Archive for the 'Personal' Category

Tiga Puluh Enam

image

Ntah kenapa pengen banget fotonya ini. Hahaha…

Wah sudah ulang tahun lagi. Terima kasih Tuhan Yesus. 35 ke 36 ini tahun yang sangat baik. Bisa disyukuri bukan hanya karena hal baik sehari-hari, tapi juga karena banyak achievement unlocked yang bahkan tahun lalu masih cuma khayalan, dan melaluinya banyak beban masa lalu dan penasaran yang terhapus juga. πŸ™‚

Ulang tahun kali ini ada kekasih, dan ada kencan, banyak kencan malah, gak melulu LDRan; Ada kacamata baru setelah lama banget gak ganti; Ada kerjaan sampai ke Salatiga yang akhirnya menghasilkan pengalaman ngekos dan laptop perdana; Ada jalan-jalan ke Jakarta, Jogja, Semarang, Ambarawa, Bandung (akhirnya!) bahkan Kupang yang di luar rencana, penuh hotel hopping dan mall hopping; Ada kopdar, banyak kopdar, termasuk dengan teman-teman blogger yang baru pertama bertemu dan baru kenal; Daaaan… ada pesta besar semalam dengan keluarga besar plus perayaan ekstra dengan sepupu-sepupu lewat tengah malam. Senang banget. πŸ˜€

Bukan berarti setahunan ini bahkan sekarang gak ada masalah, tapi ya lupakan dululah di hari raya ini. Mari kita bersulang untuk panjang umur, kesehatan dan harapan. Semoga tahun berikutnya berkat dan penyertaan Tuhan masih terus menaungi.
Happy birthday to me. πŸ˜‰

Tiga Puluh Lima

35 is young, sophisticated and lethal.

Ada yang tahu kenapa fotonya ini? πŸ˜€

Yay! 35 tahun! Terimakasih Tuhan Yesus. Hidup masih jauh dari impian dan target, tapi yang dijalani hari demi hari masih penuh kebaikan dan harapan. Selalu ada cara Tuhan tuk memenuhi berbagai hal yang saya perlukan disaat saya sendiri sering sulit mengusahakannya sendiri. Yang belum dipenuhi, mungkin belum diberi supaya saya lebih rajin berdoa. :mrgreen:

Terimakasih tuk kedua orang tua, keluarga sedarah maupun seiman, semua yang masih menganggap saya sebagai teman, serta sahabat-sahabat dekat yang tiap hari berbagi suka duka bersama. Ah, ya, terimakasih untukmu juga. Umur panjang ini tidak akan berarti tanpa kalian semua.  ❀
Happy birthday to me. πŸ˜‰

Tiga Puluh Empat

Setahun ini ternyata lebih sederhana daripada kemarin. Tak ada perjalanan ke Jawa, tak ada kopdar, tak ada hal-hal yang luar biasa diluar rutinitas sehari-hari. Sempat ada beberapa bulan long distance HTS yang akhirnya bubar juga karena…. long distance. Back to square one . :mrgreen:

Meskipun demikian ulang tahun tetaplah hari raya, karena itu mari mengucap syukur dan bergembira bersama tiap ucapan selamat dan doa yang menyertainya. Saya kutip ucapan perdana dari Gege yang kecepetan masuk pagi tadi sebagai penutup kontemplasi pendek ini:

Selamat ulang tahun. Good life, good health, wish you find an awesome woman in your life. All best wishes for you birthday man. God bless.

Amin, dan terimakasih banyak tuk siapapun yang masih mengingat hari ini. Happy birthday to me! πŸ˜‰

Coblosan saya

Setelah lima tahun lalu mencontreng, pemilu legislatif tahun ini kembali ke sistem mencoblos. Sebagai warga negara yang kebagian undangan tuk memilih, saya pun memanfaatkan hak suara saya di TPS yang hanya sepelemparan batu dari rumah. Memilih anggota legislatif selalu sulit dengan banyak variabel, tapi tetap harus memilih kan? Maka dengan sejumlah pertimbangan inilah calon-calon yang mendapatkan suara saya di pemilu legislatif 2014 ini:

Tuk DPR-RI:
Laksdya (purn) Freddy Numberi. Partai Gerindra nomor urut 1.
Mantan gubernur Papua ini bukan nama yang asing di level nasional karena beberapa kali menjadi menteri. Menariknya, lima tahun silam saya juga memilih orang ini di level yang sama tetapi dari partai Demokrat. Pilihan yang sia-sia karena sesudah terpilih tuk ke Senayan, beliau dipanggil SBY untuk menjadi menteri perhubungan. Jabatan itu hilang saat reshuffle kabinet terakhir dan sepertinya beliau tersingkir pula dari Demokrat sehingga jadi petualang politik ke Gerindra. Rekam jejak 5 tahun terakhir mungkin tak mengesankan, tapi saya punya alasan tersendiri.
1. Ditengah gencarnya dukungan buat Jokowi lewat PDIP, saya ingin Prabowo bisa jadi kandidat penyeimbang tuk capres, karena itu saya menyumbang suara untuk Gerindra
2. Caleg-caleg DPR-RI tuk Papua dari partai-partai nasionalis lainnya tidak ada yang menarik. Jadi anggaplah ini pilihan teraman dari yang terburuk.

Tuk DPR Papua:
Kamasan Jacob “Jack” Komboy. Partai Hanura nomor urut 1.
Mantan bek Persipura ini orang yang sama yang saya pilih lima tahun silam dari partai yang sama. Seperti diatas, saya juga tidak menemukan caleg lain yang lebih mengesankan. Disisi lain, saya merasa perlu supaya ada mantan atlet di dewan, akan terasa cocok di komisi yang membidangi olahraga. Lagian selama 5 tahun Jack berkantor di DPRP, Persipura juara liga super 3 kali. Anggaplah ini penghargaan saya secara tidak langsung. πŸ˜‰

Tuk DPRD Kotamadya Jayapura:
Jimmy Jones Asmuruf. Partai Gerindra nomor urut 5.
Seorang pengusaha swasta, teman baik saya satu SMP dan Universitas. Salah satu misi dia adalah menjadi “pelindung” bagi warga sesukunya di kota ini yang kehilangan figur panutan setelah ayahnya -mantan Sekda Papua- meninggal dunia. Tahun ini ada empat teman sekolah saya yang jadi caleg dari dapil saya. Dua diantaranya bahkan nomor urut 1. Kurasa wajar kalau saya memilih yang paling saya kenal dekat. πŸ˜€

Tuk DPD RI:
La Madi SE.
Memilih DPD adalah pekerjaan tersulit karena semua calon-calonnya relatif asing (walaupun ada teman sekolah juga disitu). Mereka tak banyak mempromosikan diri, dan bahkan masih orang yang tak paham apa yang mereka kerjakan. Orang yang saya pilih adalah direktur Lakeda (Lembaga Analisa Kebijakan Daerah) Institute. Suatu lembaga ilmiah yang mengamati masalah-masalah Papua. Dia juga sudah banyak menulis buku tentang Papua. Seperti kawan saya diatas, saya tak terlalu yakin suara saya akan membuat dia terpilih, tapi tak apa, tak banyak pengaruhnya. Kalo kata Almascatie, DPD itu seperti vas bunga saja dalam sistem pemerintahan kita. :mrgreen:

Begitulah cerita pileg hari rabu 9 april kemarin. Semoga hasilnya sesuai prediksi masing-masing. Ada yang tidak keberatan berbagi cerita serupa? πŸ˜‰

Tiga Puluh Tiga

Yap, ini postingan ulang tahun yang sudah terlewat seminggu lebih. Tapi tak mengapa, masih ada banyak hal yang bisa diceritakan dari hidup saya yang sederhana ini.

Nyokap:
Yang paling penting tentu kepergian saya lagi ke tanah Jawa tuk ngantar nyokap berobat. Seperti yang pernah diceritakan di beberapa postingan sebelum ini, tepat pada hari ulang tahun tahun saya yang ke 32 tahun lalu, nyokap yang sedang berada di Rote, NTT, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang engkel kaki kirinya pecah. Setelah sesi operasi di Madiun dan rawat jalan di Salatiga yang akhirnya mengantar saya juga kesana, berlalu waktu sekian bulan tuk pemulihan yang akhirnya sampai ke tahap dimana harus dilakukan operasi lagi tuk mengeluarkan tiga kawat yang menyambung pecahan-pecahan tulang di kaki nyokap. Jadi tanggal 26 September kemarin saya menemani nyokap lagi pergi ke rumah di Salatiga. 29 September, di Minggu yang cerah, saya mengantar nyokap ke dokternya di Madiun lalu balik ke Salatiga hari itu juga. Operasi sukses dilakukan hari Selasa 1 Oktober. 4 hari kemudian saya dan adik menjemput nyokap (yang nebeng dokternya) di Solo. Mengajak jalan-jalan beliau ke Pasar Gede, PGS dan Paragon Solo sebelum balik ke Salatiga. Kami tak bisa berada di Jawa terlalu lama karena tepat dua minggu nyokap harus buka jahitan, dan bokap juga sedang kurang sehat. Akhirnya tanggal 13 Oktober kami pulang ke Jayapura via Jakarta dan tiba kembali tepat di hari ulang tahun saya 14 Oktober pagi. 2 hari kemudian, Rabu 16 Oktober, nyokap buka jahitan operasi di rumah. Tepat setahun sudah tuk pengobatan dan pemulihan. Masih ada dua pen lagi di kaki nyokap yang tidak mendesak tuk harus dikeluarkan. Entah kapan. Yang penting sekarang nyokap bisa berjalan kembali dengan cukup baik. πŸ™‚

Kopdar:
Hanya dua mingguan di Jawa Tengah, seminggu pertama saya hanya di Salatiga saja. Kopdar dengan teman-teman yang saya miliki di kota ini. Mbak Neny, Evan, Erwin, Dini, Astri, Novieta, dll. Tak ketinggalan dengan selebnya Salatiga: Indra Yosodiharjo. Bersama Danny, Christa dan teman-teman Akber Salatiga lain saya juga sempat mengunjungi Chika Djati yang sedang sakit dan dirawat di RS setempat. Semoga segera pulih yaa. Tampaknya saya makin betah main di kota ini. Cuma butuh motor sendiri tuk mengurangi acara jalan kaki pulang tiap usai hangout. πŸ˜†
Selasa, 8 Oktober, saya main-main sehari ke Solo. Nginep di RBI seperti biasa, berbagi cerita dengan Hendri, Jun, Arit, Ael, Yos dan Pakde Blontank yang menemui saya disitu. Sempat juga nonton Gravity 3D di XXI Solo Square bareng Ael. Kurasa ini pertama kali saya masuk bioskop sejak nonton Unstoppable di Central Park sekitar tiga tahun silam. πŸ˜›
Esok (9 Oktober) siangnya saya sudah tiba di Jogja. Kali ini datang tuk nyari obat Mediabetea titipan bokap. Butuh dua hari tuk muter-muter komplex di sekitar Taman Siswa bareng Herdix tuk nemukan agen yg dicari. Ke Jogja kali ini ketemu Hamid, Utieed, Fachry, Arga dan mas Adrianus. Seperti biasa, bertemu mereka di Le Waroenk. Padahal gak janjian dan sudah lewat jam 9 malam saat saya dan Herdix singgah ngeteh disitu. πŸ˜€
Kamis siang saya dan GunRud akhirnya sukses kopdar dengan Rizma Adlia. Bloher era wordpress 2007 juga yang rupanya lagi rutin bolak-balik Palembang-Jogja tuk sekolah (lagi). Sementara Jumat siang esoknya saya dan Herdix makan siang bareng Carra, dengan bintang tamu Om Warm sebelum saya balik ke Salatiga sore harinya. Banyak teman di Jogja yang tak sempat kusapa, tapi saya pasti bakal balik lagi kesini. Empat kali ke Jogja tahun ini, lumayan juga tuk anak Jayapura. :mrgreen:

kafe merah putih

Di Kafe Merah Putih, Salatiga, dengan @gregoriusli @indrayust @EzekielRio @nenyish dan @jalu1111. Kamera milk mbak Neny. Dipotret oleh pelayan kafe.

dawet d'kraton

Di Dawet D’Kraton, Solo, dengan @aelfikry @iwnjw dan @mashendri. Kamera milk Jun, dipotret oleh pelayan kedai.

kalimilk with ma

Di Kalimilk Jakal, Jogja, dengan @herdixe @gunawanrudy dan @rizmaadlia yang ngambil gambar.

Ultah:
Akhirnya 33 juga tanggal 14 kemarin. Berkurang lagi setahun jatah hidup yang ntah sisa berapa. Tapi pokoknya semangat hidup masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Semoga ke depan lebih sukses: Kerjaan, traveling, jodoh, dan semuanya. Terimakasih banyak tuk tiap teman-teman daring yang sudah mengirim ucapan dan doa. Via Twitter: Teh Nita Selya, Almas, Rere, Lea, Goenrock, Aelfikri, Mbak Ira Hairida, Carra, Enthong, Mbak Nenyish, Adrian Priyatna, Erwin Santoso, Ivan Prakasa, Adiitoo, Ziipy, Ghani Arasyid, Chichi Utami, Mas Karmin, Linda Ling, mbak Swastika, Fikri, Dwi Nengbiker, Ifanhere, Matilda, Zulhaq, Novia Candra, Yessy Muchtar, Memeth, Tikabanget, mbak Indah Juli, Gita Mbitmbot, Peter Lamanepa, P.S. Negoro dan Dian Aryanti; Via Fesbuk: Lambrtz, Jaka Ellinsworth, Moerjanto, Yudi Prasetyo, Daniel Hendrianto, Nia Sadjarwo, Haziran Nata, Priska Siagian, Nenda Fadhilah, King Akhmad, Ocha Milan, Rimura Arken, Andy Kurotsuchi, Dhita Maharrani, Jarwadi, Ivan Prakasa, Desti Utami, Yeni Setiawan, Dita Paradita, Biyung Nana, Gum Tiyangsae, Mina Ismawati, Chandra Iman, Fitria, Amed Hidayat, Alex Hidayat, Grace Kamila, Mas Haqiqie Suluh, Mas Lantip, dan Kounila Keo; Via Gugelples: Mas Karmin; Via SMS: Rindu Akiko, Kimi Rizkika, Hoek “Indra Aji” Soegirang, Eka Situmorang, Ajeng Lembayung dan Nonadita Puspitasari; dan Via milis KopdarJakarta: Ivan Prakasa, Billy Koesoemadinata, Chika Nadya, mbak Swastika, Oom Yahya, Simbok Venus, Mamski, Ervan Nurachman, Rhesya, Brama DR, Jafis, Ihwan dan Natalixia. Tuhan memberkati kalian semua. Terimakasih spesial tuk Athoe, Ipas dan Elko yang sudah memestakan ultah saya di Happy Puppy senin malam itu juga. Saya sayang kalian semua.Β  πŸ™‚

*bersulang*

Dari J.CO ke Le Waroenk ke Frame Coffee

Pulang ke Salatiga setelah Asean Blogger Festival di Solo, tak banyak yang saya lakukan selain makan tidur onlen dan maen PES2013 bersama adik-adik di rumah. Usai kegiatan sepekan yang padat seperti itu, rasanya sehari dua hari masih kurang unuk mengembalikan kebugaran ke level normal. Saya ingin jalan-jalan ke Jakarta hingga wiken, tapi tampaknya amunisi tak cukup.

Gita
Sabtu (18 Mei) akhirnya saya lewatkan dengan main ke Semarang. Rasanya saya nyasar hingga hampir sampai di terminal Terboyo karena tidak tahu kalo bis Solo-Semarang tidak melewati pusat kota. πŸ˜† Tapi setidaknya ada pengalaman tuk jadi bisa merasakan bis Trans Semarang ke pusat kota, jalan-jalan di Carrefour DP Mall dan Gramedia Pemuda. Habis itu malah bisa ngerasain naik angkot karena diajak kopdar sama Gita di Java Supermall. Kami ketemu dan ngobrol di J.CO di salah satu sudut Mall. Satu dari sedikit teman yang justru lebih nyaman pindah kerja keluar dari Jakarta. Saya jadi belajar sedikit soal dunia pendidikan yang sangat dicintai dan dikerjakan oleh teman saya ini. God Bless you, Git.

Nana
Kamis (23 Mei) saya ke Jogja tuk ketiga kalinya dalam tahun ini. Menepati janji tuk menemui Nana, teman blogger dari Denpasar yang belum pernah kutemui dan sedang liburan ke Jogja juga. Kali ini nginap lagi di kosan baru GunRud, di Jalan Timor-Timur dekat Yonif 403. Dari segi transportasi tempat itu agak merepotkan karena saya harus berjalan lebih dari satu kilometer menuju/dari halte Trans Jogja terdekat, tetapi lama-lama terbiasa dan bisa diatasi. Malam itu juga kami kopdar di Kalimilk Jakal. Bersama Nana ada Mansup, sementara GunRud menemani saya. Berturut-turut lalu menyusul Pepeng, Iphan, Putro, Ucy dan Terryna. Kopdar yang menyenangkan. Semoga yang masih pada kuliah segera selesai ya? :mrgreen:

Jensen 1 crop

Berdiri: Mansup, GunRud, saya, Nana; Duduk: Terryna, Iphan, Pepeng, Lucia, Putro. Kamera milik Iphan, Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Ajeng
Esoknya (24 Mei) saya menemani Nana ke Candi Prambanan menumpang Trans Jogja. Karena perginya kesiangan nyampenya juga kesorean, tapi tetap saja saya menikmati karena ini pertama kali ke candi Prambanan, kapan lagi mo kesana kalo gak dengan sesama turis? :mrgreen:
Bubar dari Prambanan gak sempat pulang, langsung ke Le Waroenk dengan Trans Jogja plus jalan kaki. Ditunggu teman-teman dari dua grup disitu. Satu rombongan teman-teman Jogja; Adit, Bernad, Arga, Utieed, dan lupa siapa lagi disitu. Satunya lagi teman-teman dari Jakarta; Ajeng, Yudha, Diah dan Lia. Kemudian datang Matilda juga yang sebenarnya ngajak saya tuk ketemu Titut, tapi karena tiada kabar dari yang mau dikopdari, jadinya saya diajak Ajeng dkk ke Oxen Free. Ngebir disana dengan mereka dan banyak teman lain juga sampai jam satuan. Pulangnya ikut GunRud yang nyusul ngebir juga. Makasih Ajeng, juga teman-temanmu. You’re the best party organizer. :mrgreen:

Ifan
Sabtu pagi 25 Mei, tanggal merah tuk Waisak. Kelar mandi buru-buru cari ojek ke Gudeg Yu Djum dekat hotel Sheraton. Disana sudah ditunggu Bradley tuk makan pagi. Habis itu dateng Ifan, lalu Adrian dan Eka. Ini kopdar perdana saya dengan Ifan. Hari ini saya, Ifan dan Bradley nebeng acara Waisaknya Eka dan suami. Tujuan pertama adalah museum Ullen Sentalu di ujung Kaliurang. Saya baru tahu ada museum sebagus ini di Jogja. Isinya barang-barang dari para ningrat empat kerajaan dan kadipaten pecahan Kesultanan Mataram di Jogja dan Solo. Dari alat musik, kolesi batik, lusinan foto, lukisan hingga surat cinta terpajang rapi dengan cerita masing-masing yang mengalir dari pemandu museum. Sesekali terpikir kenapa para raja dan pangeran itu tidak pernah punya ide untuk menyatukan lagi wilayah mereka, tapi memang orang Indonesia itu berbakat tuk terpecah belah sih. πŸ™„ Teringat juga penjelasan pemandu museum tentang Pakubuwono XII yang tidak punya permaisuri, hanya enam selir , dan cerita dia putus disitu. Jadi saya cerita-cerita sendiri dengan Brad soal suksesi beliau karena ketiadaan putra mahkota. Kalo terjadi dua abad silam, kurasa kedua kontestan tuk Pakubuwono XIII pasti sudah berperang. :mrgreen: Saya tersiram hujan di museum ini, tapi sepadan dengan pengalaman saya. Thanx Eka. πŸ˜‰

Jensen 2 crop

Berdiri: Ifan, Adrian, saya.; Duduk: Brad, Eka. Kamera milik Eka. Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Adrian
Tujuan kedua adalah candi Borobudur. Sudah jam empat sore saat kami tiba di komplex Borobudur, dan butuh sejam lagi untuk akhirnya menyentuh candinya sendiri. Sayangnya jam lima adalah jam Borobudur ditutup sehingga saya hanya sempat naik setengah candi dan tidak sampai atas karena sudah tutup. FYI, ini pertama kali saya ke Borobudur, dan candi ini adalah satu-satunya tujuan saya mau nebeng rombongannya Eka yang mau lihat prosesi Waisak. Hari itu Borobudur dan sekitarnya jadi lautan manusia, sebagian diantaranya adalah turis lokal & fotografer norak. Mayoritas pengunjung pengen lihat parade ratusan (atau ribuan?) lampion di ujung acara, yang sayangnya tidak terselenggara hari itu karena acara molor dan hujan lebat turun. Lagi-lagi saya tersiram hujan. Lupa bawa payung itu dingin konsekuensinya. Salahnya menteri Agama ini. Tapi kalo kitab suci saja bisa dikorupsi gak heran waktu pun dikorupsi. πŸ‘Ώ BTW waktu nyari makan pas turun dari candi rombongan kami bertemu Umar dan Silvi. Dua orang itu saja yang ketemu dari sekian banyak teman yang saya tahu sedang di sekitar Borobudur hari itu. Sinyal sangat buruk (overload?) sehingga komunikasi pun susah. Saya berterimakasih pada Adrian Sir yang sudah membawa saya tepat waktu di perempatan Kentungan jam setengah satu. tak lama kemudian saya sudah dijemput GunRud tuk ganti baju dan nonbar final liga cempyen di kafe Susu Kambing. Sayang Dortmund tidak menang, tapi Muenchen pantas juara. Capeknyaaaa… πŸ™‚

Topan
Minggu (26/5) sore, sudah jalan kaki lagi dari kosan ke Taman Kuliner Condongcatur. Saya nebeng keramaian dari acara ultah ke 4 CAC Jogja yang diadakan Karlina dan kawan-kawan. Serombongan teman (dan teman dari teman) yang kerap kutemui di Le Waroenk seperti Adit, Arga, Hamid, Anto, Bernad, Anna, Anni dan Celo juga hadir menyaksikan Dharma dan artis-artis lokal lain yang akustikan disana. Di meja sebelah saya ngumpul sendiri dengan Kitin, Mansup, GunRud dan bintang tamu malam ini: Topan Setiady. Susah juga ngajak anak ini kopdar padahal dia jago ngajar soal ekonomi dan keuangan global. :mrgreen: Walopun gerimis dan dingin tapi menyenangkan ngumpul-ngumpul. Esok (27/5) malamnya saya dan Topan masih ngobrol lagi sampai tengah malam di Le Waroenk bareng Hamid dan Arga.

J. Salatun
Selasa siang, satu lagi keinginan saya saat ke Jogja terpenuhi: mengunjungi Museum Mandala Dirgantara TNI-AU di ujung barat landasan lanud Adi Sucipto. Sayangnya sedang rame study tour dan piknik(?) dari banyak rombongan anak-anak sekolahan sehingga museum jadi sangat ribut. Saya meneliti tiap Marsekal yang pernah jadi pucuk pimpinan AU. Membayangkan beban mereka menjaga kedaulatan dan kebanggaan di udara RI saat pesawat dan senjata cuma sedikit. πŸ™„ Peragaan pesawat statis selalu jadi daya tarik utama museum seperti ini, dan karena pemandu museum sibuk dengan rombongan anak sekolahan (saya toh tidak butuh) saya jadi bisa berlama-lama memperhatikan (dan memanjati) tiap pesawat/helikopter. Selain pesawat-pesawat peninggalan TNI-AU saya memperhatikan juga 3 pesawat eks Jepang era PD II yang dulu diselamatkan dari bekas pangkalan udara Babo di Papua antara tahun 1977 dan 1981 lalu direstorasi: Sebuah Zero (Zeke), Sebuah Guntei (Sonia) dan sebuah Hayabusa (Oscar). Mestinya ada lebih banyak pesawat yang saat itu harusnya bisa diselamatkan sih. Dari era keemasan TNI-AU tahun 60an, setidaknya ada 3 pesawat yang tidak ada di museum: Il-28 Beagle, An-12 Cub dan heli raksasa Mi-6 Hook. Ini juga saya sayangkan. Kurasa tiket masuk yang cuma tiga ribu terlalu murah dan tidak berkontribusi dalam peningkatan kualitas museum. Saya harap di masa mendatang museum menyajikan lebih detil (tidak sekedar diorama) kisah-kisah TNI-AU dalam operasi-operasi militer seperti Trikora, Dwikora & Seroja, operasi-operasi kemanusiaan, bahkan yang belum diakui seperti operasi Alpha atau operasi Babut Mabur. πŸ™„

Mansup
Malam terakhir di Jogja saya habiskan bersama Putro dan Anno di lesehan depan mesjid Ahmad Dahlan, lalu besok paginya merayakan ultah Mansup di kampus dia di UNY sebelum balik ke Salatiga. Sayang gak sempat ketemu Amed yang masih tidur karena konon semalaman maen gim. Dua candi, dua museum, dan sejumlah ngumpul-ngumpul, selalu menyenangkan pergi ke Jogja. πŸ™‚

Neny
Kamis malam (30/5) di Kafe Kopi Prijaji Salatiga, satu lagi teman sekomunitas yang belum pernah ketemu akhirnya kopdaran denganku: Indra Yosodiharjo. Warga asli Salatiga yang sedang pulkam. Bersama dia malam itu ada juga mbak Neny Isharyanti, (bakal) mantan kepsek Akber Salatiga. Obrolan seru malam itu berlanjut dengan keikutsertaan saya di kelas Akber keesokan malamnya (31/5) di tempat yang sama. Ketemu lagi dengan beberapa anggota Akber yang pernah kutemui waktu pertama kali saya ikut Akber Salatiga, juga beberapa kenalan baru: Danny, Christa dan Erwin. Senang ketemu kalian semua.

akber 2

Dari kiri: Fafa, Christa, mbak Neny, Danny, Ika, mbak Mon, saya. Foto oleh Erwin Santoso.

Agnes Monica
Malam minggu (1/6), malam terakhir saya di Salatiga, dilewatkan dengan karaokean bareng mbak Neny, Ika dan Christa di D’ Jozz. Selain nyanyi macam-macam, saya sukses membawakan dua lagu todongan teman-teman: Cinta di Ujung Jalan dari Agnezmo dan Gee dari Girl’s Generation. Hohoho.. 😈 Bubar karaokean, saya dan mbak Neny masih nongkrong lagi di kafe Frame Coffee, dan dapet kenalan baru lagi: Lindri dan Astri. Senang ketemu mereka semua. Minggu sore saya sudah dalam penerbangan kembali ke Jakarta dan sampai di Jayapura Senin (3/6) pagi. Tiap perpisahan, pasti ada pertemuan kembali. Jadi sampai ketemu lagi. Hopefully. πŸ˜‰

Six days, in the Spirit of Java

Seminggu yang lalu, saya menghadiri acara ASEAN Blogger Festival Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Ini pertama kalinya saya diundang dan dibayari menghadiri suatu acara blogger. Sesuatu yang selama ini menurut saya sulit terjadi pada blogger non komunitas seperti saya. Jadilah saya datang dengan riang gembira ke Solo, padahal baru saja 10 hari menginjak Jayapura lagi setelah merampungkan 3 bulan perjalanan ke luar kota.

Rabu (8/5), hari pertama. Dari pagi hingga petang diisi dengan penerbangan Lion Air dari Jayapura ke Solo. Dua kali transit di Makassar (Maros) dan Jakarta (Tangerang), saya tiba di Solo jam 5pm GMT+7. Cukup SMS, sebuah mobil jemputan datang dari RBI Bengawan beberapa menit kemudian berisi Doni dan Hendri, juga Almas yang sudah datang duluan beberapa jam sebelumnya. Kami langsung makan bersama di warung lalapan dekat Lumintu. Bersyukur sekali punya teman-teman baik seperti mereka. Karena belum bisa masuk hotel, sekali lagi Bengawan membuka pintu RBI buat saya nongkrong dan tidur semalaman bareng Almas dan Semmy, teman serombongan Maluku. Masih tak percaya sudah di Jawa lagi.

Kamis (9/5), hari kedua. Bangun duluan dan segera mandi. Saya kedatangan tamu istimewa di RBI: Rifu. Blogger jadul temennya Sora ini sedang di Solo rupanya. Jadilah dia singgah dan kami makan pagi berenam di pecel Madiun terdekat bareng Almas, Semmy, Arit dan Hendri. Usai makan pagi ini sebenarnya saya sudah pengen melapor ke hotel, tapi karena satu dan lain hal jadi tertahan di RBI dan malah jadi gak bisa keluar karena siang itu ada workshop β€œInternet dan Sosial Media sebagai saluran berekspresi pegiat informasi untuk perubahan sosial”. Selain mbak Shita Laksmi dan mas Dandhy Laksono, saya cuma ingat mas Donny BU beredar disekitar situ. Saya tak kenal pembicara dan peserta lain, tapi materi-materinya menarik. Ada satu lagi tamu di RBI hari ini: Maksum! Senang akhirnya ketemu seleb ini. πŸ˜€
Sore, sesudah mandi ala ninja, segara cegat taksi bareng Almas dan Semmy menuju Kusuma Sahid. Sepi… semua panitia disitu sudah minggat. Akhirnya cegat taksi lagi ke Sahid Jaya, disambut sama Ajeng Lembayung. Panitia yang ngurusi akomodasi rada cari masalah rupanya. Saya sempat gak dapet kamar. Syukur ada Ajeng, saya bisa naruh barang dulu di kamar dia tuk segera melapis batik ke kaos dan bergabung dengan rombongan nunggu bis ke Loji Gandrung.
Di Loji Gandrung acara makan malam bareng Walikota Solo. Terlalu banyak pidato panjang-panjang, akhirnya 9pm baru mulai makan. Tapi setidaknya memberi kesempatan buat teman-teman yang terlambat datang karena baru tiba di Solo malam itu kek Simbok Venus, Putra, Dimas dan Ira. Makanannya lezat, sayang terlalu cepat habis.
Balik ke hotel, nongkrong di lobi. Nonadita rupanya mau segera cari tiket kereta balik ke Jakarta. Jadi kami jalan-jalan malam cari Alfamart atau Indomaret yang jual tiket KA, bareng saya dan Nondit ada Fikri, Ira, Phally, Kounila, Preetam dan Putra. Ternyata di Solo tiada toko 24 jam. Akhirnya kami balik dan nongkrong di angkringan seberang Sahid Jaya sambil ngeteh sampai 1am. Tidur

dengan Rifu

Semmy, saya, Rifu dan Almas. Didepan RBI usai makan pagi. Foto karya Hendri, dengan kamera Almas.

loji gandrung 1

Saya, Nonadita, Chichi, Kounila dan Simbok Venus. Makan malam di Loji Gandrung. Foto karya Ollie.

Jumat (10/5). Hari ketiga. Bangun jam 5am, sejam kemudian sudah di ruang makan, ngobrol dengan om Warm. Seminar di KSPH hari ini terdengar membosankan kecuali yang dibawakan Hermawan Kertajaya. Menjelang jam sholat Jumat, rencana kabur pun disusun karena Ira pengen makan Sate Buntel. Segera sesudah masuk jam ibadah Jumat, satu rombongan besar menyelinap keluar hotel dan mencegat dua taksi ke Sate Buntel Tambak Segaran. Saya, Chichi, Nonadita, Ajeng, Ira, Kounila, Preetam, Chan, Luke, Viladeth, Marul dan Tonyo. Enak banget makanan disana. Balik ke KSPH jam 2 lewat, sudah tak ada lagi yang berminat ikut seminar. Nongkrong saja diluar aula sambil nyicip-nyicip cemilan dan teh. Lanjut ngobrol berempat bareng Ira, Putra dan Ajeng di lobby KSPH, nyari tempat tuk isi ulang batere henpon. Menjelang matahari terbanam, komplotan kami sudah cegat dua taksi lagi ke Mall Paragon. Muter-muter di Centro, kami lalu pecah jadi dua rombongan ngafe: Saya, Ajeng, Ira, Putra, Kounila dan Nonadita di Starbuck; sementara Preetam, Viladeth, dll di Excelso. Hampir jam 7pm, Chichi mengabarkan kalo tak ada makan malam resmi. Jadilah saya, Ajeng dan Ira naksi sendiri ke Ngarsopuro, cari makan di kafe Tiga Tjeret. Kafe itu rame luar biasa, syukurlah kami disediakan tempat oleh Maksum, Sam Ardi, Bair, Aziz, Ael, Hassan dan Jun yang dah parkir duluan disitu. Makasih banget, teman-teman. πŸ™‚
Di Istana Mangkunegaran seberang Ngarsopuro, Mangkunegara Performing Art 2013 sedang berlangsung, tapi tak ada yang tergerak tuk meluncur kesana. Teman-teman saya yang lain juga nongkrong di Omah Sinten di sebelah Tiga Tjeret. Jadi saya, Ajeng dan Ira nyamperin mereka sebentar, lalu jalan kaki ke Sahid Jaya. Mandi sejam, bawa Kounila, lalu cegat dua taksi lagi. Harris Maul yang lagi nongkrong di lobi tak lupa diculik. Dua taksi ini lalu menjemput teman-teman di Omah Sinten, siapapun yang masih kuat nongkrong, lalu menuju ke Hotel Rumah Turi, nongkrong di Kedai Turi. Ada bir dan macam-macam makanan lezat disitu. Saya, Preetam, Nonadita, Chichi, Fikri, Harris Maul, Putra, mbak Ira, Ajeng, Marul, Luke, Viladeth dan Mien nongkrong disitu hingga 1am sebelum balik ke Sahid Jaya. Tidur.

sate buntel

Ki-ka: Chichi, Kounila, Tonyo, Ira (gak kliatan), saya, Preetam, Ajeng, Chan, Marul, Nonadita, Viladeth. Makan siang di Sate Buntel Tambak Segaran. Foto karya Luke.

kafe Tiga Tjeret

ki-ka: Hassan, Jun, Sam Ardi, Bair, Maksum, Ajeng, Ira, saya dan Ael. Makan malam di kafe Tiga Tjeret. Foto karya Aziz Hadi.

Sabtu (11/5), hari keempat. Bangun jam 5 lagi, sejam kemudian sudah makan pagi bareng Simbok dan Semmy. Ke KSPH, dengerin country report. Break Out session 1 ikut kelasnya Kounila, lalu session 2 ikut kelasnya Preetam. Sesudah makan siang yang seru karena sambil main “no gadget zone”, acara dilanjutkan dengan tur ke museum Sangiran. Sorenya ke Urban Forest. Masih lumayanlah tur ke museum, tapi tanam pohon di tepi sungai itu kurasa buang waktu dan tenaga, walo para blogger asing tampaknya senang bisa terlibat. πŸ˜€ Balik ke Sahid Jaya sudah lapar lagi. Jadi segera sesudah turun bis, Ira ngajak makan pempek di warung seberang hotel. Saya, Nonadita, Fikri, Ajeng dan Putra ikut bergabung. Mandi dan siap-siap malam mingguan 90 menit kemudian. Acara tur dengan bis tingkat terbatas tuk sejumlah blogger saja, jadi kami bikin acara sendiri seperti biasa. 8.30pm, cegat dua taksi dari Sahid jaya menuju Galabo. Isinya saya, Ajeng, Nonadita, Ira, Simbok, Putra, Fikri dan Dimas. Sampai di Galabo sudah ditunggu Wiwikwae. Bersama-sama mbak Wiwik ada Adit, Maksum, Sibair, Ael, Hassan, Aziz, dan Setyo Mursid. Kami ngobrol bareng dan makan-makan sampai mbak Wiwik cs memisahkan diri. Kelar di Galabo, karena sulit cari taksi kami memutuskan jalan kaki menyusuri Slamet Riyadi menuju Am Pm cafΓ©. Asyik juga cerita-cerita sambil jalan-jalan gini. Sampai di Am Pm, sudah ada rombongan besar disitu: Preetam, Viladeth, Claire, Regin, Tonyo, Flow, Luke, Chan, Jericho, Lana, Mien, Jessica, KC dan ntah siapa lagi sudah menghabiskan 3 teko bir disana. Saya kebagian segelas doang dan malas beli lagi. :mrgreen: Kami disana hingga jam 12an. Tiap kelompok pulang sendiri-sendiri. Saya, Ajeng, Jessica, Preetam , Chichi dan beberapa teman lagi jadi rombongan terakhir. Kami jalan kaki saja kembali ke Sahid Jaya. Lagi-lagi tidur jam 1.30am. Malam minggu yang menyenangkan. πŸ™‚

lunch sabtu siang 1

ki-ka: Chan, Preetam, Chichi, Fikri, Phally, Regin, Ira, saya, Nonadita, Kounila, Viladeth, Putra, Luke. Kamera milik Luke, sepertinya foto karya Tonyo. Makan siang di KSPH sambil mengumpulkan gadget.

evolusi sangiran

Maksum, Sofyan, Enthong, saya dan Rasarab; manusia paling sempurna. πŸ˜›
Foto karya Aziz Hadi.

urban forest 1

Berdiri: Ollie, Chan, Jessica, Nonadita, Fikri, Kounila, Lana, Preetam & Jericho. Jongkok: Viladeth, saya dan Luke. Sore di Urban Forest. Kamera milik Ollie. Lupa siapa yang motret. πŸ˜›

Galabo 2

Mursyid, Adit, mbak Wiwik, Simbok Venus, Nonadita, Ira, saya, Ael, Maksum, Hassan, Aziz. Makan malam di Galabo. Foto karya Bair. Kamera milik Simbok.

Am Pm cafe

Ki-ka: Saya, Preetam, Mien, Phally, Jessica, Luke, Putra, Chan, Claire, Tonyo, Chichi, KC, Jericho, Flow, Viladeth, Ajeng, Ira, Fikri, Nonadita. Ngebir di Am Pm cafe. Foto karya Simbok.

Minggu (12/5), hari kelima. Sudah mulai lelah setelah sering tidur larut. Saya tetap bangun jam 5. Sejam kemudian di ruang makan, Preetam sudah bertanya β€œwhat’s the plan for tonite?” πŸ˜† Pagi ini ada acara tur naik sepur kluthuk Jaladara. Tapi saya tak berminat. Sebagian teman masih tidur, sebagian lagi malah sudah harus cabut. Ngobrol-ngobrol saja di resto dengan Ollie, Chris, Ira, dll. Berhubung siang sudah harus check out, saya pun berkemas. Anggara nyamperin dengan ide bagus: sepedaan! Pake sepeda Hotel. Kebetulan Minggu ada car free day. Seperti lupa kalo sedang lelah banget, sayapun memilih sepeda dan tak lama kemudian sudah gowes-gowes bareng Anggara, Sony, Lukman, Nemicio dan Angga. Asyik benar sepedaan rame-rame. Kami menuju keraton Surakarta Hadiningrat dan nongkrong disana hingga sejumlah peserta ABFI yang usai tur ntah dari mana juga berdatangan. Saat makin ramai, kami melanjutkan sepedaan ke kampung batik Kauman tak jauh dari situ. Lihat-lihat, foto-foto dan singgah sejenak di museum batik disitu. Balik ke keraton surakarta, para peserta lain sudah memenuhi pendopo keraton untuk acara penutupan ABFI serta jamuan dari keraton Surakarta. Ada dua hal yang menjadi perhatian saya saat itu. 1] pihak Keraton yang diwakili GKR Koes Murtiyah (CMIIW) bercerita panjang lebar soal sejarah keraton Solo, lalu akhirnya curhat menginginkan dikembalikannya Daerah Istimewa Surakarta. πŸ™‚ 2] kasak-kusuk dengan sejumlah teman terdengar kabar kalo GKR Koes Murtiyah konon marah pada para blogger karena tidak berpakaian dengan sopan untuk bertamu ke keraton. Sayangnya memang tak ada informasi apapun soal dresscode. πŸ‘Ώ 3] tari-tariannya keren. Para penari cewek cantik-cantik :mrgreen: Kelar makan siang dll, saya, Anggara dkk bersepeda balik lagi ke Sahid Jaya. Check out dan nongrong di lobi bareng ransel-ransel. Capeknya luar biasa. Bingung juga sekarang mau kemana dan bagaimana. Ajeng dan Putra yang datang kemudian pakai bis memberi solusi sementara: pindah ke lobi Kusuma Sahid. Sayapun ikut taksi kesana dan nongkrong di lobi sesorean ngeliatin kontingen-kontingen yang balik pake bus atau naksi ke bandara. Pengen balik ke Salatiga juga, tapi rasanya badan dah terlalu berat tuk nenteng ransel ke terminal. Bermalam lagi di Solo? Dimana? Pas mikir-mikir gitu ada insiden pula, salah satu ransel saya gak sengaja terbawa pakde Blontank ke RBI. Ealah… πŸ˜†
Tak disangka-sangka Dimas (yang seharian terpisah) muncul, ngabarin kalo dia buka kamar di hotel itu buat semalam. Jadilah saya dan Ajeng ikut numpang disitu. Istirahat bentar. Menjelang matahari terbenam sudah jalan lagi bareng Ajeng dan Putra tuk berburu tutup lensa, minum-minum di Kopioey Solo, ngambil ransel saya di RBI, belanja suvenir di Javanir, lalu menuju restoran Atria resto di Effect cafe tuk makan malam. Sudah menunggu disana Dimas, Lana, Jericho, Viladeth, dan Preetam. Mien dan Chris menyusul kemudian. Makan dan ngobrol hingga sekitar 10pm (saya masih sempat nonton Arema dibantai Persipura), kami lalu jalan kaki pulang ke Kusuma Sahid dan dilanjutkan sesi ngobrol sambil ngebir (minus Lana dan Chris) di tepi kolam hingga jam 1am. Tidur. Benar-benar lelah..

sarapan minggu pagi

Chris, Luke, Preetam, saya, Fikri, Nonadita, Lana. Sarapan minggu pagi menjelang Fikri dan Nonadita ke Jogja. Foto karya Kounila.

Keraton Surakarta

Di Keraton Surakarta Hadiningrat. Penutupan ABFI. Foto karya Umar.

Senin (13/5), hari keenam. Dimas sudah balik ke Jakarta saat subuh. Sekitar 8am baru sarapan pagi bareng Ajeng dan Becky. Preetam, Lana dan Putra menyusul kemudian. Sekitar 12pm, saya check out dari Kusuma Sahid. Bertiga carter taksi tuk belanja di Pusat Grosir Solo, sesudah itu menurunkan Putra di stasiun KA Purwosari tuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Saya sendiri berpisah dengan Ajeng di terminal Tirtonadi tuk melanjutkan perjalanan ke Salatiga, dan sampai di rumah jam 4pm.

Seperti tertulis diatas, catatan-catatan penting dari acara ini buat saya hanyalah kopdar dan senang-senang. Mau kemana arah dan tujuan komunitas asean blogger itu sendiri, biarlah duit yang menentukan, karena kopdar pada level lokal saja susah, apalagi regional. Sayapun masih pesimis bahwa setelah naik level jadi blogger regional saya akan sering posting dalam bahasa Inggris supaya bisa dimengerti blogger-blogger luar. Haha. Satu hal yang pasti, saya puas dengan acara ini. πŸ˜‰

Terimakasih buat pakde Blontank buat undangan lisannya, juga bunda InJul dan mbak Asri dari panitia pusat buat undangan resmi dan administrasi ke acara ini.
Terimakasih buat Hendri, Doni dan Almas yang sudah menjemput saya di bandara hari Rabu sore. Juga buat makan malam, makan pagi dan makan siang keesokan harinya. Makasih buat semua blogger Solo yang jadi teman ngeteh dan ngobrol selama saya di Solo. Arit, Umar, Ael, Hassan, Gilang, Arif dan entah siapa lagi. Makasih buat Bengawan tuk akomodasi semalam di RBI selama H-1 dan H-Β½ .
Terimakasih buat Rifu yang mau mengunjungi saya dan Almas di RBI. Senang ketemu kamu lagi. Semoga bahumu cepat pulih.
Buat Semmy, thanx dah jadi roommate yang cool selama 3 malam.
Buat teman-teman kopdarjakarta di Solo, terutama yang setiap hari hangout bareng, kalian luar biasa. Dua tahun lebih saya tidak pernah kopdar rame-rame dengan teman-teman komunitas sendiri. Senang sekali bisa makan, minum, ngobrol dan keluyuran dengan kalian 3 hari. Chichi, Dimas, Ira, Putra, Nona, Simbok, Fikri, Mbak Wiwik, makasih banyak dan sampai ketemu lagi. Special thanx buat Dimas yang dah berbagi kamar supaya saya bisa istirahat semalam lagi di Solo, dan very special thanx buat Ajeng Lembayung. Sahabat dan event organizer yang hebat banget. Makasih tuk seluruh acara ngumpul-ngumpul dan transportasi yang kamu urusin, dari taksi sampai jalan kaki. So much fun. πŸ™‚
Buat teman-teman lama yang ketemu lagi di Solo; Rian, om Warm, Nopy, Anno, Tey, Enthong, Arga, Rara, dan siapa lagi yang mungkin kulewatkan, sampai ketemu lagi lain waktu. Teman-teman yang baru kali ini kutemui, bahkan baru kukenal pada event ini; Anggara, Chandra Iman, Jay, Ollie, Jarwadi, Maksum, Sam Ardi, Jun, Sibair, Aziz Hadi, Setyo Mursid, Anazkia, Niken, Harris Maul, Misno, Sofyan, Iqbal Khan, Lukman, Nemicio, Sony, Angga, Fitri, dan entah siapa lagi. Senang bertemu kalian semua. Saya selalu salut pada blogger-blogger yang datang ke suatu acara dengan senyum ramah, mengulurkan tangan duluan sambil menyebut nama dan asal, membangun pertemanan baru. Saya sulit seperti itu. :mrgreen:
Buat teman-teman dari negara tetangga (kalau kalian bisa mengerti paragraf ini), sejak pembentukan Asean blogger saya selalu pesimis dengan komunitas ini. Kurasa di Negara sendiri saja kami masih terkotak-kotak, blogwalking pun jarang ke blogger luar negeri, macam mana mau bergaul dengan blogger Negara sebelah? Tapi pengalaman menunjukkan berteman memang gak cuma berawal dari online, dari kopdar pun bisa, dan suatu kebetulan yang bagus bahwa sebagian besar dari kalian sering hangout dengan saya dan kawan-kawan saya setiap hari sehingga kita bukan hanya berkenalan, tapi bertukar banyak canda, cerita dan pikiran. Preetam, Kounila, Phally, Luke, Chan, Mienpham, Becky, Jessica, Viladeth, Marul, Tonyo, Jericho, Lana, KC, Chris dan entah siapa lagi nama teman-teman dari negara tetangga, senang berkenalan dan berteman dengan kalian semua. Spesial tuk Preetam, saya selalu mendapat hal baru setiap saat ngobrol denganmu. So much thanx. Kapan-kapan kita harus ngumpul lagi. Semoga.. πŸ˜‰

PS: yang ingin tautan ke twitternya diganti jadi tautan ke blog, silahkan sampaikan di kolom komentar. Tautan twitter saya pilih semata-mata karena lebih mudah kupasang. πŸ˜‰


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Juni 2017
M S S R K J S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter