Archive for the 'Sejarah' Category

Membaca buku

Apalagi berniat lebih banyak membaca buku non fiksi juga setelah tahun 2017 kemarin ternyata cuma baca dua buku.

Begitulah “resolusi” di awal 2018 silam. Saya sungguh ingin lebih banyak membaca buku lagi, Sudah lama bacaan saya hanya artikel media, postingan blog, laman wikipedia, dan sejenisnya. Selain karya-karya fiksi tentunya yang didominasi manga dan komik.

Berita buruknya, setelah ditelusuri lewat Path dan Twitter, ternyata pada tahun 2017 saya hanya baca satu buku, satunya lagi dibaca akhir 2016. Dua buku dalam dua tahun jelas statistik yang buruk. 😐

Ini dibaca Desember..

Ini April..

Berita baiknya, saya bisa menyelesaikan 16 buku di 2018. Senang ada harapan yang tercapai. Saya jadinya membuat akun di Goodreads untuk merayakan itu, terinspirasi juga oleh teman-teman yang punya akun di situ. :mrgreen:

Skrinsyutnya dari Goodreads

Januari 2019, satu buku tebal sudah diselesaikan, dan sekarang masuk buku kedua.

Ini bagus..

Semoga terus konsisten menyelesaikan buku-buku yang sudah dikoleksi, sambil membagi waktu luang dengan menonton film seperti biasa.

*kembali membaca*

Nazi Jerman itu kejam, tapi keren!

Minggu, 13 Maret 2011. Jakarta. Sepulang gereja di menara Century, saya ke Balai Kartini, mengunjungi Jakarta 7th Toys & Comics Fair 2011. Pertama kalinya mendatangi acara semacam ini, rasanya menakjubkan. Saya melihat jejeran mainan dan action-figure dari apapun yang saya tahu dan tidak tahu. Segala macam karakter anime dan film bahkan Metallica dan Motley Crue ada. Tidak ketinggalan juga puluhan costume player berseliweran dan meramaikan acara, dari yang amatiran sampai yang persis aslinya. Ada Superman, prajurit HALO (apa namanya?), Batman, Predator, Assassin Creed, Iron Man, dan bintang tamunya sendiri, Linda Le yang jadi Wonder Woman. Saya juga bertemu Felicia dan temen-teman dia yang ntah pada cosplay jadi siapa. Rame pokoknya. Acara-acara seperti ini yang selalu membuatmu membenci kotamu sendiri dan merindukan ibukota.. :mrgreen:

Di salah satu sudut ruangan, ada segerombolan cowok menunggui booth mereka. Cosplay orang-orang ini berbeda. Bukan karakter fiksi dari anime, game atau film, tapi seragam militer Waffen-SS (Pasukan tempur Partai Nazi) dan Wehrmacht (AB Jerman era Nazi) lengkap dengan dekorasi, perlengkapan dan persenjataan. Saya mendekat, melihat deretan tanda kecakapan dan tanda jasa yang dipamerkan di meja, memperhatikan tiap detil pakaian dan senjata, lalu pergi sambil sesekali menengok. Pengen mengajak ngobrol tapi tak ada ide. Sebenarnya saya pengen mengambil foto atau malah foto bersama, tapi otak zionis saya saat itu tak memberi inspirasi. Lama kemudian baru saya tahu kalo mereka itu bukan (sekedar) cosplay. Orang-orang dengan dandanan militer klasik itu disebut reenactor, sementara kegiatan reka ulang atau napak tilas peristiwa sejarah (biasanya pertempuran) yang mereka perankan disebut reenactment. Para reenactor di acara itu sendiri tergabung dalam komunitas Indonesian Reenactor alias IDR.

Keep on reading!

Papua, sepotong sejarah (repost)

(Masa Pemerintahan Nederlands-Indië)

Upaya Belanda yang pertama untuk menguasai secara nyata wilayah Nieuw Guinea terjadi pada 24 Agustus 1828 dengan meresmikan berdirinya suatu benteng bernama Fort Du Bus di Teluk Etna pada kaki Gunung Lamentjiri. Saat itu hari ulang tahun raja Belanda Willem I, diadakan upacara yang dihadiri dan disaksikan oleh sejumlah perwira, tentara, pegawai dan penduduk setempat, komisaris pemerintah Hindia Belanda A.J van Delden membacakan suatu proklamasi yang menyatakan bahwa “Atas nama dan untuk Sri Baginda Raja Nederland, Pangeran Oranye van Nassau, Hertog Agung Luxemburg, dan lain-lain, bagian daerah Nieuw Guinea serta daerah-daerah pedalaman yang mulai dari garis meridian 140 derajat sebelah timur Greenwich di pantai selatan terus ke arah barat, barat daya dan utara sampai kesemenanjung Goede Hoop di pantai utara, kecuali daerah-daerah Mansarai, Karondefer, Ambarpura dan Ambarpon yang dimiliki oleh Sultan Tidore dinyatakan sebagai milik Belanda”. Setelah selesai pembacaan Proklamasi, Bendera Belanda dikibarkan di tempat itu disertai dentuman meriam sebanyak 21 kali yang ditembakkan dari benteng Fort du Bus.

Segera setelah selesai upacara, wakil pemerintah Belanda itu mengadakan perjanjian tertulis dengan penduduk pribumi yang ditandatangani oleh Sendawan yang adalah Raja Namatotte, Kassa yang adalah Raja Lakahia, dan Lulu seorang kaya atau penghulu atas Lobo dan Mawara. Tiga orang itu diangkat dan dilantik sebagai kepala daerah dengan surat pengangkatan resmi dan masing-masing diberi tongkat kekuasaan yang berhulu perak. Selain tiga orang itu, diangkat pula 28 orang kepala daerah bawahan. Proklamasi ini merupakan tanda bahwa sejak itu kerajaan Belanda memiliki kedaulatan atas wilayah yang bersangkutan sehingga negara-negara Eropa lainnya tidak boleh lagi menempati dan memiliki wilayah yang disebutkan itu. Keputusan peresmian benteng itu diundangkan dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1885 nomor 2.

Keep on reading!


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Juni 2021
M S S R K J S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter