Archive for the 'Personal' Category

Empat Puluh Satu

Ketika tahun lalu ‘mengeluh’ bahwa dari 39 ke 40 putus tradisi perjalanan ke luar kota, tidak menyangka bahwa dari 40 ke 41 malah bakal dua kali ke Jawa di akhir 2020 dan 2021, total ke empat kota di tiga provinsi, di tengah pandemi yang lagi menanjak pula. Sesuatu yang luar biasa secara pribadi.

Kangen eskrim McD. Di kota sini gak ada. 😦

Menjadi 41 adalah rambut yang semakin membotak, kantor yang semakin sepi bisnis, sahabat dan kerabat yang dipanggil Tuhan, LDR yang lebih berat, dan sepertinya lebih cepat lelah. Tapi Chelsea, Inter, Atletico, dan Dortmund kemarin juara semua itu juga sesuatu banget, dan serumah dilindungi Tuhan dari pandemi. Di luar itu hidup masih sama menyenangkannya (atau sama membosankan).Β  Masih belum punya Instagram atau langganan Spotify. Masih belum bisa berenang atau masak sayur (tapi akhirnya bisa masak oats). Masih sangat terganggu dengan pengeras suara mesjid yang kekencangan bunyinya. Masih main Tumblebugs 2 dan menanti One Piece tamat. Masih bermimpi trip ke luar negeri lagi. Masih pengen tidak tidur sendirian lagi. πŸ˜† Menjadi 41 adalah berkat dan anugrah Tuhan yang luar biasa. Segala puji syukur hanya bagi Yesus Kristus.

Happy Birthday to me.

Empat Puluh

Akhirnya, jatah 30an saya habis juga. Agak stress meninggalkan thirty something karena merasa belum siap dan tentu saja menolak tua, tapi sukses atau tidak, sesuai harapan atau tidak, saya genap 40 tahun. Puji Tuhan.

Kalau melihat doa di ultah sebelumnya, Tuhan mengabulkan sebagian besar yang saya doakan: kesehatan saya normal, nggak ada masalah baru selain yang sudah ada, palingan bolak-balik ke dokter gigi, dan itu kondisi yang luar biasa mengingat kondisi pandemi tahun ini; masih rajin membaca buku dan menambah banyak pencerahan; keuangan juga cukup. Tawaran teman di akhir tahun lalu bisa dieksekusi dengan lancar, dan dari situ di awal tahun bisa mengakuisisi smartphone baru, kacamata baru, TV baru buat ortu, dan buku-buku baru. Lepas dari proyek itu, tidak lama teman lain menawarkan kerjaan di usaha rintisan dia. Ini sebuah langkah besar. Setelah bertahun-tahun hanya “membantu orang tua”, lalu didukung pacar naik jadi freelance 4 tahun terakhir, maka tahun ini untuk pertama kalinya saya jadi anak kantoran. Walo cuma usaha kecil, tapi saya punya meja dan komputer sendiri. Tidak terima banyak, tapi tiap bulan punya duit. Sesekali masih dapat makan siang dari kantor pula. πŸ˜›

Di sisi lain, setahun ini saya tidak keluar kota sama sekali, artinya memutus tradisi sejak 2016. Ada kerjaan, ada pandemi, dan terutama tidak banyak tabungan karena seperti disebut di atas, tahun ini lebih banyak menginvestasikan dana di material ketimbang di pengalaman. Bulan lalu bahkan bisa mengganti kursi pribadi di kamar setelah yang lama dipakai puluhan tahun, dan bulan ini mengganti jam tangan (plus mengganti dompet dan masker, keduanya pemberian pacar, dan beberapa bulan sebelumnya mengganti motor, pemberian orang tua).

Mulai hari ini bakal forty something. Semakin tidak muda; mungkin semakin banyak kenalan yang harus dihindari karena berpotensi nyuruh segera nikah :mrgreen: Sekali ini lagi, saya cuma ingin terus dan semakin sehat, dan itu juga berlaku buat orang-orang terdekat terutama bokap, nyokap, dan pacar. Ingin ekonomi nasional membaik supaya kantor bisa semakin maju. πŸ˜‰ Setahun ini, banyak teman terdiskonek dari kehidupan saya karena berbagai alasan, semoga masih bisa menjaga pertemanan dengan yang masih terkoneksi, di darat dan di internet. Tentu saja saya juga masih ingin traveling lagi; melihat dunia, kopdar, kencan dst, mari ditaruh semua dalam doa. Semoga Tuhan mengabulkan. Terima kasih untuk semua yang ikut merayakan hari istimewa ini. Sehat-sehat selalu yaa~

Tiga Puluh Sembilan

Dalam episode: wisatawan mancanegara.

Tiga sembilan gaes! Setelah tiga tahun beruntun merayakan ulang tahun di luar kota, tahun ini kembali santai merayakan ulang tahun dari rumah. 12 bulan ini berjalan dengan relatif menyenangkan, yah memang kalo ada yang cinta sangat menunjang tuk kestabilan emosi jiwa. πŸ˜‰ Achievement unlocked: akhirnya bisa ke luar negeri dengan pantas tuk pertama kalinya: pake paspor dan lewati imigrasi di bandara internasional, jadi turis dan ngunjungi tempat wisata. Kalo sekedar melewati perbatasan sih di “belakang rumah” dah negara tetangga juga. πŸ˜† Lebih bersyukur lagi kalo mengingat bahwa tujuan wisata kemarin: Hong Kong, sedang didera demonstrasi berbulan-bulan. Teman yang pergi sebelum saya sempat terjebak demo, yang mau pergi sesudah saya malah batal karena aksi massa makin parah. Pulangnya masih sempat maen di Jakarta lagi, bertemu teman-teman (tentu saja), dan nonton Lord Didi Kempot konser. Seru banget, mabuk ciu pula. :mrgreen: Tentu ada cerita sedihnya juga, tahun ini saya sempat sakit lebih dari biasanya -iya sering sakit- sehingga perlu dioperasi dan rawat inap; juga belum lama situasi keamanan memburuk di seluruh Papua termasuk kota saya, terjadi kerusuhan dan pembunuhan, internet mati empat minggu. Syukurlah saya melewati semuanya tanpa kekurangan suatu apapun. Nyokap juga dah tiga bulanan sakit di luar kota dan sampai sekarang belum pulang, tapi kondisi belio makin membaik. GWS mom. πŸ™‚

Mulai hari ini, jatah 30 something saya tinggal setahun lagi. Semoga bisa dilewati minimal sebaik setahun ini. Saya cuma pengen sehat dan bisa membaca banyak buku tuk nambah ilmu, juga bisa nambah tabungan dari beberapa tawaran teman, syukur kalo bisa bepergian lagi. Terima kasih tuk kedua orang tua tercinta, tuk pacar, geng lari sore dan teman-teman lainnya, dan semua yang dekat di hati. Terima kasih Tuhan Yesus.

Happy birthday to me.


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Oktober 2021
M S S R K J S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter