Arsip untuk Kategori 'Keseharian'



Persocom

tl;dr: kisah tentang komputer saya dan teman-teman yang menolong perangkat keras itu tetap berfungsi setelah berbagai masalah. ;)

Kalo dihitung2, PC saya, yang biasa saya singkat panggil persocom (Iya, macam si Chi), umurnya sudah tua juga. Mulai operasional sejak akhir tahun 2004. Dengan prosesor Pentium 4 2,26GHz, cukup-cukupan lah tuk kebutuhan sehari-sehari sekedar ngetik dan multimedia, lalu di kemudian hari, juga tuk onlen. Apa yang saya kagumi dari perangkat keras ini adalah ketangguhannya menghadapi listrik padam yang sering terjadi di rumah saya. Saya tidak punya UPS tuk menjaga pasokan listrik, tapi tiap kali mati mendadak, persocom ini selalu saja bisa hidup lagi. Padahal tak jarang ketika padam, komputer masih melakukan checkdisk akibat pemadaman sebelumnya. Selalu saja bisa hidup lagi dan baik-baik saja. Membanggakan. ;)

Tapi semua benda ada usianya, dan kalau kata teman saya Athoe: mungkin sudah waktunya rusak. Sabtu, 23 Juli siang, saya baru saja online selama beberapa menit ketika listrik padam. Cuma 20 menit blackout, tapi sesudah itu komputer tidak mau menyala lagi. Selamat buat PLN, sesudah bekerja keras selama hampir 7 tahun, akhirnya kalian sukses merusak komputer saya. Siyal.. :evil:
Dari konsultasi dengan Athoe, kami simpulkan kalo kemungkinan besar komponen PSU mengalami kerusakan. Selasa 26 Juli malam, sambil mencari tiket konser GIGI yang akan manggung Rabu esoknya, saya melihat-lihat pilihan PSU di toko sambil menimbang-nimbang harganya. Setelah Athoe menjemput CPU yang rusak di rumahku pada Rabu sore, Kamis (28/7) sore esoknya kami mulai bongkar-bongkar dan mendapati bahwa memang PSU saya rusak. Saya tak perlu lagi pergi beli suku cadang karena Athoe segera mencangkok satu unit PSU dari bangkai CPU yang teronggok di kamarnya ke dalam CPU-ku. Jreng! Jalan.

Berikutnya, cek data-data. Ada dua Hard Disk terpasang di CPU. Satu Seagate 80gb bawaan persocom, satu lagi Maxtor 20gb sumbangan adik saya Jack. Yang primer selamat, akan tetapi yang sekunder ternyata free 100% waktu dipindai. Matek! Scan melalui program file recovery yang sudah ada, ternyata semua data yang hilang (16gb) masih bisa kebaca. Sayang karena program itu hanya trial (waktu itu diinstal cuma untuk menyelamatkan selembar foto yang salah delete), saya hanya bisa menyelamatkan segiga data saja saat itu. CPU pun kunaikkan ke atas motor bebek tuk dibawa pulang, dan melanjutkan pekerjaan recovery dirumah.

Tengah malam itu juga, CPU kusambung kembali ke segala kabel yang berjuntai tak beraturan dan kunyalakan. Bisa jalan dengan baik, tapi… monitor gelap total. Ternyata monitor itu juga rusak, ntah kapan. Siyal. :(
Monitor CRT 14′ itu memang sudah pernah 2 kali rusak, kerusakannya sama: tidak ada gambar. Dan sebelum peristiwa rusaknya CPU ini, gejala-gejala ke arah rusak lagi memang sudah muncul. Gambar beberapa kali hilang mendadak meskipun nanti muncul lagi. Oke, mestinya ini juga bisa diperbaiki seperti yang sudah-sudah. Tapi ternyata, tempat servis yang dulu memperbaiki monitor ini sudah gak terima monitor lagi, sementara mencari tempat servis lain ternyata sulit sekali. Ditambah lagi monitor CRT itu cuma bisa dibawa pakai mobil, jelas merepotkan saya yang kemana-mana motoran.

Sabtu, 30 Juli 2011, setelah berkonsultasi dengan mas Agun, saya memutuskan beli monitor baru. Sebuah LCD layar lebar ukuran 16′ seharga 3/4 juta. Mahal memang, dibanding kalau mau berusaha lagi memperbaiki yang lama. Tapi pertimbangan saya sederhana: monitor LCD jauh lebih hemat listrik. Ini faktor penting tuk blogger belum kaya yang tiap hari duduk berjam-jam di depan kompie. :mrgreen:

Singkat cerita, saya pulang ke rumah dengan monitor baru dan tabungan bobol, lalu selama 24 jam kemudian berkutat dengan acara data recovery yang akhirnya sukses. Semua data di HDD sekunder selamat, dan masih tersedia tempat di HDD external tuk menampungnya. Sayangnya HDD sekunder itu sendiri tak bisa lagi dipakai dan harus dipensiunkan. :|

Jadi sejauh ini, PSU rusak dan diganti teman, HDD pemberian rusak total, sementara monitor akhirnya beli baru, dan data-data selamat. Selesai masalah? Sayangnya belum. Kartu grafis onboard saya, S3 ProSavage DDR, ternyata resolusi maksimalnya hanya 1024×768, sementara monitor baru ini membutuhkan resolusi 1360×768. Upgrade driver sudah dilakukan, tapi hanya mampu meningkatkan resolusi hingga 1280×768, masih kurang dari yang dibutuhkan. Apa boleh buat, supaya gambar tetap jelas, monitor LCD skala 16:9 itu saya set jadi skala 4:3 seperti monitor CRT. Dengan sendirinya memangkas ukurannya jadi 12′ plus layar hitam di kiri-kanan. :mrgreen:

Tapi seperti kisah cobaan ramadhan Ichanx, cerita ini juga berakhir bahagia. Sabtu malam, 13 Agustus, seperti biasa, saya menghabiskan malam minggu dengan maen PES 2011 di rumah Athoe. Sebuah sms dari rumah sebelumnya mengabarkan kalo di rumah tak ada makan malam. Pada sekitar jam 10.30pm, mencari makan malam di seputaran Kotaraja-Abepura adalah perkara sulit. Dimana-mana hanya ada penjual lalapan dan nasi kuning yang tidak menggugah selera. Setelah berputar-putar dengan motor, saya memutuskan untuk membeli seporsi terang bulan keju (konon di tempat lain namanya martabak manis atau martabak keju) di penjual langganan tuk makan malam. Tidak dibawa kemana-mana, langsung saja makan sambil duduk diatas motor yang parkir didekat situ. Lagi lahap makan, Chilo datang. Teman saya yang satu ini kerja di apotik tantenya di dekat situ, dan dia lagi nyapu menjelang apotik tutup. Kami segera terlibat pembicaraan dan saya juga cerita soal masalah komputer ini. Jawaban dia sederhana saja: “Oh, saya ada VGA nganggur!” Lalu dia berlari masuk ke lantai atas apotik, dan kembali dengan meyerahkan sekeping NVIDIA GForce2 MX 400, 128mb sambil berujar pendek “nih, pakai ini saja”. Saya melongo. Masih melongo ketika dia mengisi VGA card itu ke kresek bekas bungkus terang bulan keju tadi sebelum saya memasukkannya ke tas. 17 Agustus, pas Athoe libur, dia ke rumahku dan membantu memasang keping VGA tersebut yang ternyata berjalan sangat baik. Sekarang bukan hanya monitor bisa berfungsi dengan resolusi sepenuh layar, tapi beberapa game yang kerap nge-lag ikut berjalan lancar, dan yang terpenting, saya tidak lagi mengalami masalah video dan audio yang tidak sinkron ketika memutar video berformat matroska atau mp4. Luar biasa…

Walopun tidak banyak, tapi saya diberkati Tuhan dengan teman-teman yang luar biasa baik. Terimakasih buat kalian, terutama Athoe & Chilo. Tidak lupa makasih juga buat Lambrtz yang sering kurepotkan kalo ada masalah soal perangkat lunak. God Bless you all, guys. ;)

Blackout and Knockout

Peringatan: ini cuma kisah kekesalan sehari-hari. Kalau bukan teman saya tidak usah baca, membuang waktu anda sahaja.

Ada yang pernah baca ini? Yeah, setahun yang lalu saya pernah diwawancarai wartawati harian tersebut soal Earth Hour, sehubungan twit-twit ngomel saya yang berantem dengan para pendukung Earth Hour. :lol:
Saat itu, bersama beberapa pasukan 2007 semacam Buya Alex, Almascatie, Mansup, Gunrud dkk, ada hashtag #nasibluarjawa yang lumayan populer di twiter dan fesbuk sebagai pengingat soal ketidakadilan energi. Ntahlah, saya juga tak terlalu tahu seberapa banyak onliners yang berlimpah listrik mengerti soal ketersediaan energi listrik yang tidak merata di negara ini. :|
Tahun ini, beberapa minggu lalu, menjelang Earth Hour 2011, saya masih juga nge-twit bete soal Earth Hour. Bedanya waktu itu saya di Jakarta, di angkringan Wetiga Langsat, dimana sedang ada Obsat dengan tema Earth Hour. Ah ya, saya ngetwit bukan tuk ribut macam tahun lalu. Kali ini supaya muncul di layar proyektor Obsat saja. :lol: Syukurlah Memeth mengingatkan via RT twit @obsat bahwa listrik di Indonesia terfokus di Pulau Jawa dan Bali. Itu sebabnya kampanye Earth Hour belum menyentuh luar lokasi itu. Hoo~ berarti memang saya gak perlu ikutan. Berhentilah saya jadi killjoy, lalu ngeluyur pulang duluan, emang ngejar metromini ke Cinere soalnya. :mrgreen:
BTW, kaos hitam 60+ yang dipake Titiw Akmar dan kawan-kawannya malam itu keren… :D

Beberapa hari berselang, saya sudah di Jayapura lagi, dan sudah dua minggu berlalu setelahnya. Apa kabar? Yup, masih tetap #nasibluarjawa seperti tahun lalu. Listrik padam dua-tiga kali sehari. Pagi, siang, sore, malam, subuh, anytime. Cuaca buruk, cuaca baik, bisa padam. Kadang cuma menyala sedetik, sekedar memberi harapan semu, lalu padam lagi. Ngeselin.
Sudah tidak tahu mau ngomong apa lagi. Males nyari penyebab. Setelah beberapa bulan hidup di ibukota yang gemerlap, memang mesti sadar diri kalo ini di pinggir negara. Jelas ada bedanya. Tidak perduli kalo tahun kemaren pemerintah sudah koar-koar berjanji kalo tidak akan ada lagi pemadaman karena kekuarangan daya, cuma ada pemadaman karena kerusakan atau perawatan. Persetan sebabnya. Sama gelapnya. Fitnah yang beredar malahan PLN sengaja padamkan listrik tuk menghemat persediaan solar. :mrgreen: Jadi kalau mendadak padam saya paling-paling ngetwit, lalu tidur. Apalagi kalo padam pas subuh-subuh lagi nonton bola sambil ngantuk, ya tidur lagi sajalah. :mrgreen: Satu hal yang paling saya syukuri adalah PC saya tidak pernah rusak walopun selalu mati mendadak, bahkan sering saat sedang baru startup Windows. Semoga saja keadaan membaik sesudah posting ini. :twisted:
Teman-teman, ada yang masih sering kena pemadaman?

Ngomong-ngomong soal bola, dua klub yang saya dukung juga nasibnya jelek akhir-akhir ini. Satu, Internazionale. Penuh harap bisa pimpin klasemen usai derby, malah digilas Milan 3-0. Leonardo bodoooooooh!!! Saya ingat listrik padam tepat pada saat saya mau nyalakan TV tuk nonton. Begitu listrik nyala lagi, Inter sudah tertinggal dua gol dan bermain dengan 10 pemain. Lalu ada gol ketiga, lalu saya matikan TV saja segera sesudah Cassano diusir. Tidur. Tiga subuh berikutnya, bangun lagi nonton Madrid vs Spurs, sambil nunggu update dari Giuseppe Meazza. Tapi kelar babak pertama, saya milih tidur lagi. Buang waktu nonton Madrid. Bangun-bangun disuguhi hasil akhir di newsticker MetroTV: Inter 2-5 Schalke. WTF?!? Barusan membuang peluang mempertahankan scudetto, sekarang buang peluang juga mempertahankan liga cempyen? :evil: Argh…Syukurnya saya cuma Asal Bukan Juventus sih, jadi mau Milan atau Napoli yang scudetto ya sama saja. Keknya kami pertahankan Copa Italia saja… :|
Klub berikutnya, Chelsea, tak kalah suram nasibnya. Torres masih setia mengikuti jejak Shevchenko. Wiken terakhir cuma seri dengan Stoke, sehingga jarak dengan MU makin lebar. Sialnya, Arsenal juga ikutan seri. Padahal saya ini ABMU. 3 hari berikutnya, malah takluk di kandang dari MU. Listrik padam pula ditengah pertandingan. Berharap ada gol saat saya tidur lagi, tapi ternyata Chelsea gak mampu membalas. Mengecewakan. Masih bisa membalikkan keadaan di Old Trafford sih, tapi yaa~ saya tak terlalu berharap. Sedih juga kalo musim ini tanpa trofi. Gak balik modal. Emang butuh gelandang baru menurutku, bukan penyerang baru… :(

Satu-satunya hiburan saat nulis post ini cuma kemenangan Persipura 2-1 dari tuan rumah PSPS jumat sore tadi. Poin jadi 44, semakin menjauh dari Persija, dan ada modal bagus tuk piala AFC vs Chonburi minggu depan. Sukses! ;)

Jadi, siapa yang percaya Milan dan MU masih bisa tergeser dari puncak klasemen liga masing-masing? Dan siapa jagoan kalian di liga cempyen setelah first-leg perempat final? ;)

Persipura Eps. 29: Playmaker, from Edu to Manu

Konon pengatur permainan alias playmaker adalah tipe pemain yang sulit didapat di Indonesia, dan konon pula sekarang ini hanya ada 3 playmaker lokal yang bermain di level atas di Indonesia: Eka Ramdani di Persib, Firman Utina di Persija, dan ikon legendaris Persipura, Eduard Ivakdalam. Sementara di banyak klub lain posisi tersebut diisi pemain asing.

Kapten Persipura, si no. 10.

satu-satunya pemain Persipura yang dimaklumi (gak dimarahi) penonton kalo salah umpan. LOL

Dibandingkan kedua saingan lokalnya, paitua Edu -panggilan akrab Eduard- jauh lebih senior, dan sudah berkarir di Persipura sejak Liga Indonesia pertama atau 14 musim. Selama itu pula Edu menjadi pemain paling berpengaruh dalam tim. Tetapi usia tak bisa dibohongi, pertambahan umur membuat performa Edu juga menurun. Hal ini mudah dilihat dari perubahan peran Edu, apabila dulu bermain sebagai trequartista yang rajin mencetak gol, maka setidaknya sejak 2004 Edu bermain sebagai deep lying playmaker yang daya jelajahnya lebih terbatas di lapangan tengah. Disisi lain, peran yang tak tergantikan membuat Persipura jadi bergantung pada keberadaan Edu dan seolah kehilangan kepercayaan diri apabila Edu tidak bermain, padahal regenerasi mutlak diperlukan.

Persipura bukannya tidak menyadari ini, dan berkali-kali berusaha mendidik pemain-pemain berbakat tuk menjadi gelandang pembagi bola, tapi karena tuntutan untuk selalu menurunkan Edu pada (hampir) tiap pertandingan, maka tiap gelandang yang mendampingi Edu jadi terbatas perannya sebagai “tukang angkut air”.
Setelah berkali-kali berganti pasangan, sejak pertengahan musim lalu nama Immanuel Wanggai mencuat sebagai gelandang bertahan terbaik yang dimiliki Persipura untuk mendampingi Edu di lapangan tengah Persipura. Adalah pelatih Jackson Tiago yang menemukan peran tersebut untuk Manu yang sebelumnya kurang sukses bermain sebagai gelandang serang. Memanfaatkan stamina luar biasa, tubuh kokoh dan dribble bagus, Manu sukses jadi pemutus serangan lawan yang pandai melindungi bola. Sejalan dengan kematangannya, Manu mulai piawai melepas umpan-umpan yang semakin akurat kepada para penyerang. Akan tetapi posisinya sebagai gelandang bertahan membuat Manu terbatas dalam membantu serangan.
Sebagai deputi Manu adalah Gerald Pangkali. Dianugerahi stamina dan keahlian bertahan yang sama dengan Manu, kekurangan Gerald adalah dalam urusan mendistribusikan bola. Ia hampir selalu membutuhkan Edu untuk melanjutkan bola ke depan. Pola ini menyebabkan para penyerang harus rajin jemput bola dari Edu sehingga menambah jarak ke gawang lawan.

Pada situasi ini sering muncul pemikiran saya untuk seandainya Edu bisa sesekali diistirahatkan dari starting line-up sementara Manu dan Gerald bisa ditandemkan di tengah. Tentu daya jelajah Manu bisa lebih maksimal apabila ada yang melapis tugasnya bertahan. Tak disangka pasangan ini akhirnya bisa saya saksikan pada ronde kedua big match Persipura vs Arema hari Sabtu seminggu (24 April) yang lalu dimana Persipura menghancurkan Arema 4-1. 2 gol terakhir Persipura lahir ketika Manu dan Gerald berduet. (terimakasih buat kawan saya KB yang sudah mbayari saya nonton)

Highlight seadanya bisa dilihat di klip diatas. Urutannya adalah gol Arema; gol #4 Persipura (Boaz); gol #1 Persipura (Boaz); replay gol Arema; Gol #2 Persipura (Ortizan); gol #3 Persipura (Stevi); replay gol #4 Persipura.

Pada partai yang kental bernuansa permusuhan dari Persipuramania ini -dipenuhi hujatan, makian, pelemparan botol air mineral, botol bir dan tembakan-tembakan kembang api- :( , Persipura memulai pertandingan dengan formasi yang aneh dari Jackson ketika ia memasang bek Victor Igbonefo sebagai gelandang bertahan. Ntah apa tujuannya. :? Skema-nya kira-kira seperti ini:

Boaz–Beto

Ortizan–Eduard–Victor–Manu–Ian

Bio–Ricardo–Tang

Jendry

Walaupun berhasil mencetak satu gol indah via Boaz (yang segera dibalas dengan gak kalah kerennya oleh Pierre Njanka), tapi formasi ini berjalan kacau. Victor kerap salah antisipasi serangan dan salah umpan, Edu sulit mengambil posisi dibelakang penyerang, sementara Manu jadi repot mem-back-up kedua seniornya tersebut. Di barisan belakang, Tang sudah berlagak jadi RSB, rajin overlap ke depan tapi tanpa visi, mengabaikan Ian yang miskin suplai bola. Seperti juga tiap kali Persipura bermain dengan pola 3-5-2 (dan bukan 3-4-1-2 atau 3-4-3), terlihat kekosongan antara lini tengah dan lini depan.
Berkah datang dalam bencana ketika Tang Tian cedera patah kaki, sehingga Victor harus turun menutupi posisinya. Ian Kabes bergeser ke tengah menjadi gelandang serang, sementara Stevi Bonsapia yang baru masuk, menggantikan Ian di RWB. Formasi baru yang berjalan di babak kedua ini menghasilkan satu gol hasil tembakan Ortizan Solossa, sesaat sebelum Jacko menarik keluar Edu dan menggantikannya dengan striker Tinus Pae. Proses gol ini juga meyebabkan Beto Goncalvez cedera sehingga harus diganti dengan Gerald Pangkali. Formasi Persipura kemudian menjadi sbb:

Boaz–Tinus

Ian

Ortizan–Gerald–Manu–Stevi

Bio–Ricardo–Victor

Jendry

Tidak seperti bayangan banyak penonton -yang menghujat keputusan Jacko mengganti Eduard- bahwa serangan Persipura akan tumpul tanpa playmaker andalan mereka, permainan Persipura justru menggila tanpa Edu. Dengan kemampuan menggiring bola yang prima, Ian dan Manu bisa memberi kesempatan kedua penyerang untuk mencari posisi yang lebih menguntungkan sebelum menerima bola. Sementara Gerald menjadi partner handal Manu dalam memutus serangan lawan lewat tengah. Manu juga tak perlu kuatir membantu serangan karena Gerald siap kerja kotor dibelakangnya. Dua gol akhirnya tercipta dari formasi ini, dicetak oleh Stevi dan Boaz. Walaupun kedua gol dihasilkan melalui serangan sayap, tapi yang jelas ritme permainan tidak menurun.
Satu lagi catatan penting dari skema ini adalah beroperasinya Ian sebagai penyerang lubang. Adanya penyerang ketiga terbukti selalu paten saat dipakai Persipura seperti saat mereka dua kali juara ligina.

Kinerja memuaskan dari skema tanpa Edu ini memberikan rasa optimis yang besar bagi saya bahwa Persipura tak perlu ragu bermain tanpa Edu, terutama di musim berikutnya. Memang, kehadiran Edu dalam tim bukan cuma sekedar pengatur serangan dan pemimpin di lapangan. Jauh lebih berpengaruh dari itu justru adalah kharismanya diluar lapangan. Edu adalah kepala keluarga bagi anak-anak Persipura. Seseorang yang dihormati dan didengarkan dengan sangat mutlak, dan sebaliknya menjadi pendengar bagi tiap keluh kesah para awak Persipura, termasuk masalah keluarga. Konon untuk masalah kepemimpinan diluar lapangan inilah Persipura berencana masih akan memakai jasa Edu musim depan, sebagai pemain merangkap asisten pelatih. Apapun juga, semoga saja regenerasi pengatur serangan bisa berjalan mulus, membawa kejayaan buat tim di musim ini dan musim-musim berikutnya. ;)

Oiya, dua partai berikut dari Persipura menghadapi Persib (2 Mei) dan Sriwijaya (5 Mei) akan disiarkan langsung di ANTV. Pastikan teman-teman tidak ketinggalan menyaksikannya, & may the best team win. ;)
*iklan*


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~

One-on-one

Mei 2013
M S S R K J S
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

One-on-Followers


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 945 pengikut lainnya.