Archive for the 'Sepakbola' Category

Saya dan Partai Final 2

8 tahun berlalu sejak menulis postingan menjelang partai final, banyak turnamen besar juga yang sudah berlangsung antara saat itu, menjelang final Piala Dunia Afrika Selatan 2010, dan final Piala Dunia Rusia 2018 sebentar lagi.

Final PD 2010 ternyata dimenangkan Spanyol. Sedikit sedih tuk Belanda, tapi memang sedang eranya Spanyol. Selamat tuk juara baru. 😐

Setahun berikutnya, Copa America 2011, berharap Messi akan angkat trofi internasional, apa daya Argentina dikandaskan Uruguay di perempat final. Di final saya dukung Uruguay menghadapi Paraguay, dan dukungan terkabul. Senang. πŸ™‚

Kembali ke Eropa di Euro 2012, kembali mendukung Italia yang dengan gemilang menghancurkan Jerman di semifinal. Eternyata harapan palsu saja. Di final dibantai Spanyol 4-0. Kecewa. Saya ingat banget karena nontonnya di rumah teman, harus subuh-subuh nan dingin pergi ke rumah dia nonton. Pulangnya lesu lihat fans Spanyol pawai. πŸ˜₯

2014, Piala Dunia Brazil, pengennya lihat Argentina mengalahkan Brazil di final, ternyata Brazil dihancurkan Jerman. Di final, Leo Messi dkk hanya mengangkat medali perak karena Jerman yang juara. Gagal deh jadi selevel Maradona. Kecewa. πŸ˜₯

Setahun berikutnya, Copa America 2015, saatnya Argentina angkat piala. Masuk final melawan Chili. Adu penalti dan kalah. Kecewa. Messi bahkan cuma cetak satu gol sepanjang turnamen. πŸ˜₯

2016 ternyata ada Copa America lagi, edisi Centenario. Kesempatan balas dendam terbuka karena Argentina bertemu Chili lagi di final. Adu penalti lagi. Penalti Messi gak masuk dan Argentina kalah. Argh! πŸ˜₯

Di tahun yang sama ada Euro 2016. Portugal vs Prancis di final. Saya dukung Prancis karena berharap Antoine Griezmann mampu mengalahkan Cristiano Ronaldo setelah beberapa minggu sebelumnya klubnya Ronaldo mengalahkan klubnya Griezmann di final Liga Champions Eropa. Timnya Ronaldo lebih sakti. Kecewa lagi. πŸ˜₯

Piala Dunia 2018. Mau dukung Italia timnya bahkan gak lolos Piala Dunia. Pindah ke Argentina yang timnya meragukan, ternyata dikalahkan Prancis yang masuk final. Pindah dukung Inggris, ternyata cuma sampai semifinal. Prancis lawan Kroasia di final, gak jelas mau dukung siapa karena sebenarnya berharap Inggris lawan Belgia di final. Mau juara baru, dukung Kroasia yang diperkuat dua pemain Inter Milan. Mau tim mapan yang juara, dukung Prancis yang diperkuat dua pemain Chelsea. Atletico Madrid punya pemain inti di kedua timnas. Hah bingung. πŸ˜† Prediksi sih menang Prancis, tapi di fantasi Kroasia yang juara. Mungkin dukung Kroasia saja ya? πŸ™„

Menyalin template dari posting sebelumnya: Teman-teman dukung siapa? Ada alasan tertentu?
Anyway, mari kita berharap final berjalan seru dan menarik, kalo perlu dengan banyak gol. πŸ˜‰

Iklan

Persipura 1-2 Arbil; Eksperimen 4 bek

Selama bertahun-tahun sepakbola Indonesia lekat dengan formasi 3 bek, atau lebih tepatnya 3-5-2 yang diajarkan dari generasi ke generasi. Formasi yang bahkan ada di kurikulum pelajaran Penjas atau Orkes tentang sepakbola jaman saya sekolah dulu. Ketika sepakbola Indonesia mulai bergerak maju dengan mengadopsi pola 4 bek dan segala turunannya, sepakbola Papua, dengan Persipura sebagai lokomotifnya, masih belum bergerak dari formasi 3 bek. Keunggulan fisik dan tehnik membuat 3 gelar juara liga Indonesia dalam 7 musim terakhir singgah di bumi Papua, walaupun Persipura bermain dengan formasi yang ketinggalan jaman menghadapi saingan-saingannya. Salah satu kelemahan utama formasi 3-5-2 adalah rentan terhadap serangan dari sayap, yang diakibatkan oleh 1] adanya ruang kosong di sudut-sudut lapangan sendiri yang sulit di-cover, dan 2] situasi 2 v 1 yang dihadapi oleh wing-back menghadapi tim yang menggunakan dua pemain melebar di tiap sisinya (4-4-2; 4-3-3 dan 4-2-3-1).

Arsiran (1) menunjukan area yang tidak bisa dilindungi oleh 3 bek. Ilustrasi tim menggunakan Inter Milan

Kehancuran Persipura melawan Chonburi di babak grup di Bangkok membuktikan kelemahan formasi turun-temurun Persipura ini, ketika umpan-umpan silang dari sayap lawan mengalir deras. Menghadapi Arbil, tim asal Iraq yang diisi oleh pemain-pemain yang unggul postur, pelatih Jackson Tiago pun mengkuatirkan hal yang sama. Mengantisipasi terjadinya lagi kemungkinan itu, Coach Jackson membuat keputusan drastis ketika Persipura turun menghadapi Arbil Rabu sore itu: memainkan formasi 4 bek sejajar. Ya, sepanjang mata saya tidak salah melihat layar RCTI, saya meyakini Persipura bermain dengan pola 4-3-1-2. Suatu sejarah baru bagi Persipura.

Ini skema starting line-up Persipura

Boaz–Tibo

Zah Rahan

Ian–Manu P.–Stevi

Ortizan–Bio–Victor–Ricardo

Y. J. Hoon (GK)

Kedua bek asing Persipura menjadi tembok kembar di depan gawang. Ortizan kembali ke posisi lamanya saat bermain di PSM, Persija dan timnas; begitu juga Ricardo yang sempat bermain sebagai RSB di timnas dan RWB di Persipura 2-3 musim lalu. Immanuel Padwa yang baru bergabung dari Persiwa menjadi tukang angkut air, didampingi Ian Louis Kabes dan Stevi Bonsapia. Sementara segitiga di depan tidak berubah: Zah Rahan menyokong kedua deep-lying forward Persipura Boaz dan Titus Bonay. Hasilnya? Kalah 1-2, dengan kedua gol lawan ternyata tidak satupun yang dihasilkan dari umpan silang. Ini tentu sebuah kerugian besar bagi sebuah partai kandang. 😦

Babak Pertama:
Pola 4-3-1-2 dikenal sebagai pola yang menyempitkan lapangan karena gelandang menumpuk di tengah. Tapi dalam permainan Persipura, bola justru lebih banyak dimainkan di tepi lapangan. Ketimbang memulai serangan lewat Immanuel Padwa, Persipura (apabila tidak memainkan long ball dari kiper) memilih memulai serangan lewat salah satu dari kedua side-backs. Ricardo atau Ortizan akan menggiring bola menyusur garis lapangan, bekerjasama dengan Ian atau Stevi yang bergerak melebar, atau langsung mencoba umpan terobosan ke kedua penyerang. Sementara itu Manu Padwa menutup ruang yang ditinggalkan Ortizan atau Ricardo, sesuai sisi dimana bola berada. Masalah muncul dari kedua (seharusnya) CMF Persipura: Ian Kabes & Stevi Bonsapia. Keduanya terlihat gugup untuk mengolah bola di lapangan tengah dan buru-buru mengumpan ke depan, akibatnya penguasaan lini tengah gagal dicapai. Masalah berikutnya, bola yang sering dimainkan lewat pinggir lapangan membuat Boaz dan Tibo bergerak terlalu melebar tuk menjemput umpan, biasanya Boaz ke kiri dan Tibo ke kanan. Jadinya keduanya harus menyerang diagonal ke gawang lawan. Walaupun tetap menghasilkan beberapa tembakan, tapi separuhnya melenceng, sementara sisanya kandas di kaki bek lawan atau kiper. Sementara itu, serangan-serangan lewat sisi lapangan membuat Zah Rahan praktis terisolir di tengah, pun gagal muncul dari lini kedua, sehingga hampir tidak terlibat dalam permainan di babak pertama. Kurang solidnya gelandang-gelandang Persipura membuat Arbil lebih menguasai lapangan tengah, dan dalam satu serangan balik yang rapi mencetak gol lewat sisi kanan Persipura yang ditinggalkan Ricardo. Manu Padwa terlihat berusaha menutupi celah itu namun kalah lari.

Babak Kedua:
Di babak kedua permainan Persipura jadi jauh membaik, ditambah masuknya pemain-pemain baru tuk memperjelas skema Persipura. Yang paling krusial adalah masuknya Lukas Mandowen sebagai penyerang tambahan. Hal ini membuat formasi Persipura berubah menjadi 4-2-3-1 yang jauh terlihat lebih solid karena keberadaan Boaz sebagai ujung tombak, sehingga ada yang menjadi target man bagi Tibo dan Lukman yang melebar ke sayap. Kerjasama antar pemain dan antar lini jadi lebih lancar sehingga permainan membaik.
Ini formasi di babak kedua setelah dua pergantian:

Boaz

Tibo–Zah Rahan–Lukas

Stevi–Ian

Ortizan–Bio–Victor–Tinus

Y.J. Hoon (GK)

Sayangnya, pemain yang dikorbankan Jackson untuk mengakomodasi striker baru justru sang jangkar Immanuel Padwa. Akibatnya ketika kedua bek tengah Persipura maju untuk membantu tendangan sudut dan terjadi serangan balik, tidak ada pemain tengah yang bisa menghadang lawan. Terlihat Stevi sebagai pemain terakhir yang paling dekat dengan serangan lawan hanya melongo dilewati bola dan pemain lawan untuk menghasilkan gol kedua Arbil (yang sangat cantik). Tetapi walaupun terlambat, setidaknya peningkatan permainan di babak kedua menghasilkan satu gol bagi Persipura yang sangat menolong dalam mengejar misi menang 2-0 di kandang lawan dua minggu mendatang.

Highlight pertandingan

Kesimpulan:
Suatu pertandingan yang menjadi pelajaran berharga bagi Persipura dalam mencari formasi 4 bek yang paling sesuai dengan pemain-pemain yang mereka miliki. Dengan kembali bermainnya Gerald Pangkali pada permainan berikut, ada baiknya Persipura mempertahankan pola 4-2-3-1 dengan Gerald dan Manu Padwa menjadi jangkar kembar, melindungi Tibo, Zah Rahan dan Ian di depannya, dengan Boaz sebagai penyerang tunggal. Atau bisa juga 4-4-2, dengan Zah Rahan kembali bermain sebagai sayap kiri seperti masa jayanya di Sriwijaya, yang jelas harus ada pemain sayap di depan. Sayang sekali Rahmat Rivai (dan Hamka Hamzah) tidak pernah lagi kembali ke tim sesudah musim lalu berakhir (padahal masih terikat kontrak), sehingga mengurangi pilihan penyerang. 😐
Satu lagi yang tak kalah penting adalah ujicoba. Libur kompetisi yang begitu lama membuat Persipura jadi “dingin”, apalagi ditambah bermain dengan skema baru. 1-2 ujicoba dengan tim yang sepadan saya kira pantas dilakukan, kalau perlu dengan timnas U-23 seperti yang dilakuka Persibantul dan Persebaya. Mari kita berharap yang terbaik di leg kedua nanti. πŸ˜‰

Notes: Ilustrasi gambar diatas diambil dari sini.

Indonesia 0-2 Bahrain; Boaz kok di kanan?

Seluruh rakyat yang nonton SCTV dan yang ke SUGBK pasti sudah lihat sendiri bahwa timnas Garuda kalah lagi. Pertandingan kedua di ntah babak keberapa PPD 2014. Kebobolan dua, dan lagi-lagi gagal mencetak gol. Apa yang salah? Ya gak tau, yang jelas level lawan kita emang beda. Beda dengan negara-negara yang kita hadapi di jaman Alfred Riedl. Iya kan, Kimi? πŸ˜‰
Tapi tiap pendukung timnas tentu punya catatannya sendiri soal pertandingan tadi, dan ini versi saya, pengamat amatiran yang cuma bisa main bola di Playstation.

1] Timnas bermain dengan formasi 4-2-3-1, atau setidaknya begitu menurut ulasan sebelum pertandingan. Jadi mestinya ada dua jangkar, dua sayap, gelandang serang atau second striker, dan centre forward.
2] Bukannya pake dua jangkar, tandem buat Ahmad Bustomi justru Firman Utina. Deep-lying playmaker? Yang jelas Firman kurang bagus malam ini. Ada saat-saat seharusnya dia bisa menggiring bola beberapa meter ke depan dulu untuk memberi kesempatan pemain depan mencari posisi, tapi berhenti tuk melihat lokasi teman lalu mengirim umpan lambung yang gak efektif saat memulai serangan.
3] Soal umpan lambung ini, main tadi sudah seperti kick & rush saja. Bola maunya ditendang jauh lalu penyerang lomba lari. Dari kiper melambung; dari bek melambung; dari dua gelandang tengah juga melambung. Ini apa tujuannya? Lomba lari jelas gagal. Kalo bola jatuh di kaki, jelas gak bisa langsung balik badan ke arah gawang lawan, harus wall-pass dulu ke teman. Tapi wall-pass ke siapa? Lini kedua jaraknya jauh, sementara sayap ke tengah juga selalu putus.
4] BP, di posisinya mestinya jadi pengatur serangan dan penyerang bayangan, selain menjembatani lini tengah dan depan. Apa daya, senggol dikit jatuh. Beberapa kali juga terlihat dia berdiri hampir sejajar dengan Gonzales kalo nunggu bola, padahal mestinya lebih rajin meliuk di tengah.
5] Jadi dari 3 orang di pusat lapangan, hanya Bustomi yang petarung. Terasa kurang “keras” tuk memenangkan perebutan bola di area terpenting.
6] Dua partai lawan Turkmenistan, Boaz jadi penyerang lubang, hasilnya bagus. Berikutnya lawan Palestina dan Yordania, BP main di posisi itu, juga tidak jelek. Tadi keduanya dimainkan bersamaan, malah posisinya rada tabrakan.
7] Boaz tadi dipasang di sayap kanan, yang jelas bukan posisi favoritnya karena dia bukan tipe inverted winger macam Arjen Robben. Mainnya jadi kurang efektif dan cenderung ke tengah (ke poin 6). Kerjasama dengan Benny juga tidak begitu bagus. Tampaknya pelatih Wim (yang mungkin tidak pernah melihat atau memimpin klubnya dahulu melawan Persipura) tidak terlalu paham cara bermain Boaz.
7] Dengan memasang dua inverted winger sekaligus di kedua sisi, Wim mempersempit area permainan. Tapi sayap terbalik memerlukan bek samping yang mampu menguasai tepi lapangan tuk menutup ruang, sesuatu yang sulit dicapai kalau pemain kita kalah lari dan body balance.
8] Pertahanan? Susah diharap tuk bagus kalo lini tengah selalu kalah rebutan bola. Hilang konsentrasi tuk gol pertama, dan gagal offside sementara garis pertahanan terlalu tinggi pada gol kedua. Lawan jadi punya ruang sangat lebar tuk nyelonong. Belum lagi ditambah kebiasaan Hamka meninggalkan posnya tuk ikut menyerang.
9] Bustomi tampaknya belum terlalu fit untuk pertandingan ini, sayang sekali. Pada akhirnya dia mendapatkan Hariono sebagai tandem, tapi ya sudah keburu tertinggal.
10] Dengan segala kekacauan organisasi dan alur permainan, tendangan ke gawang lawan sedikit sekali. Masuk ke kotak penalti lawan saja jarang.
11] Insiden kembang api dan pertandingan yang dihentikan? Sudahlah, males membicarakan kebiasaan buruk itu. 😐

Sedikit pemikiran tuk pertandingan berikut.
1] Apabila tetap bermain dengan formasi seperti tadi, ada baiknya BP kembali dicadangkan seperti melawan Turkmenistan. Boaz lebih efektif bermain di belakang Gonzales. Lagian karena kidal, dia cenderung bergerak ke kiri dan bisa bertukar tempat dengan Ridwan yang (karena berkaki kanan) cenderung menusuk ke tengah. Sayap kanan dikembalikan ke gelandang sayap berkaki kanan macam M. Ilham, Arif Suyono atau Irfan Bachdim. Sayang Ian Kabes, yang paling mengerti cara bermain Boaz, sudah cabut dari timnas karena tidak diturunkan ketika melawan Palestina.
2] Semoga kompetisi cepat berjalan dengan baik, agar pemain-pemain bisa bermain lagi secara teratur tuk memelihara fisik dan tehnik.
3] Umpan-umpan pendek! Ini penting sekali tuk diperbaiki supaya tidak kebiasaan tuk umpan panjang atau berusaha menggoreng bola melewati lawan. πŸ‘Ώ

Akhir kata, ini sepakbola modern. Membicarakan peringkat FIFA tidak membuat lawan jadi lebih kuat, sebaliknya mengandalkan semangat dan dukungan penonton juga tidak membuat kita lebih jago mencetak gol *melirik beberapa pengamat bola pra pertandingan*. Teman-teman punya komentar sendiri soal pertandingan melawan Bahrain? Silahkan berbagi… πŸ˜‰

Timnas Papua

Selasa 2 Agustus kemaren, situasi Jayapura sedang tegang. Ada demo besar dari massa yang mendukung konferensi International Lawyers For West Papua (ILWP) di London, Inggris. Pada intinya sih menuntut referendum yang diyakini menjadi pintu kemerdekaan Papua.

Di lapak twitter, “andai-andai” soal Papua merdeka ini memunculkan pula kemungkinan munculnya timnas (sepakbola) Papua yang bisa bertanding melawan timnas Indonesia. Ini skrinsyut dialog singkat di twitter antara saya dan kawan baik saya Zen R. Sugito:

Okay, tantangan yang bagus. Mengumpulkan pemain-pemain dari suatu daerah yang terkenal sebagai penghasil pesepakbola berbakat mestinya tidak sulit. Apalagi Persipura baru saja juara ISL 2011, maka tim ini mestinya tidak lebih dari Persipura plus.

Jadi langsung saja.

Formasi saya pilih 3-4-3, karena tidak ada tim Papua (kecuali tim PON Papua 2012 mungkin) yang mampu bermain dengan formasi 4 bek. πŸ˜†

Starting line-up:

Boaz–Patrick–Okto

Ruben–Vendry–Manu W.–Ian Louis

Yesaya–Victor–Ricardo

Celcius (GK)

Cadangan:

Tibo
Pieter R.
Manu P.
Christian W.
Johan
Yohanis
Renold (GK)

~//~

Sedikit penjelasan tentang tiap pemain:

Tim utama:

Boaz T.E. Solossa (Persipura)
Kapten Persipura. 2 kali top scorer dan 2 kali pemain terbaik ISL. Salah satu penyerang Indonesia terbaik sepanjang sejarah. Tentu tak perlu dijelaskan lagi. Saya pilih ybs sebagai kapten timnas Papua.

Patrick Wanggai (Persidafon)
Top scorer lokal Divisi Utama 10-11, dan dalam seleksi susulan tuk masuk timnas U-23. Lincah dan tajam khas Papua. Saya lebih memilih Patrick di tim utama ketimbang Titus Bonai. Menurutku Patrick bermain lebih sebagai CF, sementara Tibo lebih tipe SS.

Oktovianus Maniani (mantan Sriwijaya)
Winger kidal sangat lincah yang sayangnya agak bandel. Langganan timnas Indonesia sejak era Riedl.

Ruben Karel Sanadi (Pelita jaya)
Left fullback Pelita jaya. Kurang terkenal karena prestasi klubnya pas-pasan. Tapi mainnya ciamik. Rajin bantu serangan. Pas jadi wingback kiri.

Vendry Mofu (Semen Padang)
Number ten di Semen Padang. Jarang ada anak Papua yang ngetop di posisi ini sejak era Eduard Ivakdalam. Saya tempatkan jadi pembagi bola.

Immanuel Wanggai (Persipura)
Buat saya gelandang bertahan terbaik Indonesia, dan batere-nya asli 90 menit. Cepat, kuat, tackling akurat, kontrol bola & dribble bagus dan nyali gede. Sayang sering cedera parah. Semoga segera sembuh, karir dia masih panjang.

Ian Louis Kabes (Persipura)
Pemain segala posisi kecuali bek & kiper. Di Persipura pernah jadi CF, SS, WF, OMF, CMF, DMF dan WB. Bisi main di sisi kiri dan kanan. Sedang dipanggil timnas, mungkin sebagai SMF. Jelas harus masuk tim utama.

Yesaya Desnam (Persiwa)
Palang pintu tangguh. Masuk timnas Garuda era Riedl. Sayang pertahanan Persiwa buruk karena dia tidak punya pasangan sehati. Jadi stopper kiri.

Ricardo Salampessy (Persipura)
Langsung dipanggil timnas lagi hanya dengan 4 kali maen di klub setelah cedera panjang menunjukkan kualitasnya. SW, CB, RSB dan RWB, kali ini jadi stopper kanan.

Victor Igbonefo (Persipura)
Bersama Boaz dan Ian, menjadi pemain yang meraih 3 gelar liga Indonesia di Persipura. Sedang mengajukan permohonan menjadi WNI dan masuk timnas Garuda, konon dikit lagi paspornya keluar. Saya yakin bakal segera jadi WN Papua andai Papua merdeka dan masuk timnas Mambruk. Mungkin bersama tandemnya Bio Paulin. Bek yang tidak diragukan lagi kualitasnya. Jadi sweeper.

Celcius Gebze (Persidafon)
Pilihan paling sulit, karena anak asli Papua hampir-hampir tidak ada yang mau jadi kiper. Di Persidafon pun bukan pilihan tetap, tapi ini pilihan terbaik yang saya miliki di posisi GK dan kelihatannya titik lemah timnas ini. πŸ˜›

Cadangan:

Titus J.L. Bonai (Persipura)
Top scorer lokal Divisi Utama 09-10. Penampilannya di Persipura pada paruh kedua musim lalu menggeser Rahmad Rivai jadi cadangan dan membuat fans melupakan Beto Goncalvez. Termasuk yang paling sering dilanggar karena memang berbahaya.

Pieter Rumaropen (Persiwa)
Karena banyak cedera, musim lalu tergeser oleh Ferdinand Sinaga yang tampil sangat bagus. Tapi kapten Persiwa ini tetap saya pilih masuk timnas.

Christian Worabay (Persidafon)
Cadangan RWB. Andai masuk menggantikan Ruben maka Ian bergeser ke kiri. Pemain terbaik Ligina 2005 dan kenyang gelar bersama Persipura & Sriwijaya. Akhir-akhir ini fisiknya agak kedodoran tapi skill dan disiplinnya masih bagus.

Immanuel Padwa. (Persipura)
Tukang angkut air di Persiwa Wamena musim lalu. Tangguh dan tendangan jarak jauhnya berbahaya. Musim baru ini dikontrak Persipura melapis Gerald Pangkali.

Yohanis Tjo’e (Persipura)
Bersama Tibo dan Lukman, jadi rising star Persipura di musim juara kemaren. Mampu jadi stopper dan wingback di kedua sisi. Kadang-kadang masih sering gugup, tapi cukuplah sebagai cadangan.

Johan Ibo (Persebaya 1927)
Tinggi besar (185cm). Cocok mengawal lini belakang. Sayang maennya “cuma” di LPI.

Renold Rumaropen (PSBS)
Mengawal PSBS Biak jadi juara Divisi I musim lalu. Pantas jadi kiper cadangan.

 

Yak, selesai. Kecuali kiper yang pilihannya sedikit, agak sulit juga memilih Β setengah lusin pemain cadangan. Nama-nama seperti Lukas Mandowen, Ellie Aiboy, Moyo Malibela, Engel Bert Sani, Erol Iba, Victor Pae, Gerald Pangkali, Habel Satya, Nasution Karubaba, Stevi Bonsapia, Andri Ibo, Edison Ames dan beberapa lagi sempat terpikir. Tapi itu pilihan saya, semoga mantap. Err.. pelatihnya Jackson Tiago sajalah, dengan asisten Agus Yuwono dan Carolino Ivakdalam. πŸ™‚

Sebenarnya “timnas” Papua bukanlah ide asing sih, karena pada setiap pagelaran PON Provinsi Papua (& kemudian Papua Barat) selalu membentuk tim, begitu juga di daerah-daerah lain. Bahkan timnas diatas didominasi oleh tim PON 2004 (Boaz Solossa, Ian Kabes, Manu Padwa, Christian Worabay, Ricardo Salampessy) dan PON 2008 (Titus Bonai, Vendry Mofu, Okto Maniani, Yohanis Tjo’e danΒ Patrick Wanggai Β dari tim PON Papua Barat).

Lagian sebenarnya, Papua bisa punya tim sepakbola senior tanpa perlu merdeka kok. Kalo daerah Catalunya di Spanyol bisa punya tim sendiri, kenapa Papua tidak? Toh sejarah anti pemerintah pusatnya mirip. :mrgreen:

*membayangkan Boaz cs berseragam biru-putih celana merah dan menyanyikan “Hai Tanahku Papua”* :mrgreen:

Ada yang mau buat tim senior Jawa Barat, Sulawesi atau Ngayogyakarta? πŸ˜€

 

 

Persipura 4-2 South China: Lolos tetapi masih runner up grup

Persipura mengunci satu tiket ke babak berikut AFC cup setelah mengalahkan klub Hongkong South China 4-2 (2-1) di stadion Mandala Jayapura.

Jackson Tiago memutuskan memakai formasi yang sama seperti ketika dibantai Chonburi minggu lalu, 3-4-1-2 dengan dua perubahan: Yohanis Tjoe menggantikan Ortizan Solossa yang terkena larangan sebagai stopper kiri dan Stevi Bonsapia menjadi tandem Gerald Pangkali di tengah lapangan. Secara mengejutkan Jackson tetap mempertahankan penyerang Tinus Pae sebagai wing-back kanan. Satu perbedaan lain adalah kedua striker ditempatkan terbalik. Boaz yang kidal bermain di kanan. Di bangku cadangan terlihat Ricardo Salampessy yang baru pulih setelah sekian lama cedera dan menjalani pemulihan pasca operasi.

Tibo–Boaz

Zah Rahan

Ian–Stevi–Gerald–Tinus

Anis–Victor–Bio

Yoo J.H.

Secara umum, menurut saya Persipura bermain sesuai kualitasnya dan terlihat jauh lebih baik serta bisa mengembangkan permainan dibanding pertandingan sebelumnya karena lawan bermain bertahan dan tidak ngotot. Sepertinya kendala adaptasi cuaca menjadi penghalang bagi South China untuk bermain bagus seperti saat menahan Persipura 1-1 di Hongkong.

6 vs 5
Pertandingan sempat berjalan dengan tempo lambat selama 20 menit pertama, dan kedua tim sama-sama kesulitan memasuki kotak penalti lawan. South China terlihat kerap menumpuk pemain dalam 2 baris 4 dan 5 pemain di daerah mereka sendiri, menyisakan Mateja Kezman sendirian di daerah Persipura, terutama setelah gol pertama. Akibat banyaknya pemain lawan yang menumpuk di tengah, pemain-pemain Persipura kesulitan mengalirkan bola ke depan dan sering terbawa terbawa arus permainan lambat dari lawan. Melihat keadaan ini beberapa kali stopper Persipura, terutama Yohanis Tjoe di sisi kiri kerap kali overlap sampai ke wilayah kanan pertahanan lawan, dan Ian Kabes pindah menjelajah lapangan tengah, menjadikan Persipura seperti bermain dengan pola 2-6-2. Jadi ada 6 pemain Persipura mengimbangi 5 pemain South China di tengah lapangan. Sungguh padat. Hasil pertandingan ini kemudian ditentukan oleh kecepatan, kerjasama dan skill individu tiga pemain depan Persipura: Boaz, Tibo dan Zah Rahan dalam membongkar pertahanan lawan. Dua gol dihasilkan kerjasama cantik mereka di babak pertama, diselingi satu gol lawan akibat blunder Yohanis Tjoe.

Babak kedua
Memasuki babak kedua Jackson Tiago menarik keluar Yohanis Tjoe dan memasukkan Steven Hendambo di posisi stopper. Steven tampak bermain lebih disiplin di posisinya dibanding Anis. Boaz dan Tibo terlihat bertukar tempat lagi di babak kedua. Jadi Tibo kembali bermain sebagai penyerang kanan. South China mulai bisa memanfatkan lebar lapangan untuk menekan Persipura, tetapi umpan mereka lebih sering salah dan Kezman masih juga terisolir di depan apabila mendapat bola. Persipura makin sering menerobos pertahanan lawan terutama melalui kecepatan Ian Kabes, Boaz dan Tibo. Tetapi penyelesaian akhir yang egois membuat gol hanya bertambah dua. Seringkali bola dipaksa ditendang dari sudut yang sulit sementara ada teman yang bebas, atau menggocek bola terlalu lama. Sangat disayangkan.
Di menit ke 72 Stevi Bonsapia kembali bermain sebagai wing-back kanan saat Jackson mengganti Tinus Pae dengan gelandang Christian Uron, lalu dua menit berikutnya Lukan Mandowen masuk menggantkan Titus Bonai sebagai penyegaran. Dibawah ini ada highlight 5 dari 6 gol yang tercipta.

Kesimpulan
Bermain di kandang melawan tim yang tidak mampu mengembangkan permainan ternyata gagal dimanfaatkan secara maksimal oleh Persipura. Empat gol yang dihasilkan hanya setengah dari yang seharusnya tercipta apabila melihat peluang yang ada. Kerugian makin bertambah dengan dua kali kebobolan karena tidak mengawasi lawan dengan baik. Persipura mungkin tidak menyadari kerugian ini sampai Chonburi membantai East Bengal 4-0. Dengan poin yang sama, Chonburi duduk di tahta klasemen dengan keunggulan selisih dua gol dibanding Persipura.

Disisi lain, dari segi permainan, pertandingan ini memulihkan semangat dan memberikan kesempatan para pemain Persipura mengeluarkan kemampuan terbaik. Selain Boaz, Tibo dan playmaker Zah Rahan yang bermain sangat bagus, Gerald Pangkali patut dipuji karena menguasai lini tengah dengan sangat mobil, banyak sergapan, umpan sukses, dan satu gol indah. Stevi Bonsapia pun tak kalah matangnya sebagai pemain serbaguna Persipura.
Dengan satu partai tandang tersisa dan kepastian lolos, Jackson mengisyaratkan lebih banyak memainkan pemain cadangan melawan East Bengal untuk menjaga kebugaran pemain inti yang akan menjalani 5 partai tandang berurutan di ISL. Semoga sukses, untuk Papua dan Indonesia πŸ˜‰

Chonburi 4-1 Persipura; Formasi Jackson Tiago gagal menguasai lebar lapangan

Setelah euforia menang 3-0 di kandang melawan Chonburi pada partai pertama sepakbola internasional (AFC cup) di daerah Papua, Persipura akhirnya dihanguskan Chonburi 4-1 pada lawatan mereka ke Bangkok.
Media-media seragam menulis, bahwa Chonburi bermain bagus, sementara Persipura bermain jelek. Pelatih Persipura Jackson Tiago sendiri menyatakan kalau tim dia kalah karena banyak kesalahan di lini tengah dan kerap memprotes wasit. Akan tetapi saya melihat hal yang berbeda, kenapa Persipura gagal mengembangkan permainan sepanjang pertandingan seperti waktu menang tiga gol di Jayapura.

Formasi:
Untuk sedikit menyegarkan ingatan, ini formasi Persipura saat melawan Chonburi di Jayapura (kandang).

Boaz–Tibo–Tinus

Ian–Zah Rahan–Gerald P.–Anis Tjoe

Ortizan–Victor–Bio P.

Y. J. Hoon

Dengan dikartumerahkannya Anis Tjoe pada partai kandang, Jackson Tiago hanya membuat satu perubahan pada susunan pemain Persipura saat melawan Chonburi di Bangkok (tandang)

Boaz–Tibo

Zah Rahan

Ian–David L.–Gerald P.–Tinus

Ortizan–Victor–Bio P.

Y. J. Hoon

Dari diagram diatas, terlhat bahwa Persipura bermain dengan 3-4-3 di kandang, yang diubah menjadi 3-4-1-2 di tandang, melawan Chonburi yang bermain dengan 4-4-2 pada kedua pertandingan. Di Jayapura, 3-4-3 Persipura sanggup mengimbangi 4-4-2 Chonburi. Di lini pertahanan, Persipura unggul 3 vs 2. Di kedua sisi lapangan terdapat pertarungan 2 vs 2, dimana striker sayap Persipura menyibukkan full-back Chonburi, sementara wing-back mengunci gelandang sayap lawan. Di tengah lapangan juga 2 vs 2, tetapi duet playmaker+breaker Persipura bermain dengan pengertian yang baik untuk memotong serangan dan mendistribusikan bola. Dengan formasi ini Persipura mampu memanfaatkan lebar lapangan dan merepotkan Chonburi melalui serangan yang dibangun kedua wing-forward. Gol pertama Persipura hadir dari tusukan cepat Boaz lewat sayap kiri, sementara gol ketiga diawali umpan silang Stevi dari sayap kanan.

Highlight pertandingan di Jayapura

Di Thailand, alih-alih bermain dengan formasi yang sama, Jackson menggelar formasi 3-4-1-2 melawan 4-4-2. Akibatnya fatal. Di kedua sisi lapangan terjadi pertarungan 1 lawan 2 karena tiap wing-back Persipura menghadapi full-back dan side-midfielder lawan. Chonburi dengan mudah memainkan bola memanfaatkan lebar lapangan tuk menyerang dan menghasilkan dua gol di babak pertama dari kedua sisi ketika wing-back Persipura terlambat trackback karena bingung harus mengawasi siapa. Memang di tengah lapangan Persipura unggul 3 lawan 2, tetapi bantuan dari kedua full-back Chonburi yang bebas, pressing yang ketat dan passing yang lebih akurat membuat penguasaan bola mutlak di kaki Chonburi. Persipura akhirnya dipaksa bermain kick and rush dengan mengirim umpan-umpan panjang tuk dikejar Tibo dan Boaz yang mudah dipatahkan dengan perangkap offside. Tiada tik-tak yang rapi di daerah lawan. Saat salah satu dari Boaz atau Tibo mampu menjemput bola secara melebar, cuma ada tandem mereka di kotak penalti lawan dan lini kedua (terutama Zah Rahan) terlalu jauh untuk naik membantu. Kalah secara formasi, bermain baguspun menurut saya Persipura tetap bakal kesulitan mengembangkan permainan, apalagi bermain buruk seperti kemarin. 😦

Highlight pertandingan di Bangkok

Starting line up:
Selain soal formasi, saya memikirkan beberapa hal soal pemilihan pemain oleh Jackson Tiago.

Pertama: Tinus Pae jadi wing-back kanan! 😯
IMO ini kacau. Sebuah eksperimen yang tidak pada tempatnya kalau hanya karena Anis Tjo’e tidak dapat bermain, apalagi di bangku cadangan Persipura terdapat pemain yang lebih tepat untuk posisi itu yaitu Stevi Bonsapia. Ntah kenapa coach Jacko suka sekali bereksperimen dengan posisi ini sejak musim lalu, memasang pemain-pemain yang bukan taletaya bermain disitu. Banyak diantaranya berakhir dengan pergantian pemain di babak pertama. πŸ‘Ώ
Kembali ke Tinus, dia memang mempunyai fisik yang kuat dan lari yang kencang. Tapi cuma itu, tanpa kemampuan bertahan apalagi harus menghadapi dua pemain di area permainan mereka. Gol kedua Chonburi (tanpa mengurangi kesalahan Victor mengawasi pergerakan Pipob On Mo) adalah kegagalan Tinus mengawasi sayap kiri Chonburi. Pada gol ketiga, fakta bahwa Tibo yang notabene penyerang harus menjatuhkan pemain lawan di kotak penalti jelas menunjukkan bahwa Tinus gagal melapis Bhio Paulin di kanan pertahanan Persipura. 😐

Kedua: David Laly sebagai partner Gerald Pangkali.
Tidak jalannya formasi 3-4-1-2 Persipura sepert saat membantai East Bengal 4-1 di GBK diperburuk dengan cederanya Immanuel Wanggai –tandem terbaik Gerald sebagai jangkar ganda-. David Laly yang menjadi pilihan Jackson di posisi tersebut sejatinya adalah gelandang serang. Sebaiknya yang dipasang adalah Christian Uron yang bertipe petarung fisik pada pola 3-4-2-1, atau Gerald langsung berpasangan dengan Zah Rahan saja dalam pola 3-4-3. Tak heran keberadaan David laly hanya bertahan satu babak saja. 😐

Ketiga: Ortizan Solossa sebagai stopper kiri.
Tanpa Hamka Hamzah dan Ricardo Salampessy yang cedera, serta Anis Tjoe yang terkena larangan, Persipura lagi-lagi mengalami krisis bek, dan pilihan yang tersisa adalah memasang Ortizan Solossa sebagai stopper kiri. Sebagai pemain darurat, sebenarnya Ortizan tidak buruk, bahkan talentanya sebagai fullback/wingback sering bermanfaat untuk membantu serangan dari sisi kiri. Masalahnya cuma satu: Ortizan kasar, dan di ISL yang wasitnya toleran sajapun bukan cuma sekali Ortizan mengumpulan dua kartu kuning di satu pertandingan. Ntah kenapa Jackson tak pernah mempercayai Steven Hendambo yang jauh-jauh dipulangkan dari Persibantul tuk menjadi stopper. πŸ˜•

Babak kedua:
Mungkin menyadari taktiknya yang kacau di babak pertama, Jackson memasang Stevi Bonsapia sebagai wing-back kanan menggantikan David Laly. Pergantian ini tidak terlihat karena GlobalTV terlambat menayangkan kickoff babak II. Formasi Persipura sekarang kira-kira jadi seperti ini:

Boaz–Tibo–Tinus

Ian–Zah Rahan–Gerald P.–Stevi B.

Ortizan–Victor–Bio

Y. J. Hoon

Permainan Persipura jadi sedikit lebih terarah setelah masuknya Stevi. Aliran bola mulai lebih lancar. Sayangnya saat ritme permainan sedang berusaha diperbaiki, Ortizan justru mendapat kartu merah di menit 59. Dan bubarlah segala instruksi yang didapat saat turun minum. Anehnya, ditengah serangan gencar lawan melawan 10 pemain, Jackson tetap kukuh dengan tiga penyerang (bahkan melakukan penyegaran dengan memasukkan Lukas Mandowen) ketimbang segera memasukkan Steven Hendambo untuk menstabilkan pertahanan di belakang. Akibatnya permainan Persipura makin gak jelas walau masih butuh waktu lama bagi Chonburi untuk menambah gol. 😦

Kesimpulan:
Partai ini menjadi pelajaran berarti bagi Persipura yang masih punya 2 pertandingan lagi di grup ini. Bagi Jackson Tiago, persiapan matang pada tim sendiri (bahkan menunda partai away ISL melawan Persiwa untuk menjaga kebugaran, sementara Sriwijaya tetap bertanding melawan Persib) tidak cukup kalau formasi yang digelar dimatikan lawan. Pemilihan pemain pada tiap posisi juga perlu dipertimbangkan lagi, terutama memilih stopper yang akan menggantikan Ortizan pada pertandingan berikut. Mungkin perlu dipertimbangkan juga penggantian pemain yang sudah kena kartu kuning, karena 2 pertandingan dilewati dengan 2 kartu merah akibat cara main yang sangat bergaya ISL. Minggu depan Persipura sudah bertanding lagi di Mandala melawan South China, semoga hasilnya memuaskan tuk seluruh rakyat Indonesia. πŸ˜‰

Blackout and Knockout

Peringatan: ini cuma kisah kekesalan sehari-hari. Kalau bukan teman saya tidak usah baca, membuang waktu anda sahaja.

Ada yang pernah baca ini? Yeah, setahun yang lalu saya pernah diwawancarai wartawati harian tersebut soal Earth Hour, sehubungan twit-twit ngomel saya yang berantem dengan para pendukung Earth Hour. πŸ˜†
Saat itu, bersama beberapa pasukan 2007 semacam Buya Alex, Almascatie, Mansup, Gunrud dkk, ada hashtag #nasibluarjawa yang lumayan populer di twiter dan fesbuk sebagai pengingat soal ketidakadilan energi. Ntahlah, saya juga tak terlalu tahu seberapa banyak onliners yang berlimpah listrik mengerti soal ketersediaan energi listrik yang tidak merata di negara ini. 😐
Tahun ini, beberapa minggu lalu, menjelang Earth Hour 2011, saya masih juga nge-twit bete soal Earth Hour. Bedanya waktu itu saya di Jakarta, di angkringan Wetiga Langsat, dimana sedang ada Obsat dengan tema Earth Hour. Ah ya, saya ngetwit bukan tuk ribut macam tahun lalu. Kali ini supaya muncul di layar proyektor Obsat saja. πŸ˜† Syukurlah Memeth mengingatkan via RT twit @obsat bahwa listrik di Indonesia terfokus di Pulau Jawa dan Bali. Itu sebabnya kampanye Earth Hour belum menyentuh luar lokasi itu. Hoo~ berarti memang saya gak perlu ikutan. Berhentilah saya jadi killjoy, lalu ngeluyur pulang duluan, emang ngejar metromini ke Cinere soalnya. :mrgreen:
BTW, kaos hitam 60+ yang dipake Titiw Akmar dan kawan-kawannya malam itu keren… πŸ˜€

Beberapa hari berselang, saya sudah di Jayapura lagi, dan sudah dua minggu berlalu setelahnya. Apa kabar? Yup, masih tetap #nasibluarjawa seperti tahun lalu. Listrik padam dua-tiga kali sehari. Pagi, siang, sore, malam, subuh, anytime. Cuaca buruk, cuaca baik, bisa padam. Kadang cuma menyala sedetik, sekedar memberi harapan semu, lalu padam lagi. Ngeselin.
Sudah tidak tahu mau ngomong apa lagi. Males nyari penyebab. Setelah beberapa bulan hidup di ibukota yang gemerlap, memang mesti sadar diri kalo ini di pinggir negara. Jelas ada bedanya. Tidak perduli kalo tahun kemaren pemerintah sudah koar-koar berjanji kalo tidak akan ada lagi pemadaman karena kekuarangan daya, cuma ada pemadaman karena kerusakan atau perawatan. Persetan sebabnya. Sama gelapnya. Fitnah yang beredar malahan PLN sengaja padamkan listrik tuk menghemat persediaan solar. :mrgreen: Jadi kalau mendadak padam saya paling-paling ngetwit, lalu tidur. Apalagi kalo padam pas subuh-subuh lagi nonton bola sambil ngantuk, ya tidur lagi sajalah. :mrgreen: Satu hal yang paling saya syukuri adalah PC saya tidak pernah rusak walopun selalu mati mendadak, bahkan sering saat sedang baru startup Windows. Semoga saja keadaan membaik sesudah posting ini. 😈
Teman-teman, ada yang masih sering kena pemadaman?

Ngomong-ngomong soal bola, dua klub yang saya dukung juga nasibnya jelek akhir-akhir ini. Satu, Internazionale. Penuh harap bisa pimpin klasemen usai derby, malah digilas Milan 3-0. Leonardo bodoooooooh!!! Saya ingat listrik padam tepat pada saat saya mau nyalakan TV tuk nonton. Begitu listrik nyala lagi, Inter sudah tertinggal dua gol dan bermain dengan 10 pemain. Lalu ada gol ketiga, lalu saya matikan TV saja segera sesudah Cassano diusir. Tidur. Tiga subuh berikutnya, bangun lagi nonton Madrid vs Spurs, sambil nunggu update dari Giuseppe Meazza. Tapi kelar babak pertama, saya milih tidur lagi. Buang waktu nonton Madrid. Bangun-bangun disuguhi hasil akhir di newsticker MetroTV: Inter 2-5 Schalke. WTF?!? Barusan membuang peluang mempertahankan scudetto, sekarang buang peluang juga mempertahankan liga cempyen? πŸ‘Ώ Argh…Syukurnya saya cuma Asal Bukan Juventus sih, jadi mau Milan atau Napoli yang scudetto ya sama saja. Keknya kami pertahankan Copa Italia saja… 😐
Klub berikutnya, Chelsea, tak kalah suram nasibnya. Torres masih setia mengikuti jejak Shevchenko. Wiken terakhir cuma seri dengan Stoke, sehingga jarak dengan MU makin lebar. Sialnya, Arsenal juga ikutan seri. Padahal saya ini ABMU. 3 hari berikutnya, malah takluk di kandang dari MU. Listrik padam pula ditengah pertandingan. Berharap ada gol saat saya tidur lagi, tapi ternyata Chelsea gak mampu membalas. Mengecewakan. Masih bisa membalikkan keadaan di Old Trafford sih, tapi yaa~ saya tak terlalu berharap. Sedih juga kalo musim ini tanpa trofi. Gak balik modal. Emang butuh gelandang baru menurutku, bukan penyerang baru… 😦

Satu-satunya hiburan saat nulis post ini cuma kemenangan Persipura 2-1 dari tuan rumah PSPS jumat sore tadi. Poin jadi 44, semakin menjauh dari Persija, dan ada modal bagus tuk piala AFC vs Chonburi minggu depan. Sukses! πŸ˜‰

Jadi, siapa yang percaya Milan dan MU masih bisa tergeser dari puncak klasemen liga masing-masing? Dan siapa jagoan kalian di liga cempyen setelah first-leg perempat final? πŸ˜‰


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
September 2018
M S S R K J S
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter

Iklan