Archive for the 'Journey to the West' Category

Nostalgia Pesta Blogger: Pesta Blogger Nostalgia

Makasih tuk foto ini ya, Dewi

Eh, ko Agustus sibuk ka tidak? Kalo ko sempat, sa mau undang ko datang ke acara pernikahanku di Bali πŸ™‚ ,
Acaranya tanggal 10 dan 11 Agustus. Akomodasi tempat tinggal buat tamu kita sediakan buat 2 malam itu. Tiketnya sih yang kemungkinan agak mahal. Ko kan sa punya teman paling lama sejak kita kecil, best friend gitu lah… hehehe jadi sa ingin sekali ko bisa hadir di hari pentingku ini πŸ˜‰ Sa tau memang untuk tiketnya bakalan agak berat sih, jadi coba ko cek suda kira2 harga tiketnya berapa, nanti sa bantu, bagaimana?
Sa sangat berharap ko bisa datang…
Kasi kabar e…

Demikian bunyi sepotong pesan via FB Messenger yang kuterima dari sahabat dekatku, Johan, yang saat itu seingatku sedang berada nun jauh di negara lain. Ketika itu bulan Juni 2010, 4 bulan sebelum Pesta Blogger 2010.

Dengan Omded, Enda, Omith, Ndoro etc

Jumat malam, 27 Oktober 2017 di Restoran Omah Sendok, daerah Senopati, Jakarta, saya menghadiri acara kecil Pesta Blogger Nostalgia 2017. Kopdar terbatas (karena tempatnya terbatas) blogger-blogger yang rindu ngumpul ala Pesta Blogger 2007-2010 silam. Banyak wajah lama muncul di situ, orang-orang yang dulu meramaikan blogsphere nasional. Sebuah sukacita dan kebanggaan bisa menjadi bagian dari acara kopi darat itu, dan tentu saja sebuah privilege, kalau kata pacar saya. Iya, hak istimewa. Karena tidak semua blogger bisa menjadi bagian sejarah yang bernama Pesta Blogger, baik dulu maupun kemarin.

Dengan om Nukman, Didut, Pitra, Fikri, Om Yahya, Adham, Omith, Fany, Nena, Nonadita, etc

Layar proyektor di Omah Sendok tak putus menanyangkan berbagai momen dari acara Pesta Blogger 2007, 2008 dan 2009. Saya berdiri menatap foto-foto yang bergantian itu. Mengenang kembali keriuhan blogsphere tiap akhir Oktober dulu ketika ramai-ramai muncul posting tentang Pesta Blogger. Tema nostalgia memang kuat di acara ini. Selain momen di layar, juga lewat dekorasi dan games yang dimainkan. Saya juga bernostalgia sendiri mengenang kehadiran di Pesta Blogger 2010, Pesta Blogger satu-satunya yang pernah kuikuti. Tidak mudah pergi ke Pesta Blogger dan ada alasan tak terbantahkan kenapa itu privilege alias istimewa: JAUH. Iya, jauh. Pesta Blogger selalu diadakan di Jakarta, Sehingga butuh usaha ekstra tuk blogger luar Jakarta menghadiri Pesta Blogger. Buat saya yang pengangguran dan berdomisili di ujung timur negara luas ini, pergi ke Jakarta saat itu dengan biaya sendiri adalah kemustahilan. 😦

Dengan Swastika

Saat Pesta Blogger 2007 dan 2008 berlangsung, saya masih merasa cukup ngeblog hanya dengan posting dan blogwalking, tetapi sesudah punya banyak teman di dunia maya dan melihat begitu banyak postingan kopdar, saya sungguh ingin kopdar juga seperti teman-teman lain. Keinginan tak kesampaian itu lama-lama menjadi rasa frustrasi yang memuncak pada perhelatan Pesta Blogger 2009 yang juga gagal saya hadiri. Saat itu ngeblog masih ramai komentar, cukup terhibur melihat ramainya teman yang peduli atau senasib. Satu komentar dari Ainun Nazieb disitu ternyata menjadi nubuat: see ya next year bro πŸ˜€

Dengan Pitra, Nath, Iphan, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Dimas

Hari-hari berlalu tanpa harapan sampai akhirnya pesan lewat Facebook di atas itu tiba. Undangan pernikahan di Benoa, Bali, Agustus 2010. Singkat cerita, keluarga Johan memutuskan menanggung seluruh keberangkatan dan kepulangan saya, juga akomodasi selama acara. 8 Agustus 2010, saya berangkat ke Denpasar. Pertama kali ke luar kota setelah tujuh tahun. Perjalanan saya ke Bali menghadiri pernikahan Johan nantinya menjadi awal petualangan panjang demi menghadiri Pesta Blogger 2010 di Jakarta. Dua setengah bulan mengembara di 4 Provinsi, menumpang di rumah dan kamar berbagai sanak famili dan teman. Mungkin cerita dari perjalanan ini akan saya bagi di postingan lain. Banyak cerita suka duka di situ termasuk cerita segala kopdar atau dimarahi keluarga yang menganggap saya menelantarkan orang tua di rumah. πŸ™„

Dengan Saiful, Utet, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Icit

Jarak ke Jakarta tidak jadi mendekat sesudah mengikuti Pesta Blogger 2010. Saya masih tetap blogger Jayapura yang kejauhan kalau pengen ngumpul dengan blogger dari kota lain. Sebuah kebetulan bahwa kemarin saya sedang ngekos di Salatiga dan mampu ke Jakarta, tapi kopdar bukan lagi pengalaman tak terjangkau. Banyak sudah teman ditemui, bahkan dari saat acara nostalgia ini sampai saat postingan ini ditulis, sudah berjumpa dengan tiga kawan blogger untuk yang pertama kalinya. πŸ˜€

Yang di meja sebelah kanan: Rere, Swastika, mbak Eny, Dewi etc

Malam beranjak larut. Pesta pun usai setelah pelepasan balon. Saya masih minta panitia tuk foto bersama yang sayangnya tidak diikuti oleh teman-teman yang terlanjur pulang duluan. Tak ada lagi after party seperti dulu. Hanya ada orang-orang yang sibuk menanti ojek/taksi online. Usai sudah nostalgia, segala kenangan kehebohan tren sesaat yang namanya ngeblog itu. Mari kembali ngobrol di media sosial dan grup chat, dan apabila sempat berdekatan, mari kopdar. πŸ˜‰

Iphan, Yudis, etc etc Nico :))

Iklan

Tiga Puluh Tiga

Yap, ini postingan ulang tahun yang sudah terlewat seminggu lebih. Tapi tak mengapa, masih ada banyak hal yang bisa diceritakan dari hidup saya yang sederhana ini.

Nyokap:
Yang paling penting tentu kepergian saya lagi ke tanah Jawa tuk ngantar nyokap berobat. Seperti yang pernah diceritakan di beberapa postingan sebelum ini, tepat pada hari ulang tahun tahun saya yang ke 32 tahun lalu, nyokap yang sedang berada di Rote, NTT, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang engkel kaki kirinya pecah. Setelah sesi operasi di Madiun dan rawat jalan di Salatiga yang akhirnya mengantar saya juga kesana, berlalu waktu sekian bulan tuk pemulihan yang akhirnya sampai ke tahap dimana harus dilakukan operasi lagi tuk mengeluarkan tiga kawat yang menyambung pecahan-pecahan tulang di kaki nyokap. Jadi tanggal 26 September kemarin saya menemani nyokap lagi pergi ke rumah di Salatiga. 29 September, di Minggu yang cerah, saya mengantar nyokap ke dokternya di Madiun lalu balik ke Salatiga hari itu juga. Operasi sukses dilakukan hari Selasa 1 Oktober. 4 hari kemudian saya dan adik menjemput nyokap (yang nebeng dokternya) di Solo. Mengajak jalan-jalan beliau ke Pasar Gede, PGS dan Paragon Solo sebelum balik ke Salatiga. Kami tak bisa berada di Jawa terlalu lama karena tepat dua minggu nyokap harus buka jahitan, dan bokap juga sedang kurang sehat. Akhirnya tanggal 13 Oktober kami pulang ke Jayapura via Jakarta dan tiba kembali tepat di hari ulang tahun saya 14 Oktober pagi. 2 hari kemudian, Rabu 16 Oktober, nyokap buka jahitan operasi di rumah. Tepat setahun sudah tuk pengobatan dan pemulihan. Masih ada dua pen lagi di kaki nyokap yang tidak mendesak tuk harus dikeluarkan. Entah kapan. Yang penting sekarang nyokap bisa berjalan kembali dengan cukup baik. πŸ™‚

Kopdar:
Hanya dua mingguan di Jawa Tengah, seminggu pertama saya hanya di Salatiga saja. Kopdar dengan teman-teman yang saya miliki di kota ini. Mbak Neny, Evan, Erwin, Dini, Astri, Novieta, dll. Tak ketinggalan dengan selebnya Salatiga: Indra Yosodiharjo. Bersama Danny, Christa dan teman-teman Akber Salatiga lain saya juga sempat mengunjungi Chika Djati yang sedang sakit dan dirawat di RS setempat. Semoga segera pulih yaa. Tampaknya saya makin betah main di kota ini. Cuma butuh motor sendiri tuk mengurangi acara jalan kaki pulang tiap usai hangout. πŸ˜†
Selasa, 8 Oktober, saya main-main sehari ke Solo. Nginep di RBI seperti biasa, berbagi cerita dengan Hendri, Jun, Arit, Ael, Yos dan Pakde Blontank yang menemui saya disitu. Sempat juga nonton Gravity 3D di XXI Solo Square bareng Ael. Kurasa ini pertama kali saya masuk bioskop sejak nonton Unstoppable di Central Park sekitar tiga tahun silam. πŸ˜›
Esok (9 Oktober) siangnya saya sudah tiba di Jogja. Kali ini datang tuk nyari obat Mediabetea titipan bokap. Butuh dua hari tuk muter-muter komplex di sekitar Taman Siswa bareng Herdix tuk nemukan agen yg dicari. Ke Jogja kali ini ketemu Hamid, Utieed, Fachry, Arga dan mas Adrianus. Seperti biasa, bertemu mereka di Le Waroenk. Padahal gak janjian dan sudah lewat jam 9 malam saat saya dan Herdix singgah ngeteh disitu. πŸ˜€
Kamis siang saya dan GunRud akhirnya sukses kopdar dengan Rizma Adlia. Bloher era wordpress 2007 juga yang rupanya lagi rutin bolak-balik Palembang-Jogja tuk sekolah (lagi). Sementara Jumat siang esoknya saya dan Herdix makan siang bareng Carra, dengan bintang tamu Om Warm sebelum saya balik ke Salatiga sore harinya. Banyak teman di Jogja yang tak sempat kusapa, tapi saya pasti bakal balik lagi kesini. Empat kali ke Jogja tahun ini, lumayan juga tuk anak Jayapura. :mrgreen:

kafe merah putih

Di Kafe Merah Putih, Salatiga, dengan @gregoriusli @indrayust @EzekielRio @nenyish dan @jalu1111. Kamera milk mbak Neny. Dipotret oleh pelayan kafe.

dawet d'kraton

Di Dawet D’Kraton, Solo, dengan @aelfikry @iwnjw dan @mashendri. Kamera milk Jun, dipotret oleh pelayan kedai.

kalimilk with ma

Di Kalimilk Jakal, Jogja, dengan @herdixe @gunawanrudy dan @rizmaadlia yang ngambil gambar.

Ultah:
Akhirnya 33 juga tanggal 14 kemarin. Berkurang lagi setahun jatah hidup yang ntah sisa berapa. Tapi pokoknya semangat hidup masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Semoga ke depan lebih sukses: Kerjaan, traveling, jodoh, dan semuanya. Terimakasih banyak tuk tiap teman-teman daring yang sudah mengirim ucapan dan doa. Via Twitter: Teh Nita Selya, Almas, Rere, Lea, Goenrock, Aelfikri, Mbak Ira Hairida, Carra, Enthong, Mbak Nenyish, Adrian Priyatna, Erwin Santoso, Ivan Prakasa, Adiitoo, Ziipy, Ghani Arasyid, Chichi Utami, Mas Karmin, Linda Ling, mbak Swastika, Fikri, Dwi Nengbiker, Ifanhere, Matilda, Zulhaq, Novia Candra, Yessy Muchtar, Memeth, Tikabanget, mbak Indah Juli, Gita Mbitmbot, Peter Lamanepa, P.S. Negoro dan Dian Aryanti; Via Fesbuk: Lambrtz, Jaka Ellinsworth, Moerjanto, Yudi Prasetyo, Daniel Hendrianto, Nia Sadjarwo, Haziran Nata, Priska Siagian, Nenda Fadhilah, King Akhmad, Ocha Milan, Rimura Arken, Andy Kurotsuchi, Dhita Maharrani, Jarwadi, Ivan Prakasa, Desti Utami, Yeni Setiawan, Dita Paradita, Biyung Nana, Gum Tiyangsae, Mina Ismawati, Chandra Iman, Fitria, Amed Hidayat, Alex Hidayat, Grace Kamila, Mas Haqiqie Suluh, Mas Lantip, dan Kounila Keo; Via Gugelples: Mas Karmin; Via SMS: Rindu Akiko, Kimi Rizkika, Hoek “Indra Aji” Soegirang, Eka Situmorang, Ajeng Lembayung dan Nonadita Puspitasari; dan Via milis KopdarJakarta: Ivan Prakasa, Billy Koesoemadinata, Chika Nadya, mbak Swastika, Oom Yahya, Simbok Venus, Mamski, Ervan Nurachman, Rhesya, Brama DR, Jafis, Ihwan dan Natalixia. Tuhan memberkati kalian semua. Terimakasih spesial tuk Athoe, Ipas dan Elko yang sudah memestakan ultah saya di Happy Puppy senin malam itu juga. Saya sayang kalian semua.Β  πŸ™‚

*bersulang*

Dari J.CO ke Le Waroenk ke Frame Coffee

Pulang ke Salatiga setelah Asean Blogger Festival di Solo, tak banyak yang saya lakukan selain makan tidur onlen dan maen PES2013 bersama adik-adik di rumah. Usai kegiatan sepekan yang padat seperti itu, rasanya sehari dua hari masih kurang unuk mengembalikan kebugaran ke level normal. Saya ingin jalan-jalan ke Jakarta hingga wiken, tapi tampaknya amunisi tak cukup.

Gita
Sabtu (18 Mei) akhirnya saya lewatkan dengan main ke Semarang. Rasanya saya nyasar hingga hampir sampai di terminal Terboyo karena tidak tahu kalo bis Solo-Semarang tidak melewati pusat kota. πŸ˜† Tapi setidaknya ada pengalaman tuk jadi bisa merasakan bis Trans Semarang ke pusat kota, jalan-jalan di Carrefour DP Mall dan Gramedia Pemuda. Habis itu malah bisa ngerasain naik angkot karena diajak kopdar sama Gita di Java Supermall. Kami ketemu dan ngobrol di J.CO di salah satu sudut Mall. Satu dari sedikit teman yang justru lebih nyaman pindah kerja keluar dari Jakarta. Saya jadi belajar sedikit soal dunia pendidikan yang sangat dicintai dan dikerjakan oleh teman saya ini. God Bless you, Git.

Nana
Kamis (23 Mei) saya ke Jogja tuk ketiga kalinya dalam tahun ini. Menepati janji tuk menemui Nana, teman blogger dari Denpasar yang belum pernah kutemui dan sedang liburan ke Jogja juga. Kali ini nginap lagi di kosan baru GunRud, di Jalan Timor-Timur dekat Yonif 403. Dari segi transportasi tempat itu agak merepotkan karena saya harus berjalan lebih dari satu kilometer menuju/dari halte Trans Jogja terdekat, tetapi lama-lama terbiasa dan bisa diatasi. Malam itu juga kami kopdar di Kalimilk Jakal. Bersama Nana ada Mansup, sementara GunRud menemani saya. Berturut-turut lalu menyusul Pepeng, Iphan, Putro, Ucy dan Terryna. Kopdar yang menyenangkan. Semoga yang masih pada kuliah segera selesai ya? :mrgreen:

Jensen 1 crop

Berdiri: Mansup, GunRud, saya, Nana; Duduk: Terryna, Iphan, Pepeng, Lucia, Putro. Kamera milik Iphan, Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Ajeng
Esoknya (24 Mei) saya menemani Nana ke Candi Prambanan menumpang Trans Jogja. Karena perginya kesiangan nyampenya juga kesorean, tapi tetap saja saya menikmati karena ini pertama kali ke candi Prambanan, kapan lagi mo kesana kalo gak dengan sesama turis? :mrgreen:
Bubar dari Prambanan gak sempat pulang, langsung ke Le Waroenk dengan Trans Jogja plus jalan kaki. Ditunggu teman-teman dari dua grup disitu. Satu rombongan teman-teman Jogja; Adit, Bernad, Arga, Utieed, dan lupa siapa lagi disitu. Satunya lagi teman-teman dari Jakarta; Ajeng, Yudha, Diah dan Lia. Kemudian datang Matilda juga yang sebenarnya ngajak saya tuk ketemu Titut, tapi karena tiada kabar dari yang mau dikopdari, jadinya saya diajak Ajeng dkk ke Oxen Free. Ngebir disana dengan mereka dan banyak teman lain juga sampai jam satuan. Pulangnya ikut GunRud yang nyusul ngebir juga. Makasih Ajeng, juga teman-temanmu. You’re the best party organizer. :mrgreen:

Ifan
Sabtu pagi 25 Mei, tanggal merah tuk Waisak. Kelar mandi buru-buru cari ojek ke Gudeg Yu Djum dekat hotel Sheraton. Disana sudah ditunggu Bradley tuk makan pagi. Habis itu dateng Ifan, lalu Adrian dan Eka. Ini kopdar perdana saya dengan Ifan. Hari ini saya, Ifan dan Bradley nebeng acara Waisaknya Eka dan suami. Tujuan pertama adalah museum Ullen Sentalu di ujung Kaliurang. Saya baru tahu ada museum sebagus ini di Jogja. Isinya barang-barang dari para ningrat empat kerajaan dan kadipaten pecahan Kesultanan Mataram di Jogja dan Solo. Dari alat musik, kolesi batik, lusinan foto, lukisan hingga surat cinta terpajang rapi dengan cerita masing-masing yang mengalir dari pemandu museum. Sesekali terpikir kenapa para raja dan pangeran itu tidak pernah punya ide untuk menyatukan lagi wilayah mereka, tapi memang orang Indonesia itu berbakat tuk terpecah belah sih. πŸ™„ Teringat juga penjelasan pemandu museum tentang Pakubuwono XII yang tidak punya permaisuri, hanya enam selir , dan cerita dia putus disitu. Jadi saya cerita-cerita sendiri dengan Brad soal suksesi beliau karena ketiadaan putra mahkota. Kalo terjadi dua abad silam, kurasa kedua kontestan tuk Pakubuwono XIII pasti sudah berperang. :mrgreen: Saya tersiram hujan di museum ini, tapi sepadan dengan pengalaman saya. Thanx Eka. πŸ˜‰

Jensen 2 crop

Berdiri: Ifan, Adrian, saya.; Duduk: Brad, Eka. Kamera milik Eka. Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Adrian
Tujuan kedua adalah candi Borobudur. Sudah jam empat sore saat kami tiba di komplex Borobudur, dan butuh sejam lagi untuk akhirnya menyentuh candinya sendiri. Sayangnya jam lima adalah jam Borobudur ditutup sehingga saya hanya sempat naik setengah candi dan tidak sampai atas karena sudah tutup. FYI, ini pertama kali saya ke Borobudur, dan candi ini adalah satu-satunya tujuan saya mau nebeng rombongannya Eka yang mau lihat prosesi Waisak. Hari itu Borobudur dan sekitarnya jadi lautan manusia, sebagian diantaranya adalah turis lokal & fotografer norak. Mayoritas pengunjung pengen lihat parade ratusan (atau ribuan?) lampion di ujung acara, yang sayangnya tidak terselenggara hari itu karena acara molor dan hujan lebat turun. Lagi-lagi saya tersiram hujan. Lupa bawa payung itu dingin konsekuensinya. Salahnya menteri Agama ini. Tapi kalo kitab suci saja bisa dikorupsi gak heran waktu pun dikorupsi. πŸ‘Ώ BTW waktu nyari makan pas turun dari candi rombongan kami bertemu Umar dan Silvi. Dua orang itu saja yang ketemu dari sekian banyak teman yang saya tahu sedang di sekitar Borobudur hari itu. Sinyal sangat buruk (overload?) sehingga komunikasi pun susah. Saya berterimakasih pada Adrian Sir yang sudah membawa saya tepat waktu di perempatan Kentungan jam setengah satu. tak lama kemudian saya sudah dijemput GunRud tuk ganti baju dan nonbar final liga cempyen di kafe Susu Kambing. Sayang Dortmund tidak menang, tapi Muenchen pantas juara. Capeknyaaaa… πŸ™‚

Topan
Minggu (26/5) sore, sudah jalan kaki lagi dari kosan ke Taman Kuliner Condongcatur. Saya nebeng keramaian dari acara ultah ke 4 CAC Jogja yang diadakan Karlina dan kawan-kawan. Serombongan teman (dan teman dari teman) yang kerap kutemui di Le Waroenk seperti Adit, Arga, Hamid, Anto, Bernad, Anna, Anni dan Celo juga hadir menyaksikan Dharma dan artis-artis lokal lain yang akustikan disana. Di meja sebelah saya ngumpul sendiri dengan Kitin, Mansup, GunRud dan bintang tamu malam ini: Topan Setiady. Susah juga ngajak anak ini kopdar padahal dia jago ngajar soal ekonomi dan keuangan global. :mrgreen: Walopun gerimis dan dingin tapi menyenangkan ngumpul-ngumpul. Esok (27/5) malamnya saya dan Topan masih ngobrol lagi sampai tengah malam di Le Waroenk bareng Hamid dan Arga.

J. Salatun
Selasa siang, satu lagi keinginan saya saat ke Jogja terpenuhi: mengunjungi Museum Mandala Dirgantara TNI-AU di ujung barat landasan lanud Adi Sucipto. Sayangnya sedang rame study tour dan piknik(?) dari banyak rombongan anak-anak sekolahan sehingga museum jadi sangat ribut. Saya meneliti tiap Marsekal yang pernah jadi pucuk pimpinan AU. Membayangkan beban mereka menjaga kedaulatan dan kebanggaan di udara RI saat pesawat dan senjata cuma sedikit. πŸ™„ Peragaan pesawat statis selalu jadi daya tarik utama museum seperti ini, dan karena pemandu museum sibuk dengan rombongan anak sekolahan (saya toh tidak butuh) saya jadi bisa berlama-lama memperhatikan (dan memanjati) tiap pesawat/helikopter. Selain pesawat-pesawat peninggalan TNI-AU saya memperhatikan juga 3 pesawat eks Jepang era PD II yang dulu diselamatkan dari bekas pangkalan udara Babo di Papua antara tahun 1977 dan 1981 lalu direstorasi: Sebuah Zero (Zeke), Sebuah Guntei (Sonia) dan sebuah Hayabusa (Oscar). Mestinya ada lebih banyak pesawat yang saat itu harusnya bisa diselamatkan sih. Dari era keemasan TNI-AU tahun 60an, setidaknya ada 3 pesawat yang tidak ada di museum: Il-28 Beagle, An-12 Cub dan heli raksasa Mi-6 Hook. Ini juga saya sayangkan. Kurasa tiket masuk yang cuma tiga ribu terlalu murah dan tidak berkontribusi dalam peningkatan kualitas museum. Saya harap di masa mendatang museum menyajikan lebih detil (tidak sekedar diorama) kisah-kisah TNI-AU dalam operasi-operasi militer seperti Trikora, Dwikora & Seroja, operasi-operasi kemanusiaan, bahkan yang belum diakui seperti operasi Alpha atau operasi Babut Mabur. πŸ™„

Mansup
Malam terakhir di Jogja saya habiskan bersama Putro dan Anno di lesehan depan mesjid Ahmad Dahlan, lalu besok paginya merayakan ultah Mansup di kampus dia di UNY sebelum balik ke Salatiga. Sayang gak sempat ketemu Amed yang masih tidur karena konon semalaman maen gim. Dua candi, dua museum, dan sejumlah ngumpul-ngumpul, selalu menyenangkan pergi ke Jogja. πŸ™‚

Neny
Kamis malam (30/5) di Kafe Kopi Prijaji Salatiga, satu lagi teman sekomunitas yang belum pernah ketemu akhirnya kopdaran denganku: Indra Yosodiharjo. Warga asli Salatiga yang sedang pulkam. Bersama dia malam itu ada juga mbak Neny Isharyanti, (bakal) mantan kepsek Akber Salatiga. Obrolan seru malam itu berlanjut dengan keikutsertaan saya di kelas Akber keesokan malamnya (31/5) di tempat yang sama. Ketemu lagi dengan beberapa anggota Akber yang pernah kutemui waktu pertama kali saya ikut Akber Salatiga, juga beberapa kenalan baru: Danny, Christa dan Erwin. Senang ketemu kalian semua.

akber 2

Dari kiri: Fafa, Christa, mbak Neny, Danny, Ika, mbak Mon, saya. Foto oleh Erwin Santoso.

Agnes Monica
Malam minggu (1/6), malam terakhir saya di Salatiga, dilewatkan dengan karaokean bareng mbak Neny, Ika dan Christa di D’ Jozz. Selain nyanyi macam-macam, saya sukses membawakan dua lagu todongan teman-teman: Cinta di Ujung Jalan dari Agnezmo dan Gee dari Girl’s Generation. Hohoho.. 😈 Bubar karaokean, saya dan mbak Neny masih nongkrong lagi di kafe Frame Coffee, dan dapet kenalan baru lagi: Lindri dan Astri. Senang ketemu mereka semua. Minggu sore saya sudah dalam penerbangan kembali ke Jakarta dan sampai di Jayapura Senin (3/6) pagi. Tiap perpisahan, pasti ada pertemuan kembali. Jadi sampai ketemu lagi. Hopefully. πŸ˜‰

Six days, in the Spirit of Java

Seminggu yang lalu, saya menghadiri acara ASEAN Blogger Festival Indonesia di Solo, Jawa Tengah. Ini pertama kalinya saya diundang dan dibayari menghadiri suatu acara blogger. Sesuatu yang selama ini menurut saya sulit terjadi pada blogger non komunitas seperti saya. Jadilah saya datang dengan riang gembira ke Solo, padahal baru saja 10 hari menginjak Jayapura lagi setelah merampungkan 3 bulan perjalanan ke luar kota.

Rabu (8/5), hari pertama. Dari pagi hingga petang diisi dengan penerbangan Lion Air dari Jayapura ke Solo. Dua kali transit di Makassar (Maros) dan Jakarta (Tangerang), saya tiba di Solo jam 5pm GMT+7. Cukup SMS, sebuah mobil jemputan datang dari RBI Bengawan beberapa menit kemudian berisi Doni dan Hendri, juga Almas yang sudah datang duluan beberapa jam sebelumnya. Kami langsung makan bersama di warung lalapan dekat Lumintu. Bersyukur sekali punya teman-teman baik seperti mereka. Karena belum bisa masuk hotel, sekali lagi Bengawan membuka pintu RBI buat saya nongkrong dan tidur semalaman bareng Almas dan Semmy, teman serombongan Maluku. Masih tak percaya sudah di Jawa lagi.

Kamis (9/5), hari kedua. Bangun duluan dan segera mandi. Saya kedatangan tamu istimewa di RBI: Rifu. Blogger jadul temennya Sora ini sedang di Solo rupanya. Jadilah dia singgah dan kami makan pagi berenam di pecel Madiun terdekat bareng Almas, Semmy, Arit dan Hendri. Usai makan pagi ini sebenarnya saya sudah pengen melapor ke hotel, tapi karena satu dan lain hal jadi tertahan di RBI dan malah jadi gak bisa keluar karena siang itu ada workshop β€œInternet dan Sosial Media sebagai saluran berekspresi pegiat informasi untuk perubahan sosial”. Selain mbak Shita Laksmi dan mas Dandhy Laksono, saya cuma ingat mas Donny BU beredar disekitar situ. Saya tak kenal pembicara dan peserta lain, tapi materi-materinya menarik. Ada satu lagi tamu di RBI hari ini: Maksum! Senang akhirnya ketemu seleb ini. πŸ˜€
Sore, sesudah mandi ala ninja, segara cegat taksi bareng Almas dan Semmy menuju Kusuma Sahid. Sepi… semua panitia disitu sudah minggat. Akhirnya cegat taksi lagi ke Sahid Jaya, disambut sama Ajeng Lembayung. Panitia yang ngurusi akomodasi rada cari masalah rupanya. Saya sempat gak dapet kamar. Syukur ada Ajeng, saya bisa naruh barang dulu di kamar dia tuk segera melapis batik ke kaos dan bergabung dengan rombongan nunggu bis ke Loji Gandrung.
Di Loji Gandrung acara makan malam bareng Walikota Solo. Terlalu banyak pidato panjang-panjang, akhirnya 9pm baru mulai makan. Tapi setidaknya memberi kesempatan buat teman-teman yang terlambat datang karena baru tiba di Solo malam itu kek Simbok Venus, Putra, Dimas dan Ira. Makanannya lezat, sayang terlalu cepat habis.
Balik ke hotel, nongkrong di lobi. Nonadita rupanya mau segera cari tiket kereta balik ke Jakarta. Jadi kami jalan-jalan malam cari Alfamart atau Indomaret yang jual tiket KA, bareng saya dan Nondit ada Fikri, Ira, Phally, Kounila, Preetam dan Putra. Ternyata di Solo tiada toko 24 jam. Akhirnya kami balik dan nongkrong di angkringan seberang Sahid Jaya sambil ngeteh sampai 1am. Tidur

dengan Rifu

Semmy, saya, Rifu dan Almas. Didepan RBI usai makan pagi. Foto karya Hendri, dengan kamera Almas.

loji gandrung 1

Saya, Nonadita, Chichi, Kounila dan Simbok Venus. Makan malam di Loji Gandrung. Foto karya Ollie.

Jumat (10/5). Hari ketiga. Bangun jam 5am, sejam kemudian sudah di ruang makan, ngobrol dengan om Warm. Seminar di KSPH hari ini terdengar membosankan kecuali yang dibawakan Hermawan Kertajaya. Menjelang jam sholat Jumat, rencana kabur pun disusun karena Ira pengen makan Sate Buntel. Segera sesudah masuk jam ibadah Jumat, satu rombongan besar menyelinap keluar hotel dan mencegat dua taksi ke Sate Buntel Tambak Segaran. Saya, Chichi, Nonadita, Ajeng, Ira, Kounila, Preetam, Chan, Luke, Viladeth, Marul dan Tonyo. Enak banget makanan disana. Balik ke KSPH jam 2 lewat, sudah tak ada lagi yang berminat ikut seminar. Nongkrong saja diluar aula sambil nyicip-nyicip cemilan dan teh. Lanjut ngobrol berempat bareng Ira, Putra dan Ajeng di lobby KSPH, nyari tempat tuk isi ulang batere henpon. Menjelang matahari terbanam, komplotan kami sudah cegat dua taksi lagi ke Mall Paragon. Muter-muter di Centro, kami lalu pecah jadi dua rombongan ngafe: Saya, Ajeng, Ira, Putra, Kounila dan Nonadita di Starbuck; sementara Preetam, Viladeth, dll di Excelso. Hampir jam 7pm, Chichi mengabarkan kalo tak ada makan malam resmi. Jadilah saya, Ajeng dan Ira naksi sendiri ke Ngarsopuro, cari makan di kafe Tiga Tjeret. Kafe itu rame luar biasa, syukurlah kami disediakan tempat oleh Maksum, Sam Ardi, Bair, Aziz, Ael, Hassan dan Jun yang dah parkir duluan disitu. Makasih banget, teman-teman. πŸ™‚
Di Istana Mangkunegaran seberang Ngarsopuro, Mangkunegara Performing Art 2013 sedang berlangsung, tapi tak ada yang tergerak tuk meluncur kesana. Teman-teman saya yang lain juga nongkrong di Omah Sinten di sebelah Tiga Tjeret. Jadi saya, Ajeng dan Ira nyamperin mereka sebentar, lalu jalan kaki ke Sahid Jaya. Mandi sejam, bawa Kounila, lalu cegat dua taksi lagi. Harris Maul yang lagi nongkrong di lobi tak lupa diculik. Dua taksi ini lalu menjemput teman-teman di Omah Sinten, siapapun yang masih kuat nongkrong, lalu menuju ke Hotel Rumah Turi, nongkrong di Kedai Turi. Ada bir dan macam-macam makanan lezat disitu. Saya, Preetam, Nonadita, Chichi, Fikri, Harris Maul, Putra, mbak Ira, Ajeng, Marul, Luke, Viladeth dan Mien nongkrong disitu hingga 1am sebelum balik ke Sahid Jaya. Tidur.

sate buntel

Ki-ka: Chichi, Kounila, Tonyo, Ira (gak kliatan), saya, Preetam, Ajeng, Chan, Marul, Nonadita, Viladeth. Makan siang di Sate Buntel Tambak Segaran. Foto karya Luke.

kafe Tiga Tjeret

ki-ka: Hassan, Jun, Sam Ardi, Bair, Maksum, Ajeng, Ira, saya dan Ael. Makan malam di kafe Tiga Tjeret. Foto karya Aziz Hadi.

Sabtu (11/5), hari keempat. Bangun jam 5 lagi, sejam kemudian sudah makan pagi bareng Simbok dan Semmy. Ke KSPH, dengerin country report. Break Out session 1 ikut kelasnya Kounila, lalu session 2 ikut kelasnya Preetam. Sesudah makan siang yang seru karena sambil main “no gadget zone”, acara dilanjutkan dengan tur ke museum Sangiran. Sorenya ke Urban Forest. Masih lumayanlah tur ke museum, tapi tanam pohon di tepi sungai itu kurasa buang waktu dan tenaga, walo para blogger asing tampaknya senang bisa terlibat. πŸ˜€ Balik ke Sahid Jaya sudah lapar lagi. Jadi segera sesudah turun bis, Ira ngajak makan pempek di warung seberang hotel. Saya, Nonadita, Fikri, Ajeng dan Putra ikut bergabung. Mandi dan siap-siap malam mingguan 90 menit kemudian. Acara tur dengan bis tingkat terbatas tuk sejumlah blogger saja, jadi kami bikin acara sendiri seperti biasa. 8.30pm, cegat dua taksi dari Sahid jaya menuju Galabo. Isinya saya, Ajeng, Nonadita, Ira, Simbok, Putra, Fikri dan Dimas. Sampai di Galabo sudah ditunggu Wiwikwae. Bersama-sama mbak Wiwik ada Adit, Maksum, Sibair, Ael, Hassan, Aziz, dan Setyo Mursid. Kami ngobrol bareng dan makan-makan sampai mbak Wiwik cs memisahkan diri. Kelar di Galabo, karena sulit cari taksi kami memutuskan jalan kaki menyusuri Slamet Riyadi menuju Am Pm cafΓ©. Asyik juga cerita-cerita sambil jalan-jalan gini. Sampai di Am Pm, sudah ada rombongan besar disitu: Preetam, Viladeth, Claire, Regin, Tonyo, Flow, Luke, Chan, Jericho, Lana, Mien, Jessica, KC dan ntah siapa lagi sudah menghabiskan 3 teko bir disana. Saya kebagian segelas doang dan malas beli lagi. :mrgreen: Kami disana hingga jam 12an. Tiap kelompok pulang sendiri-sendiri. Saya, Ajeng, Jessica, Preetam , Chichi dan beberapa teman lagi jadi rombongan terakhir. Kami jalan kaki saja kembali ke Sahid Jaya. Lagi-lagi tidur jam 1.30am. Malam minggu yang menyenangkan. πŸ™‚

lunch sabtu siang 1

ki-ka: Chan, Preetam, Chichi, Fikri, Phally, Regin, Ira, saya, Nonadita, Kounila, Viladeth, Putra, Luke. Kamera milik Luke, sepertinya foto karya Tonyo. Makan siang di KSPH sambil mengumpulkan gadget.

evolusi sangiran

Maksum, Sofyan, Enthong, saya dan Rasarab; manusia paling sempurna. πŸ˜›
Foto karya Aziz Hadi.

urban forest 1

Berdiri: Ollie, Chan, Jessica, Nonadita, Fikri, Kounila, Lana, Preetam & Jericho. Jongkok: Viladeth, saya dan Luke. Sore di Urban Forest. Kamera milik Ollie. Lupa siapa yang motret. πŸ˜›

Galabo 2

Mursyid, Adit, mbak Wiwik, Simbok Venus, Nonadita, Ira, saya, Ael, Maksum, Hassan, Aziz. Makan malam di Galabo. Foto karya Bair. Kamera milik Simbok.

Am Pm cafe

Ki-ka: Saya, Preetam, Mien, Phally, Jessica, Luke, Putra, Chan, Claire, Tonyo, Chichi, KC, Jericho, Flow, Viladeth, Ajeng, Ira, Fikri, Nonadita. Ngebir di Am Pm cafe. Foto karya Simbok.

Minggu (12/5), hari kelima. Sudah mulai lelah setelah sering tidur larut. Saya tetap bangun jam 5. Sejam kemudian di ruang makan, Preetam sudah bertanya β€œwhat’s the plan for tonite?” πŸ˜† Pagi ini ada acara tur naik sepur kluthuk Jaladara. Tapi saya tak berminat. Sebagian teman masih tidur, sebagian lagi malah sudah harus cabut. Ngobrol-ngobrol saja di resto dengan Ollie, Chris, Ira, dll. Berhubung siang sudah harus check out, saya pun berkemas. Anggara nyamperin dengan ide bagus: sepedaan! Pake sepeda Hotel. Kebetulan Minggu ada car free day. Seperti lupa kalo sedang lelah banget, sayapun memilih sepeda dan tak lama kemudian sudah gowes-gowes bareng Anggara, Sony, Lukman, Nemicio dan Angga. Asyik benar sepedaan rame-rame. Kami menuju keraton Surakarta Hadiningrat dan nongkrong disana hingga sejumlah peserta ABFI yang usai tur ntah dari mana juga berdatangan. Saat makin ramai, kami melanjutkan sepedaan ke kampung batik Kauman tak jauh dari situ. Lihat-lihat, foto-foto dan singgah sejenak di museum batik disitu. Balik ke keraton surakarta, para peserta lain sudah memenuhi pendopo keraton untuk acara penutupan ABFI serta jamuan dari keraton Surakarta. Ada dua hal yang menjadi perhatian saya saat itu. 1] pihak Keraton yang diwakili GKR Koes Murtiyah (CMIIW) bercerita panjang lebar soal sejarah keraton Solo, lalu akhirnya curhat menginginkan dikembalikannya Daerah Istimewa Surakarta. πŸ™‚ 2] kasak-kusuk dengan sejumlah teman terdengar kabar kalo GKR Koes Murtiyah konon marah pada para blogger karena tidak berpakaian dengan sopan untuk bertamu ke keraton. Sayangnya memang tak ada informasi apapun soal dresscode. πŸ‘Ώ 3] tari-tariannya keren. Para penari cewek cantik-cantik :mrgreen: Kelar makan siang dll, saya, Anggara dkk bersepeda balik lagi ke Sahid Jaya. Check out dan nongrong di lobi bareng ransel-ransel. Capeknya luar biasa. Bingung juga sekarang mau kemana dan bagaimana. Ajeng dan Putra yang datang kemudian pakai bis memberi solusi sementara: pindah ke lobi Kusuma Sahid. Sayapun ikut taksi kesana dan nongkrong di lobi sesorean ngeliatin kontingen-kontingen yang balik pake bus atau naksi ke bandara. Pengen balik ke Salatiga juga, tapi rasanya badan dah terlalu berat tuk nenteng ransel ke terminal. Bermalam lagi di Solo? Dimana? Pas mikir-mikir gitu ada insiden pula, salah satu ransel saya gak sengaja terbawa pakde Blontank ke RBI. Ealah… πŸ˜†
Tak disangka-sangka Dimas (yang seharian terpisah) muncul, ngabarin kalo dia buka kamar di hotel itu buat semalam. Jadilah saya dan Ajeng ikut numpang disitu. Istirahat bentar. Menjelang matahari terbenam sudah jalan lagi bareng Ajeng dan Putra tuk berburu tutup lensa, minum-minum di Kopioey Solo, ngambil ransel saya di RBI, belanja suvenir di Javanir, lalu menuju restoran Atria resto di Effect cafe tuk makan malam. Sudah menunggu disana Dimas, Lana, Jericho, Viladeth, dan Preetam. Mien dan Chris menyusul kemudian. Makan dan ngobrol hingga sekitar 10pm (saya masih sempat nonton Arema dibantai Persipura), kami lalu jalan kaki pulang ke Kusuma Sahid dan dilanjutkan sesi ngobrol sambil ngebir (minus Lana dan Chris) di tepi kolam hingga jam 1am. Tidur. Benar-benar lelah..

sarapan minggu pagi

Chris, Luke, Preetam, saya, Fikri, Nonadita, Lana. Sarapan minggu pagi menjelang Fikri dan Nonadita ke Jogja. Foto karya Kounila.

Keraton Surakarta

Di Keraton Surakarta Hadiningrat. Penutupan ABFI. Foto karya Umar.

Senin (13/5), hari keenam. Dimas sudah balik ke Jakarta saat subuh. Sekitar 8am baru sarapan pagi bareng Ajeng dan Becky. Preetam, Lana dan Putra menyusul kemudian. Sekitar 12pm, saya check out dari Kusuma Sahid. Bertiga carter taksi tuk belanja di Pusat Grosir Solo, sesudah itu menurunkan Putra di stasiun KA Purwosari tuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Saya sendiri berpisah dengan Ajeng di terminal Tirtonadi tuk melanjutkan perjalanan ke Salatiga, dan sampai di rumah jam 4pm.

Seperti tertulis diatas, catatan-catatan penting dari acara ini buat saya hanyalah kopdar dan senang-senang. Mau kemana arah dan tujuan komunitas asean blogger itu sendiri, biarlah duit yang menentukan, karena kopdar pada level lokal saja susah, apalagi regional. Sayapun masih pesimis bahwa setelah naik level jadi blogger regional saya akan sering posting dalam bahasa Inggris supaya bisa dimengerti blogger-blogger luar. Haha. Satu hal yang pasti, saya puas dengan acara ini. πŸ˜‰

Terimakasih buat pakde Blontank buat undangan lisannya, juga bunda InJul dan mbak Asri dari panitia pusat buat undangan resmi dan administrasi ke acara ini.
Terimakasih buat Hendri, Doni dan Almas yang sudah menjemput saya di bandara hari Rabu sore. Juga buat makan malam, makan pagi dan makan siang keesokan harinya. Makasih buat semua blogger Solo yang jadi teman ngeteh dan ngobrol selama saya di Solo. Arit, Umar, Ael, Hassan, Gilang, Arif dan entah siapa lagi. Makasih buat Bengawan tuk akomodasi semalam di RBI selama H-1 dan H-Β½ .
Terimakasih buat Rifu yang mau mengunjungi saya dan Almas di RBI. Senang ketemu kamu lagi. Semoga bahumu cepat pulih.
Buat Semmy, thanx dah jadi roommate yang cool selama 3 malam.
Buat teman-teman kopdarjakarta di Solo, terutama yang setiap hari hangout bareng, kalian luar biasa. Dua tahun lebih saya tidak pernah kopdar rame-rame dengan teman-teman komunitas sendiri. Senang sekali bisa makan, minum, ngobrol dan keluyuran dengan kalian 3 hari. Chichi, Dimas, Ira, Putra, Nona, Simbok, Fikri, Mbak Wiwik, makasih banyak dan sampai ketemu lagi. Special thanx buat Dimas yang dah berbagi kamar supaya saya bisa istirahat semalam lagi di Solo, dan very special thanx buat Ajeng Lembayung. Sahabat dan event organizer yang hebat banget. Makasih tuk seluruh acara ngumpul-ngumpul dan transportasi yang kamu urusin, dari taksi sampai jalan kaki. So much fun. πŸ™‚
Buat teman-teman lama yang ketemu lagi di Solo; Rian, om Warm, Nopy, Anno, Tey, Enthong, Arga, Rara, dan siapa lagi yang mungkin kulewatkan, sampai ketemu lagi lain waktu. Teman-teman yang baru kali ini kutemui, bahkan baru kukenal pada event ini; Anggara, Chandra Iman, Jay, Ollie, Jarwadi, Maksum, Sam Ardi, Jun, Sibair, Aziz Hadi, Setyo Mursid, Anazkia, Niken, Harris Maul, Misno, Sofyan, Iqbal Khan, Lukman, Nemicio, Sony, Angga, Fitri, dan entah siapa lagi. Senang bertemu kalian semua. Saya selalu salut pada blogger-blogger yang datang ke suatu acara dengan senyum ramah, mengulurkan tangan duluan sambil menyebut nama dan asal, membangun pertemanan baru. Saya sulit seperti itu. :mrgreen:
Buat teman-teman dari negara tetangga (kalau kalian bisa mengerti paragraf ini), sejak pembentukan Asean blogger saya selalu pesimis dengan komunitas ini. Kurasa di Negara sendiri saja kami masih terkotak-kotak, blogwalking pun jarang ke blogger luar negeri, macam mana mau bergaul dengan blogger Negara sebelah? Tapi pengalaman menunjukkan berteman memang gak cuma berawal dari online, dari kopdar pun bisa, dan suatu kebetulan yang bagus bahwa sebagian besar dari kalian sering hangout dengan saya dan kawan-kawan saya setiap hari sehingga kita bukan hanya berkenalan, tapi bertukar banyak canda, cerita dan pikiran. Preetam, Kounila, Phally, Luke, Chan, Mienpham, Becky, Jessica, Viladeth, Marul, Tonyo, Jericho, Lana, KC, Chris dan entah siapa lagi nama teman-teman dari negara tetangga, senang berkenalan dan berteman dengan kalian semua. Spesial tuk Preetam, saya selalu mendapat hal baru setiap saat ngobrol denganmu. So much thanx. Kapan-kapan kita harus ngumpul lagi. Semoga.. πŸ˜‰

PS: yang ingin tautan ke twitternya diganti jadi tautan ke blog, silahkan sampaikan di kolom komentar. Tautan twitter saya pilih semata-mata karena lebih mudah kupasang. πŸ˜‰

Saat Cebongan Prison Raid terjadi, saya sedang di Jogja…

Suatu hari di Cileungsi…

Simbok: “[…] kamu harus pergi kesini, dan kesana, dan kesitu.. Bagus banget tempatnya… (menyebutkan beberapa tujuan wisata dengan pemandangan indah, sambil menunjukkan foto-foto yang bikin ngiri)
Saya: “nanti deh mbok. Saya gak ada teman yang mo ditemui kalo pergi ke tujuan-tujuan itu.. :mrgreen:
Simbok: πŸ˜†

Well, suatu hari nanti saya pasti akan ada di jejak para bloherβ„’ traveler itu, pergi ke tempat-tempat eksotik. Tapi tuk saat-saat ini, catatan perjalanan saya masih akan dipenuhi cerita-cerita bertemu sesama teman onlen. *lirik jurnal* :mrgreen:

Nah, saya sudah 6 hari di rumah di Jayapura usai 3 bulan keluar kota. Perjalanan yang menarik dan bikin tambah gemuk. Kembali ke Salatiga usai dari Jakarta akhir Februari itu, saya akhirnya sempat pergi sehari ke Semarang hari Rabu siang tgl. 6 Maret. Ketemu Neng Ocha disana. Kali kedua ketemu sejak PB10, dan pertama kali ngobrol panjang. πŸ˜€ Semarang ini kota yang besar. Kuharap lain kali saya bisa bermalam dan keliling-keliling di kota ini. πŸ™‚

Sabtu, 10 Maret 2013, saya disummon mbak Ainun yang lagi mudik ke Salatiga tuk menghadiri Akber Salatiga di Balai Dukuh. Dasar ndeso, walo dah datang sejak acara belum mulai saya gak berani masuk sampai pertengahan acara nunggu SMS konfirmasi dari mbak Ai (yang tentu saja lagi konsen ke pembawa materi) karena merasa gak ikut ndaftar. πŸ˜† In th e nd saya akhirnya masuk, ikut sisa acara, kenalan dengan Ika, deputi akber setempat; Yoan & Fafa, yang ngajar hari itu, dan entah siapa lagi kawan-kawan mbak Ai. Saya juga dapet buku “Perempuan yang Melukis Wajah” dengan tandatangan mbak Ai. Acara hari itu ditutup dengan makan siang bareng dan wisata keliling kota naik delman. Macam turis saja. Thanx banget mbak. πŸ˜€

akber 1

Mbak Ai dan saya beserta Ika, Fafa, Yoan, dan peserta Akber

2 hari berikutnya, 12 Maret. Setelah mengeluh sakit pada jantung beberapa hari terakhir, saya akhirnya nemani nyokap check up ke Madiun. Sekalian ketemu dokter tulang. Rencananya saya hanya mengantar saja lalu pulang ke Salatiga sementara nyokap tetap tinggal disana. Sampai di Madiun nyokap berubah pikiran, jadilah saya tinggal seminggu di Madiun. Sayang banget di kota ini gak punya temen. Saya hanya jalan-jalan sekadarnya berdasarkan panduan dari Yudhi Prasetyo via HP. Thanx bro. πŸ˜‰

Seminggu kemudian, Selasa 19 Maret siang, saya sudah dalam perjalanan balik ke Jawa Tengah. Nyokap tetap di Madiun tuk lanjut ke Kupang hari berikutnya, dijemput kakak sepupu dari sana. Kali ini memutuskan turun di Solo. Ini pertama kali menginjakkan kaki di Solo setelah 20 tahun, padahal kampung halaman sendiri. Dijemput pakde Blontank dekat hotel Sunan, langsung menuju ke Rumah Blogger Indonesia (RBI) & melapor ke Hendri yang jadi tuan rumah. RBI itu markas yang hebat. Saya bisa onlen dengan kencang sekuat saya mampu bertahan di depan PC. :mrgreen: Jalan-jalan malam plus makan malam bareng Hendri, lalu besoknya jalan-jalan pagi plus makan pagi bareng pakde Blontank. Rabu siang meluncur pulang ke Salatiga dengan oleh-oleh kaos, blontea dan undangan lisan tuk datang lagi bulan Mei. πŸ˜€

x2_11240469 crop_resize_resize

Di halaman istana Mangkunegara

Sampai Salatiga dengan muka datar. Rumah kebanjiran malam sebelumnya. Dan ransel (yang kutaruh di lantai) beserta isinya basah semua. Dua hari saya sibuk ngeringkan jurnal. Untung ditulis loose leaf, bisa dipisah-pisah dari binder-nya tuk dijemur. Catatan harian saya hitam semua karena tintanya meleleh. Syukur masih bisa terbaca tuk buat postingan ini. :mrgreen:

Jumat, 22 Maret 2013. Saya ke Jogja lagi tuk kunjungan 5 hari hingga Rabu (27/4). Kali ini Celo yang berbaik hati memberikan tumpangan dan pinjaman motor karena GunRud sedang keluar kota. Kali ini dateng mo ngambil HDD External rusak yang kutitipkan tuk diperbaiki saat terakhir datang. Ternyata tetap tak bisa berfungsi kembali. Ya sudahlah. Lanjut ke tujuan berikut yaitu belanja suvenir buat ortu di Malioboro, dari topi, kipas, tas sampai daster. :mrgreen:
Kali ini, selain ketemu lagi dengan teman-teman baik yang dah nemui saya kemaren seperti Celo, Kitin, Mansup, Matilda, Anno dan Putro, ada teman-teman lain di Jogja juga yang baru sempat ketemu: Funkshit, Enthong, Hamid (3 orang ini baru kulihat lagi sejak PB Jogja 10 :mrgreen: ) plus Arga, Novi dan Karlina. Senang ketemu kalian semua. πŸ™‚
Tapi kopdar paling istimewa di Jogja adalah bertemu teman-teman dari Jawa Timur; Blogger Malang, Mbakneng (22-23/4) dan blogger Banyuwangi, Nurma (25/4). Walo tak banyak ngobrol karena keduanya ke Jogja dengan suami masing-masing tuk urusan keluarga, sudah sah banget disebut kopdar, dan mengurangi tanggungan saya tuk berkunjung ke kota mereka. :mrgreen:

2 April 2013, berangkat dari Semarang dan transit di Surabaya, saya tiba di Kupang. Sudah 10 tahun tidak pulang kesini, ke kota yang dipenuhi keluarga besar dari pihak nyokap. Kaget juga keponakan saya sudah bertambah banyak sekali! Sebenarnya saya tak kenal bloherβ„’/onliner siapapun disini, tapi atas inisiatif Almas dan keajaiban twitter, saya akhirnya kopdar dengan Inda Wohangara (yang ternyata teman sepupu saya) dan Dicky Senda, para bloher dari komunitas Flobamorata. Kawan-kawan saat itu sedang sibuk dengan acara-acara menggalang dana tuk pengungsi letusan gunung Rokatenda. Salut tuk usaha mereka. πŸ™‚

Sebenarnya nyokap hanya berencana seminggu di Kupang, ngambil barang tuk kemudian kuantar pulang ke Jayapura. Apa daya, kakak tertua nyokap yang masih hidup ingin kami tuk tetap di Kupang hingga acara pesta nikah emas kakak kedua nyokap tgl. 20 April. Bude ini dan suami dia dulu yang menyekolahkan dan menikahkan nyokap, sementara tiga anak-anak mereka yang tertua mengasuh saya ketika kecil di Malang. Apalagi acara ini akan jadi reuni keluarga besar. Lebih dari selusin keluarga bahkan datang dari Jawa. Merasa nyaman di Kupang, sayapun santai saja. 3 minggu menanti kurasa terbayar lunas banget usai pesta nikah emas itu. Senang banget ketemu banyak saudara dan keluarga. Tiap orang punya penjelasan panjang kek “ini anaknya si anu. Neneknya dia itu anak dari sepupunya kakek yang blablabla..” *bengong* πŸ˜† Sebagai perantauan di Papua yang jarang pulang, sesekali berada di tengah akar sendiri membawa perasaan melankolis. Sayang bokapku gak bisa ikutan. Syukurnya kaki nyokap dah cukup baik tuk bisa mengikuti keseluruhan acara tanpa gips dan tongkat. πŸ™‚

_JPG6860_resize kecil crop

Keluarga besar Papi Pim de Kock & Mami Jemi Kedoh. Saya ketiga dari kiri.
#NikahEmas

Selasa 23 April, saya dan nyokap ke Jakarta, transit 2 hari tuk jenguk tante di Cinere yang sudah lumayan pulih dari serangan stroke bulan lalu. Ada kesempatan tuk bisa jalan-jalan ditengah waktu yang mepet. Ketemu lagi dengan Sunako Nakahara, Eka Situmorang dan Hoek Soegirang; lalu bertemu Yudi Prasetyo, Daniel, Priska dan Icit yang keempatnya terakhir kujumpai di Jakarta 2 tahun silam. Bahkan ada Almascatie pula yang baru kopdar sejak 2010. Sedekat dekatnya Ambon dan Jayapura, kami ketemu selalu di Jakarta. :mrgreen:
Via Almas dan Ajeng, saya kenalan juga dengan Frenavit, Suryo Brahmantyo, Utieed -yang sebenarnya sering nongkrong disebelah saya saat saya di Jogja karena beliau teman baik Celo- dan sepupu dia Meita. Senang ketemu kalian semua. πŸ™‚

dengan priska

Dnial, yud1, Hoek, Almas, Priska & saya.

Sabtu pagi 27 April saya dan nyokap balik ke Jayapura. Saya 3 bulan away, dan nyokap tiga kali lipatnya. Senang tidur lagi di kasur sendiri, ketemu teman-teman, ketemu SNSD di PC sendiri, dan segala suka duka di kota kecil ini. Tapi tak bisa santai-santai. 5 hari lagi, 8 Mei, kalo Tuhan mengijinkan, saya akan ke Solo, memenuhi undangan dari pakde Blontank kemarin & panitia ABFI. Semoga ada lebih banyak cerita lagi yang bisa dibagi.

Kamu, kapan terakhir ketemu teman di kota lain? πŸ˜‰

Jakarta, revisited

Sabtu, 23 Februari 2013, akhirnya saya dan nyokap ke Jakarta, menjenguk kawan beliau (sudah seperti keluarga bagi kami) yang kumat sakit ginjalnya di RS Cikini. Ngebut ke Solo pagi-pagi karena harus check-in lebih awal berhubung nyokap perlu pakai kursi roda. Nyampai di Bandara Adi Sumarmo jam 9.30AM. Telat 15 menit dari seharusnya. Buru-buru ke counter Sriwijaya Air malah penerbangan kami delay hingga 12.25PM. Kata tukang pel deket toilet: “Sriwijaya delay? Sudah biasa mas…” πŸ‘Ώ Delay berlanjut hingga 1PM hingga baru take-off 30 menit kemudian. Keluar dari Soekarno Hatta sekitar 3PM, dan baru sampai di Cinere 7PM (sempat singgah beberapa menit di RS Cikini). Batal sudah rencana malam mingguan di Jakarta. Tidak akan pernah jelas kapan akan ke Jakarta lagi kan? Jadi walopun misi utama nganter nyokap, harus tetap nyuri kesempatan tuk kopdar. Jangan sampai jadi Mike Collins. πŸ™‚

Minggu, 24 Februari 2013.
Susah skip gereja kalo di Cinere (Saya benci dipaksa beribadah, tapi sudahlah…), jadi saya ke gerejaku yang lama, IES South deket Pondok Indah. Saya sudah gak dikenali pastor lagi. Dikira pengunjung perdana. πŸ˜† Bubar gereja jam 10an, bingung mau kemana. Akhirnya ke Blok M, cari tempat yang agak ditengah, biar gampang kemana-mana siapa tau ada teman yang lagi di jalan. Lima blogger seleb yang dihubungi ternyata tiada yang bisa keluar, sementara Alex Hidayat yang katanya ke Kampung Rambutan, konon error telpon selularnya. Akhirnya janjian dengan Hoek Soegirang di Kopitiam Oey Jln. Sabang. Nyampe sana pas tengah hari, ketemu Hoek dan langsung ditraktir macam-macam (soto Tangkar disitu asli enak) sambil ngobrol segala macam. Seneng banget. Blogger legendaris ini. Dari jaman jahiliyah dulu baru ketemu sekarang. Sudah bukan admin warnet yang kusut lagi, sekarang pejabat di Kopitiam. πŸ˜€ Siang itu Alex Hidayat sedang ada di Kalibata, tapi rupanya tak bisa nyusul karena bareng keluarga. Moerjanto nyusul jam 5PM, dan masih ikut ngobrol sampai usai sholat magrib. Menjelang 7PM, kami bertiga cabut bareng dari Kopitiam Oey ke halte Busway terdekat. Moer pulang, sementara saya dan Hoek lanjut ke ITC Fatmawati. Ada kopdar berikutnya deket situ. Sekitar 8.30PM Joe Satrianto dateng mengojek Oelpha. Karena nasi kucing yang jadi tujuan semula tutup, kami nongkrong di Sevel Fatmawati hingga 10.30PM. Kopdar berempat yang menyenangkan, dan saya masih bisa loncat ke Metromini tuk pulang ke Cinere, walopun nyampe rumah jam 11.30PM. πŸ™‚

Senin, 25 Februari 2013.
Sehari yang hilang percuma karena harus nganterin nyokap ke Cikini. πŸ‘Ώ

Selasa, 26 Februari 2013.
Jam 10.20AM saya sudah cabut dari rumah. Naik angkot 110 dari Cinere ke terminal Depok, lanjut angkot 112 ke Kampung Rambutan, lanjut lagi angkot 121 ke Cileungsi, lanjut lagi angkot 92 ke arah Bantar Gebang, turun di komplex Cileungsi Hijau. Sudah jam 1PM saat saya mencapai rumah yang dituju, rumahnya Simbok Venus. Simbok sedang kurang sehat sehingga tak bisa kemana-mana, dan saya juga tiada undangan lain siang itu. jadi tak ada salahnya berpetualang sedikit. Buset jauh nian! Di peta lusuh Jabodetabek yang kubawa pun tak ada itu Cileungsi. πŸ˜† Kopdar dengan Simbok sampai 3PM, balik ke terminal Kampung Rambutan trus ngambil TransJakarta ke Blok M. Kelamaan gak naik busway bikin saya sedikit nyasar di Kampung Melayu. Ditengah jalan, SMSan dengan Ajeng Lembayung, ternyata gadis cantik ini juga mau transit di Blok M. Jadilah saya dan Ajeng kopdar di basement Blok M dari jam 6.45-8PM. Cewek ini tujuh kali lebih menyenangkan dari versi twitternya. :mrgreen: Kelar dari situ saya langsung pulang. Ada bencana susulan hari ini. Tante di Cinere mendadak stroke dan harus segera operasi malam itu juga karena pendarahan di kepala. Semua sudah panik, bahkan bokap dari Jayapura pun nelpon maksa saya segera pulang. FYI operasi sukses, tapi kondisi tante payah.. 😦

Rabu, 27 Februari 2013.
Lagi-lagi siang terbuang percuma karena tidak ada kejelasan nyokap bakal dijemput jam berapa ke RS Cikini. Jam 4PM barulah kakak sepupu njemput saya & nyokap pakai taxi. 6PM nyampe Cikini, saya buru-buru cabut. Sempat bingung transportasi sejenak dan tak tahu cara mencapai Bundaran HI (Tuk naik busway ke Blok M dari situ), akhirnya naik Metromini 17 ke Manggarai. Gak sampai 30 menit, jadi memutuskan tuk naik Kopaja 66 ke Blok M. Blunder besar. Butuh 2 jam menembus macetnya Kuningan hingga nyampe Blok M. Baru juga turun bis, 9.30PM saya sudah ditelpon nyokap yang bilang urusannya sudah kelar dan saya mesti balik. Damn. Saya jalan secepat-cepatnya ke Es Teler 77, tempat Pecha Kucha Jakarta malam ini berlangsung. Hanya basa-basi dengan Nia, Sharon, Dian, Mas Hedi, juga ngobrol bentar dengan Nonadita dan pakde Mbilung. 9PM saya pamit dan kabur pake busway ke Bundaran HI lalu cegat taxi ke RS Cikini tuk membawa nyokap pulang ke Cinere. Serba mepet. 😐

Kamis, 28 Februari 2013.
Sudah keluar rumah jam 9AM nebeng sodara-sodara yang menjenguk tante di ICU RS Cinere. Tak bisa lama-lama karena bakal mengganggu. 9.30AM saya dah cabut, menembus kepadatan Fatmawati ke Blok M. 11AM nyampe, dari situ lanjut pake bus TransJakarta ke Cawang. Nyampe 12.05PM, dah janjian diajak makan siang Eka Situmorang di warung Sate & Sop Kambing bang Mansur di Kampung Melayu. Enak banget. Saya masih nongkrong + ngeteh di kantornya Eka sebelum dianter ke Tebet. Sore-sore sudah di Kuningan, dan menjelang matahari terbenam sudah nongkrong di Bundaran HI, depan Plaza Indonesia. Ada kopdar perdana dengan dua cewek malam ini. Jam 6PM Rise kutemui di west mall Grand Indonesia, lanjut nongkrong di Food Lover mall yang sama. Sekitar 7.30PM, Linda (Ling Ling) bergabung. Senang bertukar cerita dengan mereka. Sayang saya cuma bisa sampai jam 8 karena harus segera pulang tuk packing buat balik ke Salatiga via Semarang besoknya. Padahal sebenarnya jam 8 itu sudah harus sampai rumah sih.

Jumat di bulan yang baru, saya sudah balik di Salatiga lagi. Luar biasa lelahnya di Jakarta karena capek di jalan dan dikejar-kejar keperluan nyokap. Hanya sedikit teman yang sempat kutemui. Makasih buat Moerz, Joesatch, Simbok Venus dan Eka Situmorang. Senang ketemu kalian lagi setelah 2 tahunan. Makasih buat Nonadita yang dah ngajak ke Pecha Kucha dan bisa menyapa teman-teman lain disana. Maaf banget saya cuma sekelebat. Lain kali kita ngobrol panjang yaa~. Buat teman-teman yang kopdar perdana;Β Hoek, Ulfa, Ajeng, Rise dan Linda (kuhitung kopdar perdana karena dulu kita gak ngobrol apapun waktu pertama kali ketemu di Jogja :mrgreen: ), senang sekali akhirnya bisa jumpa kalian. Maaf sebesar-besarnya buat begitu banyak teman yang gak sempat ketemu, semoga lain waktu ada kesempatan.

Belum tahu habis ini mau kemana sih.. *melirik ke utara* πŸ™„

Return to Jogja

Seperti yang sudah direncanakan, pada hari Valentine kemarin akhirnya saya menuju ke Jogja, nenteng tas punggung dengan isi seadanya dan lupa jaket. Kunjungan rekreasi dan lepas kangen setelah pertama kali ke Jogja Oktober 2010 (<-kenapa saya tak punya postingan trip itu ya? Padahal ada kisah Pesta Blogger Jogja 2010 disitu. Dasar pemalas.. πŸ‘Ώ ).

Hari pertama. Kamis 14/02/13.
Pengalaman pertama ke Jogja dari Salatiga. Keluar rumah 9.15AM. Naik angkot ke tempat bis-bis dari Semarang lewat, trus lompat aja ke bis yang ada tulisan Solo-Surabaya. Sesuai pesan dari Peter Lamanepa, saya turun di Ngasem didepan pabrik(?) Gudang Garam. Tak lama kemudian dijemput Peter ke rumah dia deket situ. Berkenalan dengan istri Peter yang sedang hamil tua, kami lalu ngobrol sejam diselingi makan siang. 11.30AM, Peter ngojekin saya ke pertigaan Kartasura. Tak lama kemudian saya sudah ada di bis menuju Jogja. Turun di Indomaret Janti dan menunggu sesaat sebelum dijemput Gunawan Rudy. Taruh barang di kosan Gunrud, lalu ke kampus dia di Antropologi UGM, numpang onlen sambil SMSin temen-temen di Jogja. Berhubung Matilda duluan nyebut lokasi yang tak jauh, jam 5PM meluncurlah saya dan Gunrud ke Dunkin Donut Jakal ditengah gerimis usai hujan. 20 menit kemudian Matilda datang dari kantornya ke Dunkin, disusul oleh Amed, lalu Om Warm. Tapi Om Warm hanya 30 menitan bersama kami karena ada urusan lain. Sesudah beliau pulang, Mansup dateng, dan terakhir Pepeng. Jam 7PM, saya mengontak Yeni Setiawan yang ternyata mau menjenguk Ekowanz di RS Happy Land. Jadilah saya, Gunrud, Mansup, Pepeng dan Amed ngeluyur ke RS juga, lagi-lagi nembus gerimis. Sementara Matilda balik ke kantor karena masih ada kerjaan. πŸ˜€ Tiba di RS Happy Land, kami disambut Ekowanz yang sedang senang dengan kelahiran anak pertama dia. Sayang Sandal & Lina malah gak bisa dateng karena tiada taxi pas hujan. Kami ngobrol di lobi lantai dua sejam lebih hingga 9.30PM, menyapa Nungki Putri dan sang bayi di kamar RS, lalu cabut. Makan malam di Bakmi pak Surandal di Pasar Demangan, nyoba nasi Magelangan. Saat itu Mansup dah kabur ntah kemana. πŸ˜† Singgah Indomaret, balik ke kos, mandi sore malam, lalu tidur. Valentine yang menyenangkan. Sekali lagi selamat buat Ekowanz dan Nungki. πŸ™‚

Hari kedua. Jumat 15/02/13.
Bangun telat, menyesuaikan dengan tuan rumah. :mrgreen: Kelar makan pagi jam 10AM di warung Sami Asih, trus diantar Gunrud ke warnet Merapionline di dekat Amplaz. 90an menit disitu, jam 12PM dah dijemput Gunrud lagi, janjian sama Kitin di Kalimilk Jakal. Pas Kitin dan Matilda dateng, Kalimilk malah penuh. Jadilah kami pindah ke Dunkin Donut lagi. Temen-temen lain gak bisa disummon karena pada jumatan. Ngobrol kurang dari sejam disitu, Kitin dan Matilda sudah harus kembali ke kantor mereka. Saya dan Gunrud lanjut ke RS Happy Land karena Lina ngajak ketemu disana. Kami sampai duluan, disambut Ekowanz, lalu sekitar 01.30PM Lina plus Lumen dateng bareng Memeth. Sejam ngobrol-ngobrol di RS, kami berlima meninggalkan Nungki tuk makan siang di Zamzamkuliner di Timoho. Usai makan jam 3.30PM, Lina, Memeth dan Ekowanz balik ke RS, sementara Gunrud kembali menurunkan saya di warnet Merapionline, dia sendiri balik ke kampus lalu pulang, tidur. Saya ngenet sendirian hingga jam 07PM, ke Alfamart beli minum, lalu nyebrang ke Ambarrukmo Plaza muter-muter nunggu teman-teman. 07.40PM, Matilda nyampe duluan. 20 menit kemudian Sandal, Lina dan Lumen nyampe, lalu 10 menit kemudian Mansup dan Hera. Hampir 8.30, kami langsung ke Foodcourt tuk makan malam hingga bubar 40 menit kemudian. Saya & Matilda masih jalan-jalan 20 menitan menikmati bubaran plaza sebelum berboncengan menuju kosan Gunrud. Say thanx & goodbye, naik ke kamar, mandi sore malam dan tidur. Hari yang menyenangkan. πŸ™‚

Hari ketiga. Sabtu 16/02/13
Usai bangun dan mandi pagi, ngecek Harddisk external di PC Gunrud, ternyata gak bisa diakses. Pindah ke netbook sama saja. Siyal. Makan pagi di warung Sami Asih lagi. Menunya naik. Kemaren cuma nasi telor, hari ini nastelnet. Dari situ diojekin Gunrud ke warnet ntah apa deket swalayan Gading Mas Jakal. Sejam lebih disitu hingga 12.30PM, diluar ternyata dah hujan deras. Lari & berteduh sejam di emperan BII sebelum bisa dijemput Amed yang kos dia cuma sepelemparan batu dari situ. Utak-atik disana pun HDD tetep gak diakses. Sementara itu hujan mulai mereda dan Matilda sedang menuju ke Togamas Gejayan. 2.35PM, kami berdua boncengan nyusul ke toko buku tapi ditengah jalan hujan lebat turun lagi. Separuh kuyup, kami berteduh di kosan Mansup yang sedang berduaan dengan Hera entah dimana. :mrgreen: Akhirnya ketika hujan reda dikit jam 3, kami ngebut ke Togamas Gejayan menemui Matilda di sana. Baju basah dan agak kedinginan, tapi menyenangkan ngabisin waktu di situ sampai kaos kering di badan. Amed pulang duluan jam 05PM, sementara saya dan Matilda menunggu Mansup yang tak datang-datang (miskomunikasi) hingga jam 06PM. Mutar-mutar cari makan siang sore dengan motornya Matilda, akhirnya makan Soto Betawi(?) di dekat Fakultas Kehutanan UGM. Sotonya payah, tapi setidaknya berkuah anget. Seperti janji dengan mbak Fla (yang sayangnya malah tak bisa hadir), jam 7 teng saya dan Matilda tiba di Le Waroenk tuk malam mingguan. Celo nyusul pertama, lalu Amed, trus mas Haqiqie Suluh & keluarga, lalu Mansup. Mansup cabut duluan, disusul mas Suluh beserta keluarganya. Makin malam, Anno dan Putro bergabung, disusul Sandal dan akhirnya Shan-in Lee. Ngobrol hingga tengah malam menyisakan saya, Celo, Lee dan Amed. Amed pulang setelah ngantar Celo ngambil motor supaya tiga orang sisanya bisa nyari makan. Makan malam jam 1.20AM di nasi teri Demangan, balik ke kost lagi dah 2.25PM. Dah males mandi. Langsung tidur.

Minggu pagi kami hanya makan pagi saja dan Gunrud langsung ngojekin saya ke terminal Jombor. Nyasar-nyasar lewat jalan kampung karena ada pengerjaan jalan layang deket terminal. Kali ini naik bis via Magelang, lewat gunung seperti saran Gunrud, Amed dan Mas Suluh. Minggu sore jam 4.30PM, sudah di Salatiga lagi.

Ngumpul dengan teman-teman itu memang hebat rasanya. Seneng banget bisa ketemu lagi ama Peter, Gunrud, Pepeng, Amed, Mansup, Om Warm, Ekowanz, Celo, Sandal, Lina, Memeth, Kitin, Anno dan terutama Matilda. Cewek ini waktu ketemu 2010 gak pernah sempat kuajak ngobrol karena terlalu banyak teman yang mesti dikopdari, kali ini bisa tiga hari dia disamping saya terus. I feel much better now.. :mrgreen: Senang juga tentu bisa ketemu Mas Suluh, Hera dan Putro yang baru pertama kali ini ketemu. Terimakasih semuanya. Terimakasih khusus buat Gunawan Rudy yang dah memberikan tumpangan gratis. Terimakasih juga buat Matilda & Mansup yang mau repot dititipin HDD error. Yang lagi nunggu sidang dan yang lagi skripsi, semoga sukses ya!!
Tak ada foto atau dokumentasi apapun dari kopdar-kopdar kali ini, tapi yawdalah. Dikenang saja.. :mrgreen:
Akhir minggu ini saya akan ke Jakarta, nemani nyokap yang harus menjenguk orang sakit. Belum tahu jadwal disana, tapi semoga ada teman-teman yang bisa dikopdari.

Sampai ketemu. πŸ˜‰


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
November 2017
M S S R K J S
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter