Arsip untuk Agustus, 2009

My slow rock files [5] True Love?

Sekitar seminggu yang lalu, seorang teman karib mendadak meminta opini saya tentang sesuatu (via Y!M). Rupanya dia lagi kesal melihat status FB seorang kawan SMP kami dulu (yang tentu saja tidak ada di FB saya 😛 )

*Dengan editan dan penyesuaian ke bahasa Indonesia yang umum*

***

ipas: kamu setuju nggak kalo cinta sejati itu harus berkorban demi kau membahagiakan orang laen, walau kau tersakiti sendiri?

saya: tidak
saya: cinta yang betul itu dua arah
saya: memberi dan menerima

ipas: maksudnya?

saya: kamu mo bilang kalo “saya bahagia lihat dia bahagia (jalan dengan orang lain)” gitu?

ipas: yo!

saya: saya anggap itu sebagai “menerima kenyataan”, tapi bukan “cinta sejati”
saya: terlalu bullshit
saya: “dia jalan dengan orang lain” itu sesuatu yang kita gak bisa ubah. Mau rela atau gak rela sama saja

ipas: nah, saya sependapat
ipas: apa artinya kita berkorban tapi ujung-ujungnya malahan buat kta tersiksa seumur hidup
ipas: malas yah yg kayak gitu

saya: bikin susah diri 😆

ipas: nah itu dia yg namanya cinta yg menyusahkan diri sendiri, (rofl)
ipas: abisnya saya kesel banget ni temen, selalu tulis cinta sejati mulu apalagi ada berkorbannya lagi
ipas: makanya saya hajar2 dia dulu

***

Keep on reading!

Don’t fuck with our Pendet!

indonesia1

Jadi, setelah beberapa hari ribut-ribut soal tari Pendet yang (katanya) diklaim tetangga, akhirnya ada klarifikasi dari pihak Malaysia bahwa iklan promosi tayangan Enigmatic Malaysia ternyata dibuat sendiri oleh Discovery Channel yang bermarkas di Singapura, dan bukan dibuat oleh KRU Sdn Bhd, Kementerian Pelancongan atau Kementerian Kebudayaan Malaysia.
Saya sendiri sempat nonton sambil lalu telewicara antara bos PH Malaysia sana dengan Menparsenibud kita di TVOne (hal yang saya lakukan karena internet mati dan belum bisa beres saat itu) soal ini, dan merasa bingung dengan pembicaraan yang IMO kacaw itu. :mrgreen:

Baidewei, saya inget disitu pak menteri Jero Wacik mengatakan bahwa:

“bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat kreatif, tiap saat selalu menghasilkan karya-karya seni & budaya yang baru. Hanya sayangnya baru sedikit sekali yang sudah didaftarkan, selebihnya hanya dipentaskan saja.”

(kira-kira begitu kata beliau. Tidak akurat adalah manusiawi) Tentu saja ini adalah sebuah kebiasaan yang harus dirubah. Nah, bahkan 3 hari sebelum kata-kata pak menteri saya dengar, temen saya masbro Hariadhi sudah memulai kampanyenya sendiri untuk mengumpulkan data tentang tari-tarian di Indonesia dari para warga dunia maya. Suatu usaha dalam semangat nasionalisme yang hebat IMO, terutama buat blogger-blogger aliran absurd™ seperti saya ini. :mrgreen:

Sesuai titipan pesan beliau, hari ini saya melanjutkan mengabarkan kampanye tersebut bagi siapa aja yang kebetulan lewat di blog ini dan belum tau akan hal ini. Bagi yang merasa terpanggil tuk menyumbang data bisa bergabung di fesbuk beliau, di grup Unity in Diversity FB, maupun di blog indounitydiversity. Semoga saja ke depannya karya budaya kita bisa lebih dihargai oleh tetangga kita itu yang sering merugikan itu. Selamat berpartisipasi. 😉

Tuhan=Pancasila=NKRI=Absurd (repost)

Beberapa hari kemarin saya mendapati sebuah tag dari seorang teman di akun FB saya yang mengundang saya tuk membaca sebuah post (notes) berjudul “Lelaki dan PSK”. Tulisan tersebut bisa dibaca arsipnya disini, silahkan disimak dahulu sebagai pendahuluan. Seperti yang bisa dibaca disitu, itu bukan tulisan yang rumit, jadi, beberapa kawan yang kena tag (termasuk saya) bergantian menuliskan komentar, ntah mengomentari tulisannya, sekedar absen, atau malah bercanda, dan…. satu komentar hebat kemudian menjadikan tempat itu sebagai diskusi politik tentang negara tercinta kita ini, terutama antara Buya Alex dan masbro GuhPraset.
Atas ijin sang empunya postingan, dan pemikiran saya untuk mengarsipkan diskusi (yang IMO) menarik ini ke blog pribadi tempat yang lebih mudah diakses umum, serta supaya tidak semakin OOT disitu :mrgreen: , maka saya meng-copas diskusi tersebut disini:

~Buya Alex;
Jeng Isma juga bisa menuduh Pancasila yg sakti dan NKRI yg harga mati kalo mau, sama absurdnya dgn tuhan itu 😆

~Saya;
^

NKRI yang harga mati itu absurd.

Amen to that, my bro!! 😆

~GuhPraset;
@Alex & @JenSen,
mungkin sudah waktunya kita (terutama saya) berhenti menelan setiap buntelan ide dengan mentah-mentah.
Pancasila dan ide NKRI itu sebaiknya tidak diterima karena dikatakan sakti, distempel ibu pertiwi atau hanya karena banyak orang meneriakkannya, apalagi karena ditodong senjata.
Begitu juga dengan ide tentang Tuhan, tentang Syariat maupun khilafah, tidak sepantasnya diterima hanya karena distempel Islam, diancam dosa atau diimingi vagina basah di surga.
Harus dibongkar dan dikritisi isinya satu-satu, harus diakui kalau memang ada yang sudah kadaluarsa dan layak buang.
Gimana saudara Alex dan JenSen, bersediakah menolong membuka pikiran saya, dan sekian banyak anak-anak bangsa yang lain?
Mungkin bisa dimulai dari penjelasan tentang absurdnya NKRI, atau mungkin Pancasila.

Terimakasih.
*siap2 daftar kursus berpikir*

Keep on reading!


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Agustus 2009
M S S R K J S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter