bapakmu benar. Selesai urusan.
setuju… lebih rugi pesawatnya…
Padahal sehari sebelumnya rombongan JK kampanye berangkat naik Fokker… Hmnnn….
setuju dengan lambrtz.
IMO,tergantung dari sisi mana dulu liatnya
this..
I concur ^^
*turut berduka cita buat korbannya btw*
Kalau cuman dihitung dari uang… biaya “pengadaan” anggota paskhas seperti yang meninggal di sana juga mahal.
Katakanlah 1 dari 100 prajurit AU layak jadi paskhas, misalnya ada 10 prajurit yang meninggal(aku nggak tahu pasti), maka biayanya setara dengan pengadaan 1000 prajurit.
Tambahkan dengan biaya pelatihan dan gaji mereka (1000 orang tadi). Baru tambahkan dengan biaya yang khusus dikeluarkan AU untuk paskhas. Nilainya pasti lebih besar dari pesawat yang jatuh.
Kenapa kok harus dikali 100? Karena nggak mungkin kan kita secara pasti ngambil 10 orang trus semua pasti jadi paskhas. Banyak kualitas yang nggak terdeteksi saat awal rekrutmen.
Dan lagipula, apa gunanya ratusan pesawat modern tapi nggak ada yang bisa makai?
It’s the man behind the gun thing, mon ami…. In the hand of master, a pencil can be use to kill.
*it’s kinda cruel to compare people with money, but IMHO You and I are only assesing their skill and value to Air Force, not a human per se…*
Sama2 berharga lah. Dan saya salut dgn para prajurit tsb soal nyali mereka, memanfaatkan apa yg ada krn keterbatasan (dana). Itu sdh lama jd rahasia umum kan?
IMHO – dan sesuai dengan prinsip kami… because everyone counts, harusnya nyawa orang juga dihitunglah
saya mendukung bapakmu !
thx 4 hitting my blog, this is my return visit
berharga nyawanya lah. manusia itu….
Aha! Agree.
Iya juga. Lebih berharga pesawatnya. Lojiknya begini; kalo pesawat itu bisa hidup lebih lama, pesawat itu secara tidak langsung bisa menyelamatkan banyak orang. Jadi, dari sisi kemanusiaan pun lebih berharga pesawatnya.
Lebih berharga saya. *berlalu dengan damai*
ck, ck, ck, lebih ber-”harga” orangnya lah. masalahnya orang itu bisa tergantikan tidak? gak ada yang tahu. Klo pesawat bisa tergantikan walaupun mengocek kantong banyak.
@ lambrtz
Operator Union? (o_0)”\
Ah, pokoknya™ kamu membenarkan kedua argumen. Thanx.
*menyaksikan lambrtz ditembak kedua belah pihak*
karena agen ganda, maka skor: 1-1
@ fairyteeth
Oke, dita
skor: 1-2
@ goen
Fokker apa goen? Biasanya kalo pa’bos pake Fokker 28 deh.
@ grace
princess=maridjo. Bae’lah.
skor: 2-3
@ Arm
Arm=lambrtz.
skor: 3-4
btw saya juga berduka atas korbannya, terlebih lagi atas pesawatnya.
@ dnial
Saya mengerti. Hanya saja, semahal apapun pengadaan Paskhas;
1] SDMnya pasti tersedia, dan biaya seleksinya juga terjangkau.
FYI, tahun 1991 terjadi kecelakaan Hercules TNI-AU di Condet yang merenggut nyawa 121 anggota Paskhas (& 12 awak pesawat), jauh lebih banyak dari korban kecelakaan ini. Tapi Skadron Paskhas 461 & 462 yang kehilangan anggota saat itu sudah utuh lagi beberapa waktu kemudian, sementara Herculesnya tak pernah bisa diganti sampai sekarang.
2] Biaya pengadaan anggota Paskhas itu sudah dianggarkan secara tetap. Semahal apapun, duitnya ada. Sementara pengadaan pesawat susah payah diperjuangkan TNI-AU tiap tahun.
BtW AFAIK sebagai Korps berstatus Komando yang berdiri sendiri dalam AU, (setara Kopassus di AD) Paskhas mengadakan rekrutmen sendiri dan tidak mengambil dari satuan AU yang lain. CMIIW
Awak maksudnya? Sejauh ini belum pernah tuh TNI-AU kekurangan pilot atau awak pesawat lainnya. Kalo kekurangan pesawat sih sudah default.
But no Air Force without warplanes.
As aforesaid: “setiap individu memang spesial”
skor: 4-4
@ Takodok!
Sama berharga ya~
Yo, TNI memang terkenal jago dalam memelihara arsenal antik mereka. Meskipun begitu beberapa tipe pesawat (mis. OV-10 Bronco) terpaksa dipensiunkan sebelum punya penggantinya karena ketuaan dan berbahaya.
skor: 5-5
@ itikkecil
kami itu siapa/apa mbak?
skor: 6-6
@ ekaria27
makasih dah maen kesini, mbak.
skor: 7-6
@ Snowie
Ya.. ya..
skor: 8-6
@ Disc-Co
But you cannot establish an Air Force from pencils, not even rifles. You need (war)planes.
@ ahgentole
Lojik yang menarik. Iya sih, pesawat transport memang mengangkut orang (& barang).
ThankU opininya
*catet*
skor: 8-7
@ dana
Syukurnya tidak ada blogger yang jadi korban.
@ Taruma
Secara eksistensial, orang tak bisa diganti, tapi sebagai unsur dalam militer, tentu bisa diganti.
Seperti kata dnial, sebagai apa kita melihat para anggota TNI yang gugur ini: asset TNI AU atau human per se kan?
skor: 9-7
FYI, operator union = gabungan
BTW saya ini kayanya keseringan jadi agen ganda
Dan kedua belah pihak itu siapa? Kalo kamu cuma melihat ya berarti cuma satu pihak dong
*ga penting mode off*
lebih berharga nyawa lah…tak tergantikan. Klo benda -walaupun kondisi finansial sangat semrawut dan kanker alias ga punya duit, tapi setidaknya masih bisa ada gantinya lagi nanti..dengan cara apapun. Lha, nyawa? tak mungkin mereka bisa kembali kan ?
@ lambrtz
Ditembak satu pihakpun sudah cukup tuk menewaskanmu!
@ Emina
Yaa, seperti yang saya bilang diatas, saya menghitungnya dari kontribusi personel (& alutsista) kepada pertahanan RI (matra Udara). Nyawa tak bisa kembali, tapi personel bisa diganti. Pesawat juga bisa diganti, tapi tak pernah terjadi.
Skor akhir: 10-7 untuk yang beropini personel lebih mahal dari pesawat.
udah pernah naik Fokker? Saya belum, tapi pengen. Katanya pengalaman asik tuh, kalo mau mendarat pilotnya harus tendang dulu rodanya keluar
Kami adalah UNFPA
@ illuminationis
Naik F-27? Pernah. Emang karena main landing gear-nya keluar dari rumah mesin di sayap yang bisa keliatan jelas dari jendela, mekanisasinya itu jadi pemandangan mengesankan.
@ itikkecil
Bgitu yaa…
Thanx infonya, mbak.
sama-sama berhargalah…
kalau diliat dari sisi kemanusiaan, itu kan isinya perwira terlatih. orang seperti mereka itu ga sering dijumpai. masa sih udah rela cape-cape siap mati demi negara tapi mati karena pesawat butut. ga keren ah. terus, mereka kan dilatih bertahun-tahun, makan biaya udah banyak, sayang kalau matinya kayak gitu…
tapi yaa… meski itu pesawat butut jugaaa… anggeur we sayang… mana yang di hangar ikut rusak juga. itu biaya katanya sampe M loh… wawawawww…
:: mm… jadinya milih apa ya :: milih orang ahh ::
*salam juga*
@ YasminNCH
Hee… mula-mula bilangnya “sama-sama berharga”, habis itu dibawah bilang “milih orang ahh”. Inkonsisten™ ini!
Makasih opininya yaa~
Skor: 11-7
dua-duanya berharga:
-pesawat: dari uang rakyat juga
-personel TNI: manusia yang punya nyawa
Lebih BeRharga nyawanya….nyawa gak bisa di Nilai secaRA materi..Law pEsawat Berapapun mahaLnya Harganya Bisa dibeLi…,,
@ Ghani Arasyid
Sama berharganya ya? OK, thanx feedback-nya.
Skor: 12-8
@ cahaya
Lha kalau asuransi jiwa itu, bukannya menilai nyawa dengan uang?

Soal pesawat, kita lihat saja pada tahun berapa TNI mampu membeli yang baru (dan cepetan mana dengan merekrut personil ganti yang gugur).
Makasih komennya.
Skor: 13-8
“kalo yang mati satu orang, itu adalah tragedi
kalo yang mati banyak, itu statistik”
*agak kasar ya..*
@ sez
Di Indonesia sih, mati satu atau banyak, itu takdir!