Dresscode sux!

Beberapa waktu lalu Fritz menulis tentang masa studinya di kampus FKIP UNCEN yang mencapai 7 tahun serta alasan-alasannya; pada entri tersebut, Fritz sempat menyinggung sedikit tata aturan berbusana di Fakultas kami yang disebutnya “menjijikkan”. Kali ini saya akan memuat aturan berbusana tersebut beserta sedikit kenangan yang pernah saya dan Fritz lewati di kampus dulu sehubungan dengan peraturan ini.

Sebagai catatan, yang saya ketik dibawah ini dikopi mentah-mentah dari SK yang saya cabut sendiri dari papan mading program studi Bahasa Inggris, suatu sore di akhir semester 11 (Besok paginya sudah dipasang lagi yang baru, asu!), dan selama ini diarsipkan beserta segala peninggalan masa kuliah.

Very Important[1]

Lampiran: Surat Keputusan Dekan FKIP UNCEN
________-Nomor: 047/J20.1.2/KM/2004
________-Tanggal: 10 pebruari 2004

KETERTIBAN DAN KERAPIHAN BERBUSANA SERTA SIKAP MAHASISWA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

I. KETENTUAN BERBUSANA

A. BUSANA UMUM BAGI MAHASISWA

1. Baju Kemeja Kain/Kaos Berkerak
2. Tidak Boleh memakai kaos oblong atau kostum olah raga (Training spack);
3. Celana Panjang (hanya dipakai oleh laki-laki);
__a. Bahan Kain Celana panjang (bukan jeans atau levi’s);
4. Bagi Perempuan: Tidak boleh pakai Celana Panjang/Celana Rok;
__a. dengan bahan apapun, atau
__b. dengan model apapun, atau
__c. dengan ukuran apapun;
5. Rok (bagi perempuan)
__a. Panjang Rok harus di bawah lutut (minimal 10 cm)
__b. Ukuran Rok tidak boleh ketat;
__c. Model Rok tidak boleh ada belahan depan atau belahan belakang ____maupun belahan samping;
__d. Bahan Kain Rok tidak boleh transparan atau tembus pandang;
6. Blus (bagi perempuan)
__a. Bahan kain blus tidak boleh transparan atau tembus pandang;
__b. Blus harus berlengan;
__c. Ukuran Blus, tidak boleh ketat;
__d. Ukuran Panjang Blus, harus menutup pinggul;
7. Harus bersepatu/sepatu sendal;
8. Ketentuan tersebut diatas tidak berlaku pada hari sabtu (Student Day);

B. BERJILBAB BAGI MAHASISWA

1. Kerudung, yang wajar;
2. Blus:
__a. Lengan panjang;
__b. Panjang Blus, harus menutup pinggul;
__c. Blus tidak ketat (tidak memperlihatkan lakukan tubuh);
3. Rok
__a. Bahan Kain Rok, bukan jeans atau levi’s;
__b. Panjang Rok, minimal menutup betis (mencapai mata kaki);
__c. Ukuran Rok, tidak boleh ketat.
4. Tidak boleh pakai Celana Panjang;
5. Harus bersepatu/sepatu sendal.
6. Untuk mahasiswa berjilbab pada hari sabtu (Student Day):
__a. Boleh memakai Celana Panjang;
__b. Blus lengan panjang dan panjang blus harus menutup pinggul;
7. Kecuali mahasiswa yang sedang praktikum di ruangan atau di ___lapangan, (boleh memakai celana panjang);

II. KERAPIHAN DAN SIKAP MAHASISWA

A. BAGI LAKI-LAKI

1. Rambut tidak boleh panjang;
2. Tidak boleh berjambang (berjenggot);
3. Tidak boleh beranting serta menggunakan aksesoris lain secara ___berlebihan;

B. BAGI PEREMPUAN

1. Rambut harus diikat (tidak boleh dibiarkan terurai);
2. Kepala tidak boleh gundul;
3. Rambut tidak boleh seperti rambut laki-laki (kecuali secara alami tidak ___bisa panjang);
4. Make Up wajah (tidak boleh berlebihan)
5. Tidak boleh beranting lebih dari satu tindik

C. BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

1. Rambut harus hitam (tidak boleh dicat warna lain/tidak boleh warna-___warni);
2. Tidak boleh bertato (kecuali tato bawaan yang dibuat sebelum sebagai ___mahasiswa FKIP UNCEN);
3. Tidak boleh merokok dan makan pinang di lingkungan ruang kuliah;
4. Selama kuliah tidak boleh mengaktifkan Hand Phone (HP);
5. Tidak boleh sebagai pengedar atau pun pengguna NARKOBA;
6. Tidak boleh meminum minuman keras di lingkungan kampus UNCEN;
7. Tidak boleh merusak fasilitas fisik gedung maupun fasilitas akademik ___Universitas Cenderawasih;
8. Tidak boleh mengganggu ataupun menghalangi kegiatan akademik yang ___akan berlangsung atau sedang berlangsung;[2]

III. BENTUK SANGSI

A. Tidak boleh mengikuti kegiatan perkuliahan;
B. Tidak boleh mendapat pelayanan akademik lainnya, seperti: (ada lima ___poin)[3]
C. Bagi ketentuan point II.C. nomor urut 5 s.d. 8, dijatuhi sangsi dengan __ketentuan sebagai berikut: (ada empat poin dan enam sub-poin)[3]

___

___________________________Ditetapkan di___ :JAYAPURA
___________________________Pada Tanggal___ :10 Pebruari 2004

___________________________D e k a n,

___________________________DRS. FS,[4] M.Pd
___________________________NIP:*** *** ***

Notes A:
[1] ditulis tangan besar dengan spidol papan tulis bertinta biru.
[2] Semasa saya kuliah sering sekali terjadi aksi demonstrasi yang membubarkan kuliah berjalan dengan tujuan mobilisasi massa atau solidaritas pada yang ikut demo.
[3] Tidak perlu ditulis karena omong kosong. AFAIK tidak pernah ada sangsi yang dijatuhkan bagi pelanggar. Dekan FKIP, the law himself, lebih tertarik melakukan sweeping sendiri dan mengusir pulang setiap mahasiswa/i yang dianggapnya melanggar. (mahasiswa/i yang berlarian sembunyi saat Dekan mulai keluar kantor atau patroli dengan mobil dinasnya adalah pemandangan umum saat itu)
[4] Inisial, tentu saja.:mrgreen:







Dasar dari dresscode sucks ini sebenarnya adalah larangan mengenakan celana panjang buat mahasiswi, serta larangan mengenakan kaus oblong, jeans serta sendal tuk semua mahasiswa/i FKIP. Semakin menjijikkan dengan detail seperti diatas.

Dresscode itu AFAIK mula-mula berasal dari peraturan internal (dari ketua program studi atau dosen MK tertentu) di beberapa program studi FKIP, misalnya Bimbingan Konseling dan Sejarah. Saya ingat itu karena kerap mendapati mahasiswi mereka mengenakan rok semuanya. Peraturan internal yang berbeda-beda itu rupanya melahirkan kecemburuan sosial pada mahasiswa/i Bahasa Inggris (BE) yang busananya bebas. Hal ini disebabkan oleh para dosen kami yang umumnya berpikiran moderat, mayoritas lulusan pasca-sarjana dari luar negeri. Akhirnya ada aspirasi yang naik ke Fakultas (baca: Dekan) supaya anak-anak BE juga dikenai peraturan serupa.

Secara lisan ada usaha-usaha Fakultas menekan Prodi BE untuk menerapkan dresscode, tapi ketua prodi kami (pak RF) yang jenius dan fashionist rajin men-debunk para supporter dresscode dengan argumen-argumen yang tak terbantahkan.

Fakultas seperti mendapat angin segar ketika Pak RF kami pergi mengambil program doktoral dan digantikan oleh dosen BE lain (sebagai ketua Prodi) yang lebih lemah determinasinya. Jadilah dresscode ini sebagai peraturan Dekan yang mengikat semua mahasiswa/i FKIP UNCEN tanpa bisa dihindari, dengan sasaran utama komunitas BE.👿

Oh ya, spirit yang didengungkan dibalik dresscode ini adalah: Calon guru, harus berbusana seperti guru, dengan tujuan utama untuk melatih disiplin. Contoh yang kerap dipakai untuk pembenaran adalah banyaknya guru yang tidak mau menjalani penugasan mereka di pedalaman. Apa hubungannya dengan dresscode?😕
Seorang teman sampai sempat berkomentar: “kenapa tidak sekalian dibuatkan seragam saja?”.👿

Sialnya, tidak sedikit pula para mahasiswa teacher wannabe yang dengan sukacita mendukung dan menjalankan peraturan itu, sementara yang menentang umumnya hanya menggerutu tanpa aksi.
FYI, kampus FKIP terletak di “kampus lama” yang terpisah sekitar 9km dari Fakultas-fakultas hedon (FH, FE, FT dll) di “kampus baru”, dan hanya bertetangga (terpisah jalan raya) dengan FKM (kampus ‘calon mantri’?) yang sepertinya punya peraturan mirip. CMIIW. Alhasil, makin terisolirlah anak-anak freestyler FKIP dari “peradaban” mahasiswa.

Suatu hari, ditengah resistensi pribadi untuk tidak peduli dresscode (semua celana panjang saya jeans), saya berhenti didekat Pudek II, pak UT, yang sedang berbincang dengan sekelompok mahasiswa, termasuk beberapa senior di tengah kampus. 5 menit kemudian se-gank adik tingkat cewek di BE (anak-anak 2001) berjalan melewati kami, semuanya berkaus/kemeja ketat dengan celana jeans (salah satunya berjilbab). Segera saja sang Pudek menyerapah para mahasiswi tersebut (yang pura-pura tak dengar) dihadapan massa-nya. Saya melihat ini sebagai kesempatan dan segera maju “membela” busana cewek-cewek tersebut sambil mempertanyakan peraturan ini. Advokasi segera berubah menjadi debat yang berjalan panas, dan karena kesel ngomong tiba-tiba saya nyeletuk:
“ini kok seperti mau menjalankan syariat Islam di kampus saja”.

BLARRR!!!

Pudek II pucat mendadak! AFAIK beliau satu-satunya muslim diantara Dekan dan ketiga Pudek, dan saya juga tak tahu sebrapa kontribusi beliau pada aturan diatas. Berhubung ini kampus yang dominan Kristen, celetukan saya (yang sebenarnya spontan saja tanpa tendensi apa-apa) jadi terdengar berbahaya bagi beliau.😆

“Ini isu SARA! Kata-katamu itu bermuatan SARA!”
Dia panik, saya jadi terhibur (merasa menang debat). ^^_V
“Kalau isu ini sampai kamu sebarkan di kampus, bisa jadi masalah besar! Isu SARA seperti itu bisa blablabla…”
Dia makin panik (atau marah?), saya makin terhibur. (dan mulai tertawa)😆
“Saya akan laporkan kamu ke Dekan!”
“Terserah bapak saja…” Saya menjawab santai, mengucapkan permisi dan berjalan pergi. Saat itu, sudah dua kali saya pernah berusaha berhenti kuliah tapi gagal (dipaksa kuliah kembali), sehingga langsung terbayang sepucuk surat pemecatan yang bisa jadi alasan legal untuk segera tak kuliah lagi di kampus brengsek itu.

Tapi sekarang ada prioritas lain, sebuah taruhan tak resmi dengan Pudek II bahwa jikalau isu SARA itu sampai menyebar, maka jangan sampai menyebar dari saya. Jadi saya memutuskan tutup mulut tentang peristiwa itu (tidak dijadikan bahan cerita saat kumpul-kumpul) sampai ancaman pemanggilan ke Dekan jelas. Menjelang sore saya berkonsultasi dengan Fritz, satu-satunya teman yang bisa dipercaya untuk urusan-urusan “berbahaya”.:mrgreen:

Ternyata, saya menang taruhan!😎
Malam hari sesudah peristiwa itu, pak UT yang masih gelisah resah tak bisa tidur, lalu menelepon ketua Prodi kami (pak LS) untuk curhat. Esok paginya, curhat ini disampaikan pak LS pada kuliah yang diasuh beliau. Ada sekitar 20an mahasiswa disitu, termasuk Fritz. Pak LS tidak menyebut nama saya (sedang di kelas lain saat itu), sehingga seisi kelas bertanya-tanya siapa kiranya anak BE yang akan dipanggil Dekan karena ribut dengan Pudek II. Yah, pokoknya™ bocornya bukan dari saya!
Membicarakan dresscode, Fritz segera menyambar kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya di dalam kelas. Pak LS yang kelihatannya tahu bahwa dia tak akan menang kalau adu mulut dengan Fritz langsung memotong singkat:
“Berarti kamu ini harus saya laporkan ke pak Dekan juga.”
“Oh ya, akhirnya! Habis kuliah, pak?” Fritz malah langsung semangat.😈
“Ya.”
Seusai kelas itu bubar beberapa teman langsung menjatuhkan dakwaan sesegera setelah mereka bertemu saya diluar kelas:
“ini pasti kamu yang yang cari gara-gara, gak ada orang lain lagi di BE yang patut dicurigai kalau ada kejadian seperti ini!”
“Sialan!” Saya mengumpat dalam hati. Guilty by association ini! Tapi seperti kesepakatan semula, saya hanya mengangkat bahu dan siul-siul bego saja, gak boleh mengiyakan. Akan halnya Fritz, dia malah sibuk menagih ketua Prodi untuk sesegera mungkin dipertemukan dengan Dekan. Yang ditagih malah menghindar. Bleh…😆

Dua hari kemudian saya dan Fritz benar-benar dipanggil Dekan, dan untuk pertama kalinya kami menginjakkan kaki di kantornya; bekas ruangan Rektor waktu kampus baru belum berdiri.
Tak ada kejadian yang istimewa hari itu. Pak Dekan bicara sedikit, dan sempat mengomentari kalau kami saat itu tampil “rapi” menurut dia (saya tetap pakai jeans), lalu memberikan kesempatan kami berbicara. Saya berbicara secukupnya, diikuti dengan Fritz. Seingat saya fokus pembicaraan saya adalah mengapa jeans harus diijinkan dipakai mahasiswa. Aspirasi pribadi, tentu saja. Saya tak berminat mewakili para mahasiswi yang sebenarnya lebih dirugikan dresscode tersebut. Tak dapat apa-apa. Sementara Fritz menekankan aspek legalitas aturan karena pada so-called ‘rapat bersama perwakilan mahasiswa dengan Fakultas’ tentang penyusunan dresscode, wakil-wakil HMJ dan Komisariat BE tidak diundang (salah satunya Yanderzon). Rapat itu sendiri sebenarnya cuma sosialisasi Fakultas pada perwakilan mahasiswa, sekedar prosedural. Tak ada diskusi apalagi “uji materiil” disitu.
Selesai kesempatan kami, pak Dekan mulai bicara sedikit dengan penekanan bahwa “aturan ini datang dari mahasiswa sendiri”; juga mengatakan:
“saya tidak otoriter kalau belum ada aturan, tapi saya otori… err, tegas kalo sudah ada aturan”.
Mengenai ketiadaan wakil BE saat sosialisasi aturan yang disampaikan Fritz, komentar beliau singkat saja:
“ah itu mereka yang lalai,” dan pembicaraanpun lalu habis disitu.
Well, mau bilang apa lagi? Kami berdua lalu berjabat tangan dengan beliau dan keluar.

Tak ada yang berubah sesudah itu. Dresscode still go on, walau penekanannya hanya pada aturan inti yang saya sebut diatas. Bagi para dosen BE, mereka hanya menghimbau mahasiswanya untuk taat karena merekalah yang akan ditegur Dekan apabila terlihat ada anak BE yang melanggar, sambil memberikan hiburan moral bahwa mereka juga tak sepaham dengan dekan, tapi tak ada pilihan.
Buat saya sendiri, kostum saya tak pernah berubah karena merasa bahwa saya “diijinkan secara pribadi” tuk mengenakan jeans.:mrgreen:
Walaupun begitu, pernah saya dimarahi Pudek I, pak OW -dosen BE juga-, karena gaya baju saya yang kerap berkaus oblong, lalu ditutup kemeja yang tak pernah dikancing dan lengannya digulung tinggi;
Waktu itu dia lewat dengan mobil dinasnya dan berhenti tepat disamping saya yang jalan kaki. (disebelah saya ada adik tingkat yang kostumnya ‘terinspirasi saya’):mrgreen:
“Hei, kamu! kamu sudah jago ya?!?”
“hah?”
Saya melongo dengan pertanyaannya, lalu dia nyerocos tentang kostum saya yang katanya seperti preman mau berkelahi dsb. Berhubung tak ada detail itu di aturan, saya juga cuek saja. Lalu dia pergi setelah saya “benerin kemeja supaya tak terlalu terlihat berkibar”.

Kabar terakhir yang kutahu sekarang aturan ini sudah tak ditempel lagi di mading-mading, tetapi sudah disosialisasikan dari sejak Ospek, berhubung generasi yang sempat menikmati kebebasan berpakaian itu sudah tinggal segelintir di kampus.

Benar-benar kampus yang pvk!m*ak!©alex©







Notes B: (update)
[1] Judul post diambil dari judul essai karya Bart “F.H.” Simpson. Waktu dresscode belum menjadi SK Dekan (baru berupa edaran), dia pernah menulis essai berjudul Dresscode Sux untuk menentangnya, ditempel tepat disebelah edaran di mading.
[2] Makasih banyak buat Fritz yang sudah mengingatkan dan membagi beberapa detail yang saya lupakan.😉

52 Responses to “Dresscode sux!”


  1. 1 dnial Januari 22, 2009 pukul 6:36 am

    Bwahahahahaha……….

    Entah kenapa teringat perlawanan di kampus dulu.

    Sandal dilarang masuk kampus!!!!

    Nggak masalah kalau kuliah atau urusan akademik harus rapi dan pakai sepatu, tapi 24 jam di kampus harus pakai sepatu? Soalnya mahasiswa kampusku sebagian besar hidup di kampus.

    Perlawanan sengit dilakukan meskipun ada sanksi berupa penyitaan KTM oleh Dekan. Beberapa peristiwa menarik adalah, banyak peristiwa mahasiswa yang dikejar2 oleh Dekan, dan sweeping sandal dari Dekan sampai masuk Hima.

    Perlawanan yang paling menarik, berhubung nggak boleh pakai sandal, beberapa mahasiswa memilih nyeker (bertelanjang kaki) saat berdiskusi di tempat umum.

  2. 2 itikkecil Januari 22, 2009 pukul 6:39 am

    oohhh…. indahnya kuliah di teknik
    bebas mau pakai baju apa saja… jeans juga boleh… mau rambut sepanjang apapun terserah…
    tapi menjelang saya lulus ada sebuah aturan baru yang disumpah serapahi oleh anak-anak yang baru masuk (laki-laki tentunya) karena kalau yang sudah semester akhir atau mau kerja praktek tentu saja sudah muak dengan rambut panjang.
    rambut tidak boleh gondrong… alasannya hanya karena ada mahasiswa yang dikeroyok pada saat KKL dan dikira preman hanya karena rambutnya gondrong dan tampangnya menyeramkan…
    tapi apa urusannya dengan saya…

  3. 3 Catshade Januari 22, 2009 pukul 6:50 am

    Jensen dan Fritz ini sepertinya pasangan sehidup-semati kalo sudah berurusan dengan birokrasi…🙄

  4. 4 lambrtz Januari 22, 2009 pukul 7:20 am

    Omong-omong mengenai seragam, universitas di Thailand mengharuskan mahasiswanya untuk berseragam (link 1, link 2, link3) (FYI Chulalongkorn Univ itu yang paling top di Thailand, jadi bukan univ ecek-ecek). Kalau mau, para dosen Uncen disuruh studi banding ke sana saja😛

  5. 5 Fritzter Januari 22, 2009 pukul 8:12 am

    [1] Judul post diambil dari judul essai karya AA a.k.a. Sunsettowner.

    Eh eh, kalo yang dimaksud diatas itu benda yang dicetak dengan tinta merah, itu tulisan saya pas semester II.
    Atau memang Sunsettowner pernah nulis benda berjudul sama? Baru tau aku..😕

    @lambrtz😯
    Kalo seragamnya macam di link #2 itu, si agenmessum gak bakal keberatan😆

    ..dosen Uncen disuruh studi banding ke sana saja

    Weleh paling doyan itu dosen2 kalo disuruh studi banding. Lempar ikan ke kucing ituh.😕

  6. 6 restlessangel Januari 22, 2009 pukul 8:21 am

    astaga…..postingan ini gw banget !!😯

    di psikologi UGM juga begitu. busyet, ga S1 ato S2, sami mawon.
    waktu S1 parahnya gini, warisan dr peraturan lama sedari thn 70an, kl mahasiswi psikologi HANYA boleh pake rok. tp pas angkatanku, boleh pake celana tapi hanya boleh celana kain.tp dasar akunya ndableg, aku pake jeans dan sandal gunung, hihihi.
    yg parah malah, aku pake sarung pantai waktu ngampus, huahhaha😆
    astagaaa…malu juga kl inget masa2 itu.

    herannya waktu itu ga pernah kena tegur dosen. temenku yg anak PA yg kena usir, krn pas ujian pake sandal jepit.

    yg kena tegur berkali-kali malah pas ambil magister ini. rapi sih (menurutku) pake jeans dan kemeja. hanya saja, utk kaki lbh sering pake sepatu sandal cewe yg hi-heels itu lho. dan hanya gara2 masalah itu aku kena tegor berkali-kali. dan masalahnya hanya, krn tumitku tdk tertutup !! omaigattt😯

    ada dua dosen yg jadi ‘musuh’ dlm hal kek gini. dua2nya cewek. kl cowo kok lbh demokrat asal sopan aja, ga pake hipster ato transparan. yg dosen cewe pertama, nge-cing aku krn suka pake sandal. dia sendiri dijuluki miss matching, dr sepatu ampe tas dan eyeshadow, serasi semua.

    bu dosen yg atu, kolotnya minta ampun. baju yg bagus itu menurutnya adl yg selera dia. temenku pernah ditegor, alasannya krn ‘psikolog kok kaya anak pecinta alam,’ (temenku padahal pake baju biasa, jilbab biasa, sepatu pantofel biasa, dan ransel).
    kontan aku meradang, ga ada hubungannya antara baju dan peran psikolog.

    alasan2 dosen kolot itu ya sama persis spt alasan dosenmu. psikolog hrs tampil sbg psikolog profesional di dpn klien.
    angkatan magister yg lbh junior, bajunya skrg diatur. ga boleh pake jeans kecuali jumat. hah, sayang yg berjiwa pemberontak cuma aku.

    lho, malah curcol:mrgreen:

  7. 7 grace Januari 22, 2009 pukul 10:54 am

    di kampus saya juga ada dresscode..secara kampus islam, ya iyalah..
    btw, bgian yang untuk wanita berjilbab, menggunakan jilbab yang wajar itu apa maksudnya?
    eh, biarpun dikampus saya ada dresscode kayak gini, banyak aja tuh yang nglanggar..
    yang lucu, buat para pondan(cowok2 lemah gemulai), mereka itu kan rapi-rapi banget, dan ga pernah melanggar dresscode, tapi jadinya ya itu….keliatan melambai..😆

  8. 8 Rukia Januari 22, 2009 pukul 2:41 pm

    kampusku, biasa aja. Boleh pake baju tanpa kerah asal luarnya pake kemeja or jaket. sandal jepit nggak boleh masuk kelas n bagian administrasi kampus (PK1, PK2, PK3, PK4, P3M) tapi kalau sekedar ke kampus aja ga masalah. cewek terserah mo pake jeans kek, rok kek, apapun asal sopan, tapi gak boleh pake celana pendek or 3/4 or 7/8.

    Tampaknya dari semua kampus di atas saya, kampus sayalah yang paling moderat dan lebih bebas:mrgreen:

  9. 9 Irene Januari 22, 2009 pukul 6:23 pm

    wah *tepuk tangan* salut salut for your resistance.

  10. 10 yanderzon Januari 22, 2009 pukul 11:35 pm

    Wuahahaha….neh dia peperangan kampus yang sangat mengesankan yang pernah dilakoni kedua sobat saya ini…mengesankan karena sebenarnya saya terlibat langsung dengan semua peristiwa yang diceritakan jensen99 kecuali pertemuan dengan pak Dekan hanya karena saya yang selalu sibuk dengan urusan lain…

  11. 11 sunsettowner Januari 23, 2009 pukul 12:40 am

    @ jensen, “dresscode sucks” (di post di board baru di depan ruang kuliah)emang tulisannya fritzter coz seingat saya; saya cuman post di board yg di lorong pun tentang materi kuliah..

  12. 12 dana Januari 23, 2009 pukul 1:39 am

    Itu kampus apa sekolahan sih bro?

  13. 13 lambrtz Januari 23, 2009 pukul 2:18 am

    Sharing.

    Kampus I: UGM

    Kalau di jurusan saya, kajur yang lama memperbolehkan pakai kaos, rambut panjang buat laki-laki, dsb. Tapi sejak diganti kajur baru, mahasiswa harus pake sepatu waktu jam kerja (di luar itu terserah, kayanya), rambut ga boleh panjang buat laki-laki, hanya boleh pake kaos berkerah atau kemeja, dst. Alasannya sama, supaya tampak profesional. Tapi tetep aja mahasiswa cukup respek pada beliau, karena kebijakannya di luar itu bagus, seperti pelarangan merokok di kampus, menjaga kebersihan di kampus, dst. Seperti LKY memang😛

    Kampus II: NTU

    Halah ga usah diomongin lah, segala macam pakaian ada, mulai celana mini, rok mini, Harajuku, baju ala rock n roll 60an, baju formal (kemeja + jas + celana panjang non jeans), sari, jilbab, baju gamis, dst. Semua ada! Rambut, terserah. Saya aja mulai nggondrongin rambut lagi:mrgreen:

    Oiya, masih tentang dresscode, di beberapa universitas berbasis agama di USA, seperti Brigham Young Univ, ada juga aturan tentang dress code bagi mahasiswa + dosen.😛
    Mungkin di tempat Irene ada juga?:mrgreen:

  14. 14 Irene Januari 23, 2009 pukul 6:22 am

    mmm..kalo di college ku bebas. cuman kalo mo masuk cafetaria harus pake sepatu/sendal. ga boleh bare foot lah pokoknya. soalnya anak2 di sekolah ku suka ga pake alas kaki. maklum. school of tree huggers.

  15. 15 jensen99 Januari 23, 2009 pukul 6:59 am

    @ dnial

    Thanx for sharing, bro.

    Soalnya mahasiswa kampusku sebagian besar hidup di kampus.

    Ugh, saya selalu ngiri dengan kampus yang bisa dijadikan “pusat alam semesta” seperti itu. Uncen pvk!m*ak!👿

    Ya, satu hal yang saya suka dari ceritamu adalah adanya kesadaran kolektif dari mahasiswa untuk berani melawan apa yang dianggap tidak benar. Di Fakultasku, bisa sadar bahwa aturannya sucks aja dah mendingan…
    Dan ternyata aksi Dekan as law enforcer itu bukan cuma di tempat kami ya?😆

    @ itikkecil

    Thanx for sharing, mbak.

    Haha.. rambut gondrong (buat mahasiswa amber) itu jarang di seantero Uncen sih, paling2 juga panjang setengkuk. Dulu kalo ada teman se-gank rambutnya mulai panjang malah disuruh potong pendek sama yang lain.:mrgreen:

    […]ada mahasiswa yang dikeroyok pada saat KKL dan dikira preman hanya karena rambutnya gondrong dan tampangnya menyeramkan…

    Wah…😆

    @ Catshade

    Ya, dari hanya sekitar setengah lusin sahabat yang saya miliki di dunia nyata, Fritz memang yang mindset-nya paling nyambung dengan saya; plus kami kuliah se-prodi, gak heran kalo sering bahu-membahu dalam banyak urusan.:mrgreen:

    @ lambrtz (1)

    Wuih, link2 yang mempesona. Makasih banyak.😀

    Well, andai waktu saya masuk peraturannya sudah seperti itu mungkin lain cerita ya? Tapi ini ditengah jalan gitu, ya pasti berontaklah saya. Apalagi ini Universitas ecek-ecek!! Yang karena gak mampu ningkatin mutu lulusan lalu dresscode yang dijadikan sasaran pembenahan. Puih! Cuih!!👿

    @ Fritzter

    Sudah kuricek & kroscek, ternyata memang karyamu. Sori salah tulis, pas finishing kamu lagi gak onlen. Dah kuralat diatas.😉
    Soalnya karya yang asli hilang sih (gak punya arsipnya), sayang sekali. Padahal seingatku ada beberapa pokok pikiran orisinil yang bagus disitu, layak buat diposting juga.🙂

    @ restlessangel

    Thanx for sharing, meth.

    Hmm… di psikologi UGM juga ada ternyata.

    […] aku pake jeans dan sandal gunung, hihihi.
    yg parah malah, aku pake sarung pantai waktu ngampus, huahhaha😆

    Hoh, pasti mempesona banget tuh!😉

    […] bu dosen yg atu, kolotnya minta ampun. baju yg bagus itu menurutnya adl yg selera dia.

    Nah, ini dia poin utamanya!💡 Sama persislah dengan Dekan kami itu! Gak bisa liat cewek tampil cantik!👿

    hah, sayang yg berjiwa pemberontak cuma aku.

    Toss! ^^_cU

    lho, malah curcol:mrgreen:

    Saya justru senang kalo pada bagi pengalaman disini. Makasih lagi.😀

    @ grace

    Thanx for sharing, mbaksis.

    Gak heran sih kalau kampusnya grace ada dresscode.😛

    btw, bgian yang untuk wanita berjilbab, menggunakan jilbab yang wajar itu apa maksudnya?

    Nah, heran kan? Saya juga tak paham, tapi sepertinya merujuk ke pelarangan jilbab keren yang kerap dimatching dengan busana rada pas badan itu.😐

    @ Rukia

    Thanx for sharing, rukia.

    Sejauh ini kelihatannya kampusmu yang paling asyik. Apa karena bukan Universitas/Institut negeri ya?

    @ Irene (1)

    Makasih, Irene.😀

    @ yanderzon

    Yo, sangat disayangkan bahwa anak2 BE gagal menghalangi persekongkolan Fakultas & Komisariat lain2 untuk menggolkan dresscode itu dengan cara yang sah. Tapi ya sudahlah. Empat tahun sudah dresscode itu berlaku dan saya tidak merasa ada pengaruhnya terhadap mutu FKIP Uncen. CMIIW.😉

    @ sunsettowner

    Sudah diralat. Maaf dan terimakasih.😀
    Untung saja pas aturan itu keluar, karirmu sebagai mahasiswa aktif (rajin datang) sudah berakhir ya?:mrgreen:

    @ dana

    Itu kampus apa sekolahan sih bro?

    Wah, dalam pengertian saya istilah “kampus” maupun “sekolahan” itu masih kebagusan buat FKIP Uncen…🙄
    Kejar Paket S(arjana)?😛

    @ lambrtz (2)

    Nah, ini sharingnya dateng. ThankU!

    Waktu di UGM, boleh pake celana jeans buat cowok & cewek gak? Kalau wajib sepatu & kerah di kelas saya bisa paham.

    […] Tapi tetep aja mahasiswa cukup respek pada beliau, karena kebijakannya di luar itu bagus,

    Nah, respectable lawmaker! Poin penting itu!
    Dekan kami ini gak layak dihormati sama sekali!!👿

    Soal kampus NTU kan dah pernah saya komentari ya?
    “biar brekele yang penting master”😆

    @ Irene (2)

    Thanx for sharing.

    […]anak2 di sekolah ku suka ga pake alas kaki. maklum. school of tree huggers.

    Whoa!😆 BTW sekolah apa itu school of tree huggers?😀

  16. 16 lambrtz Januari 23, 2009 pukul 7:11 am

    Waktu di UGM, boleh pake celana jeans buat cowok & cewek gak?

    Di jurusan saya, asalkan ga pake jeans ala Said (di Bajaj Bajuri) sih terserah😆

    BTW sekolah apa itu school of tree huggers?

    Mungkin ini maksudnya: [link]?😕

  17. 17 grace Januari 23, 2009 pukul 7:48 am

    tapi sepertinya merujuk ke pelarangan jilbab keren yang kerap dimatching dengan busana rada pas badan itu.

    oalah..ta’kira justru ga boleh panjang2 banget..*teringat Sekolah Tinggi Ilmu Suka-suka yang katanya begitu*
    btw, saya cuek aja tuh pake jeans dan jepitan ke kampus. Dulu sih katanya kalo ketauan bakal di denda di tempat, tapi sekarang kayanya lebih longgar ^^

  18. 18 chiw Januari 23, 2009 pukul 10:05 am

    peraturan apa apaan ini Jeeen???

    untunglah, saya yang bermahzab celana jeans-kaos oblong-sandal jepit tak sekul disitu…
    😎

  19. 19 jensen99 Januari 23, 2009 pukul 2:38 pm

    @ lambrtz

    Naah, saya sih akur soal sepatu dan kerah, asal cowok-cewek boleh pake celana jeans! Yang gitu mau saya!
    Yang sobek lutut sih pernah pake beberapa kali ke kampus, tapi jadi gak enak sendiri juga.:mrgreen:

    @ grace

    Skul Tinggi Ilmu Suka-suka?

    *garuk2 kepala*

    Tapi AFAIK tentang jilbab ini blum pernah ada yang sampai ditegur di kampusku juga tuh. Memang aturannya sontoloyo…

    btw, saya cuek aja tuh pake jeans dan jepitan ke kampus.

    lha iya, sudah senior kok!:mrgreen:

    @ chiw

    peraturan apa apaan ini Jeeen???

    Peraturan pvk!m*ak!:mrgreen:

    untunglah, saya yang bermahzab celana jeans-kaos oblong-sandal jepit tak sekul disitu…
    😎

    untunglah juga saya sudah semester 11 baru peraturannya keluar…😛

  20. 20 Irene Januari 23, 2009 pukul 4:47 pm

    @jensen,lambrtz: iya maksudnya sekolah untuk anak2 hippie environemtalists. ceritanya ga pake sepatu biar “closer to the earth”. heheh.

  21. 21 hawe69 Januari 23, 2009 pukul 6:46 pm

    Untung di kantor gw (divisi gw doang) berhasil bersatu padu melawan *cuih* Dresscode kantor, salah satunya : harus berdasi untuk pria, harus memakai rok untuk wanita, harus bersepatu sepanjang jam kantor.
    Hm, jadi ingat, itikkecil kayaknya punya masalah dresscode juga akhir-akhir ini di kantornya..

  22. 22 mbakDos Januari 24, 2009 pukul 4:25 am

    wah, saya pasti dilarang keras mengajar di sana itu:mrgreen:

  23. 23 khofia Januari 24, 2009 pukul 5:30 am

    bwehehe… saya juga paling benci aturan kudu bersepatu dan berpakaian rapih… soalnya saya paling seneng pake pakaian yang menurut saya nyaman sih…

  24. 24 Takodok! Januari 24, 2009 pukul 1:15 pm

    duh.. seribet itu ya? Setau saya di fkip mana pun emang peraturannya kurang lebih sama, tapi tetap saja pasti dilanggar oleh mahasiswanya😆

    tapi.. sampe diatur sedetil itu? make up, anting, pala gundul?😯
    2. Tidak boleh bertato (kecuali tato bawaan yang dibuat sebelum sebagai ___mahasiswa FKIP UNCEN);
    3. Tidak boleh merokok dan makan pinang di lingkungan ruang kuliah;
    makan pinang? tato diurusi? *bingung mau ketawa atau ndak*

    mending membantu memperbaiki mental mahasiswanya supaya tidak hobi tawuran. Calon guru kok hobi tawuran sih😕 *anak salah satu perguruan tinggi negri disini lumayan suka tawuran*

  25. 25 Rukia Januari 24, 2009 pukul 2:14 pm

    Sejauh ini kelihatannya kampusmu yang paling asyik. Apa karena bukan Universitas/Institut negeri ya?

    hmmm…
    Kayaknya nggak juga, coz ada beberapa universitas/institut swasta yang mewajibkan mahasiswanya berseragam. Tiap senin-kamis wajib pake jas almamater, jelana bukan jeans buat cowok, rok buat cewek, dan hari bebas seragamnya cuma hari jumat. Jadi, pas hari jumat, para mahasiswanya pada ‘jor-joran’ pakaian😈

  26. 26 jensen99 Januari 24, 2009 pukul 5:55 pm

    @ Irene

    Hippie environmentalists ya~ Kampus cinta damai kedengarannya itu.😀

    @ hawe69

    Dimana ada kolektifitas, disitu ada revolusi.:mrgreen:
    Hebat juga ceritanya di kantor itu. Jadi mbak bisa ngantor bercelana panjang sekarang?😀
    (BtW kasihan mbak Ira dan dresscodenya. Saya padahal dah usulin revolusi kolektif.😛 )

    @ mbakDOs

    Kalo mbakDOs jadi dosen kami, rasanya rela deh mahasiswa urunan rutin tuk nyewa tempat supaya bisa ngikuti kuliah mbak diluar kampus.:mrgreen:

    @ khofia

    Well, kalo sekedar wajib bersepatu di kelas saya bisa terima, toh saya gak pernah sendalan juga. Tapi mahasiswa gak boleh pakai jeans?😐

    soalnya saya paling seneng pake pakaian yang menurut saya nyaman sih…

    sepakat!

    @ Takodok!

    Setau saya di fkip mana pun emang peraturannya kurang lebih sama, […]

    Yah, saya memang salah jurusan sih, tapiiii… itu kan estetika munafik yang gak ada hubungannya.😐

    tapi.. sampe diatur sedetil itu? […]

    Itulah, Des… Anak SMU yang memang seragaman aja pasti geleng kepala juga kalau lihat detil diatas.

    *bingung mau ketawa atau ndak*

    Mau diludahipun silahkan saja. Memang menjijikkan koq.

    mending membantu memperbaiki mental mahasiswanya supaya tidak hobi tawuran.

    Kampusku prioritasnya memperbaiki dekan, disusul administrasi dan organisasi kemahasiswaan. Fakultas kami termarjinalkan soalnya.😐

    Calon guru kok hobi tawuran sih😕

    Tapi anaknya pinter2 gak? Kalo brutal tapi pinter masa depannya bisa cerah juga. Kalo kriminal ya Polisikan saja. Calon guru kan mahasiswa juga, wajar nakal.:mrgreen:

    @ rukia

    Benar juga. Memang lain ladang lain belalang…😛

  27. 27 hoihei Januari 25, 2009 pukul 8:17 am

    waduh sangar begitu om jensen99 sampe melawan dekan.
    klo kita sih perlawanan nya cuma sampe pak kajur.
    gara-garanya banyak peraturan baru yang bikin pusing. mulai dari perubahan kurikulum yang mengarah ke managemen(padahal kan kita jurusan teknik, ampe dijarin dansa pula) hingga sulitnya birokrasi untuk ngajuin cara HIMA.
    orangny sih gak killer sampe ngejar2 kayak satpam. tapi senyum ntu. bikin kuduk berdiri.

  28. 28 aNGga Labyrinth™ Januari 25, 2009 pukul 4:03 pm

    Waks,,, segitu detail nya kah….

    Rada-rada males juga…

  29. 29 hawe69 Januari 25, 2009 pukul 4:54 pm

    yah.. gw ke kantor selalu pakai celana panjang.. karena ‘seragam rok’ perusahaan yang wajib dipakai itu.. belahannya dulu di pinggir kiri kanan, 10cm diatas lutut… sekarang sih udah lebih baik, belahannya di belakang, 10cm diatas pangkal lutut..
    teman2 bilang, next year, maybe belahan roknya di DEPAN! hahaha

  30. 30 jensen99 Januari 26, 2009 pukul 5:24 am

    @ hoihei

    Ya, setiap orang punya ceritanya sendiri-sendiri di kampus. Saya sendiri disini lebih salut dengan usaha anak2 kampus tetangga (USTJ) yang pernah berjuang menggulingkan rektor seumur hidup mereka.😉

    @ aNGga Labyrinth™

    Detailnya bikin muntah, kan?😕

    @ hawe69

    […] karena ’seragam rok’ perusahaan yang wajib dipakai itu.. belahannya dulu di pinggir kiri kanan, 10cm diatas lutut…

    Kelihatannya menggairahkan secara visual, asal yang pakai juga proporsional bodinya. Tapi kaki bisa kedinginan di ruangan ber-AC ya?:mrgreen:

  31. 31 Buya Alex© Januari 26, 2009 pukul 2:52 pm

    Heh?!😯

    Kamu kuliah dimana itu? Jurusan Kesekretariatan?😆

    Di kampus saya dulu yang ketat itu ya cuma anak PDPK. Manis-manis…😛 tapi karena formilnya itu pakaian, alamak… segannya awak bawa ke angkot. Takut make-upnya luntur kaya Michael Jackson abis konser:mrgreen:

    Jurusan lain? Hehehe… didominasi sendal jepit atau sepatu yang dipijak belakangnya. Serasa di pasar itu kampus…😕

    Well… Seragamisasi begitu itu yang bikin eneg kehidupan akademik. Membosankan🙄

  32. 32 jensen99 Januari 27, 2009 pukul 5:08 am

    @ Buya Alex©

    Kamu kuliah dimana itu? Jurusan Kesekretariatan?😆

    Percaya gak, nama jurusan saya adalah Pendidikan Bahasa & Seni! 6,5 tahun kuliah tak pernah kulihat pelajaran seni disitu kecuali 2 SKS drama.😐

    Jurusan lain? Hehehe… didominasi sendal jepit atau sepatu yang dipijak belakangnya. Serasa di pasar itu kampus…

    Beberapa kampus konon cuma mewajibkan rapi (acap seragam putih hitam) hanya kalau UTS dan UAS saja. IMO seperti pasar sih gpp, yang penting kan otaknya.😉

    Well… Seragamisasi begitu itu yang bikin eneg kehidupan akademik. Membosankan🙄

    Yang lebih parah, gak ngaruh blas di mutu perkuliahan.🙄

  33. 33 The Bitch Januari 27, 2009 pukul 5:10 am

    PD II gwa dulu memperjuangkan nasib anak2 sasing supaya bisa tetep pake kaos oblong dan sendal gunung di kampus. ospek juga cowok2nya gada yg digundulin. kalo gondrong cuma harus diiket aja biar ga riweuh. PKL? trek gandeng. kalo di kantor2 ya ngikut peraturan sana.

    HIDUP PAK TATANG!!!

    really. gada yg patut dicela dari kampus gwa kecuali jamnya yg ketat banget. gwa dateng ujian pake kaos oblong bolong, jins robek2 pas di lutut + sendal jepit aja masih boleh masuk. padahal telat 15 menit. mo ngerokok terserah, nggak cewek nggak cowok, dimana aja, kecuali di dalem kelas dan ruang berAC. tindikan? tatoan? bukan barang baru.

  34. 34 jensen99 Januari 27, 2009 pukul 1:53 pm

    @ The Bitch

    Kaos oblong, sendal gunung, gondrong, jins robek, sendal jepit, tindikan, tatoan…

    Itu baru namanya dresscode!:mrgreen:

  35. 35 Buya Alex© Januari 28, 2009 pukul 3:03 am

    Kaos oblong, sendal gunung, gondrong, jins robek, sendal jepit, tindikan, tatoan…

    Itu baru namanya dresscode!:mrgreen:

    Amen to that!😆

    Ini mesti difatwakan esunesposibel😆

  36. 36 The Bitch Januari 28, 2009 pukul 3:26 am

    @Lexay:

    Yo! My Dearest sonofabitch! Thought you’d be dead already!

    Miss our steamy slimy nights and days…

    haha!

  37. 37 jensen99 Januari 28, 2009 pukul 4:42 am

    @ Buya Alex©

    Masih ada lanjutannya lho, lex!

    […] mo ngerokok terserah, nggak cewek nggak cowok, dimana aja […]

    Fatwa, anyone?:mrgreen:

  38. 38 Snowie Januari 29, 2009 pukul 1:54 pm

    :: jensen99

    Percaya gak, nama jurusan saya adalah Pendidikan Bahasa & Seni! 6,5 tahun kuliah tak pernah kulihat pelajaran seni disitu kecuali 2 SKS drama.

    Kalo saya dulu kuliahnya di Fakultas Bahasa Sastra dan Seni.:mrgreen:

    ya iya lah. Yakin sampeyan ambil jurusan bahasanya, bukan jurusan seni. Iya khaaaaannn…😎

    Kalo di Fakultas saya, paling parah cuma gondrong, oblong, and Jeans. dan itu pun anak Seni. kalo yang anak Bahasa, baik indo or English, masih pada normal penampilannya.

    Tp, walaupun anak Pendidikan, saat PL masuk kelas musti pake Jilbab dan dandanan “guru”, pas di kuliahan dandanannya banyak yang kayak artis. Mungkin karena kami sedikit banyak mengamini budaya Amerika yang bebas, jadi waktu saya masih kuliah dulu, ketua jurusan nggak banyak aturan soal pakaian. Asal sopan dan tidak terbuka, aman.

    Nggak tau sekarang.

  39. 39 Snowie Januari 29, 2009 pukul 1:58 pm

    2. Tidak boleh berjambang (berjenggot);

    jenggot kambing temasuk larangan?

    Kalo iya, para Ikwan pecinta jenggot bakal dapat masalah nih:mrgreen:

  40. 40 mina Januari 30, 2009 pukul 9:04 am

    *baca cepat dan baca komen mas cashthade doang*
    haeum..memang fritz-jensen itu pasangan serasi ya…:mrgreen:

    *dibunuh*

  41. 41 lambrtz Januari 30, 2009 pukul 12:08 pm

    (saya dibayar Teh Mina untuk nyebar gosip ini)

    @mina
    Iya, memang pasangan yang serasi:mrgreen:

  42. 42 mina Januari 31, 2009 pukul 5:32 am

    –lambrtz–
    mantabs!!! 8)
    memang serasi 8)

    *bayar lambrtz pke galendo*

  43. 43 jensen99 Januari 31, 2009 pukul 7:48 am

    @ Snowie

    Thanx for sharing.

    ya iya lah. Yakin sampeyan ambil jurusan bahasanya, bukan jurusan seni. Iya khaaaaannn…😎

    Dibawah Jurusan PBS cuma ada dua Prodi: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, tak ada lainnya.

    Tp, walaupun anak Pendidikan, saat PL masuk kelas musti pake Jilbab dan dandanan “guru”, pas di kuliahan dandanannya banyak yang kayak artis.

    Mustinya juga gitu, jangan disamain kampus dengan sekolahan.🙂

    jenggot kambing temasuk larangan?

    Kalo iya, para Ikwan pecinta jenggot bakal dapat masalah nih:mrgreen:

    Seumur hidup belum pernah kulihat ada Ikwan pecinta jenggot kuliah di Universitas-kami-yang-tidak-mengijinkan-adanya-mesjid-di-kampus-itu.

    @ mina

    memang fritz-jensen itu pasangan serasi ya…

    Pada segala macam gerakan anti-kebodohan dan anti-gosip…😎

    @ lambrtz

    (saya dibayar Teh Mina untuk nyebar gosip ini)

    djo, kamu masih pengen pulang ke Indonesia?

    *menghubungi Mossad cabang Singapura*

  44. 44 goldfriend Januari 31, 2009 pukul 1:25 pm

    Mungkin FKIP Uncen itu ikatan dinas ya ? Jadi harap maklum saja kalau soal baju itu diatur segala….:mrgreen:

    Dulu waktu kuliah juga sama saja. Selalu ada peraturan yang mengatur soal baju dan penampilan. Tapi memang jeans dan kaos oblong itu lebih enak dipakai. Entah kenapa.🙂 Dan saya salah satu yang selalu melanggar peraturan.

    Alasannya cuma satu : Selama melanggar peraturan soal dresscode itu nggak mempengaruhi nilai dan IP, ya pelanggaran jalan terus….😆

    @ memeth :

    bu dosen yg atu, kolotnya minta ampun. baju yg bagus itu menurutnya adl yg selera dia. temenku pernah ditegor, alasannya krn ‘psikolog kok kaya anak pecinta alam,’ (temenku padahal pake baju biasa, jilbab biasa, sepatu pantofel biasa, dan ransel).
    kontan aku meradang, ga ada hubungannya antara baju dan peran psikolog.

    alasan2 dosen kolot itu ya sama persis spt alasan dosenmu. psikolog hrs tampil sbg psikolog profesional di dpn klien.
    angkatan magister yg lbh junior, bajunya skrg diatur. ga boleh pake jeans kecuali jumat. hah, sayang yg berjiwa pemberontak cuma aku.

    Kamu itu calon psikolog. Bagaimana kamu bisa tampil meyakinkan di depan klien kalau kamu sendiri berpenampilan tidak meyakinkan ? Calon pekerjaanmu itu membutuhkan penampilan yang kinclong dan rapi.

    Sana ganti baju..!!!!

    :mrgreen:

  45. 45 jensen99 Februari 2, 2009 pukul 8:49 am

    @ goldfriend

    Thanx for sharing, bang…

    Mungkin FKIP Uncen itu ikatan dinas ya ?

    Kalau benar ikatan dinas berarti saya sudah jadi guru dong sekarang.:mrgreen:
    kampus calon guru yang harus melamar dulu tuk jadi guru

    Alasannya cuma satu : Selama melanggar peraturan soal dresscode itu nggak mempengaruhi nilai dan IP, ya pelanggaran jalan terus….😆

    Quoted for truth…😉

  46. 46 Snowie Februari 3, 2009 pukul 4:29 am

    Seumur hidup belum pernah kulihat ada Ikwan pecinta jenggot kuliah di Universitas-kami-yang-tidak-mengijinkan-adanya-mesjid-di-kampus-itu.

    Apaaaa😯

    BTW, emang kampusnya di mana? oh, Papua ya?

    tapi, kok ada peraturan boleh make jilbab?

    Wah, kalo gitu disana nggak ada ADK ya? Hmmmm….

  47. 47 Ketut_giri Februari 3, 2009 pukul 2:56 pm

    Wakakak!!!

    ternyata begitu ya situasi disana??

    berarti dengan peraturan “Harus pake sepatu” ajah yg dterapin di kampus saia, saia harus bersyukur yah!!

  48. 48 jensen99 Februari 4, 2009 pukul 6:47 am

    @ Snowie

    tapi, kok ada peraturan boleh make jilbab?

    Mana kutau? Sejak saya SMP & SMA yang juga sekolah negara belum pernah kulihat jilbab dilarang tu.🙄

    Wah, kalo gitu disana nggak ada ADK ya? Hmmmm….

    AFAIK sih gak ada… Buat apa juga? (o_0)”\
    Kalo aktivis separatis sih banyak.:mrgreen:

    @ Ketut_giri

    ternyata begitu ya situasi disana??

    Saat itu sih, ntah sekarang, sudah bukan mahasiswa lagi sih.:mrgreen:

    berarti […] saia harus bersyukur yah!!

    Mau protes trus demo sperti dnial (komen #1) juga silahkan kok.😛

  49. 49 dnial Februari 4, 2009 pukul 11:21 am

    Mau protes trus demo sperti dnial (komen #1) juga silahkan kok.😛

    Hei… kita nggak protes.. cuman melakukan “civil disobedience”😛

  50. 50 Ghani Arasyid Februari 4, 2009 pukul 12:52 pm

    Untungnya saya memakai seragam terakhir kali adalah pada waktu SMA, meskipun sebenernya pengen banget ngerasakan seragam ala High School di USA yang pake jas itu:mrgreen:

    Kalo di ITS peraturannya minimal pake baju berkerah (kecuali yang berjilbab) dan pake celana dan rok untuk yang perempuan…

    Peraturan tambahannya mungkin tidak boleh pake anting (kalo tidak ketahuan)😛
    Kalo untuk pewarna rambut di ITS masih diperbolehkan.

  51. 51 jensen99 Februari 4, 2009 pukul 4:21 pm

    @ dnial

    Hoo, beda ya? Saya kira makna “perlawanan sengit” diatas itu maksudnya protes gitu. Ya gak harus pake spanduk dan toa sih, yang penting ada aksi kolektif.🙂

    Maaf, maaf… (_ _)

    @ Ghani Arasyid

    Thanx for sharing, bro.

    Saya juga berseragam terakhir waktu SMU kok. Ah, sempat juga beberapa bulan waktu Praktek Lapangan sih, tapi itu gak dihitung karena magang, bukan ngampus.
    Saya masih bisa terima soal baju berkerah dan sepatu di kelas & kantor, tepi mahasiswa zonder jeans?👿


  1. 1 Fashion and Campus Culture | Neny: Up, Close, and Personal Lacak balik pada Juni 29, 2016 pukul 9:45 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Januari 2009
M S S R K J S
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter


%d blogger menyukai ini: