Archive for the 'Blogging' Category

Nostalgia Pesta Blogger: Pesta Blogger Nostalgia

Makasih tuk foto ini ya, Dewi

Eh, ko Agustus sibuk ka tidak? Kalo ko sempat, sa mau undang ko datang ke acara pernikahanku di Bali πŸ™‚ ,
Acaranya tanggal 10 dan 11 Agustus. Akomodasi tempat tinggal buat tamu kita sediakan buat 2 malam itu. Tiketnya sih yang kemungkinan agak mahal. Ko kan sa punya teman paling lama sejak kita kecil, best friend gitu lah… hehehe jadi sa ingin sekali ko bisa hadir di hari pentingku ini πŸ˜‰ Sa tau memang untuk tiketnya bakalan agak berat sih, jadi coba ko cek suda kira2 harga tiketnya berapa, nanti sa bantu, bagaimana?
Sa sangat berharap ko bisa datang…
Kasi kabar e…

Demikian bunyi sepotong pesan via FB Messenger yang kuterima dari sahabat dekatku, Johan, yang saat itu seingatku sedang berada nun jauh di negara lain. Ketika itu bulan Juni 2010, 4 bulan sebelum Pesta Blogger 2010.

Dengan Omded, Enda, Omith, Ndoro etc

Jumat malam, 27 Oktober 2017 di Restoran Omah Sendok, daerah Senopati, Jakarta, saya menghadiri acara kecil Pesta Blogger Nostalgia 2017. Kopdar terbatas (karena tempatnya terbatas) blogger-blogger yang rindu ngumpul ala Pesta Blogger 2007-2010 silam. Banyak wajah lama muncul di situ, orang-orang yang dulu meramaikan blogsphere nasional. Sebuah sukacita dan kebanggaan bisa menjadi bagian dari acara kopi darat itu, dan tentu saja sebuah privilege, kalau kata pacar saya. Iya, hak istimewa. Karena tidak semua blogger bisa menjadi bagian sejarah yang bernama Pesta Blogger, baik dulu maupun kemarin.

Dengan om Nukman, Didut, Pitra, Fikri, Om Yahya, Adham, Omith, Fany, Nena, Nonadita, etc

Layar proyektor di Omah Sendok tak putus menanyangkan berbagai momen dari acara Pesta Blogger 2007, 2008 dan 2009. Saya berdiri menatap foto-foto yang bergantian itu. Mengenang kembali keriuhan blogsphere tiap akhir Oktober dulu ketika ramai-ramai muncul posting tentang Pesta Blogger. Tema nostalgia memang kuat di acara ini. Selain momen di layar, juga lewat dekorasi dan games yang dimainkan. Saya juga bernostalgia sendiri mengenang kehadiran di Pesta Blogger 2010, Pesta Blogger satu-satunya yang pernah kuikuti. Tidak mudah pergi ke Pesta Blogger dan ada alasan tak terbantahkan kenapa itu privilege alias istimewa: JAUH. Iya, jauh. Pesta Blogger selalu diadakan di Jakarta, Sehingga butuh usaha ekstra tuk blogger luar Jakarta menghadiri Pesta Blogger. Buat saya yang pengangguran dan berdomisili di ujung timur negara luas ini, pergi ke Jakarta saat itu dengan biaya sendiri adalah kemustahilan. 😦

Dengan Swastika

Saat Pesta Blogger 2007 dan 2008 berlangsung, saya masih merasa cukup ngeblog hanya dengan posting dan blogwalking, tetapi sesudah punya banyak teman di dunia maya dan melihat begitu banyak postingan kopdar, saya sungguh ingin kopdar juga seperti teman-teman lain. Keinginan tak kesampaian itu lama-lama menjadi rasa frustrasi yang memuncak pada perhelatan Pesta Blogger 2009 yang juga gagal saya hadiri. Saat itu ngeblog masih ramai komentar, cukup terhibur melihat ramainya teman yang peduli atau senasib. Satu komentar dari Ainun Nazieb disitu ternyata menjadi nubuat: see ya next year bro πŸ˜€

Dengan Pitra, Nath, Iphan, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Dimas

Hari-hari berlalu tanpa harapan sampai akhirnya pesan lewat Facebook di atas itu tiba. Undangan pernikahan di Benoa, Bali, Agustus 2010. Singkat cerita, keluarga Johan memutuskan menanggung seluruh keberangkatan dan kepulangan saya, juga akomodasi selama acara. 8 Agustus 2010, saya berangkat ke Denpasar. Pertama kali ke luar kota setelah tujuh tahun. Perjalanan saya ke Bali menghadiri pernikahan Johan nantinya menjadi awal petualangan panjang demi menghadiri Pesta Blogger 2010 di Jakarta. Dua setengah bulan mengembara di 4 Provinsi, menumpang di rumah dan kamar berbagai sanak famili dan teman. Mungkin cerita dari perjalanan ini akan saya bagi di postingan lain. Banyak cerita suka duka di situ termasuk cerita segala kopdar atau dimarahi keluarga yang menganggap saya menelantarkan orang tua di rumah. πŸ™„

Dengan Saiful, Utet, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Icit

Jarak ke Jakarta tidak jadi mendekat sesudah mengikuti Pesta Blogger 2010. Saya masih tetap blogger Jayapura yang kejauhan kalau pengen ngumpul dengan blogger dari kota lain. Sebuah kebetulan bahwa kemarin saya sedang ngekos di Salatiga dan mampu ke Jakarta, tapi kopdar bukan lagi pengalaman tak terjangkau. Banyak sudah teman ditemui, bahkan dari saat acara nostalgia ini sampai saat postingan ini ditulis, sudah berjumpa dengan tiga kawan blogger untuk yang pertama kalinya. πŸ˜€

Yang di meja sebelah kanan: Rere, Swastika, mbak Eny, Dewi etc

Malam beranjak larut. Pesta pun usai setelah pelepasan balon. Saya masih minta panitia tuk foto bersama yang sayangnya tidak diikuti oleh teman-teman yang terlanjur pulang duluan. Tak ada lagi after party seperti dulu. Hanya ada orang-orang yang sibuk menanti ojek/taksi online. Usai sudah nostalgia, segala kenangan kehebohan tren sesaat yang namanya ngeblog itu. Mari kembali ngobrol di media sosial dan grup chat, dan apabila sempat berdekatan, mari kopdar. πŸ˜‰

Iphan, Yudis, etc etc Nico :))

Iklan

Soal selingkuh (repost)

Kalian sering khawatir kalo pasangan kalian diam-diam selingkuh? Ketika janji telah terucap, apakah itu jaminan bahwa pasangan kita menepati janjinya ? Mengapa banyak wanita yg terkejut ketika pasangannya minta ijin untuk poligami, atau meledak gak ketulungan ketika pasangan ketahuan diam-diam menduakan bahkan mungkin melimakan dia? Saya sering banget dicurhatin teman, bahwa sering sekali dia mencurigai pacarnya ketika lagi nerima telpon dari cewek lain atau pas lagi jauh.

Kamu bisa curhat gila-gilaan kalo diselingkuhi. Hanya saja pertama-tama kita harus tahu dulu membicarakan selingkuh dari sudut pandang siapa:
1) Yang berselingkuh. Pelaku
2) Yang diselingkuhi. Dah jelas dia adalah korban.
3) Orang ketiga. Partner selingkuh dari orang pertama. Pelaku juga; atau
4) Orang luar. Bukan pelaku atau korban.

IMHO, seharusnya ada opini yang berbeda dari sudut pandang tiap orang diatas, yaitu:
Orang pertama kadang tahu alasan kenapa dia selingkuh, tapi gak jarang juga tidak tahu. Ntah kapan atau gimana hatinya nyangkut sama orang ketiga dan gak bisa lepas lagi. Dia tahu kalo yang dilakukan salah, tapi gak bisa berhenti (kenapa coba?). Untuk mereka, selingkuh adalah jalan hidup.
Orang kedua adalah yang paling dirugikan, tentu saja. Secara perasaan mereka akan merasa dikhianati, dihina, disakiti, dilukai dan patah hati. Secara rasio, sekalipun andai mereka tahu kenapa mereka diselingkuhi, mereka tetep gak akan bisa nerima. Untuk mereka, selingkuh adalah kiamat.
Orang ketiga adalah yang paling sering disalahkan tapi juga yang paling diuntungkan. Mereka biasanya sok rasional dalam kasus begini. Berkata bahwa itu kehendak bebas pelaku untuk memilih antara dia atau orang kedua; atau bahwa mungkin sudah jodohnya dia dengan orang pertama. Untuk mereka, selingkuh adalah takdir yang berpihak pada dia.
Orang keempat? Mereka bisa berpihak pada salah satu dari tiga orang diatas, atau malah netral. Tapi untuk sekarang diabaikan saja dulu.

Kembali ke topik, kenapa sih, kita khawatir atau takut banget pasangan kita selingkuh? Kenapa sih gak ada yang mau diselingkuhin sama pasangannya?

Karena hubungan cinta (romantic love) dalam komitmen itu cuma boleh melibatkan dua orang. Itu sebabnya mereka disebut pasangan.

Jujur gue gak paham. Gue bukannya gak pernah cemburu, tapi gue bener-bener gak paham dengan ketakutan gue itu. Apakah kita takut terluka oleh kenyataan bahwa kita bukan satu-satunya dalam hati si dia?

Ya, tentu saja kita takut terluka. Orang yang tetap baik-baik saja saat diselingkuhi menurutku jauh lebih gak beres dibanding orang yang selingkuh dan tidak merasa bersalah. Komitmen itu ada hak dan kewajibannya; ada tanggung jawabnya. Salah satunya setia.

Apa yang terluka? Jadi dengan diselingkuhi sebenarnya yang terluka adalah ego kita untuk tidak lagi menjadi yang satu-satunya?

Yang terluka tentu perasaan. Namanya saja cinta. Kalau menjalin hubungan tanpa perasaan itu namanya kesepakatan bisnis. Atau memang belum mengerti cinta.

Yang gue pahami, selingkuh adalah nama lain pengkhianatan. Tapi gue masih gak paham, apa sebenarnya yang membuat kita terluka? Mengapa terluka?

Karena dulunya kita cinta dia, dia cinta kita; sekarang, kita masih terus cinta dia, dia cinta orang lain, padahal masih sama kita…

Mengapa takut kehilangan si dia ?

Itu artinya kita merasa memiliki dan dimiliki oleh pasangan kita.

Karena dia adalah yang terbaik bagi kita? Bagaimana kita tahu kalau belum mencoba dan melakukan perbandingan? Well, kalau dia adalah yang terbaik, apakah dengan selingkuh di belakang kita itu adalah termasuk salah satu kehebatan si dia?

Dalam sebuah KOMITMEN, pasangan HARUS jadi yang terbaik, seburuk apapun dia. Judith Viorst berkata: β€œOne advantage of marriage is that when you fall out of love with him, it keeps you together until you fall in again.” Buat yang masih pacaran sih sebenarnya kode etiknya sama saja. Kalo dah gak cocok, putus dulu, baru cari yang lebih baik. Jangan cari yang lebih baik saat belum putus dengan yang ada sekarang (lalu jadi alasan buat putus). Lakukanlah perbandingan sebelum berkomitmen, jangan didalam komitmen.

Takut gak bisa mencintai orang lain seperti kita mencintai si dia sekarang ini? Berarti yang salah kan ada pada diri kita, kenapa kok gak bisa? Buktinya kita bisa mencintai dia, berarti bisa dong mencintai yang lain juga seperti mencintai dia.

Perasaan itu TUMBUH, sementara kenangan itu ABADI. Hubungan cinta yang kita jalin dengan orang lain terdiri dari serangkaian pengalaman yang dilewati berdua, sejalan dengan itu, perasaan juga tumbuh. Mulai dari senang menghabiskan waktu berdua, lalu pengen terus berduaan anytime anywhere, sampai gak bisa lagi hidup tanpa si dia. Sudah sampai kesitu? Cinta itu menghabiskan waktu yang tidak sedikit, dan meninggalkan memori yang dalam. Maksudku, jatuh cinta dan membangun hubungan lagi (sesudah diselingkuhi) itu tidak mustahil, bahkan itu obat terbaik kalo patah hati, tapi juga tidak selalu mudah. Karena mulai dari nol lagi, kadang butuh waktu yang panjang bahkan tuk sekedar memulai komitmen. Karena kenangan yang kuat, seringkali kita mencari sosok kekasih kita yang lama pada pasangan yang baru. Atau yang lebih ekstrim, kita gak bisa gantikan dia dengan orang lain. Karena pernah diselingkuhi, kadang kita trauma dan sulit mempercayakan hati kita pada pasangan yang baru. Karena sebab yang sama, kadang kita mencari pasangan baru untuk pelarian, sekedar menunjukkan pada mantan kalo kita juga laku. Dan masih banyak alasan lain kenapa memulai hubungan baru itu kadang-kadang tidak mudah.

Yang jelas, selama gue belum menemukan penyebab inti yang bikin kita takut untuk diselingkuhi, buat gue hal tersebut jadi absurd. Kalo ternyata intinya adalah ego kita yang terluka, berarti harusnya penyembuhannya cepet. But at least, kita gak perlu sampai putus asa.

Pastinya karena tidak mau kehilangan orang yang kita cintai.

Think this, dia selingkuh karena dia memilih untuk selingkuh. Kita tidak selingkuh karena kita memilih untuk tidak selingkuh. Maksudnya kita bukannya gak bisa selingkuh, KITA BISA SELINGKUH, tapi kita tidak mau.

Jelas selingkuh adalah pilihan; pilihan yang sangat buruk dan kejam. Tidak selingkuh seharusnya BUKAN pilihan, tapi kewajiban.

Kita tidak memilih selingkuh, entah apa alasannya: cinta, respect terhadap dia dan komitmen, whatever. It means, WE ARE BETTER THAN HIM/HER. So, kalo dia selingkuh, so what? Dia tidak cukup berharga bagi kita; bahwa kita tidak sebanding dengan dirinya. Kita kebagusan buat dia.

Saat seseorang tahu kalo dia diselingkuhi, dia tidak akan membandingkan diri dengan si pasangan lalu merasa lebih baik karena dia lebih setia, tapi dia akan membandingkan diri dengan si selingkuhan (karena umumnya mereka sama gender) dan merasa lebih buruk. It means THE THIRD PERSON ARE BETTER THAN ME.

So kalo dia selingkuh, so what ? tidak usah ditangisi, putuskan apakah kita mau kasih kesempatan lagi ato ego kita yang segede gaban ini menolak untuk kompromi. Itu kalo kita pure pake otak, rasional. Tapi rasa gak bisa bohong. Let it out, but don’t go further. Cari aja yang lain, yang sebanding dengan kita.

Ada orang yang selingkuh buat refreshing atau coba-coba karena ada kesempatan, tapi sebenarnya sama sekali gak berniat lepasin pasangannya. Orang seperti ini kalo ketahuan, akan usaha cara apapun juga biar dikasih kesempatan lagi. Tapi ada orang yang selingkuh karena memang menginginkan adanya hubungan baru. Dengan selingkuh dia justru berharap bisa diputusin atau minta putus dan resmi dengan yang baru.

Gue gak takut diselingkuhi, karena gue masih belum paham sebenarnya mengapa gue musti takut diselingkuhi. Buat gue, ketakutan itu masih gak berdasar.

Soalnya ego-mu besar. Mungkin posisi tawarmu tinggi terhadap pasanganmu dan dalam lingkunganmu. Kamu pasti cantik, menarik dan mungkin populer, jadi pasti pacarmu yang bakal rugi kalo dia menyelingkuhimu. Iya, ini nuduh.

Selingkuh itu gampang. Yg susah adalah gimana menjaga tetap pada satu komitmen sementara banyak banget godaan nan hot dan seksi disekitar saya. Saya berjuang sekuat tenaga untuk tidak tergoda walopun ngiler banget.

Jadi selingkuhan juga gampang. Tapi itu cerita lain untuk saat ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~













Seperti judulnya, postingan ini repost. Aslinya ditulis lima tahun lalu di kolom komentar artikel Memeth soal selingkuh (part 1 dari 3). Komentar panjang lebar gak jelas tuk mengomentari artikel tersebut. Konon artikel itu sendiri juga Memeth repost dari tulisan dia sendiri di billboard Friendster entah jaman kapan. πŸ™‚
Saat itu blog ini belum ada, makanya ngeblog di postingan orang ketimbang posting sendiri komentar yang cukup panjang itu. Juga mengetik jawaban itu, saya masih belum menguasai tag-tag HTML seperti blockquote untuk membuat kutipan bagian demi bagian yang ingin saya tanggapi. Masih dungu, makanya jadi komentar yang jauh dari rapi. . Internetan juga masih nebeng di rumah teman. πŸ™„
Karena sebagian besar isi artikel ini merupakan jawaban saya terhadap poin-poin didalam postingan yang disebut diatas, maka postingan Memeth juga saya kopas nyaris utuh kesini supaya tidak membingungkan. Postingan Memeth saya pecah per poin dan ditulis dalam bentuk kutipan berwarna biru, sementara tanggapan saya juga saya pisah menanggapi tiap poin.
Postingan Memeth yang saya copas kesini sudah saya sunting supaya lebih padat dan jelas tanpa mengurangi maksud yang disampaikan. Balasan saya yang saya repost disini juga saya sunting dengan maksud yang sama, dengan sesedikit mungkin penambahan walopun sambil ngedit ada ide-ide baru.
Sama-sama tulisan lawas, apa yang dipikirkan dan dirasakan Memeth juga saya jaman itu (atau sebelumnya lagi) tentang selingkuh belum tentu mewakili nilai-nilai yang kami masing-masing pegang saat ini. Bisa saja masih sama, agak mirip, atau mungkin berbeda. πŸ˜‰
Saya teringat tulisan ini saat membaca postingan Teh Nita soal selingkuh dan berkomentar disana beberapa bulan lalu. Kupikir tak ada salahnya memuat ulang tulisan sendiri yang tercecer di β€œrumah orang”. :mrgreen:
Ini cuma draft lama yang saya putuskan tuk dituntaskan berhubung sedang punya koneksi. Karena itu makasih dah mau meluangkan waktu tuk membaca dan komentar disini.

Six days, in the Spirit of Java

Seminggu yang lalu, saya menghadiri acara ASEAN Blogger Festival Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Ini pertama kalinya saya diundang dan dibayari menghadiri suatu acara blogger. Sesuatu yang selama ini menurut saya sulit terjadi pada blogger non komunitas seperti saya. Jadilah saya datang dengan riang gembira ke Solo, padahal baru saja 10 hari menginjak Jayapura lagi setelah merampungkan 3 bulan perjalanan ke luar kota.

Rabu (8/5), hari pertama. Dari pagi hingga petang diisi dengan penerbangan Lion Air dari Jayapura ke Solo. Dua kali transit di Makassar (Maros) dan Jakarta (Tangerang), saya tiba di Solo jam 5pm GMT+7. Cukup SMS, sebuah mobil jemputan datang dari RBI Bengawan beberapa menit kemudian berisi Doni dan Hendri, juga Almas yang sudah datang duluan beberapa jam sebelumnya. Kami langsung makan bersama di warung lalapan dekat Lumintu. Bersyukur sekali punya teman-teman baik seperti mereka. Karena belum bisa masuk hotel, sekali lagi Bengawan membuka pintu RBI buat saya nongkrong dan tidur semalaman bareng Almas dan Semmy, teman serombongan Maluku. Masih tak percaya sudah di Jawa lagi.

Kamis (9/5), hari kedua. Bangun duluan dan segera mandi. Saya kedatangan tamu istimewa di RBI: Rifu. Blogger jadul temennya Sora ini sedang di Solo rupanya. Jadilah dia singgah dan kami makan pagi berenam di pecel Madiun terdekat bareng Almas, Semmy, Arit dan Hendri. Usai makan pagi ini sebenarnya saya sudah pengen melapor ke hotel, tapi karena satu dan lain hal jadi tertahan di RBI dan malah jadi gak bisa keluar karena siang itu ada workshop β€œInternet dan Sosial Media sebagai saluran berekspresi pegiat informasi untuk perubahan sosial”. Selain mbak Shita Laksmi dan mas Dandhy Laksono, saya cuma ingat mas Donny BU beredar disekitar situ. Saya tak kenal pembicara dan peserta lain, tapi materi-materinya menarik. Ada satu lagi tamu di RBI hari ini: Maksum! Senang akhirnya ketemu seleb ini. πŸ˜€
Sore, sesudah mandi ala ninja, segara cegat taksi bareng Almas dan Semmy menuju Kusuma Sahid. Sepi… semua panitia disitu sudah minggat. Akhirnya cegat taksi lagi ke Sahid Jaya, disambut sama Ajeng Lembayung. Panitia yang ngurusi akomodasi rada cari masalah rupanya. Saya sempat gak dapet kamar. Syukur ada Ajeng, saya bisa naruh barang dulu di kamar dia tuk segera melapis batik ke kaos dan bergabung dengan rombongan nunggu bis ke Loji Gandrung.
Di Loji Gandrung acara makan malam bareng Walikota Solo. Terlalu banyak pidato panjang-panjang, akhirnya 9pm baru mulai makan. Tapi setidaknya memberi kesempatan buat teman-teman yang terlambat datang karena baru tiba di Solo malam itu kek Simbok Venus, Putra, Dimas dan Ira. Makanannya lezat, sayang terlalu cepat habis.
Balik ke hotel, nongkrong di lobi. Nonadita rupanya mau segera cari tiket kereta balik ke Jakarta. Jadi kami jalan-jalan malam cari Alfamart atau Indomaret yang jual tiket KA, bareng saya dan Nondit ada Fikri, Ira, Phally, Kounila, Preetam dan Putra. Ternyata di Solo tiada toko 24 jam. Akhirnya kami balik dan nongkrong di angkringan seberang Sahid Jaya sambil ngeteh sampai 1am. Tidur

dengan Rifu

Semmy, saya, Rifu dan Almas. Didepan RBI usai makan pagi. Foto karya Hendri, dengan kamera Almas.

loji gandrung 1

Saya, Nonadita, Chichi, Kounila dan Simbok Venus. Makan malam di Loji Gandrung. Foto karya Ollie.

Jumat (10/5). Hari ketiga. Bangun jam 5am, sejam kemudian sudah di ruang makan, ngobrol dengan om Warm. Seminar di KSPH hari ini terdengar membosankan kecuali yang dibawakan Hermawan Kertajaya. Menjelang jam sholat Jumat, rencana kabur pun disusun karena Ira pengen makan Sate Buntel. Segera sesudah masuk jam ibadah Jumat, satu rombongan besar menyelinap keluar hotel dan mencegat dua taksi ke Sate Buntel Tambak Segaran. Saya, Chichi, Nonadita, Ajeng, Ira, Kounila, Preetam, Chan, Luke, Viladeth, Marul dan Tonyo. Enak banget makanan disana. Balik ke KSPH jam 2 lewat, sudah tak ada lagi yang berminat ikut seminar. Nongkrong saja diluar aula sambil nyicip-nyicip cemilan dan teh. Lanjut ngobrol berempat bareng Ira, Putra dan Ajeng di lobby KSPH, nyari tempat tuk isi ulang batere henpon. Menjelang matahari terbanam, komplotan kami sudah cegat dua taksi lagi ke Mall Paragon. Muter-muter di Centro, kami lalu pecah jadi dua rombongan ngafe: Saya, Ajeng, Ira, Putra, Kounila dan Nonadita di Starbuck; sementara Preetam, Viladeth, dll di Excelso. Hampir jam 7pm, Chichi mengabarkan kalo tak ada makan malam resmi. Jadilah saya, Ajeng dan Ira naksi sendiri ke Ngarsopuro, cari makan di kafe Tiga Tjeret. Kafe itu rame luar biasa, syukurlah kami disediakan tempat oleh Maksum, Sam Ardi, Bair, Aziz, Ael, Hassan dan Jun yang dah parkir duluan disitu. Makasih banget, teman-teman. πŸ™‚
Di Istana Mangkunegaran seberang Ngarsopuro, Mangkunegara Performing Art 2013 sedang berlangsung, tapi tak ada yang tergerak tuk meluncur kesana. Teman-teman saya yang lain juga nongkrong di Omah Sinten di sebelah Tiga Tjeret. Jadi saya, Ajeng dan Ira nyamperin mereka sebentar, lalu jalan kaki ke Sahid Jaya. Mandi sejam, bawa Kounila, lalu cegat dua taksi lagi. Harris Maul yang lagi nongkrong di lobi tak lupa diculik. Dua taksi ini lalu menjemput teman-teman di Omah Sinten, siapapun yang masih kuat nongkrong, lalu menuju ke Hotel Rumah Turi, nongkrong di Kedai Turi. Ada bir dan macam-macam makanan lezat disitu. Saya, Preetam, Nonadita, Chichi, Fikri, Harris Maul, Putra, mbak Ira, Ajeng, Marul, Luke, Viladeth dan Mien nongkrong disitu hingga 1am sebelum balik ke Sahid Jaya. Tidur.

sate buntel

Ki-ka: Chichi, Kounila, Tonyo, Ira (gak kliatan), saya, Preetam, Ajeng, Chan, Marul, Nonadita, Viladeth. Makan siang di Sate Buntel Tambak Segaran. Foto karya Luke.

kafe Tiga Tjeret

ki-ka: Hassan, Jun, Sam Ardi, Bair, Maksum, Ajeng, Ira, saya dan Ael. Makan malam di kafe Tiga Tjeret. Foto karya Aziz Hadi.

Sabtu (11/5), hari keempat. Bangun jam 5 lagi, sejam kemudian sudah makan pagi bareng Simbok dan Semmy. Ke KSPH, dengerin country report. Break Out session 1 ikut kelasnya Kounila, lalu session 2 ikut kelasnya Preetam. Sesudah makan siang yang seru karena sambil main “no gadget zone”, acara dilanjutkan dengan tur ke museum Sangiran. Sorenya ke Urban Forest. Masih lumayanlah tur ke museum, tapi tanam pohon di tepi sungai itu kurasa buang waktu dan tenaga, walo para blogger asing tampaknya senang bisa terlibat. πŸ˜€ Balik ke Sahid Jaya sudah lapar lagi. Jadi segera sesudah turun bis, Ira ngajak makan pempek di warung seberang hotel. Saya, Nonadita, Fikri, Ajeng dan Putra ikut bergabung. Mandi dan siap-siap malam mingguan 90 menit kemudian. Acara tur dengan bis tingkat terbatas tuk sejumlah blogger saja, jadi kami bikin acara sendiri seperti biasa. 8.30pm, cegat dua taksi dari Sahid jaya menuju Galabo. Isinya saya, Ajeng, Nonadita, Ira, Simbok, Putra, Fikri dan Dimas. Sampai di Galabo sudah ditunggu Wiwikwae. Bersama-sama mbak Wiwik ada Adit, Maksum, Sibair, Ael, Hassan, Aziz, dan Setyo Mursid. Kami ngobrol bareng dan makan-makan sampai mbak Wiwik cs memisahkan diri. Kelar di Galabo, karena sulit cari taksi kami memutuskan jalan kaki menyusuri Slamet Riyadi menuju Am Pm cafΓ©. Asyik juga cerita-cerita sambil jalan-jalan gini. Sampai di Am Pm, sudah ada rombongan besar disitu: Preetam, Viladeth, Claire, Regin, Tonyo, Flow, Luke, Chan, Jericho, Lana, Mien, Jessica, KC dan ntah siapa lagi sudah menghabiskan 3 teko bir disana. Saya kebagian segelas doang dan malas beli lagi. :mrgreen: Kami disana hingga jam 12an. Tiap kelompok pulang sendiri-sendiri. Saya, Ajeng, Jessica, Preetam , Chichi dan beberapa teman lagi jadi rombongan terakhir. Kami jalan kaki saja kembali ke Sahid Jaya. Lagi-lagi tidur jam 1.30am. Malam minggu yang menyenangkan. πŸ™‚

lunch sabtu siang 1

ki-ka: Chan, Preetam, Chichi, Fikri, Phally, Regin, Ira, saya, Nonadita, Kounila, Viladeth, Putra, Luke. Kamera milik Luke, sepertinya foto karya Tonyo. Makan siang di KSPH sambil mengumpulkan gadget.

evolusi sangiran

Maksum, Sofyan, Enthong, saya dan Rasarab; manusia paling sempurna. πŸ˜›
Foto karya Aziz Hadi.

urban forest 1

Berdiri: Ollie, Chan, Jessica, Nonadita, Fikri, Kounila, Lana, Preetam & Jericho. Jongkok: Viladeth, saya dan Luke. Sore di Urban Forest. Kamera milik Ollie. Lupa siapa yang motret. πŸ˜›

Galabo 2

Mursyid, Adit, mbak Wiwik, Simbok Venus, Nonadita, Ira, saya, Ael, Maksum, Hassan, Aziz. Makan malam di Galabo. Foto karya Bair. Kamera milik Simbok.

Am Pm cafe

Ki-ka: Saya, Preetam, Mien, Phally, Jessica, Luke, Putra, Chan, Claire, Tonyo, Chichi, KC, Jericho, Flow, Viladeth, Ajeng, Ira, Fikri, Nonadita. Ngebir di Am Pm cafe. Foto karya Simbok.

Minggu (12/5), hari kelima. Sudah mulai lelah setelah sering tidur larut. Saya tetap bangun jam 5. Sejam kemudian di ruang makan, Preetam sudah bertanya β€œwhat’s the plan for tonite?” πŸ˜† Pagi ini ada acara tur naik sepur kluthuk Jaladara. Tapi saya tak berminat. Sebagian teman masih tidur, sebagian lagi malah sudah harus cabut. Ngobrol-ngobrol saja di resto dengan Ollie, Chris, Ira, dll. Berhubung siang sudah harus check out, saya pun berkemas. Anggara nyamperin dengan ide bagus: sepedaan! Pake sepeda Hotel. Kebetulan Minggu ada car free day. Seperti lupa kalo sedang lelah banget, sayapun memilih sepeda dan tak lama kemudian sudah gowes-gowes bareng Anggara, Sony, Lukman, Nemicio dan Angga. Asyik benar sepedaan rame-rame. Kami menuju keraton Surakarta Hadiningrat dan nongkrong disana hingga sejumlah peserta ABFI yang usai tur ntah dari mana juga berdatangan. Saat makin ramai, kami melanjutkan sepedaan ke kampung batik Kauman tak jauh dari situ. Lihat-lihat, foto-foto dan singgah sejenak di museum batik disitu. Balik ke keraton surakarta, para peserta lain sudah memenuhi pendopo keraton untuk acara penutupan ABFI serta jamuan dari keraton Surakarta. Ada dua hal yang menjadi perhatian saya saat itu. 1] pihak Keraton yang diwakili GKR Koes Murtiyah (CMIIW) bercerita panjang lebar soal sejarah keraton Solo, lalu akhirnya curhat menginginkan dikembalikannya Daerah Istimewa Surakarta. πŸ™‚ 2] kasak-kusuk dengan sejumlah teman terdengar kabar kalo GKR Koes Murtiyah konon marah pada para blogger karena tidak berpakaian dengan sopan untuk bertamu ke keraton. Sayangnya memang tak ada informasi apapun soal dresscode. πŸ‘Ώ 3] tari-tariannya keren. Para penari cewek cantik-cantik :mrgreen: Kelar makan siang dll, saya, Anggara dkk bersepeda balik lagi ke Sahid Jaya. Check out dan nongrong di lobi bareng ransel-ransel. Capeknya luar biasa. Bingung juga sekarang mau kemana dan bagaimana. Ajeng dan Putra yang datang kemudian pakai bis memberi solusi sementara: pindah ke lobi Kusuma Sahid. Sayapun ikut taksi kesana dan nongkrong di lobi sesorean ngeliatin kontingen-kontingen yang balik pake bus atau naksi ke bandara. Pengen balik ke Salatiga juga, tapi rasanya badan dah terlalu berat tuk nenteng ransel ke terminal. Bermalam lagi di Solo? Dimana? Pas mikir-mikir gitu ada insiden pula, salah satu ransel saya gak sengaja terbawa pakde Blontank ke RBI. Ealah… πŸ˜†
Tak disangka-sangka Dimas (yang seharian terpisah) muncul, ngabarin kalo dia buka kamar di hotel itu buat semalam. Jadilah saya dan Ajeng ikut numpang disitu. Istirahat bentar. Menjelang matahari terbenam sudah jalan lagi bareng Ajeng dan Putra tuk berburu tutup lensa, minum-minum di Kopioey Solo, ngambil ransel saya di RBI, belanja suvenir di Javanir, lalu menuju restoran Atria resto di Effect cafe tuk makan malam. Sudah menunggu disana Dimas, Lana, Jericho, Viladeth, dan Preetam. Mien dan Chris menyusul kemudian. Makan dan ngobrol hingga sekitar 10pm (saya masih sempat nonton Arema dibantai Persipura), kami lalu jalan kaki pulang ke Kusuma Sahid dan dilanjutkan sesi ngobrol sambil ngebir (minus Lana dan Chris) di tepi kolam hingga jam 1am. Tidur. Benar-benar lelah..

sarapan minggu pagi

Chris, Luke, Preetam, saya, Fikri, Nonadita, Lana. Sarapan minggu pagi menjelang Fikri dan Nonadita ke Jogja. Foto karya Kounila.

Keraton Surakarta

Di Keraton Surakarta Hadiningrat. Penutupan ABFI. Foto karya Umar.

Senin (13/5), hari keenam. Dimas sudah balik ke Jakarta saat subuh. Sekitar 8am baru sarapan pagi bareng Ajeng dan Becky. Preetam, Lana dan Putra menyusul kemudian. Sekitar 12pm, saya check out dari Kusuma Sahid. Bertiga carter taksi tuk belanja di Pusat Grosir Solo, sesudah itu menurunkan Putra di stasiun KA Purwosari tuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Saya sendiri berpisah dengan Ajeng di terminal Tirtonadi tuk melanjutkan perjalanan ke Salatiga, dan sampai di rumah jam 4pm.

Seperti tertulis diatas, catatan-catatan penting dari acara ini buat saya hanyalah kopdar dan senang-senang. Mau kemana arah dan tujuan komunitas asean blogger itu sendiri, biarlah duit yang menentukan, karena kopdar pada level lokal saja susah, apalagi regional. Sayapun masih pesimis bahwa setelah naik level jadi blogger regional saya akan sering posting dalam bahasa Inggris supaya bisa dimengerti blogger-blogger luar. Haha. Satu hal yang pasti, saya puas dengan acara ini. πŸ˜‰

Terimakasih buat pakde Blontank buat undangan lisannya, juga bunda InJul dan mbak Asri dari panitia pusat buat undangan resmi dan administrasi ke acara ini.
Terimakasih buat Hendri, Doni dan Almas yang sudah menjemput saya di bandara hari Rabu sore. Juga buat makan malam, makan pagi dan makan siang keesokan harinya. Makasih buat semua blogger Solo yang jadi teman ngeteh dan ngobrol selama saya di Solo. Arit, Umar, Ael, Hassan, Gilang, Arif dan entah siapa lagi. Makasih buat Bengawan tuk akomodasi semalam di RBI selama H-1 dan H-Β½ .
Terimakasih buat Rifu yang mau mengunjungi saya dan Almas di RBI. Senang ketemu kamu lagi. Semoga bahumu cepat pulih.
Buat Semmy, thanx dah jadi roommate yang cool selama 3 malam.
Buat teman-teman kopdarjakarta di Solo, terutama yang setiap hari hangout bareng, kalian luar biasa. Dua tahun lebih saya tidak pernah kopdar rame-rame dengan teman-teman komunitas sendiri. Senang sekali bisa makan, minum, ngobrol dan keluyuran dengan kalian 3 hari. Chichi, Dimas, Ira, Putra, Nona, Simbok, Fikri, Mbak Wiwik, makasih banyak dan sampai ketemu lagi. Special thanx buat Dimas yang dah berbagi kamar supaya saya bisa istirahat semalam lagi di Solo, dan very special thanx buat Ajeng Lembayung. Sahabat dan event organizer yang hebat banget. Makasih tuk seluruh acara ngumpul-ngumpul dan transportasi yang kamu urusin, dari taksi sampai jalan kaki. So much fun. πŸ™‚
Buat teman-teman lama yang ketemu lagi di Solo; Rian, om Warm, Nopy, Anno, Tey, Enthong, Arga, Rara, dan siapa lagi yang mungkin kulewatkan, sampai ketemu lagi lain waktu. Teman-teman yang baru kali ini kutemui, bahkan baru kukenal pada event ini; Anggara, Chandra Iman, Jay, Ollie, Jarwadi, Maksum, Sam Ardi, Jun, Sibair, Aziz Hadi, Setyo Mursid, Anazkia, Niken, Harris Maul, Misno, Sofyan, Iqbal Khan, Lukman, Nemicio, Sony, Angga, Fitri, dan entah siapa lagi. Senang bertemu kalian semua. Saya selalu salut pada blogger-blogger yang datang ke suatu acara dengan senyum ramah, mengulurkan tangan duluan sambil menyebut nama dan asal, membangun pertemanan baru. Saya sulit seperti itu. :mrgreen:
Buat teman-teman dari negara tetangga (kalau kalian bisa mengerti paragraf ini), sejak pembentukan Asean blogger saya selalu pesimis dengan komunitas ini. Kurasa di Negara sendiri saja kami masih terkotak-kotak, blogwalking pun jarang ke blogger luar negeri, macam mana mau bergaul dengan blogger Negara sebelah? Tapi pengalaman menunjukkan berteman memang gak cuma berawal dari online, dari kopdar pun bisa, dan suatu kebetulan yang bagus bahwa sebagian besar dari kalian sering hangout dengan saya dan kawan-kawan saya setiap hari sehingga kita bukan hanya berkenalan, tapi bertukar banyak canda, cerita dan pikiran. Preetam, Kounila, Phally, Luke, Chan, Mienpham, Becky, Jessica, Viladeth, Marul, Tonyo, Jericho, Lana, KC, Chris dan entah siapa lagi nama teman-teman dari negara tetangga, senang berkenalan dan berteman dengan kalian semua. Spesial tuk Preetam, saya selalu mendapat hal baru setiap saat ngobrol denganmu. So much thanx. Kapan-kapan kita harus ngumpul lagi. Semoga.. πŸ˜‰

PS: yang ingin tautan ke twitternya diganti jadi tautan ke blog, silahkan sampaikan di kolom komentar. Tautan twitter saya pilih semata-mata karena lebih mudah kupasang. πŸ˜‰

Best 2011 Posts Roundup

Baru saja Kamis (29/12) dinihari sebelum tidur saya membaca postingan kompilasi 2011 milik Eka Situmorang. Sebuah ringkasan perjalanan hidup selama 12 bulan dalam tahun ini, baik sebagai blogger, maupun sebagai PNS, istri dlsb. Menarik dan mengispirasi. Saya tidur dengan mikir-mikir apa yang kira-kira bisa saya tulis menjelang tutup tahun. Seperti biasa, tak ada ide. Kisah hidup tak ada menarik. Mengoceh tentang dunia? Sudah banyak yang buat. Resolusi tahun baru? Basi! Tidur sajalah, kalau memang tiada yang bisa diposting, toh tidak ada yang peduli. Onlen lagi kamis pagi dengan sebuah mention tautan di fesbuk menuju blog Tiyang Sae. Rupanya ada PR dari Gum untuk buat postingan kompilasi 2011 seperti miliknya. Lebih sederhana sih format dia: hanya kompilasi postingan-postingan yang paling berkesan selama tahun ini. Keknya gampang ya? Masalahnya blog saya senasib dengan kehidupan nyata saya: Fakir apdet. Satu tahun ini postingan saya tidak sampai dua lusin. Sebenarnya itu jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya yang malah tidak sampai dua digit. Jaman memang sudah berubah… :mrgreen:

Okay, mari kita lihat sama-sama, apa saja yang kira-kira berkesan selama setahun terakhir dalam blog ala kadarnya ini..

Best Daily life

Hello world! part 3: Return to Country’s End
Persocom

Posting pertama sangat bersejarah, karena menandakan kembalinya saya ke blogsfer setelah hiatus selama 7 bulanan, berkelana dari Karangasem sampai Tangerang. Senangnya nulis lagi di PC yang lama ditinggalkan, dan mengetahui masih banyak yang membaca tulisan di blog ini. Seharusnya ada banyak sekali hal yang bisa diceritakan tentang setengah tahun vakum itu, tapi karena berbagai hal hingga menjelang 2012 pun tidak satupun cerita tentang itu terbit. Yawdalah.. :mrgreen:
Posting berikutnya soal komputer saya, dan teman-teman baik yang membuat segala hal jadi mungkin. Ini tulisan dari hati banget, karena komputer tua yang saya pakai nulis postingan ini adalah harta saya paling berharga. πŸ˜‰

Best Blogging life

Sesudah blogwalking
Batal ke Sidoarjo

Kedua post ini traffic-nya diatas rata-rata postingan-postingan lain. Jumlah komen juga berbanding lurus dengan trepik™. Post pertama adalah survey menyoal model interaksi antar blogger. Posting kedua itu curhat perkara offline, tentang event blogger yang gagal saya datangi. Saya baru sadar kalo dua postingan beruntun sesudah itu juga curhat yang gak beda jauh. Jadi trilogi deh. Saya memang tidak pernah rela pulang dari Jakarta tempo hari itu. πŸ˜†

Best Current Issues

Saya dan Royal Wedding

Royal wedding di Inggris menjadi salah satu peristiwa paling populer tahun ini. Saya tak ketinggalan nonton dan memposting ucapan turut berbahagia. Ini sebenarnya tipe postingan yang sekarang ini cukup dituliskan di socmed. Pake hashtag #royalwedding kalo di Twitter. Tapi tentunya lebih abadi kalau posting blog kan? Walaupun di Fesbuk sekarang sudah pakai header dan timeline juga, ada arsip tuk melihat kembali postingan status masa silam. Tampaknya FB lelah bertarung dengan G+ dan banting kemudi bersaing dengan blog. :mrgreen:

Best Politic

Papua, sekilas masalah

Tulisan ini masterpiece 2011. Yang komentar sedikit, tapi trepiknya tinggi. Bahkan ada teman yang sampai menyampaikan pujian lewat SMS. Kaget juga itu. Tahun ini memang penuh gejolak di Papua. Kasihan rakyatnya, mereka terjebak diantara konflik kepentingan antara para penguasa di Jakarta dan elit politik di daerah, belum lagi kepentingan Internasional seperti PT Freeport. Sebenarnya beberapa poin disitu pengen saya elaborasi lagi di postingan-postingan tersendiri, tapi lagi-lagi terkendala mood dan waktu.

Best Football

Indonesia 0-2 Bahrain; Boaz kok di kanan?

Saya sebenarnya lebih suka menulis soal Persipura dan yang berhubungan dengan sepakbola Papua, tapi kalau nulis soal timnas Garuda memang yang ngasi tanggapan lebih banyak. Di salah satu poin saya saat itu, saya berharap kompetisi sepakbola di Indonesia segera jalan supaya para pemain timnas lebih terasah. Apa daya sekarang kompetisinya dua. Mungkin harus buat dua timnas juga ya? Timnas IPL dan timnas ISL, lalu diadu. Kira-kira siapa yang menang, pembaca? 😈

Yah, sepertinya cuma itu. Sedikit kan? Tahun ini saya tak menulis apapun soal musik atau relationship, tak ada opini soal Palestina atau Iran. Tak ada juga tulisan soal Persipura yang sudah memasuki ISL 2011-2012, atau tentang kisruh PSSI. Beberapa draft masih tersimpan dalam bentuk notepad, ntah kapan jadi postingan. 2011 memang masih tahun yang suram tuk ngeblog bagi saya dan sebagian teman-teman sepermainan. Mengutip ucapan Buya Alex beberapa hari lalu di fesbuk:

Blogger itu tak beda dengan pengisi majalah dinding sekolah. Naik kelas, atau lulus, dan pengurus Osis berganti, wajah baru tiba mengisi mading dengan segala cerpen atau puisi. Ini semua cuma proses. Di antara mereka, ada yang melompat lebih tinggi dengan menjadi penulis berkualitas, atau kelewat tinggi menjadi penulis berkuantitas yang akhirnya nongol di televisi dalam acara semacam ProvokatifAsalAktif atau The Hips dengan youtube basi tapi dipoles seakan keren. Memang sudah begitu. Ada jalan hidup masing-masing.

Saya, dan beberapa teman lain, mungkin sudah lulus sekolah, dan hanya sesekali menengok mading, tapi semoga tahun depan kita masih sering berjumpa lagi disini. πŸ˜‰

Fuck, sudah hari H! [2]

Hari ini Pesta Blog.. EH, ON|OFF 2011 di Jakarta. Saya gak bisa hadir. Gak ada sponsor. 😐

Kalian juga gak dateng kan? :mrgreen:
*nyari temen*

Saya puter lagu sajalah dan berakhir pekan. Lagu Korea biasanya efektif tuk memberi efek ceria.. Β (dance)

Saya dan Komunitas Blogger (Jayapura)

Yasudah Jens, kau buat sajalah komunitas blogger disana. Biar cuma dua orang gakpapa.

~Blogger C, dari komunitas C di kota C, via telepon milik blogger F, dari komunitas F di kota F, sesaat setelah keduanya bertemu menjelang acara Asean Blogger Community, Bali. Saat itu C bertanya mengapa saya tidak datang ke Bali, yang saya jawab kalau blogger non komunitas itu tidak diperhitungkan dalam acara-acara blogger, makanya saya tidak diundang.*

*inisial nama orang, nama komunitas dan nama tempat bukanlah yang sebenarnya

Yah, jawaban itu bercanda, memang, karena waktu ada blogger lain lagi yang menanyakan hal yang sama, saya menjawab kalau Papua belum merdeka, dan belum menjadi anggota ASEAN, karena itu perwakilan bloggernya tidak diundang. πŸ˜†
Tapi candaan itu bukan ide baru sebenarnya. Teman-teman yang sering baca blog ini pasti inget kalau saya sudah pernah ocehkan hal tersebut dua tahun silam. Saat itu Pesta Blogger Nasional 2009, yang tidak bisa saya hadiri. Dalam sambutan yang sudah tidak bisa lagi saya temukan arsipnya di situs resmi, ketua panitia ngomong begini:

Saya yang sudah sangat bete gak bisa hadir, saat itu jadi tambah bete lagi baca itu. Selain yang non komunitas gak diperhitungkan, rentang wilayah yang disebut jelas-jelas gak menghitung lokasi tempat tinggal saya. Padahal waktu itu masih rajin posting. Rasanya gak dianggep berkontribusi di blogsfer. Ungkapan kesel itu akhirnya muncul, walaupun saya yakin sangat mas Iman pasti tidak ada niatan tuk mengabaikan saya atau siapapun juga yang tidak punya komunitas. :mrgreen:

Buat saya sendiri, tidak punya komunitas itu sebabnya dua:
Pertama, teman-teman blogger saya ada diluar kota semua. Mayoritas ada di pulau Jawa, selebihnya di pulau-pulau lain, dan ada juga yang lain negara. Saya tidak mungkin mengajak atau diajak mereka tuk jadi satu komunitas. Pula banyak teman baik yang eksis ngeblog tanpa komunitas, bahkan anonim, makanya saya (yang agak anonim juga sebelum punya akun FB) jadi tak terlalu mikir soal komunitas.
Kedua, di kota saya tidak ada komunitas blogger. Seandainyapun ada, modelnya yang deklarasi sendiri. Ini bukan pertama kalinya nemu yang seperti itu sih. Jelas gak bakal menarik minat saya tuk terlibat. Salah prosedur, dan salah tujuan; tidak ada pentingnya bikin komunitas hanya supaya ada komunitas. Dan intinya ya balik lagi ke poin pertama: berkomunitas itu musti dengan teman. πŸ˜‰

Sesudah postingan itu saya makin jarang apdet blog, bahkan sampai 7 bulan beruntun pun pernah gak apdet, saat saya melancong di Jawa. Hebatnya saya justru makin eksis, dalam arti makin banyak teman. Sebabnya sederhana saja, karena kopdar; ntah itu di acara-acara tuk blogger, menghadiri acara yang ada teman blogger, maupun nongkrong dalam komunitas blogger. Itu jadi pelajaran berharga buat saya, bahwa untuk eksis penting banget tuk ngumpul bareng sesama blogger, plus ngetwit, plus foto-foto. Soal postingan dan komennya itu jadi bahan cerita nostalgia saja. Untuk itu, komunitas dan sejenisnya memegang peranan yang sangat penting. Saya jadi tak heran bahwa ide “blogger dalam komunitas lebih eksis” itu jadi gak hilang juga dari kepala saya. πŸ™„

Pesta Blogger Nasional 2010, saya akhirnya mampu datang sendiri. Sebelum hari H baik via sms maupun lisan saya sudah mengabari ketua panitia kalau di Jayapura gak ada komunitas blogger, tetap saja undangan yang dikirim buat saya mengharapkan partisipasi mengisi acara dari komunitas blogger di Papua. Pake hadiah tiket pula. Tiket buat blogger non komunitas tampaknya tidak ikut ditawarkan. :mrgreen:

Saat komunitas Angingmammiri akan mengadakan acara dalam rangka ulangtahun keempat mereka Desember 2010, undangan di email saya malah ditujukan buat komunitas Blogger Papua. Walah. Kok bukan buat JenSen? πŸ˜†

Malam Muktamar Blogger 2010, saya juga kena todong berdiri untuk memperkenalkan diri. Pertanyaan dari hadirin yang tidak bisa saya lupakan (IIRC sepertinya mbak Ainun ya?) adalah: “bagaimana perkembangan komunitas blogger di Papua?”. Matek. Saya jawab lurus-lurus saja kalau disini belum ada komunitas. Saya bahkan tak tau siapa saja yang ngeblog di Jayapura selain saya dan Fritz.
Saat acara ultah kedua komunitas dBloggers, hampir saja saya juga kebagian tampil di depan bersama wakil-wakil berbagai komunitas karena dianggap blogger Papua, padahal saat itu saya sudah hampir 5 bulan di pulau Bali dan Jawa. πŸ˜†

Saya masih lumayan senang bahwa undangan tuk Kopdar Blogger Nusantara memang ditujukan tuk saya pribadi sih. Sayang gak bisa dateng. πŸ˜›

Ntahlah, tampaknya memang tidak bisa ditolong. Di satu sisi, “blogger Papua” sudah seperti personal branding buat saya; tapi disisi lain, saat ada hal-hal soal komunitas blogger dari Papua, paling tidak ada 40% kemungkinan saya duluan yang diinget. Padahal saya cuma blogger biasa, yang kebetulan sedang berdomisili di Jayapura, bukan blogger dari komunitas blogger Jayapura atau Papua, yang ntah kapan adanya. :mrgreen:

Yah, itu cuma bagi-bagi cerita saja. Apakah komunitas-komunitas blogger memang lebih diperhitungkan dalam acara-acara blogger daripada blogger non komunitas, silahkan masing-masing punya pendapat. Lalu, balik lagi ke kutipan paling atas, tentu saja timbul pertanyaan:

kenapa gak bikin komunitas blogger di Jayapura?

Satu, seperti disebut diatas: tak ada teman blogger sekota yang sedekat teman-teman blogger saya selama ini, tuk bisa membentuk komunitas yang bagus. OK, ada Fritz, teman seperjuangan sejak belum belum ngeblog. Tapi sejak 2009 dimana Fritz mengungkapkan keberatannya andaikata di komunitas blogger Jayapura bergabung juga blogger-blogger yang pro separatisme, saya tak pernah lagi menyinggung soal ini pada dia. πŸ˜†
Dua, yang paling penting: ada penolakan batin. Saya ini bercita-cita untuk merantau, tapi belum pernah kesampaian dengan sukses. Kedua orang tua saya perantau (ke Jayapura), dan adik angkat saya diijinkan mereka merantau di Jakarta sejak 2000, wajar saya juga mengharapkan pengalaman itu. Saya mencintai Jayapura dan Papua, tapi saya sudah terlalu lama tinggal disini, dan kota ini sudah lama saya rasakan bukanlah tempat yang cocok untuk saya mengembangkan diri sesuai harapan saya. Ketika internet mampu memproyeksikan seseorang keluar dari batasan fisiknya, sayapun ngeblog, sebagai pembuka jalan tuk menemukan dunia luar, mendapat teman-teman baru, mengembangkan wawasan, dan putus dari bermacam-macam masa lalu yang gak enak di kota ini. Oleh karena itu membangun komunitas blogger disini saya rasa bertentangan dengan impian keluar kota itu. Itu hanya akan membuat saya semakin berakar dan beridentitas di kota ini. That’s sux.

Karena itu, ketika sekitar awal tahun ini di Jakarta, saya diterima teman-teman dari (milis) Kopdar Jakarta sebagai anggota, bagi saya itu bukan cuma karena saya memenuhi persyaratan dari komunitas tersebut, tapi juga karena Kopdar Jakarta adalah komunitas di tanah rantau yang sesuai keinginan saya, yaitu teman-teman baru di tempat baru. Sayangnya saya harus balik ke Jayapura, tapi keanggotaan itu tetap jadi motivasi kuat tuk mengejar harapan mengeluarkan diri dari sini (lagi). Soalnya jauh dari pusat itu hanya akan membuat saya macet jadi blogger daerah. Apalagi sekarang ada kasta blogger ASEAN, makin tertinggallah saya disini. πŸ˜†

Mungkin, di suatu masa depan saya bisa saja bergabung atau mendirikan komunitas regional disini apabila mendapat teman-teman online sekota yang pas di hati, juga kalau saya masih disini tentunya. Tapi ntah kapan itu bakal terjadi, sementara saya makin jarang online karena pekerjaan.

Hari ini sebagian teman-teman saya di Kojak ngumpul tuk merayakan ulang tahun milis kami yang ketiga. Saya ucapkan selamat ulang tahun saja dari jauh. Semoga Kopdar Jakarta selalu elit dan eksis. Terimakasih banyak sudah mengajarkan saya banyak hal soal kehidupan dalam sebuah komunitas, dan memberikan saya lebih banyak lagi teman. πŸ˜‰
Bersulaaaaaaangg!!! (^_^)_cU __ Uo_(^_^)

Oiya, Pesta blog.. eh, ON|OFF 2011 sudah didepan mata. Saya keknya gak datang nih. Jauh dan mahal, seperti biasa, kecuali dikirimi tiket. Kalian datang? πŸ™‚

Batal ke Sidoarjo

Ada yang ke Sidoarjo weekend ini? Yep, Jumat 28 Oktober 2011, bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, sebuah acara blogger level nasional dibuka di Sidoarjo dengan nama Kopdar Blogger Nusantara. Acara yang skalanya konon akan menyamai Pesta Blogger tahunan di Jakarta sehingga menimbulkan isu adanya persaingan antara kedua perhelatan. Saya pikir itu pasti acara yang hebat, dan akan menjadi pengalaman tak terlupakan buat para pesertanya. Saya seharusnya juga hadir, tapi sayang, saya tak bisa hadir.

Sudah cukup lama saya tahu tentang diadakannya bakal acara ini, sejak masih bernama Kopdar 1000 Blogger. Waktu itu rame-rame dijaring dukungan dari para blogger, dan saya pun dengan santai mendukung, walopun sangat pesimis bisa datang dikarenakan kendala geografis (seperti biasa).

Hari Jumat, 21 Oktober minggu lalu. Saya diajak ikut pelatihan membuat blog tuk pengusaha/seniman kecil dan masyarakat di gedung DPTIK Papua, diajak Athoe yang kerja disitu. Tanpa disangka yang membawa materi adalah pakde Blontankpoer didampingi mas Indriyatno. Jadilah seusai kegiatan pada sore hari kami lanjut kopdar hingga tengah malam, ngobrol soal begitu banyak hal. Cerita-cerita soal Kopdar Blogger Nusantara, pakde Blontank menjelaskan kalo setahu dia penyelenggara acara menanggung transportasi sebagian peserta, tapi tidak yakin soal yang posisinya di pinggir negara seperti saya karena pasti mahal. Saya maklum, dan tidak mikir apa-apa lagi soal itu.

Sabtu, 22 Oktober, sebuah email masuk dari Antok Suryaden berisi undangan tuk acara Blogger Nusantara. Saya cek semua lampiran, tapi tak ada keterangan apa-apa soal transportasi, kecuali form isian tentang terminal kedatangan untuk urusan penjemputan oleh panitia. Surel tersebut baru kubalas Senin dini hari, sambil chatting dengan Lambrtz, menjelaskan kalau saya tidak mungkin datang dengan alasan ketiadaan biaya maupun sponsor.

Senin dan Selasa berlalu dengan ceritanya masing-masing, dan tidak ada email balasan dari panitia. Karena itu saya juga tidak cek ke teman-teman lain maupun ke situs resmi acara, toh tidak pergi, pikirku. Hingga Rabu (26/10) pagi, seorang kawan blogger di Jakarta menghubungi saya via japri:

“ke Sidoarjo? Atau ngeliput SEA Games?”
“Saya dapet undangan ke Sidoarjo, tapi gak ada sponsor tuk transportasi. Kalau nuntut dibayari panitia ya gak enak juga eh. Kalo SEA Games saya tak terlalu peduli kecuali sepakbola. Kamu ke Sidoarjo?”

Lama, tak ada balasan, dan saya juga santai saja. Sebelumnya hari Senin sore adik ipar teman saya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, dan saya baru tahu Selasa malam. Jadi Rabu siang itu saya di rumah duka sampai sore tuk mengikuti ibadah pelepasan jenazah sebelum dimakamkan. Sudah malam ketika saya mengontak blogger cewek itu lagi tuk percakapan yang putus tadi pagi. Ternyata dia membalas pesan singkatku, tapi tak masuk entah kenapa, mungkin sinyal antar operator lagi jelek. Singkatnya dia heran karena saya hanya mendapat undangan tanpa tiket, sementara kawan dia yang sekota denganku, dapet tiket tapi tak bisa berangkat karena ada urusan. Saya juga dikabari kalau kawan baik saya Almascatie berangkat ke acara tersebut dengan biaya panitia. Jadilah saya mengontak Almas via Y!M. Dari Almas saya diinformasikan kalau ternyata benar transportasi dia ditanggung panitia, tiket terlebih dahulu dibeli sendiri baru diganti oleh panitia di Sidoarjo. Ah, saya betul-betul tak punya informasi soal ini. Kurang gaul.. πŸ˜›

Hampir jam 11 malam, Almascatie menelepon meminta ijin tuk meneruskan kasusku ke panitia, beserta no. HPku. Dilain pihak, saya mencoba membicarakan soal keberangkatan ke Surabaya dengan ibu saya, tapi beliau keberatan, karena memang keuangan keluarga kami pas-pasan. Apalagi orang tua saya memang ragu kalau panitia serius akan mengganti tiket saya, takut penipuan. Jam 11 tepat, Gempur A. Ghofur dari panitia menghubungi saya, mengatakan bahwa tiket saya bisa disediakan, saya hanya perlu mengirim email berisi data diri. Lewat dari jam 12AM, Gempur mengabarkan kalau e-tiket akan segera dikirim, tapi hingga menjelang pukul satu tak ada email masuk, dan saya sudah terlalu lelah sehingga harus tidur.

Kamis (27/10) pagi, saya terbangun jam 6.15AM. Buru-buru menyalakan PC, mengecek email dan HP tapi tetap tak ada konfirmasi soal tiket, padahal hari itu saya mestinya sudah harus berangkat karena acara mulai esok paginya. Saya gelisah, karena belum persiapan apa-apa, sementara orang tua juga terlihat tak terlalu peduli, dan tetap menuntut saya siap-siap kerja (saya membantu ayah saya nguli di kargo udara). 9AM, saya berangkat ke bandara, sambil smsan dengan Almas yang bertanya-tanya soal jadi tidaknya saya ke Surabaya. Untuk sopan santun, saya juga mengabari Gempur kalau sampai jam 6 tadi saya belum menerima konfirmasi tiket, itu artinya kalau selanjutnya ada berita positif saya akan kesulitan tuk menanggapi karena waktu yang mepet.

Tidak disangka saudara Gempur menyatakan akan mengusahakan tiket untuk saya hari itu juga. Waktu menunjukkan jam 9.30 pagi saat itu. Jam 11 siang, saya sudah kembali ke rumah, sekitar 45 menit perjalanan dari bandara apabila jalanan lancar, saat itu Gempur mengatakan akan mencarikan tiket Garuda penerbangan terakhir hari itu dari Jayapura, transit di Makassar, dan akan tiba di Surabaya sekitar jam 7 malam. Penerbangan Garuda terakhir setiap hari dari Jayapura adalah jam 2PM. Itu artinya waktu saya tersisa 3 jam, belum termasuk waktu tempuh menuju bandara. 😐

Saya buru-buru beli sabun mandi cair di toko terdekat, mengambil ransel besar, lalu mulai mengepak barang seadanya, bahkan masih sempat menyetrika beberapa kaos karena kebanyakan pakaian saya sedang berada di keranjang pakaian kotor. Di tempat tidur barang-barang berserakan siap tuk dijejalkan ke ransel; PC dan internet menyala, menanti kalau ada email; saya bahkan masih sempat bertengkar dengan ibu saya yang menganggap saya terlalu serius dengan urusan semacam ini tapi tidak pernah ke gereja. πŸ‘Ώ

12.30PM, saya mengabarkan pada Gempur kalau waktu saya hanya tersisa 30 menit tuk mendapat kepastian dan konfirmasi, sementara di garasi ayah saya terlihat bersiap-siap kalau harus mengantar saya ke bandara. Saya sudah tidak berharap apa-apa waktu Gempur mengatakan kalau 2 kartu kreditnya ditolak, dan dia harus meminta bantuan Rika tuk pemesanan tiket. Jam 1PM, apa yang saya kuatirkan menjadi kenyataan. Gempur mengabarkan kalau tidak ada tempat duduk di penerbangan Garuda dari Jayapura hingga hari Minggu, tapi dia masih mengupayakan supaya saya tetap bisa berangkat.

Sebagai orang yang setiap hari di bandara dan lumayan paham dengan kondisi penerbangan di Jayapura, saya tahu bahwa membeli tiket memang harus jauh-jauh hari karena tingginya volume penumpang, dan apabila ada pihak yang memaksa untuk harus berangkat dikala penerbangan sudah penuh (biasanya dengan cara membayar lebih tinggi), maka itu berarti akan ada penumpang lain yang dikorbankan. Saya tidak pengen itu terjadi, rasanya seperti menyerobot antrian. Jadi saya kabari ke Gempur supaya tidak usah lagi memaksa pihak maskapai.

Saya sedang berbincang dengan ibu saya ketika akhirnya Gempur menelepon lagi, dengan bingung mengabarkan kalau dia hanya bisa mendapatkan tiket pergi tuk hari Sabtu sore dan tiket pulang hari Minggu sore untuk saya. Saat itu jam 01.22PM di HP saya. 3 menit sebelumnya dia sudah sms hal yang sama tapi belum sempat kubalas hingga telponnya masuk. Saya menolak, tentu saja. Sabtu malam ketika saya tiba di Sidoarjo, saya sudah kehilangan 2/3 acara. Buat saya itu pemborosan dan malah tidak bisa dinikmati. Di telepon, Gempur terdengar sangat menyesal dan kecewa karena gagal memberangkatkan saya. Saya juga kecewa, tapi saya merasa ini hanya masalah miskomunikasi, yang ketika akhirnya bisa diatasi, tidak memberikan waktu yang cukup bagi solusinya. Saya mengucapkan terimakasih dan semoga sukses, menutup telepon, menarik napas panjang, dan melanjutkan hari seperti biasa setelah mengembalikan semua barang-barang ke tempatnya. πŸ™‚

Postingan ini, lebih dari sekedar cerita, adalah ungkapan terimakasih saya tuk saudara Gempur dan segenap panitia yang sudah berupaya tuk menghadirkan saya ke Sidoarjo. Walaupun tidak jadi berangkat, sebagai blogger kecil saya merasa dihargai. Saya percaya, masih ada waktu lain untuk saya bisa kopdar dengan Gempur, bertemu Almas lagi, dan siapapun juga yang gagal saya temui di acara akhir minggu ini. Semoga Kopdar Blogger Nusantara sukses sampai selesai, demi tujuan-tujuan yang baik.

Kami tidak melihat kecil besarnya blogger, bang. Bagi kami, semua blogger sangat layak dihormati (&) diapresiasi. Siapa pun saja. Itu komitmen blogger nusantara.

~Gempur Abdul Ghofur; 27 Oktober 2011; via SMS

Ngomong-ngomong, beberapa kawan sudah mulai menanyakan bakal hadir/tidak hadirnya saya di acara ASEAN blogger di Bali. Ntahlah, saya belum dapet undangan (dan tiket) sampai hari ini tuh. Keknya wajar sih kalau blogger non komunitas regional gak dianggap eksis. :mrgreen:
Yah, selamat bersenang-senang tuk yang diundang. πŸ˜‰

Jadi, ngapain aja kalian di hari Sumpah Pemuda kemaren? Ikut unjuk rasa? πŸ˜€


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
November 2017
M S S R K J S
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter