Archive for the 'Personal' Category

Tiga Puluh Tujuh

Mengunjungi jejak peradaban yang hilang dari pulau Jawa minggu lalu

Puzzle hidupku tampaknya masih lebih ada bentuknya daripada puzzle 3D di sini

Saya jarang ulang tahun jauh dari rumah orang tua. Sekali waktu di Jakarta 2010 silam, tapi ya saat itu tinggal bersama bude, masih bau rumah; Tahun lalu di Kupang, juga rumah mamatua dan bersama keluarga besar, bahkan ada nyokap. Baru tahun ini beneran jauh dari rumah maupun suasana rumah, walau tidak berarti saya sendirian (ini yang penting sih :mrgreen:). Itu pengalaman baru lagi, seperti juga pengalaman pertama ke Jawa dalam dua tahun berurutan. Semoga bisa jadi tradisi, bahkan ngetrip lebih jauh lagi. Haha.. Pengalaman baru juga dapat ucapan selamat berbentuk video dari kekasih dan teman-teman dekat di FB. Kalian sukses membuat saya terkejut dan terpana.Β  Makasih banyak yaa.. πŸ˜€

Segala ucapan syukur dan doa harapan tuk masa depan hanya kepada Tuhan Yesus Kristus. Happy birthday to me.

Iklan

Tiga Puluh Enam

image

Ntah kenapa pengen banget fotonya ini. Hahaha…

Wah sudah ulang tahun lagi. Terima kasih Tuhan Yesus. 35 ke 36 ini tahun yang sangat baik. Bisa disyukuri bukan hanya karena hal baik sehari-hari, tapi juga karena banyak achievement unlocked yang bahkan tahun lalu masih cuma khayalan, dan melaluinya banyak beban masa lalu dan penasaran yang terhapus juga. πŸ™‚

Ulang tahun kali ini ada kekasih, dan ada kencan, banyak kencan malah, gak melulu LDRan; Ada kacamata baru setelah lama banget gak ganti; Ada kerjaan sampai ke Salatiga yang akhirnya menghasilkan pengalaman ngekos dan laptop perdana; Ada jalan-jalan ke Jakarta, Jogja, Semarang, Ambarawa, Bandung (akhirnya!) bahkan Kupang yang di luar rencana, penuh hotel hopping dan mall hopping; Ada kopdar, banyak kopdar, termasuk dengan teman-teman blogger yang baru pertama bertemu dan baru kenal; Daaaan… ada pesta besar semalam dengan keluarga besar plus perayaan ekstra dengan sepupu-sepupu lewat tengah malam. Senang banget. πŸ˜€

Bukan berarti setahunan ini bahkan sekarang gak ada masalah, tapi ya lupakan dululah di hari raya ini. Mari kita bersulang untuk panjang umur, kesehatan dan harapan. Semoga tahun berikutnya berkat dan penyertaan Tuhan masih terus menaungi.
Happy birthday to me. πŸ˜‰

Tiga Puluh Lima

35 is young, sophisticated and lethal.

Ada yang tahu kenapa fotonya ini? πŸ˜€

Yay! 35 tahun! Terimakasih Tuhan Yesus. Hidup masih jauh dari impian dan target, tapi yang dijalani hari demi hari masih penuh kebaikan dan harapan. Selalu ada cara Tuhan tuk memenuhi berbagai hal yang saya perlukan disaat saya sendiri sering sulit mengusahakannya sendiri. Yang belum dipenuhi, mungkin belum diberi supaya saya lebih rajin berdoa. :mrgreen:

Terimakasih tuk kedua orang tua, keluarga sedarah maupun seiman, semua yang masih menganggap saya sebagai teman, serta sahabat-sahabat dekat yang tiap hari berbagi suka duka bersama. Ah, ya, terimakasih untukmu juga. Umur panjang ini tidak akan berarti tanpa kalian semua.  ❀
Happy birthday to me. πŸ˜‰

Tiga Puluh Empat

Setahun ini ternyata lebih sederhana daripada kemarin. Tak ada perjalanan ke Jawa, tak ada kopdar, tak ada hal-hal yang luar biasa diluar rutinitas sehari-hari. Sempat ada beberapa bulan long distance HTS yang akhirnya bubar juga karena…. long distance. Back to square one . :mrgreen:

Meskipun demikian ulang tahun tetaplah hari raya, karena itu mari mengucap syukur dan bergembira bersama tiap ucapan selamat dan doa yang menyertainya. Saya kutip ucapan perdana dari Gege yang kecepetan masuk pagi tadi sebagai penutup kontemplasi pendek ini:

Selamat ulang tahun. Good life, good health, wish you find an awesome woman in your life. All best wishes for you birthday man. God bless.

Amin, dan terimakasih banyak tuk siapapun yang masih mengingat hari ini. Happy birthday to me! πŸ˜‰

Coblosan saya

Setelah lima tahun lalu mencontreng, pemilu legislatif tahun ini kembali ke sistem mencoblos. Sebagai warga negara yang kebagian undangan tuk memilih, saya pun memanfaatkan hak suara saya di TPS yang hanya sepelemparan batu dari rumah. Memilih anggota legislatif selalu sulit dengan banyak variabel, tapi tetap harus memilih kan? Maka dengan sejumlah pertimbangan inilah calon-calon yang mendapatkan suara saya di pemilu legislatif 2014 ini:

Tuk DPR-RI:
Laksdya (purn) Freddy Numberi. Partai Gerindra nomor urut 1.
Mantan gubernur Papua ini bukan nama yang asing di level nasional karena beberapa kali menjadi menteri. Menariknya, lima tahun silam saya juga memilih orang ini di level yang sama tetapi dari partai Demokrat. Pilihan yang sia-sia karena sesudah terpilih tuk ke Senayan, beliau dipanggil SBY untuk menjadi menteri perhubungan. Jabatan itu hilang saat reshuffle kabinet terakhir dan sepertinya beliau tersingkir pula dari Demokrat sehingga jadi petualang politik ke Gerindra. Rekam jejak 5 tahun terakhir mungkin tak mengesankan, tapi saya punya alasan tersendiri.
1. Ditengah gencarnya dukungan buat Jokowi lewat PDIP, saya ingin Prabowo bisa jadi kandidat penyeimbang tuk capres, karena itu saya menyumbang suara untuk Gerindra
2. Caleg-caleg DPR-RI tuk Papua dari partai-partai nasionalis lainnya tidak ada yang menarik. Jadi anggaplah ini pilihan teraman dari yang terburuk.

Tuk DPR Papua:
Kamasan Jacob “Jack” Komboy. Partai Hanura nomor urut 1.
Mantan bek Persipura ini orang yang sama yang saya pilih lima tahun silam dari partai yang sama. Seperti diatas, saya juga tidak menemukan caleg lain yang lebih mengesankan. Disisi lain, saya merasa perlu supaya ada mantan atlet di dewan, akan terasa cocok di komisi yang membidangi olahraga. Lagian selama 5 tahun Jack berkantor di DPRP, Persipura juara liga super 3 kali. Anggaplah ini penghargaan saya secara tidak langsung. πŸ˜‰

Tuk DPRD Kotamadya Jayapura:
Jimmy Jones Asmuruf. Partai Gerindra nomor urut 5.
Seorang pengusaha swasta, teman baik saya satu SMP dan Universitas. Salah satu misi dia adalah menjadi “pelindung” bagi warga sesukunya di kota ini yang kehilangan figur panutan setelah ayahnya -mantan Sekda Papua- meninggal dunia. Tahun ini ada empat teman sekolah saya yang jadi caleg dari dapil saya. Dua diantaranya bahkan nomor urut 1. Kurasa wajar kalau saya memilih yang paling saya kenal dekat. πŸ˜€

Tuk DPD RI:
La Madi SE.
Memilih DPD adalah pekerjaan tersulit karena semua calon-calonnya relatif asing (walaupun ada teman sekolah juga disitu). Mereka tak banyak mempromosikan diri, dan bahkan masih orang yang tak paham apa yang mereka kerjakan. Orang yang saya pilih adalah direktur Lakeda (Lembaga Analisa Kebijakan Daerah) Institute. Suatu lembaga ilmiah yang mengamati masalah-masalah Papua. Dia juga sudah banyak menulis buku tentang Papua. Seperti kawan saya diatas, saya tak terlalu yakin suara saya akan membuat dia terpilih, tapi tak apa, tak banyak pengaruhnya. Kalo kata Almascatie, DPD itu seperti vas bunga saja dalam sistem pemerintahan kita. :mrgreen:

Begitulah cerita pileg hari rabu 9 april kemarin. Semoga hasilnya sesuai prediksi masing-masing. Ada yang tidak keberatan berbagi cerita serupa? πŸ˜‰

Tiga Puluh Tiga

Yap, ini postingan ulang tahun yang sudah terlewat seminggu lebih. Tapi tak mengapa, masih ada banyak hal yang bisa diceritakan dari hidup saya yang sederhana ini.

Nyokap:
Yang paling penting tentu kepergian saya lagi ke tanah Jawa tuk ngantar nyokap berobat. Seperti yang pernah diceritakan di beberapa postingan sebelum ini, tepat pada hari ulang tahun tahun saya yang ke 32 tahun lalu, nyokap yang sedang berada di Rote, NTT, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang engkel kaki kirinya pecah. Setelah sesi operasi di Madiun dan rawat jalan di Salatiga yang akhirnya mengantar saya juga kesana, berlalu waktu sekian bulan tuk pemulihan yang akhirnya sampai ke tahap dimana harus dilakukan operasi lagi tuk mengeluarkan tiga kawat yang menyambung pecahan-pecahan tulang di kaki nyokap. Jadi tanggal 26 September kemarin saya menemani nyokap lagi pergi ke rumah di Salatiga. 29 September, di Minggu yang cerah, saya mengantar nyokap ke dokternya di Madiun lalu balik ke Salatiga hari itu juga. Operasi sukses dilakukan hari Selasa 1 Oktober. 4 hari kemudian saya dan adik menjemput nyokap (yang nebeng dokternya) di Solo. Mengajak jalan-jalan beliau ke Pasar Gede, PGS dan Paragon Solo sebelum balik ke Salatiga. Kami tak bisa berada di Jawa terlalu lama karena tepat dua minggu nyokap harus buka jahitan, dan bokap juga sedang kurang sehat. Akhirnya tanggal 13 Oktober kami pulang ke Jayapura via Jakarta dan tiba kembali tepat di hari ulang tahun saya 14 Oktober pagi. 2 hari kemudian, Rabu 16 Oktober, nyokap buka jahitan operasi di rumah. Tepat setahun sudah tuk pengobatan dan pemulihan. Masih ada dua pen lagi di kaki nyokap yang tidak mendesak tuk harus dikeluarkan. Entah kapan. Yang penting sekarang nyokap bisa berjalan kembali dengan cukup baik. πŸ™‚

Kopdar:
Hanya dua mingguan di Jawa Tengah, seminggu pertama saya hanya di Salatiga saja. Kopdar dengan teman-teman yang saya miliki di kota ini. Mbak Neny, Evan, Erwin, Dini, Astri, Novieta, dll. Tak ketinggalan dengan selebnya Salatiga: Indra Yosodiharjo. Bersama Danny, Christa dan teman-teman Akber Salatiga lain saya juga sempat mengunjungi Chika Djati yang sedang sakit dan dirawat di RS setempat. Semoga segera pulih yaa. Tampaknya saya makin betah main di kota ini. Cuma butuh motor sendiri tuk mengurangi acara jalan kaki pulang tiap usai hangout. πŸ˜†
Selasa, 8 Oktober, saya main-main sehari ke Solo. Nginep di RBI seperti biasa, berbagi cerita dengan Hendri, Jun, Arit, Ael, Yos dan Pakde Blontank yang menemui saya disitu. Sempat juga nonton Gravity 3D di XXI Solo Square bareng Ael. Kurasa ini pertama kali saya masuk bioskop sejak nonton Unstoppable di Central Park sekitar tiga tahun silam. πŸ˜›
Esok (9 Oktober) siangnya saya sudah tiba di Jogja. Kali ini datang tuk nyari obat Mediabetea titipan bokap. Butuh dua hari tuk muter-muter komplex di sekitar Taman Siswa bareng Herdix tuk nemukan agen yg dicari. Ke Jogja kali ini ketemu Hamid, Utieed, Fachry, Arga dan mas Adrianus. Seperti biasa, bertemu mereka di Le Waroenk. Padahal gak janjian dan sudah lewat jam 9 malam saat saya dan Herdix singgah ngeteh disitu. πŸ˜€
Kamis siang saya dan GunRud akhirnya sukses kopdar dengan Rizma Adlia. Bloher era wordpress 2007 juga yang rupanya lagi rutin bolak-balik Palembang-Jogja tuk sekolah (lagi). Sementara Jumat siang esoknya saya dan Herdix makan siang bareng Carra, dengan bintang tamu Om Warm sebelum saya balik ke Salatiga sore harinya. Banyak teman di Jogja yang tak sempat kusapa, tapi saya pasti bakal balik lagi kesini. Empat kali ke Jogja tahun ini, lumayan juga tuk anak Jayapura. :mrgreen:

kafe merah putih

Di Kafe Merah Putih, Salatiga, dengan @gregoriusli @indrayust @EzekielRio @nenyish dan @jalu1111. Kamera milk mbak Neny. Dipotret oleh pelayan kafe.

dawet d'kraton

Di Dawet D’Kraton, Solo, dengan @aelfikry @iwnjw dan @mashendri. Kamera milk Jun, dipotret oleh pelayan kedai.

kalimilk with ma

Di Kalimilk Jakal, Jogja, dengan @herdixe @gunawanrudy dan @rizmaadlia yang ngambil gambar.

Ultah:
Akhirnya 33 juga tanggal 14 kemarin. Berkurang lagi setahun jatah hidup yang ntah sisa berapa. Tapi pokoknya semangat hidup masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Semoga ke depan lebih sukses: Kerjaan, traveling, jodoh, dan semuanya. Terimakasih banyak tuk tiap teman-teman daring yang sudah mengirim ucapan dan doa. Via Twitter: Teh Nita Selya, Almas, Rere, Lea, Goenrock, Aelfikri, Mbak Ira Hairida, Carra, Enthong, Mbak Nenyish, Adrian Priyatna, Erwin Santoso, Ivan Prakasa, Adiitoo, Ziipy, Ghani Arasyid, Chichi Utami, Mas Karmin, Linda Ling, mbak Swastika, Fikri, Dwi Nengbiker, Ifanhere, Matilda, Zulhaq, Novia Candra, Yessy Muchtar, Memeth, Tikabanget, mbak Indah Juli, Gita Mbitmbot, Peter Lamanepa, P.S. Negoro dan Dian Aryanti; Via Fesbuk: Lambrtz, Jaka Ellinsworth, Moerjanto, Yudi Prasetyo, Daniel Hendrianto, Nia Sadjarwo, Haziran Nata, Priska Siagian, Nenda Fadhilah, King Akhmad, Ocha Milan, Rimura Arken, Andy Kurotsuchi, Dhita Maharrani, Jarwadi, Ivan Prakasa, Desti Utami, Yeni Setiawan, Dita Paradita, Biyung Nana, Gum Tiyangsae, Mina Ismawati, Chandra Iman, Fitria, Amed Hidayat, Alex Hidayat, Grace Kamila, Mas Haqiqie Suluh, Mas Lantip, dan Kounila Keo; Via Gugelples: Mas Karmin; Via SMS: Rindu Akiko, Kimi Rizkika, Hoek “Indra Aji” Soegirang, Eka Situmorang, Ajeng Lembayung dan Nonadita Puspitasari; dan Via milis KopdarJakarta: Ivan Prakasa, Billy Koesoemadinata, Chika Nadya, mbak Swastika, Oom Yahya, Simbok Venus, Mamski, Ervan Nurachman, Rhesya, Brama DR, Jafis, Ihwan dan Natalixia. Tuhan memberkati kalian semua. Terimakasih spesial tuk Athoe, Ipas dan Elko yang sudah memestakan ultah saya di Happy Puppy senin malam itu juga. Saya sayang kalian semua.Β  πŸ™‚

*bersulang*

Dari J.CO ke Le Waroenk ke Frame Coffee

Pulang ke Salatiga setelah Asean Blogger Festival di Solo, tak banyak yang saya lakukan selain makan tidur onlen dan maen PES2013 bersama adik-adik di rumah. Usai kegiatan sepekan yang padat seperti itu, rasanya sehari dua hari masih kurang unuk mengembalikan kebugaran ke level normal. Saya ingin jalan-jalan ke Jakarta hingga wiken, tapi tampaknya amunisi tak cukup.

Gita
Sabtu (18 Mei) akhirnya saya lewatkan dengan main ke Semarang. Rasanya saya nyasar hingga hampir sampai di terminal Terboyo karena tidak tahu kalo bis Solo-Semarang tidak melewati pusat kota. πŸ˜† Tapi setidaknya ada pengalaman tuk jadi bisa merasakan bis Trans Semarang ke pusat kota, jalan-jalan di Carrefour DP Mall dan Gramedia Pemuda. Habis itu malah bisa ngerasain naik angkot karena diajak kopdar sama Gita di Java Supermall. Kami ketemu dan ngobrol di J.CO di salah satu sudut Mall. Satu dari sedikit teman yang justru lebih nyaman pindah kerja keluar dari Jakarta. Saya jadi belajar sedikit soal dunia pendidikan yang sangat dicintai dan dikerjakan oleh teman saya ini. God Bless you, Git.

Nana
Kamis (23 Mei) saya ke Jogja tuk ketiga kalinya dalam tahun ini. Menepati janji tuk menemui Nana, teman blogger dari Denpasar yang belum pernah kutemui dan sedang liburan ke Jogja juga. Kali ini nginap lagi di kosan baru GunRud, di Jalan Timor-Timur dekat Yonif 403. Dari segi transportasi tempat itu agak merepotkan karena saya harus berjalan lebih dari satu kilometer menuju/dari halte Trans Jogja terdekat, tetapi lama-lama terbiasa dan bisa diatasi. Malam itu juga kami kopdar di Kalimilk Jakal. Bersama Nana ada Mansup, sementara GunRud menemani saya. Berturut-turut lalu menyusul Pepeng, Iphan, Putro, Ucy dan Terryna. Kopdar yang menyenangkan. Semoga yang masih pada kuliah segera selesai ya? :mrgreen:

Jensen 1 crop

Berdiri: Mansup, GunRud, saya, Nana; Duduk: Terryna, Iphan, Pepeng, Lucia, Putro. Kamera milik Iphan, Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Ajeng
Esoknya (24 Mei) saya menemani Nana ke Candi Prambanan menumpang Trans Jogja. Karena perginya kesiangan nyampenya juga kesorean, tapi tetap saja saya menikmati karena ini pertama kali ke candi Prambanan, kapan lagi mo kesana kalo gak dengan sesama turis? :mrgreen:
Bubar dari Prambanan gak sempat pulang, langsung ke Le Waroenk dengan Trans Jogja plus jalan kaki. Ditunggu teman-teman dari dua grup disitu. Satu rombongan teman-teman Jogja; Adit, Bernad, Arga, Utieed, dan lupa siapa lagi disitu. Satunya lagi teman-teman dari Jakarta; Ajeng, Yudha, Diah dan Lia. Kemudian datang Matilda juga yang sebenarnya ngajak saya tuk ketemu Titut, tapi karena tiada kabar dari yang mau dikopdari, jadinya saya diajak Ajeng dkk ke Oxen Free. Ngebir disana dengan mereka dan banyak teman lain juga sampai jam satuan. Pulangnya ikut GunRud yang nyusul ngebir juga. Makasih Ajeng, juga teman-temanmu. You’re the best party organizer. :mrgreen:

Ifan
Sabtu pagi 25 Mei, tanggal merah tuk Waisak. Kelar mandi buru-buru cari ojek ke Gudeg Yu Djum dekat hotel Sheraton. Disana sudah ditunggu Bradley tuk makan pagi. Habis itu dateng Ifan, lalu Adrian dan Eka. Ini kopdar perdana saya dengan Ifan. Hari ini saya, Ifan dan Bradley nebeng acara Waisaknya Eka dan suami. Tujuan pertama adalah museum Ullen Sentalu di ujung Kaliurang. Saya baru tahu ada museum sebagus ini di Jogja. Isinya barang-barang dari para ningrat empat kerajaan dan kadipaten pecahan Kesultanan Mataram di Jogja dan Solo. Dari alat musik, kolesi batik, lusinan foto, lukisan hingga surat cinta terpajang rapi dengan cerita masing-masing yang mengalir dari pemandu museum. Sesekali terpikir kenapa para raja dan pangeran itu tidak pernah punya ide untuk menyatukan lagi wilayah mereka, tapi memang orang Indonesia itu berbakat tuk terpecah belah sih. πŸ™„ Teringat juga penjelasan pemandu museum tentang Pakubuwono XII yang tidak punya permaisuri, hanya enam selir , dan cerita dia putus disitu. Jadi saya cerita-cerita sendiri dengan Brad soal suksesi beliau karena ketiadaan putra mahkota. Kalo terjadi dua abad silam, kurasa kedua kontestan tuk Pakubuwono XIII pasti sudah berperang. :mrgreen: Saya tersiram hujan di museum ini, tapi sepadan dengan pengalaman saya. Thanx Eka. πŸ˜‰

Jensen 2 crop

Berdiri: Ifan, Adrian, saya.; Duduk: Brad, Eka. Kamera milik Eka. Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Adrian
Tujuan kedua adalah candi Borobudur. Sudah jam empat sore saat kami tiba di komplex Borobudur, dan butuh sejam lagi untuk akhirnya menyentuh candinya sendiri. Sayangnya jam lima adalah jam Borobudur ditutup sehingga saya hanya sempat naik setengah candi dan tidak sampai atas karena sudah tutup. FYI, ini pertama kali saya ke Borobudur, dan candi ini adalah satu-satunya tujuan saya mau nebeng rombongannya Eka yang mau lihat prosesi Waisak. Hari itu Borobudur dan sekitarnya jadi lautan manusia, sebagian diantaranya adalah turis lokal & fotografer norak. Mayoritas pengunjung pengen lihat parade ratusan (atau ribuan?) lampion di ujung acara, yang sayangnya tidak terselenggara hari itu karena acara molor dan hujan lebat turun. Lagi-lagi saya tersiram hujan. Lupa bawa payung itu dingin konsekuensinya. Salahnya menteri Agama ini. Tapi kalo kitab suci saja bisa dikorupsi gak heran waktu pun dikorupsi. πŸ‘Ώ BTW waktu nyari makan pas turun dari candi rombongan kami bertemu Umar dan Silvi. Dua orang itu saja yang ketemu dari sekian banyak teman yang saya tahu sedang di sekitar Borobudur hari itu. Sinyal sangat buruk (overload?) sehingga komunikasi pun susah. Saya berterimakasih pada Adrian Sir yang sudah membawa saya tepat waktu di perempatan Kentungan jam setengah satu. tak lama kemudian saya sudah dijemput GunRud tuk ganti baju dan nonbar final liga cempyen di kafe Susu Kambing. Sayang Dortmund tidak menang, tapi Muenchen pantas juara. Capeknyaaaa… πŸ™‚

Topan
Minggu (26/5) sore, sudah jalan kaki lagi dari kosan ke Taman Kuliner Condongcatur. Saya nebeng keramaian dari acara ultah ke 4 CAC Jogja yang diadakan Karlina dan kawan-kawan. Serombongan teman (dan teman dari teman) yang kerap kutemui di Le Waroenk seperti Adit, Arga, Hamid, Anto, Bernad, Anna, Anni dan Celo juga hadir menyaksikan Dharma dan artis-artis lokal lain yang akustikan disana. Di meja sebelah saya ngumpul sendiri dengan Kitin, Mansup, GunRud dan bintang tamu malam ini: Topan Setiady. Susah juga ngajak anak ini kopdar padahal dia jago ngajar soal ekonomi dan keuangan global. :mrgreen: Walopun gerimis dan dingin tapi menyenangkan ngumpul-ngumpul. Esok (27/5) malamnya saya dan Topan masih ngobrol lagi sampai tengah malam di Le Waroenk bareng Hamid dan Arga.

J. Salatun
Selasa siang, satu lagi keinginan saya saat ke Jogja terpenuhi: mengunjungi Museum Mandala Dirgantara TNI-AU di ujung barat landasan lanud Adi Sucipto. Sayangnya sedang rame study tour dan piknik(?) dari banyak rombongan anak-anak sekolahan sehingga museum jadi sangat ribut. Saya meneliti tiap Marsekal yang pernah jadi pucuk pimpinan AU. Membayangkan beban mereka menjaga kedaulatan dan kebanggaan di udara RI saat pesawat dan senjata cuma sedikit. πŸ™„ Peragaan pesawat statis selalu jadi daya tarik utama museum seperti ini, dan karena pemandu museum sibuk dengan rombongan anak sekolahan (saya toh tidak butuh) saya jadi bisa berlama-lama memperhatikan (dan memanjati) tiap pesawat/helikopter. Selain pesawat-pesawat peninggalan TNI-AU saya memperhatikan juga 3 pesawat eks Jepang era PD II yang dulu diselamatkan dari bekas pangkalan udara Babo di Papua antara tahun 1977 dan 1981 lalu direstorasi: Sebuah Zero (Zeke), Sebuah Guntei (Sonia) dan sebuah Hayabusa (Oscar). Mestinya ada lebih banyak pesawat yang saat itu harusnya bisa diselamatkan sih. Dari era keemasan TNI-AU tahun 60an, setidaknya ada 3 pesawat yang tidak ada di museum: Il-28 Beagle, An-12 Cub dan heli raksasa Mi-6 Hook. Ini juga saya sayangkan. Kurasa tiket masuk yang cuma tiga ribu terlalu murah dan tidak berkontribusi dalam peningkatan kualitas museum. Saya harap di masa mendatang museum menyajikan lebih detil (tidak sekedar diorama) kisah-kisah TNI-AU dalam operasi-operasi militer seperti Trikora, Dwikora & Seroja, operasi-operasi kemanusiaan, bahkan yang belum diakui seperti operasi Alpha atau operasi Babut Mabur. πŸ™„

Mansup
Malam terakhir di Jogja saya habiskan bersama Putro dan Anno di lesehan depan mesjid Ahmad Dahlan, lalu besok paginya merayakan ultah Mansup di kampus dia di UNY sebelum balik ke Salatiga. Sayang gak sempat ketemu Amed yang masih tidur karena konon semalaman maen gim. Dua candi, dua museum, dan sejumlah ngumpul-ngumpul, selalu menyenangkan pergi ke Jogja. πŸ™‚

Neny
Kamis malam (30/5) di Kafe Kopi Prijaji Salatiga, satu lagi teman sekomunitas yang belum pernah ketemu akhirnya kopdaran denganku: Indra Yosodiharjo. Warga asli Salatiga yang sedang pulkam. Bersama dia malam itu ada juga mbak Neny Isharyanti, (bakal) mantan kepsek Akber Salatiga. Obrolan seru malam itu berlanjut dengan keikutsertaan saya di kelas Akber keesokan malamnya (31/5) di tempat yang sama. Ketemu lagi dengan beberapa anggota Akber yang pernah kutemui waktu pertama kali saya ikut Akber Salatiga, juga beberapa kenalan baru: Danny, Christa dan Erwin. Senang ketemu kalian semua.

akber 2

Dari kiri: Fafa, Christa, mbak Neny, Danny, Ika, mbak Mon, saya. Foto oleh Erwin Santoso.

Agnes Monica
Malam minggu (1/6), malam terakhir saya di Salatiga, dilewatkan dengan karaokean bareng mbak Neny, Ika dan Christa di D’ Jozz. Selain nyanyi macam-macam, saya sukses membawakan dua lagu todongan teman-teman: Cinta di Ujung Jalan dari Agnezmo dan Gee dari Girl’s Generation. Hohoho.. 😈 Bubar karaokean, saya dan mbak Neny masih nongkrong lagi di kafe Frame Coffee, dan dapet kenalan baru lagi: Lindri dan Astri. Senang ketemu mereka semua. Minggu sore saya sudah dalam penerbangan kembali ke Jakarta dan sampai di Jayapura Senin (3/6) pagi. Tiap perpisahan, pasti ada pertemuan kembali. Jadi sampai ketemu lagi. Hopefully. πŸ˜‰


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Oktober 2017
M S S R K J S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter