Archive for the 'Pemikiran' Category

Soal selingkuh (repost)

Kalian sering khawatir kalo pasangan kalian diam-diam selingkuh? Ketika janji telah terucap, apakah itu jaminan bahwa pasangan kita menepati janjinya ? Mengapa banyak wanita yg terkejut ketika pasangannya minta ijin untuk poligami, atau meledak gak ketulungan ketika pasangan ketahuan diam-diam menduakan bahkan mungkin melimakan dia? Saya sering banget dicurhatin teman, bahwa sering sekali dia mencurigai pacarnya ketika lagi nerima telpon dari cewek lain atau pas lagi jauh.

Kamu bisa curhat gila-gilaan kalo diselingkuhi. Hanya saja pertama-tama kita harus tahu dulu membicarakan selingkuh dari sudut pandang siapa:
1) Yang berselingkuh. Pelaku
2) Yang diselingkuhi. Dah jelas dia adalah korban.
3) Orang ketiga. Partner selingkuh dari orang pertama. Pelaku juga; atau
4) Orang luar. Bukan pelaku atau korban.

IMHO, seharusnya ada opini yang berbeda dari sudut pandang tiap orang diatas, yaitu:
Orang pertama kadang tahu alasan kenapa dia selingkuh, tapi gak jarang juga tidak tahu. Ntah kapan atau gimana hatinya nyangkut sama orang ketiga dan gak bisa lepas lagi. Dia tahu kalo yang dilakukan salah, tapi gak bisa berhenti (kenapa coba?). Untuk mereka, selingkuh adalah jalan hidup.
Orang kedua adalah yang paling dirugikan, tentu saja. Secara perasaan mereka akan merasa dikhianati, dihina, disakiti, dilukai dan patah hati. Secara rasio, sekalipun andai mereka tahu kenapa mereka diselingkuhi, mereka tetep gak akan bisa nerima. Untuk mereka, selingkuh adalah kiamat.
Orang ketiga adalah yang paling sering disalahkan tapi juga yang paling diuntungkan. Mereka biasanya sok rasional dalam kasus begini. Berkata bahwa itu kehendak bebas pelaku untuk memilih antara dia atau orang kedua; atau bahwa mungkin sudah jodohnya dia dengan orang pertama. Untuk mereka, selingkuh adalah takdir yang berpihak pada dia.
Orang keempat? Mereka bisa berpihak pada salah satu dari tiga orang diatas, atau malah netral. Tapi untuk sekarang diabaikan saja dulu.

Kembali ke topik, kenapa sih, kita khawatir atau takut banget pasangan kita selingkuh? Kenapa sih gak ada yang mau diselingkuhin sama pasangannya?

Karena hubungan cinta (romantic love) dalam komitmen itu cuma boleh melibatkan dua orang. Itu sebabnya mereka disebut pasangan.

Jujur gue gak paham. Gue bukannya gak pernah cemburu, tapi gue bener-bener gak paham dengan ketakutan gue itu. Apakah kita takut terluka oleh kenyataan bahwa kita bukan satu-satunya dalam hati si dia?

Ya, tentu saja kita takut terluka. Orang yang tetap baik-baik saja saat diselingkuhi menurutku jauh lebih gak beres dibanding orang yang selingkuh dan tidak merasa bersalah. Komitmen itu ada hak dan kewajibannya; ada tanggung jawabnya. Salah satunya setia.

Apa yang terluka? Jadi dengan diselingkuhi sebenarnya yang terluka adalah ego kita untuk tidak lagi menjadi yang satu-satunya?

Yang terluka tentu perasaan. Namanya saja cinta. Kalau menjalin hubungan tanpa perasaan itu namanya kesepakatan bisnis. Atau memang belum mengerti cinta.

Yang gue pahami, selingkuh adalah nama lain pengkhianatan. Tapi gue masih gak paham, apa sebenarnya yang membuat kita terluka? Mengapa terluka?

Karena dulunya kita cinta dia, dia cinta kita; sekarang, kita masih terus cinta dia, dia cinta orang lain, padahal masih sama kita…

Mengapa takut kehilangan si dia ?

Itu artinya kita merasa memiliki dan dimiliki oleh pasangan kita.

Karena dia adalah yang terbaik bagi kita? Bagaimana kita tahu kalau belum mencoba dan melakukan perbandingan? Well, kalau dia adalah yang terbaik, apakah dengan selingkuh di belakang kita itu adalah termasuk salah satu kehebatan si dia?

Dalam sebuah KOMITMEN, pasangan HARUS jadi yang terbaik, seburuk apapun dia. Judith Viorst berkata: “One advantage of marriage is that when you fall out of love with him, it keeps you together until you fall in again.” Buat yang masih pacaran sih sebenarnya kode etiknya sama saja. Kalo dah gak cocok, putus dulu, baru cari yang lebih baik. Jangan cari yang lebih baik saat belum putus dengan yang ada sekarang (lalu jadi alasan buat putus). Lakukanlah perbandingan sebelum berkomitmen, jangan didalam komitmen.

Takut gak bisa mencintai orang lain seperti kita mencintai si dia sekarang ini? Berarti yang salah kan ada pada diri kita, kenapa kok gak bisa? Buktinya kita bisa mencintai dia, berarti bisa dong mencintai yang lain juga seperti mencintai dia.

Perasaan itu TUMBUH, sementara kenangan itu ABADI. Hubungan cinta yang kita jalin dengan orang lain terdiri dari serangkaian pengalaman yang dilewati berdua, sejalan dengan itu, perasaan juga tumbuh. Mulai dari senang menghabiskan waktu berdua, lalu pengen terus berduaan anytime anywhere, sampai gak bisa lagi hidup tanpa si dia. Sudah sampai kesitu? Cinta itu menghabiskan waktu yang tidak sedikit, dan meninggalkan memori yang dalam. Maksudku, jatuh cinta dan membangun hubungan lagi (sesudah diselingkuhi) itu tidak mustahil, bahkan itu obat terbaik kalo patah hati, tapi juga tidak selalu mudah. Karena mulai dari nol lagi, kadang butuh waktu yang panjang bahkan tuk sekedar memulai komitmen. Karena kenangan yang kuat, seringkali kita mencari sosok kekasih kita yang lama pada pasangan yang baru. Atau yang lebih ekstrim, kita gak bisa gantikan dia dengan orang lain. Karena pernah diselingkuhi, kadang kita trauma dan sulit mempercayakan hati kita pada pasangan yang baru. Karena sebab yang sama, kadang kita mencari pasangan baru untuk pelarian, sekedar menunjukkan pada mantan kalo kita juga laku. Dan masih banyak alasan lain kenapa memulai hubungan baru itu kadang-kadang tidak mudah.

Yang jelas, selama gue belum menemukan penyebab inti yang bikin kita takut untuk diselingkuhi, buat gue hal tersebut jadi absurd. Kalo ternyata intinya adalah ego kita yang terluka, berarti harusnya penyembuhannya cepet. But at least, kita gak perlu sampai putus asa.

Pastinya karena tidak mau kehilangan orang yang kita cintai.

Think this, dia selingkuh karena dia memilih untuk selingkuh. Kita tidak selingkuh karena kita memilih untuk tidak selingkuh. Maksudnya kita bukannya gak bisa selingkuh, KITA BISA SELINGKUH, tapi kita tidak mau.

Jelas selingkuh adalah pilihan; pilihan yang sangat buruk dan kejam. Tidak selingkuh seharusnya BUKAN pilihan, tapi kewajiban.

Kita tidak memilih selingkuh, entah apa alasannya: cinta, respect terhadap dia dan komitmen, whatever. It means, WE ARE BETTER THAN HIM/HER. So, kalo dia selingkuh, so what? Dia tidak cukup berharga bagi kita; bahwa kita tidak sebanding dengan dirinya. Kita kebagusan buat dia.

Saat seseorang tahu kalo dia diselingkuhi, dia tidak akan membandingkan diri dengan si pasangan lalu merasa lebih baik karena dia lebih setia, tapi dia akan membandingkan diri dengan si selingkuhan (karena umumnya mereka sama gender) dan merasa lebih buruk. It means THE THIRD PERSON ARE BETTER THAN ME.

So kalo dia selingkuh, so what ? tidak usah ditangisi, putuskan apakah kita mau kasih kesempatan lagi ato ego kita yang segede gaban ini menolak untuk kompromi. Itu kalo kita pure pake otak, rasional. Tapi rasa gak bisa bohong. Let it out, but don’t go further. Cari aja yang lain, yang sebanding dengan kita.

Ada orang yang selingkuh buat refreshing atau coba-coba karena ada kesempatan, tapi sebenarnya sama sekali gak berniat lepasin pasangannya. Orang seperti ini kalo ketahuan, akan usaha cara apapun juga biar dikasih kesempatan lagi. Tapi ada orang yang selingkuh karena memang menginginkan adanya hubungan baru. Dengan selingkuh dia justru berharap bisa diputusin atau minta putus dan resmi dengan yang baru.

Gue gak takut diselingkuhi, karena gue masih belum paham sebenarnya mengapa gue musti takut diselingkuhi. Buat gue, ketakutan itu masih gak berdasar.

Soalnya ego-mu besar. Mungkin posisi tawarmu tinggi terhadap pasanganmu dan dalam lingkunganmu. Kamu pasti cantik, menarik dan mungkin populer, jadi pasti pacarmu yang bakal rugi kalo dia menyelingkuhimu. Iya, ini nuduh.

Selingkuh itu gampang. Yg susah adalah gimana menjaga tetap pada satu komitmen sementara banyak banget godaan nan hot dan seksi disekitar saya. Saya berjuang sekuat tenaga untuk tidak tergoda walopun ngiler banget.

Jadi selingkuhan juga gampang. Tapi itu cerita lain untuk saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~













- Seperti judulnya, postingan ini repost. Aslinya ditulis lima tahun lalu di kolom komentar artikel Memeth soal selingkuh (part 1 dari 3). Komentar panjang lebar gak jelas tuk mengomentari artikel tersebut. Konon artikel itu sendiri juga Memeth repost dari tulisan dia sendiri di billboard Friendster entah jaman kapan. :)
- Saat itu blog ini belum ada, makanya ngeblog di postingan orang ketimbang posting sendiri komentar yang cukup panjang itu. Juga mengetik jawaban itu, saya masih belum menguasai tag-tag HTML seperti blockquote untuk membuat kutipan bagian demi bagian yang ingin saya tanggapi. Masih dungu, makanya jadi komentar yang jauh dari rapi. . Internetan juga masih nebeng di rumah teman. :roll:
- Karena sebagian besar isi artikel ini merupakan jawaban saya terhadap poin-poin didalam postingan yang disebut diatas, maka postingan Memeth juga saya kopas nyaris utuh kesini supaya tidak membingungkan. Postingan Memeth saya pecah per poin dan ditulis dalam bentuk kutipan berwarna biru, sementara tanggapan saya juga saya pisah menanggapi tiap poin.
- Postingan Memeth yang saya copas kesini sudah saya sunting supaya lebih padat dan jelas tanpa mengurangi maksud yang disampaikan. Balasan saya yang saya repost disini juga saya sunting dengan maksud yang sama, dengan sesedikit mungkin penambahan walopun sambil ngedit ada ide-ide baru.
- Sama-sama tulisan lawas, apa yang dipikirkan dan dirasakan Memeth juga saya jaman itu (atau sebelumnya lagi) tentang selingkuh belum tentu mewakili nilai-nilai yang kami masing-masing pegang saat ini. Bisa saja masih sama, agak mirip, atau mungkin berbeda. ;)
- Saya teringat tulisan ini saat membaca postingan Teh Nita soal selingkuh dan berkomentar disana beberapa bulan lalu. Kupikir tak ada salahnya memuat ulang tulisan sendiri yang tercecer di “rumah orang”. :mrgreen:
- Ini cuma draft lama yang saya putuskan tuk dituntaskan berhubung sedang punya koneksi. Karena itu makasih dah mau meluangkan waktu tuk membaca dan komentar disini.

Nazi Jerman itu kejam, tapi keren!

Minggu, 13 Maret 2011. Jakarta. Sepulang gereja di menara Century, saya ke Balai Kartini, mengunjungi Jakarta 7th Toys & Comics Fair 2011. Pertama kalinya mendatangi acara semacam ini, rasanya menakjubkan. Saya melihat jejeran mainan dan action-figure dari apapun yang saya tahu dan tidak tahu. Segala macam karakter anime dan film bahkan Metallica dan Motley Crue ada. Tidak ketinggalan juga puluhan costume player berseliweran dan meramaikan acara, dari yang amatiran sampai yang persis aslinya. Ada Superman, prajurit HALO (apa namanya?), Batman, Predator, Assassin Creed, Iron Man, dan bintang tamunya sendiri, Linda Le yang jadi Wonder Woman. Saya juga bertemu Felicia dan temen-teman dia yang ntah pada cosplay jadi siapa. Rame pokoknya. Acara-acara seperti ini yang selalu membuatmu membenci kotamu sendiri dan merindukan ibukota.. :mrgreen:

Di salah satu sudut ruangan, ada segerombolan cowok menunggui booth mereka. Cosplay orang-orang ini berbeda. Bukan karakter fiksi dari anime, game atau film, tapi seragam militer Waffen-SS (Pasukan tempur Partai Nazi) dan Wehrmacht (AB Jerman era Nazi) lengkap dengan dekorasi, perlengkapan dan persenjataan. Saya mendekat, melihat deretan tanda kecakapan dan tanda jasa yang dipamerkan di meja, memperhatikan tiap detil pakaian dan senjata, lalu pergi sambil sesekali menengok. Pengen mengajak ngobrol tapi tak ada ide. Sebenarnya saya pengen mengambil foto atau malah foto bersama, tapi otak zionis saya saat itu tak memberi inspirasi. Lama kemudian baru saya tahu kalo mereka itu bukan (sekedar) cosplay. Orang-orang dengan dandanan militer klasik itu disebut reenactor, sementara kegiatan reka ulang atau napak tilas peristiwa sejarah (biasanya pertempuran) yang mereka perankan disebut reenactment. Para reenactor di acara itu sendiri tergabung dalam komunitas Indonesian Reenactor alias IDR.

Camera 360

Dekorasi seragam militer Jerman era PD II yang dipamerkan di Jakarta 7th Comics & Toys Fair 2011

Menurut artikel “Reenactment Waffen-SS di Indonesia” tulisan Lucas Ony (Angkasa Edisi Koleksi No. 64: Die Waffen-SS), IDR dulunya adalah Indonesisch Das Reich, didirikan oleh Heddy Aryawirasmara dan teman-teman sehobinya sebagai wadah diskusi dan berbagi informasi tentang Partai Nazi dan militer jerman saat itu. “Kami tidak masuk ke wilayah politik dan ideologinya, hanya sebatas sejarah untuk edukasi.” Demikian kata beliau soal komunitas ini. Kelak IDR lalu berubah menjadi Indonesian Reenactor tuk menerima peminat reenactment dari sejarah lain, tidak cuma Jerman. Seperti terlihat di tautan fesbuk diatas, komunitas ini eksis dan cukup aktif berkegiatan bahkan masuk TV. Sementara kegiatan reenactment Perang Dunia II di luar negeri direkomendasikan tuk nengok kesini. Bahasanya planet lain sih.. :mrgreen:

Anggota IDR menjelang syuting Bukan 4 Mata bersama Tukul di studio TransTV.

Lama juga saya tidak pernah melihat atau mendengar orang-orang ini lagi hingga semingguan yang lalu, serangkaian foto-foto dari komunitas ini beredar di beberapa status media sosial teman-teman saya. Bukan cuma berpose dengan seragam militer Wehrmacht dan Waffen-SS seperti biasa, tapi kafe tempat ngumpulnya pun bertemakan Nazi. Soldatenkaffee namanya, lokasinya di Bandung. Kafe ini sudah ada lama, tapi entah mengapa baru heboh lagi kemaren itu. Foto-fotonya pun stok lama. Mungkin orang tidak banyak tahu tentang reenactor, reenactment dan komunitasnya, jadi cukup banyak yang heran, merasa aneh, bahkan barangkali berpikir orang-orang ini kurang waras. Seorang kawan bahkan berkomentar: “don’t they read history books?”. :mrgreen:

SoldatenkaffeopeningHypersquarePasirkalikiBandungIndones_cut

Pembukaan Kafe yang diomongin itu. Keren ya?

Hoho, jangan salah. orang-orang ini maniak sejarah, kalau tidak gak bakal reka-ulang peristiwa dan pelaku sejarah jaman dulu dengan detil seperti itu. Tapi kalo tahu sejarah, lalu kenapa Nazi? Kenapa mengenang pasukan dari rezim yang mengobarkan perang dunia? IMHO…

Satu, karena legal. Di Jerman, penggunaan atribut partai Nazi serta militer Jerman era PD II adalah pelanggaran pidana. Mungkin di Israel juga. Tapi di belahan dunia lain tidak melanggar hukum, juga di Indonesia. AFAIK, di Indonesia cuma komunisme yang dilarang. Barangkali logo palu aritnya juga. Dilarang juga adalah atribut-atribut yang berhubungan dengan separatisme. Tapi logo swastika dkk gak dilarang. CMIIW. Logo bintang Daud juga legal. :mrgreen:

Rockford 2009. Seorang reenactor yang memerankan Generalfeldmarschall Erwin Rommel sedang melakukan acara inspeksi pasukan Großdeutschland dengan ditemani oleh staffnya

Dua, seperti kata pendiri komunitasnya diatas. IDR tidak berurusan dengan politik dan ideologi. Reenactment adalah permainan belajar sejarah interaktif. Menurut akun FB mereka, IDR adalah tempat berkumpulnya penikmat sejarah, termasuk: kolektor antik/replika, kolektor buku/film sejarah, pemerhati sejarah, revisionis & sejarawan otodidak, Bloger sejarah, penikmat uniform/gear militer jadul, Komunitas living history (cosplay non-fiksi), Onthelis.. pemilik keris.. [...]. Ini cuma hobi. Disisi lain, penerus ideologi Nazi juga terus jalan sampai sekarang dengan istilah Neo-Nazi. Mereka eksis di eropa dan amerika karena umumnya mengusung supremasi kulit putih. Orang-orang ini justru warisan negatif yang sebenarnya dari Nazisme. Tidak jarang mereka melakukan teror dan kejahatan berbau rasis. Ya kalo orang Indonesia yang berseragam ala Nazi mungkin saja mereka ada juga yang anti yahudi/zionisme, tapi itu cerita lain untuk saat ini. :mrgreen:
Balik ke edukasi, pernah IDR melakukan reka-ulang satuan 23.SS-PZ.GR.FRW.1.ZUD.ID SS Nederland dimana divisi Waffen-SS ini berisi orang-orang Indonesia yang ada di Belanda saat itu. Cerita ini tak banyak diketahui umum, dan buat saya ini sejarah anak bangsa yang menarik. :D

Tiga, Nazi Jerman itu keren! Yang paling menyolok mata, seragamnya Wehrmacht dan Waffen-SS itu bagus. Rapi dan modis. Karena itu tak jarang seragam Third Reich juga populer tuk cosplay. Diluar urusan fashion, reputasi militer adalah faktor penting. Itu sebabnya banyak reenactor Nazi Jerman menyukai berperan sebagai unit-unit elit seperti divisi-divisi klasik Waffen-SS, Pasukan payung, atau polisi militer yang punya reputasi tempur jempolan. Untuk hal ini tentu perlu diingat bahwa tidak seluruh tentara Jerman era Nazi itu maniak sadis penjahat perang. Mayoritas adalah tentara sejati yang gagah berani dalam pertempuran.

third reich german nazi reenactor reenactment indonesia indonesian2

IDR dengan (dari kiri) seragam tropis Deutsche Afrikakorps, SS-Unterscharführer, SS-Obergruppenführer, Hitlerjugend panzerwaffe, Major Heer, skip satu orang, SS-Sturmmann, dan Hauptfeldwebel Luftwaffe.

Empat, kebetulan saja militer Jerman era Nazi adalah tema populer buat IDR. IDR juga mengadakan reka ulang peristiwa-peristiwa sejarah lain. Di luar negeri juga begitu.

Begitulah cerita-cerita sedikit. Sisanya kembali ke kenyamanan masing-masing saja, santai atau nggak melihat komunitas peggemar pasukannya Hitler? Kalau memang masih tetap merasa aneh ya apa boleh buat. Sayapun ngoceh sebagai orang luar, tentunya tidak bisa mewakili orang-orang yang saya bicarakan. Saya memilih melihat reenactor dan reenactment sebagai museum berjalan dan diorama hidup. Atau yang paling gampang, seperti saat pertama kali bertemu mereka: Cosplay. Kafe tematis juga sama saja. Intinya nongkrong kan? Beda hal cuma kalo pelayan kafenya juga bagian dari servis seperti maid cafe. ;)







Kredit foto:
Foto pertama diambil dari sini.
Foto-foto berikutnya diambil dari sini, sini, sini, dan sini.

Razia (pas puasa)

Suatu kebetulan yang bagus bahwa tahun ini bulan puasa berjalan berbarengan dengan agustusan, saat harapan-harapan kita tentang kemerdekaan bisa juga termasuk harapan untuk merdeka menjalankan atau tidak-menjalankan perintah agama; atau seperti kata kawan saya Pito:

Merdeka adalah nyaman makan siang di bulan Ramadhan tanpa was-was warungnya digrebek ormas “beragama”.

Apa daya, bulan puasa sudah memasuki minggu terakhir, tapi berita-berita razia warung makan masih juga menghiasi televisi saya (entahlah di TV kalian). Ini soal basi tuk dibicarakan, tapi keprihatinan yang (lagi-lagi) muncul toh jadi twit juga Jumat kemarin:

dan dibalas dengan bagus oleh celo:

Hmm.. iya juga ya? Kelihatannya argumen yang masuk akal. :? Soal benar atau tidak tentu itu relatif dan bisa belakangan. Yang melakukan razia juga koar-koar justifikasinya macam-macam. Apapun yang penting bisa nyusahin orang. :|

Sekedar rujukan saja, pagi ini ada blogger senior yang nulis soal razia dari sudut pandang yang jauh lebih bagus, dan mungkin masih ada lagi postingan-postingan lain serupa. (belum blogwalking)
Disisi lain kata temen saya gentole:

[...] banyak non-muslim yang tak bisa menahan diri untuk tidak mengomentari umat islam yang berpuasa dalam acara televisi, status fesbuk, twitter, dll.

Karena saya protestan, barangkali twit diatas juga termasuk tidak bisa menahan diri sih, toh saya tidak pernah jadi korban razia (karena disini gak ada razia). Tapi yaa… tetep aja saya gak suka razia yang gak bener (tak tahu juga “yang bener” itu seperti apa). Kurasa pelanggaran HAM itu. Apa susahnya sih, hormatilah orang yang tidak berpuasa. Toh mereka minoritas. :mrgreen:

Jadi abaikan saja postingan ini kalau anda tidak suka atau sepakat dengan razia. Semoga puasa anda komplet sampai akhir bulan nanti dan tidak kena razia. ;)

Christmas & me







Christmas is derived from pagan holiday, all good Christian with a history lesson know that, Jesus actually born somewhere in the Spring or Summer. Jesus didn’t say we have to celebrate Christmas, but we celebrate it anyways. Is it heresy like Jensen said?

Lets forget it and throw party anyways. Christian needs reason to party, all religious aura in Easter, Ascension and Pentacost are not suitable for partying. So, Christmas is the answer. It is not too religious, and more like cultural celebration.
~dnial







Catatan:
1] Postingan ini 90% kemungkinan adalah postingan yang belum selesai. Isinya baru gambar pinjaman dan kutipan, belum ada tulisan apapun dari saya. Semoga bisa diselesaikan kalo ada waktu. (sedang kekurangan waktu tuk ngeblog) :|
2] Gambar diambil dari postingan disini.
3] Kutipan dari masbro dnial diambil dari komen beliau di postingannya Kopral Geddoe.
4] Buat sora-kun, makasih banyak tuk ucapan “selamat nggak Natalan”-nya yaa! ;)

Tentang Menegkominfo (yang baru)

Apa saja PR Menteri Negara Komunikasi dan Informasi yang baru dalam 5 tahun ke depan? Kata beberapa sumber sih, tugas-tugas menteri para blogger dan netizen RI itu termasuk penyelesaian proyek Palapa Ring, proyek 7 cincin jaringan serat optik pita lebar di seluruh RI, yang akan menjadi tulang punggung perkembangan telekomunikasi Indonesia di masa depan. Pada infrastruktur itu nantinya akan bergantung banyak penerapan tehnologi, seperti e-payment di perbankan, VOIP di telekomunikasi, e-govt di institusi pemerintahan, e-learning di sekolah-sekolah, dan sebagainya. :D

peta palapa ring

Semoga nantinya internet kita menjadi lebih cepat lagi. ;)

Selain itu ada pula pelaksanaan hasil tender USO akses telepon bagi 38ribu lebih desa terpencil di seluruh RI, dan berikutnya pelaksanaan hasil tender USO akses internet untuk 4700 desa. Ini penting karena sejauh ini hanya tersedia 6,7 juta SST dibanding 220 juta penduduk, atau hanya 3 telepon per 100 orang. Dan internet masuk desa? Perlu itu… ;)
Berikutnya ada juga masalah registrasi pelanggan selular prabayar, regulasi yang dulunya sempat bikin gugup ini ternyata malah tidak berjalan baik. Inspeksi Ditjen Postel dan BRTI ke sembilan operator seluler menunjukkan persentase data pelanggan yang dianggap valid terbilang rendah. Masih soal seluler ada tugas tentang penerapan Permenkominfo mengenai Standar Kualitas Pelayanan Jasa Telepon Dasar Pada jaringan Bergerak Selular, misalnya jumlah call yang tidak mengalami dropped call dan blocked call harus diatas 90%, serta maksimum 3 menit interval sampainya sms dari pengirim ke penerima harus diatas 75%. Perlu diseriusi juga masalah kode etik iklan operator seluler. Perang tarif dan program promosi dari operator yang sekarang sudah menuju ke tahap pembodohan masyarakat. :|
Satu isu mahapenting dunia maya, tentu kita semua ingat akan pasal karet didalam UU ITE yang akhirnya memakan korban. Tentunya tidak ada yang ingin hal ini terulang terus. Walopun nantinya menang, tapi kalo musti ke pengadilan kan capek lahir batin. Selain dari UU ITE itu masih ada pula ancaman dari RUU Rahasia Negara, lagi-lagi pasal karet. Menteri kominfo yang baru tentulah harus memperhatikannya. ;)

Yah, begitu banyak tugas-tugas penting menyangkut masa depan bangsa dibidang Komunikasi dan Informasi, dan amanat itu (diproyeksikan -berdasar informasi media massa-) jatuh ke pundak… Tifatul Sembiring! Cih, mengecewakan… :(

Saya tahu Tifatul Sembiring punya latar belakang IT. Beliau lulusan STIMIK, dan pernah membidangi bidang telekomunikasi dan data processing di PT PLN, bagian Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, dan Madura. Saya juga percaya pada kemampuan manajerialnya, karena beliau presiden partai besar, dan pasti beliau bakal dibantu banyak pakar IT dalam tugasnya. Tapiiii™, tetap saja saya merasa masih ada pakar-pakar IT profesional yang lebih dewa dari TS, dan lebih pantas jadi menteri negara Kominfo. Dan somehow, saya merasa Pak SBY agak meremehkan arti penting Kementrian Kominfo dengan menjadikannya potongan kue bagi parpol sekutu. :?

Agak menyebalkan bahwa tren membagi-bagi kue ini tidak berubah juga. Apa yang terjadi 5 tahun lalu ketika SBY adalah Presiden dari partai kecil, dengan sedikit suara di DPR, yang mesti berkoalisi dengan partai Golkar, terulang lagi ketika SBY menjadi Presiden dari partai terbesar, dan partai-partai sekutunya hanya tempelan saja. Padahal IMO kalo politikus-politikus partai kawan itu tidak diakomodir seharusnya tidak masalah. Mau menjadi koalisi karena diakomodir, dan menjadi oposisi karena tidak diakomodir? Begitulah politik praktis! Mati saja..! :evil:

Tapi ya nasi sudah menjadi lontong, sudah diputuskan, dan tinggal nunggu dilantik saja. Teman-teman sendiri mungkin juga punya kandidat lain yang dirasa lebih pantas pada posisi menteri-menteri yang lain, tapi toh tidak bisa apa-apa juga. Kita hanya bisa mengawal saja jalannya pemerintahan sambil berharap tidak ditangkap karena tulisan kita. Mau harap siapa lagi kalo oposisi di Gedung Dewan begitu kecil? :mrgreen: Hedoop pemerintahan absolut!
Bagaimanapun juga, tulisan ini sesungguhnya hanya lahir dari firasat buruk sahaja. Firasat buruk tentang seorang pemimpin partai islam yang akan menjadi administrator internet di negeri ini. Firasat buruk bahwa barangkali dalam lima tahun kedepan (atau mungkin minggu depan) mendadak saya tidak bisa lagi memposting ********, mengakses situs *********, atau mendonlot film-film ***** *****, atau ntahlah. Kalian tentu mengerti maksudnya. :mrgreen:

Hari ini Pak SBY dan Pak Boediono dilantik, dan saya turut senang. Ada banyak rancangan besar mereka (dan kabinetnya) untuk bangsa ini, yang semuanya harus dijalankan dengan anggaran terbatas, sambil berharap tak ada bencana alam atau krisis ekonomi lagi. Semoga lancar jaya. Sukses, pa’bos!!! :D

My slow rock files [5] True Love?

Sekitar seminggu yang lalu, seorang teman karib mendadak meminta opini saya tentang sesuatu (via Y!M). Rupanya dia lagi kesal melihat status FB seorang kawan SMP kami dulu (yang tentu saja tidak ada di FB saya :P )

*Dengan editan dan penyesuaian ke bahasa Indonesia yang umum*

***

ipas: kamu setuju nggak kalo cinta sejati itu harus berkorban demi kau membahagiakan orang laen, walau kau tersakiti sendiri?

saya: tidak
saya: cinta yang betul itu dua arah
saya: memberi dan menerima

ipas: maksudnya?

saya: kamu mo bilang kalo “saya bahagia lihat dia bahagia (jalan dengan orang lain)” gitu?

ipas: yo!

saya: saya anggap itu sebagai “menerima kenyataan”, tapi bukan “cinta sejati”
saya: terlalu bullshit
saya: “dia jalan dengan orang lain” itu sesuatu yang kita gak bisa rubah. Mau rela atau gak rela sama saja

ipas: nah, saya sependapat
ipas: apa artinya kita berkorban tapi ujung-ujungnya malahan buat kta tersiksa seumur hidup
ipas: malas yah yg kayak gitu

saya: bikin susah diri :lol:

ipas: nah itu dia yg namanya cinta yg menyusahkan diri sendiri, (rofl)
ipas: abisnya saya kesel banget ni temen, selalu tulis cinta sejati mulu apalagi ada berkorbannya lagi
ipas: makanya saya hajar2 dia dulu

***

Feh, lagi-lagi begini, dihanguskan cinta trus buat justifikasi aneh-aneh, dan lagi-lagi orang yang dikenal pula. Cuma kalo yang waktu itu ngelesnya: cinta tak harus memiliki; yang kali ini pembelaannya berbunyi: cinta sejati harus berkorban. Puih, gimana sih? Berkorban itu ada yang didapetin, kalo hangus gini namanya jadi korban! :lol:
Masih tetep punya perasaan tu wajar, apalagi bagi pihak yang ditinggal, makanya kalo liat dia senang, rasanya ikut senang juga. Tapi itu ilusi saja, sebenarnya sedih banget, jadi gak usah mengklaim kredit dengan bilang berkorban, apalagi bawa-bawa cinta sejati. So? Just Shut the Fuck up! Jangan bikin definisi aneh-aneh tentang cinta. Bilang aja lagi mellow karena gini gitu~. Temen-temen ngerti kok, semua juga palingan pernah ngalami. ;)

Yo, ntah kenapa saya selalu misuh-misuh kalo ada omong kosong semacam ini. Padahal mungkin terlalu kejam kalo mengharapkan semua orang berlaku wajar saat patah hati, level tiap orang kan beda. :P Lagian argumen saya juga blum tentu bener. :twisted:

Anyway, tak lama sesudah chatting itu, saya membaca curhat mbak Hanny di blognya. Butuh 3 kali baca untuk memahami curhat itu (eh, itu beneran curhat kan?), tapi, itu mungkin termasuk tulisan terbaik tentang hikayat kasih tak sampai. Hanya tuturan pengakuan & perasaan yang ada disitu, tak ada pembenaran macam-macam. Disatu sisi menyentuh, tapi juga menginspirasi. Seperti kata-kata penutup mbak Hanny yang juga telah lama saya percayai:

Saya akan tetap menunggu hingga rasa yang ada tergantikan dengan sendirinya.

Great! (applause) Semoga mbak Hanny, dan temen saya itu juga, bisa menemukan akhir yang indah tuk untaian perasaan mereka masing-masing. Sekalian menyemangati diri sendiri XD
In th e nd, mengakhiri posting gak jelas ini, saya persembahkan sebuah lagu keren dari Scorpions & Lyn Liechty: “Here in My Heart”. Enjoy! ;)

Sometimes there’s a time you must say goodbye
Though it hurts you must learn to try
I know I’ve got to let you go
But I know anywhere you go
You’ll never be far ‘
Cause like the light of a bright star
You’ll keep shining in my life
You’re gonna be right

Here in my heart
That’s where you’ll be
You’ll be with me
Here in my heart
No distance can keep us apart
Long as you’re here in my heart

Won’t be any tears falling from these eyes
‘Cause when love’s true love never dies
It stays alive forever
Time can’t take away what love we had
I will remember our time together
You might think our time is through
But I’ll still have you

Here in my heart
That’s where you’ll be
You’ll be with me
Here in my heart
No distance can keep us apart
Long as you’re here in my heart

I know you’ll be back again
And ’till then
My love is waiting

*Back to reffrain~*

Tuhan=Pancasila=NKRI=Absurd (repost)

Beberapa hari kemarin saya mendapati sebuah tag dari seorang teman di akun FB saya yang mengundang saya tuk membaca sebuah post (notes) berjudul “Lelaki dan PSK”. Tulisan tersebut bisa dibaca arsipnya disini, silahkan disimak dahulu sebagai pendahuluan. Seperti yang bisa dibaca disitu, itu bukan tulisan yang rumit, jadi, beberapa kawan yang kena tag (termasuk saya) bergantian menuliskan komentar, ntah mengomentari tulisannya, sekedar absen, atau malah bercanda, dan…. satu komentar hebat kemudian menjadikan tempat itu sebagai diskusi politik tentang negara tercinta kita ini, terutama antara Buya Alex dan masbro GuhPraset.
Atas ijin sang empunya postingan, dan pemikiran saya untuk mengarsipkan diskusi (yang IMO) menarik ini ke blog pribadi tempat yang lebih mudah diakses umum, serta supaya tidak semakin OOT disitu :mrgreen: , maka saya meng-copas diskusi tersebut disini:

~Buya Alex;
Jeng Isma juga bisa menuduh Pancasila yg sakti dan NKRI yg harga mati kalo mau, sama absurdnya dgn tuhan itu :lol:

~Saya;
^

NKRI yang harga mati itu absurd.

Amen to that, my bro!! :lol:

~GuhPraset;
@Alex & @JenSen,
mungkin sudah waktunya kita (terutama saya) berhenti menelan setiap buntelan ide dengan mentah-mentah.
Pancasila dan ide NKRI itu sebaiknya tidak diterima karena dikatakan sakti, distempel ibu pertiwi atau hanya karena banyak orang meneriakkannya, apalagi karena ditodong senjata.
Begitu juga dengan ide tentang Tuhan, tentang Syariat maupun khilafah, tidak sepantasnya diterima hanya karena distempel Islam, diancam dosa atau diimingi vagina basah di surga.
Harus dibongkar dan dikritisi isinya satu-satu, harus diakui kalau memang ada yang sudah kadaluarsa dan layak buang.
Gimana saudara Alex dan JenSen, bersediakah menolong membuka pikiran saya, dan sekian banyak anak-anak bangsa yang lain?
Mungkin bisa dimulai dari penjelasan tentang absurdnya NKRI, atau mungkin Pancasila.

Terimakasih.
*siap2 daftar kursus berpikir*

~Buya Alex;
@ GuhPraset
Oh… kalo aku pribadi tdk bisa menolong. Fanatisme religius dan fanatisme nasionalis itu seperti dua sisi mata uang. Kalo satu negara ada agama mayoritas, dan tiba2 ada drama pihak asing sedang mendikte atau menjajah, maka keluarlah slogan “hizbul wathan minal iman”, yg artinya: Cinta tanah air sebagian dari iman (kalo perlu katakan itu sabda Nabi padahal slogan arabia). Perkara tanah air itu sendiri dikuasai orang2 yang justru imannya cuma pada uang dan selangkangan, itu dinafikan :lol:

Yaaa… misalnya lokalisasi itu: org2 yg religius dan atas nama agama menangkap lonte2, membakar lokalisasi, dasarnya sama saja dgn nasionalis2 HUT RI kemarin itu, sama macam SBY bicara kemerdekaan, pemberantasan kemiskinan di upacara bendera. Pancasila – seperti ayat2 ngaji – memang ada di lokalisasi? Membeli bendera Merah Putih memangnya lebih penting daripada para lonte ngecek vagina yg mungkin terancam penis kena sipilis ke dokter spesialis? Bullshit! :lol:

~GuhPraset;
@Alex,
menolong dari pandangan sempit akibat fanatisme memang anda tak akan bisa Lex, siapapun manusia ga bisa. Konon cuma Tuhan yang bisa membuka hati. Bukan itu yang saya minta bantuan.
Kebetulan, mungkin karena tuhan juga, atau mungkin karena kemauan sendiri, hati saya lagi terbuka ini, beberapa hari terakhir saya mulai bertanya-tanya, jangan-jangan saya menganggap pancasila dan nkri sebagai pilihan terbaik juga hanya karena membuta saja manut sekitar, tidak karena mengerti alasannya, tapi hanya karena fanatik. Akhirnya diri tertutup dari melihat kemungkinan-kemungkinan lain. Nah, sekarang dibuka.
Makanya itu, saat anda dan Jensen mengatakan ide NKRI dan Pancasila itu absurd, saya langsung menduga, beliau-beliau pasti punya gambaran tentang pilihan lain yang lebih baik. Makanya itu saya minta pencerahan.

~CY
[...]
Btw, kata2 absurd itu dlm rangka satir apa cemana Lex, Jensen??

~Buya Alex
@ CY
[...]
Itu opini murni. Aku selalu ketawa liat org mengklaim segala sesuatu. Ingat kuotasi Buddha yang kusuka itu? Kata Buddha:

“Do not believe in anything simply because you have heard it. Do not believe in anything simply because it is spoken and rumored by many. Do not believe in anything because it is found written in your religious books. Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders. Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations. But after observation and analysis, when you find anything that agrees with reason and is conducive to the good and benefit of one and all, then accept it and live up to it.”

I love itu. Remind me of what John Lennon ever said :D

“I believe in God, but not as one thing, not as an old man in the sky. I believe that what people call God is something in all of us. I believe that what Jesus and Mohammed and Buddha and all the rest said was right. It’s just that the translations have gone wrong.”

NKRI harga mati? Bah! Sejarah menjadi catatan, tak ada yg abadi di bawah matahari. Negara kesatuan yg sudah final? USSR tercerai-berai, dan cuma negara ini salah satu dari sedikit pemerintahan kuno yg sentralistik. Federal ditolak, otonomi dipertanyakan, konflik separatis selalu ditekan dgn alasan “Pancasila dan NKRI harga mati”, sementara akar masalah, persis sama seperti akar jembut di selangkangan para lonte: Kemiskinan dan ketidak-adilan hidup :lol:

~CY
@Alex
Mengenai sesuatu paham/ideologi/agama itu dijadikan dalih mengacungkan laras. Paham/ideologi/agama yg sesempurna apapun tetap bisa dijadikan dalih Lex. Kalau ada ideologi yg bebas dalih, maka ideologi tersebut bakal tidak punya pertahanan diri. Ini saya Ehi Passiko dari sejarah lho..
Nah, yg tersedia bagi kita cuman memilih dan memilah mana ideologi yg lebih baik utk diterapkan di negara yg multi etnis dan budaya. Bukan memilih ideologi yg bebas dalih mengacungkan laras senapan. Krn dunia ini tak ada yg sempurna, dunia ini fana.

~GuhPraset
@Alex, kalimat saran “Jangan lakukan pada org lain apa yg kamu tak suka org lakukan padamu” memang indah sekali, tapi jangan dong itu diaplikasikan secara membabibuta. Apalagi terhadap hal-hal krusial macam “dasar negara” macam pancasila yang mitosnya sakti ituh. Kalau memang didalamnya tersembunyi ajaran-ajaran keji dan anda mengetahuinya, ya masa mau terus didiamkan? Mendiamkan kezaliman konon sama saja terlibat bung.
Memang aksi mengkritisi pancasila dapat menyakiti beberapa orang, apalagi yang fanatik buta seperti saya… tapi apalah artinya kepedihan hati orang fanatik dibanding kengerian yang akan diwariskan pada generasi selanjutna? Masa seorang alex akan membiarkan begitu saja ajaran keji terus berkembang dan meracuni anak-anak manusia?

@Alex, lanjutan nih, Banyak orang berdalih, “Ah, ajarannya sih bener, penerapannya saja dilapangan yang ga becus”. Mungkin, Lex, orang-orang ini, baik yang menggunakan pancasila, maupun yang jadi korban pancasila, sama-sama ga sadar kalau ada ajaran-ajaran keji terselip dalam pancasila, ajaran yang selalu memicu kekejian dan kebinatangan mereka.

Karena itu Lex, ayo jangan ragu, kita kritisi saja itu pancasila, kupas biar ketahuan semua busuk-busuknya. Setelah itu kita lakukan hal yang sama pada semua ideologi, ajaran-ajaran dan apapun yang sejak kecil dijejalkan paksa kedalam kepala-kepala kita.

nambah, terkait mbah Buddha yang dikuot sama Alex, entah kebetulan yang aneh, atau memang atraction factor, semalem saya jg nulis soal itu disini.

~Saya
@ Guh
Wah, sudah diborong alex semua diskusinya. =D>
Walaupun sudah saatnya direvisi ulang, tapi sebenarnya saya masih suka Pancasila, setidaknya sebagai paham nasionalistik. Maunya sih negara ini sekuler :lol:
Soal NKRI harga mati, saya pernah protes sedikit disini:

~Buya Alex (via SMS ;) )
@ Jensen
Pada dasarnya aku sama denganmu: Pancasila bagus sebagai perekat zamrud khatulistiwa ini, masalahnya adalah manusia. Aku juga cinta Indonesia, negara mana yang kaya budaya seperti kita punya? NKRI itu udah jadi berhala. Kita bisa jadi federasi kalo mau. Konsep kesatuan kan cuma definisi pusat saja. Negara ini, dengan dalih NKRI & demokrasi Pancasila, sama arogansi pusatnya macam Komunis China, jadi demokrasi Pencaksilat.

***

Yah, sejauh ini itu komen penutupnya. Akan saya apdet lagi kalo diskusinya berlanjut. Jelas bahwa saya keseret-seret hanya karena ikut menyetujui pernyataan Alex diatas. :lol:
Saya sendiri sebenarnya tidak mau terlalu muluk-muluk soal politik negara ini, ada banyak teman yang lebih ahli untuk itu. Yang penting selama pemerintahannya masih nasionalis & bisa melindungi yang minoritas, cukuplah itu. Selama negara ini masih sepadat ini, yang namanya kemiskinan sepertinya akan terus ada deh. Kalau cita-cita idealnya sih, negara ini federal, sekuler, dan bisa mengakui negara Israel. ;)

Kemarin (tadi) malam sebelum tidur (kira-kira 2.30am), saya mendiskusikan “diskusi” diatas dengan dua teman teman baik; lambrtz dan gentole lewat jalur YM. Masbro gentole kemudian memberikan pandangannya sendiri tentang diskusi itu yang juga saya postingkan disini dengan beberapa editan:

gentole: itu debatnya alex sama wadehel?

saya: iya :lol:

gentole: keder banyak banget yang dibahas

saya: ini postulatnya kan sederhana saja. tuhan=NKRI=pancasila=absurd. setidaknya menurut alex :P

gentole: sebenernya aku gak bisa menangkap jalan pikiran alex kecuali nihilismenya dia. Kalo menurut aku sih sekarang itu dah zamannya politik tanpa ideologi. Negara itu dibangun oleh konsensus. Jadi yah sebenarnya tak terlalu penting juga pancasila. Kalo menurutku sih begitu. Maksud saya pancasila tuh gak ada sisi praktisnya, toh dalam pertimbangan MK yang dipake konstitusi, bukan ideologi negara.
Ideologi itu seperti agama, bagus buat pajangan tapi gak mesti dianggap terlalu serius apalagi diaplikasikan mentah2.
Liat aja cina dan vietnam, ngaku komunis tapi kebijakan perekonomiannya udah miring kesana kemari

Kalo kata zizek, negara itu sekarang tak butuh politik. Jadi katanya ini zaman paska-politik. Yang in charge bukan lagi politisi, melainkan teknokrat. Singapore contoh paling baik, sebuah negara makmur yang tidak punya politik, yang ada cuma manajemen.

***

Wew, benar-benar pencerahan seorang filsuf. :mrgreen:
BTW, menanggapi ‘sikutan’ gentole soal nihilisme dia, Buya Alex berkata begini:
“Ya, gentole benar. Aku cenderung nihilis, kalo dalam system pemerintahan maunya anarkis: no system at all.” :lol:
Buya lalu melanjutkan: “Tapi gini: apapun, kita hidup dalam keberagaman, itu yang harus diterima, jika ada ketidakpuasan di daerah jangan langsung “atas nama Pancasila + NKRI yang harga mati”, tapi masalah tetap berakar lebat macam jembut. Homogenisasi jangan, kalo dipaksakan jadi najis. Seperti syariat sepihak saja.” :lol:

***

Huff, jadi panjang~~ :mrgreen:
Jadi, dengan ini diskusi saya bawa ke blogsfer, sekedar arsip dan pencerahan pribadi, tapi juga untuk teman-teman yang lain. Just feel free kalau ada yang mau menanggapi. ;)


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
November 2014
M S S R K J S
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.125 pengikut lainnya.