Archive for the 'Sosio-Politik' Category

Coblosan saya

Setelah lima tahun lalu mencontreng, pemilu legislatif tahun ini kembali ke sistem mencoblos. Sebagai warga negara yang kebagian undangan tuk memilih, saya pun memanfaatkan hak suara saya di TPS yang hanya sepelemparan batu dari rumah. Memilih anggota legislatif selalu sulit dengan banyak variabel, tapi tetap harus memilih kan? Maka dengan sejumlah pertimbangan inilah calon-calon yang mendapatkan suara saya di pemilu legislatif 2014 ini:

Tuk DPR-RI:
Laksdya (purn) Freddy Numberi. Partai Gerindra nomor urut 1.
Mantan gubernur Papua ini bukan nama yang asing di level nasional karena beberapa kali menjadi menteri. Menariknya, lima tahun silam saya juga memilih orang ini di level yang sama tetapi dari partai Demokrat. Pilihan yang sia-sia karena sesudah terpilih tuk ke Senayan, beliau dipanggil SBY untuk menjadi menteri perhubungan. Jabatan itu hilang saat reshuffle kabinet terakhir dan sepertinya beliau tersingkir pula dari Demokrat sehingga jadi petualang politik ke Gerindra. Rekam jejak 5 tahun terakhir mungkin tak mengesankan, tapi saya punya alasan tersendiri.
1. Ditengah gencarnya dukungan buat Jokowi lewat PDIP, saya ingin Prabowo bisa jadi kandidat penyeimbang tuk capres, karena itu saya menyumbang suara untuk Gerindra
2. Caleg-caleg DPR-RI tuk Papua dari partai-partai nasionalis lainnya tidak ada yang menarik. Jadi anggaplah ini pilihan teraman dari yang terburuk.

Tuk DPR Papua:
Kamasan Jacob “Jack” Komboy. Partai Hanura nomor urut 1.
Mantan bek Persipura ini orang yang sama yang saya pilih lima tahun silam dari partai yang sama. Seperti diatas, saya juga tidak menemukan caleg lain yang lebih mengesankan. Disisi lain, saya merasa perlu supaya ada mantan atlet di dewan, akan terasa cocok di komisi yang membidangi olahraga. Lagian selama 5 tahun Jack berkantor di DPRP, Persipura juara liga super 3 kali. Anggaplah ini penghargaan saya secara tidak langsung. 😉

Tuk DPRD Kotamadya Jayapura:
Jimmy Jones Asmuruf. Partai Gerindra nomor urut 5.
Seorang pengusaha swasta, teman baik saya satu SMP dan Universitas. Salah satu misi dia adalah menjadi “pelindung” bagi warga sesukunya di kota ini yang kehilangan figur panutan setelah ayahnya -mantan Sekda Papua- meninggal dunia. Tahun ini ada empat teman sekolah saya yang jadi caleg dari dapil saya. Dua diantaranya bahkan nomor urut 1. Kurasa wajar kalau saya memilih yang paling saya kenal dekat. 😀

Tuk DPD RI:
La Madi SE.
Memilih DPD adalah pekerjaan tersulit karena semua calon-calonnya relatif asing (walaupun ada teman sekolah juga disitu). Mereka tak banyak mempromosikan diri, dan bahkan masih orang yang tak paham apa yang mereka kerjakan. Orang yang saya pilih adalah direktur Lakeda (Lembaga Analisa Kebijakan Daerah) Institute. Suatu lembaga ilmiah yang mengamati masalah-masalah Papua. Dia juga sudah banyak menulis buku tentang Papua. Seperti kawan saya diatas, saya tak terlalu yakin suara saya akan membuat dia terpilih, tapi tak apa, tak banyak pengaruhnya. Kalo kata Almascatie, DPD itu seperti vas bunga saja dalam sistem pemerintahan kita. :mrgreen:

Begitulah cerita pileg hari rabu 9 april kemarin. Semoga hasilnya sesuai prediksi masing-masing. Ada yang tidak keberatan berbagi cerita serupa? 😉

Iklan

Papua, sekilas masalah

Sabtu, 15 September 2011 jam 08:33 pagi, sebuah FaceBook message masuk dari teman saya Zeph Siddarth:

Seorang teman yang baru pulang dari Papua bercerita, bahwa kesenjangan antara penduduk asli dan pendatang itu memang ada, bahwa kesenjangan pembangunan antara Papua dan pusat (Jakarta) itu memang sangat mencolok, bahwa sebagian besar hasil sumber daya alam memang untuk “Jakarta”, bahwa ada memang pejabat di Papua yang lebih suka “kunjungan” ke Jakarta daripada “mengurus” keadaan Papua, sehingga “dirasa wajarlah” ketika teriakan untuk merdeka itu masih ada, konon kata teman saya itu, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pola penjajah.

Satu pendapat dari Acemoglu adalah perbedaan dari siapa penjajah mereka dan bagaimana mereka menjajah. Tapi pertanyaannya lagi adalah, mengapa para penjajah bisa berbeda memperlakukan wilayah jajahannya. Jawaban Acemoglu adalah malaria. Wilayah dengan tingkat malaria tinggi membuat penjajah tidak nyaman membangun peradaban di sana, mereka lebih memilih eksploitasi sumber daya alam dan kemudian pergi. itulah yang membedakan jajahan Inggris di Asia dengan jajahan Belgia di Afrika.

Mengapa Papua jauh tertinggal ketimbang wilayah bekas jajahan Belanda lainnya di nusantara. Ketika Belanda membangun kota dan sistem pemerintahan yang mapan terutama di Jawa dan Sumatera sementara di Papua, Belanda hanyalah menjadi rampok di malam hari. Tentu saja alasannya adalah malaria.

Seorang teman bercerita jika di Jawa dulu Belanda masih mau mengajarkan banyak hal, sementara di Papua, Belanda setiap pagi memberikan susu dan roti kepada penduduk setelah mengambil hasil alam mereka.

Dan sebagai orang yang tinggal dan hidup di Papua, apa opini Bang Jensen menaggapi hal tersebut. Terima kasih sebelumnya ^.^

Ah, pertanyaan yang menarik. Kalau dipendekkan saja masalahnya jadi bagaimana ini ya? Ketika Belanda menjajah Papua mereka tidak membangun karena faktor malaria, lalu.. ketika Indonesia menjajah menganeksasi Papua mereka juga ikut-ikutan tidak membangun karena malaria? Sehingga orang Papua yang tidak puas dengan keadaan ini kemudia minta merdeka. Begitu? 😕

Dari pengalaman dan pengetahuan saya tentang Papua, faktor malaria ini hal yang baru pernah saya dengar. Berdasarkan paper Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation, aspirasi bangsa Papua untuk merdeka merupakan manifestasi dari gerakan nasionalisme Papua yang tumbuh dan berkembang dari faktor-faktor sejarah berikut ini:
1. Sejarah integrasi Papua ke dalam Indonesia. Ini adalah topik menarik tentang gagalnya proses dekolonisasi Papua oleh Belanda. Indonesia, dengan semangat anti kolonialismenya di satu pihak, berpendapat bahwa wilayah mereka haruslah terdiri dari seluruh bekas jajahan Belanda di Nusantara (Hindia-Belanda), sehingga harus termasuk Papua. Papua, di lain pihak, berpendapat bahwa mereka sudah merdeka sejak 1 Desember 1961 ketika bendera Bintang Kejora berkibar diiringi lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua. Selebihnya dari sini adalah Operasi Trikora yang (versi Indonesianya) sudah kita pelajari bersama di bangku sekolah, nantinya berujung pada aneksasi Papua oleh Indonesia. Perjanjian New York pada tahun 1962 antara Belanda dan Indonesia dibawah pengawasan PBB dan AS yang menyetujui pengalihan kekuasaan di Papua kepada Indonesia, jelas menunjukkan bahwa dalam penentuan nasib tanah mereka, orang Papua hanya menjadi obyek, dan bukan partisipan. Masalah partisipasi ini kemudian dicoba dijustifikasi Indonesia dengan mengadakan Pepera 1969 yang oleh banyak pihak disebut cacat hukum dan penuh rekayasa.
2. Sejarah administrasi Papua. Sejak sebelum kedatangan Jepang, banyak posisi administrasi di Hindia-Belanda sudah diisi oleh orang-orang lokal, sementara di Papua yang begitu terbelakang, semua administrasi tetap dipegang oleh orang-orang Belanda. Ketika KMB 1949 menghasilkan pengakuan kedaulatan bagi Indonesia, pihak Belanda mulai berusaha mengejar ketertinggalan di Papua dengan menyiapkan banyak tenaga lokal untuk mengurusi administrasi sipil dan banyak urusan lain. Sayangnya, ketika Indonesia menduduki Papua pada 1963, segala urusan administrasi dan birokrasi di Papua segera diambil alih oleh orang-orang Jakarta. Para birokrat lokal yang tersingkir ini kemudian menjadi angkatan pertama gerakan nasionalisme di Papua yang nantinya memunculkan Organisasi Papua Merdeka dan pemimpin-pemimpin mereka di perantauan.
3. Ketertinggalan Papua secara ekonomi dan ketatausahaan. Disini kita sampai pada poin-poin yang dibicarakan Zeph diatas. Ekspolitasi sumber daya alam secara luar biasa tanpa hasilnya dinikmati oleh orang Papua disertai ketertinggalan dalam segala bidang pembangunan. Seberapa tertinggalnya Papua soal pembangunan seharusnya sudah jadi pengetahuan umum di Indonesia ya? Memang eksploitasi SDA dan ketertinggalan daerah bukan hanya monopoli Papua, tetapi sejarah Papua menjadikan faktor ini sebagai pemicu kuat perasaan berbeda secara identitas antara orang Papua dan orang Indonesia, apalagi (konon) memang orang Indonesia memandang berbeda orang Papua.
4. Perubahan demografi dalam masyarakat Papua. Seperti yang pernah saya singgung sedikit dalam tulisan terdahulu, kehadiran jutaan penduduk migran dari wilayah Indonesia lainnya, baik perantauan, penugasan maupun transmigran, telah membawa perubahan besar bagi komposisi penduduk di Papua beserta segala efek politik, sosial, ekonomi, budaya dan agama yang menyertainya. Hal ini membawa perasaan bahwa penduduk Papua tersingkir dan termarjinalisasi diatas tanah mereka sendiri, dan menimbulkan ketakutan akan kepunahan.
Empat faktor itu sajalah yang saya yakini menjadi sumber masalah di Papua. Kalaupun ada yang mau ditambahkan, saya pikir hanyalah begitu banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militer Indonesia, baik untuk tujuan menumpas separatisme maupun untuk melindungi kepentingan bisnis. Sebagai perbandingan bisa dilihat di artikel ini; yang tidak memasukkan poin kedua, tetapi menekankan faktor rasisme dimana penduduk asli Papua kesulitan mendapat tempat dalam bidang ekonomi, sektor pendidikan, birokrasi (PNS) dan menjadi TNI/Polri.

Soal malaria? Tulisan Daron Acemoğlu dkk yang berjudul: Disease and Development in Historical Perspective sayangnya tidak membahas mengenai Papua sebagai studi kasus, walaupun penyakit malaria disini adalah endemik, sehingga saya juga tidak yakin apakah itu termasuk faktor penghambat pembangunan Belanda di Papua atau bukan. Tapi saya mencoba meringkas sendiri sejarah Papua yang saya tahu. Mula-mula kita lihat saja perbedaan situasinya ketika bangsa-bangsa kulit putih datang ke Indonesia, dan ketika pihak yang sama datang ke Papua. Saya tahu bahwa Belanda mebangun banyak hal di Indonesia, tapi sejarah juga menceritakan bahwa sudah ada peradaban di Indonesia jauh sebelum Eropa datang. Ada kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang punya hubungan sampai ke China dan India, lalu tumbuh kerajaan-kerajaan Islam dari Aceh hingga Ternate. Ketika Belanda datang, mula-mula sebagai pedagang, lalu kemudian sebagai penjajah, sudah ada sumber daya manusia yang setidaknya bisa mengusahakan hasil bumi untuk (perdagangan) Belanda, mulai dari rempah-rempah di Maluku; gula di Jawa; hingga tembakau di Sumatra. Sementara para raja dan sultan lokal bisa menjadi kepanjangan tangan Belanda untuk mengurus administrasi, terutama di Jawa, Sumatra dan Bali yang daerahnya sudah dijelajahi hingga ke pedalaman. Di sepanjang pesisir Jawa dan Sumatra penuh dengan pelabuhan-pelabuhan besar di jalur-jalur dagang utama antara Asia timur dan Asia selatan/Asia barat/Eropa, yang menjadi kekuatan utama kerajaan-kerajaan lokal plus magnet bagi kolonialis Eropa.

Lalu, ada apa di Papua ketika orang Eropa datang? Tidak ada apa-apa, sama sekali tidak ada apa-apa. Papua hanyalah hutan lebat, yang dipenuhi oleh suku-suku yang tidak ramah, bahkan kanibal. Mereka hidup di jaman batu dan terisolasi dari dunia luar selama ribuan tahun, kecuali di beberapa daerah pesisir dimana Sultan Tidore mengadakan perdagangan budak dan burung Cenderawasih. Bagi pelaut-pelaut Eropa, jangankan masuk ke Papua, mencari lokasi tuk mendarat saja sulit. Belanda mengakui kedaulatan Tidore atas Papua tahun 1660, tapi tidak pernah menginjak Papua. Inggris pernah mencoba membangun pos di dekat Manokwari pada 1793 tetapi gagal, begitu juga dengan usaha Belanda di dekat kaimana tahun 1828. 4 tahun sebelumnya Inggris dan Belanda menyepakati bahwa Papua bagian barat adalah wilayah Belanda. Baru tahun 1855 para penginjil Jerman berhasil mendirikan pos di Mansinam, dekat Manokwari. Pos-pos Belanda sendiri barulah didirikan tahun 1896 untuk mengimbangi aksi serupa oleh Australia yang mengklaim bagian timur dari pulau Papua. Mula-mula di Fak-fak dan Merauke, lalu di Manokwari. Hingga tahun 1930an, selain aktifitas penyebaran injil (pendidikan dasar sebagian besar diselenggarakan oleh misi keagamaan Protestan dan Katolik), hanya ada eksplorasi minyak di daerah kepala burung. Daerah lembah Baliem baru ditemukan Belanda tahun 1938, dan banyak pemukiman lain di pedalaman baru ditemukan sesudah Papua masuk Indonesia. Pun hingga 50 tahun sesudahnya, semua daerah pedalaman masih saja cuma bisa dicapai dengan pesawat udara, kalau tidak dengan perahu menyusuri sungai. Tak ada kerajaan-kerajaan makmur yang menantang tuk ditaklukkan atau tanah vulkanis subur. Dengan kondisi geografis dan peradaban yang seperti itu, saya tak heran kalau Belanda tak pernah bisa banyak membangun di Papua, bahkan seandainyapun tak ada Malaria. Karena itu, menyebut Belanda sebagai rampok di malam hari rasanya kurang tepat. Justru Soeharto dan kroninya yang jadi rampok siang malam. :mrgreen:

Dilain pihak, situasi sebagai negeri yang lebih akhir ditinggalkan Belanda memberikan Belanda banyak kesempatan untuk memperbaiki perlakuan mereka pada daerah jajahan apabila dibanding pada Indonesia dulu. Kebijakan “politik etis gaya baru” ini dapat dilihat pada ungkapan “roti dan susu setiap pagi” diatas. Kala itu, sebagai usaha dekolonisasi Papua sesudah KMB 1949 gagal menentukan nasib Papua, Belanda melakukan pembangunan besar-besaran dalam berbagai bidang di Papua berdasarkan ketetapan Ratu Belanda tanggal 27 Desember 1949 yang disebut Besluit Bewindsregeling Nieuw Guinea sebagai persiapan menghadapi sengketa dengan Indonesia. Sebagai hasilnya, memasuki tahun 1960an standar hidup di Papua menjadi tinggi. Mengutip buku Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka oleh J.R.G. Djopari:

Bagi orang Irian barat yang memang memasuki perekonomian modern dan ditambah lagi dengan pemberian subsidi yangbesar oleh pemerintah Belanda, upah dan gaji mereka sangat tinggi dibandingkan dengan penduduk di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Menurut peraturan gaji tahun 1957, seorang pelaut mendapat upah $42 sebulan, pekerja kasar/buruh $50, calon pegawai $57, guru sekolah dasar $65 dan guru berijazah $124. Karena biaya import yang rendah serta pengangkutan yang teratur dan bersubsidi, di kota-kota harga barang-barang dagangan import relatif lebih rendah dan dapat dijangkau oleh daya beli masyarakat.

Karena itu tidaklah mengherankan di kalangan generasi tua Papua, mereka mengenang jaman Belanda sebagai jaman yang paling enak. The good old times. 😉

Tapi cerita-cerita soal Papua sejak jaman Belanda hingga Indonesia tentu tidak lengkap tanpa menyinggung satu kalimat yang terselip pada pertanyaan Zeph:

bahwa ada memang pejabat di Papua yang lebih suka “kunjungan” ke Jakarta daripada “mengurus” keadaan Papua,

Oh, jujur saja, itu Gubernur kami yang terakhir, Barnabas Suebu. Kabarnya beliau memang pengurus pusat partai Golkar sehingga harus rajin ke di Jakarta. Kalo pejabat-pejabat dibawahnya juga mengikuti jejak beliau, ya siapa yang salah? :mrgreen:
Ya, cerita Papua dan Belanda sudah menjadi dongeng “the good old times“; sementara cerita Papua versus Indonesia (dan nasionalisme Papua) secara nyata hanyalah perjuangan sebagian golongan di Papua saja, yang tidak melihat penyelesaian masalah-masalah Papua di dalam bingkai RI (seberapa besar golongan ini secara persentase, tidak diketahui karena belum pernah ada referendum); apa yang digambarkan oleh kutipan diatas justru merupakan masalah yang paling krusial dan mendesak sekarang ini: cerita Papua tipu Papua. Cerita yang sudah 10 tahun berjalan sejak era otonomi khusus, dimana semua sektor lokal pemegang kebijakan dan kekuasaan diduduki oleh orang Papua sendiri, disertai limpahan dana yang luar biasa besar untuk mengejar ketertinggalan. Cerita tentang para elit politik Papua yang mengabaikan (atau mengorbankan) rakyat demi kepentingan pribadi dan golongan. Cerita para kepala daerah dan lingkaran birokratnya yang sangat korup, tidak ketinggalan anggota dewan yang seharusnya mengawasi mereka; Cerita tentang ramainya pemekaran wilayah dari Provinsi hingga kampung, tuk menampung aspirasi para elit dan golongan yang tidak kebagian kursi dan guyuran duit; Cerita tentang MRP, simbol kultural orang Papua yang dipecah; Cerita mereka yang peduli pada bangsanya sendiri, dan lebih sering turut dicap separatis; Cerita tentang Jakarta yang mengabulkan apapun juga keinginan para elit Papua, selama kepentingan mereka terjaga; dan cerita tentang rakyat yang lebih banyak menuntut merdeka daripada mengoreksi pemimpin mereka. Pada akhirnya, hanya sebuah perulangan sejarah ketika rakyat Papua dijajah oleh elit politik dan birokratnya sendiri. Sayang sekali, mengingat dana Otsus hanya tinggal 15 tahun lagi. 😉

Akhir kata, Zeph, itu saja dulu ocehan saya. Jelas banyak kekurangannya, tapi semoga memuaskan. 😉

*gambar diambil dari sini*

1 Desember (2009)

1. Sebuah trailer dari film dokumenter Forgotten Bird of Paradise.
2. Resensi tentang film tersebut dan latar belakangnya bisa dibaca disini, disini atau di situs resminya sendiri (saya tidak ulas lagi -kali ini-).
3. Posting sekadarnya ini hanyalah sebuah apdet berkenaan dengan peringatan HUT kemerdekaan Papua yang jatuh pada hari ini (1 Desember). 😉

Blogwalking ke Israel; part three

 

Tidak mengerti komik strip diatas? Ya, tidak mengapa. Saya juga tidak mengerti berminat menjelaskannya.

Sebenarnya saya pengen posting komik strip itu gak lama sesudah Pesta Blogger kemaren, tepatnya habis baca ini, tapi batal karena pengaruh keselnya ternyata lama. Minggu kemaren jadi teringat lagi karena beberapa hal di Fesbuk. Terutama notes masbro Hariadhi soal isu seputar ke-Yahudi-an JHR Kohler, dan sedikit sharing bagaimana hal-hal yang menyangkut Israel, Yahudi atau Zionisme bisa menjadi isu besar di Indonesia. Lalu berikutnya ada omelan beberapa teman saat saya mendukung pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur. Suatu wilayah sengketa berpenduduk -sementara ini- mayoritas Arab yang dicita-citakan menjadi ibukota Palestina merdeka, tapi oleh Israel dianggap sebagai wilayah tak terpisahkan dari Yerusalem barat (ibukota Israel).

Bagi yang masih kurang jelas, isi artikel yang saya link itu adalah tahap kedua dari rencana tiga tahap pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur. Pembangunan tahap kedua itu berlangsung di Nof Zion (atau Noav Tzion), lokasinya bisa dilihat di peta (buatan 2008) dibawah ini. Silahkan klik tuk memperjelas.

Gilo, tahap #1 pembangunan pemukiman, terlihat di sudut kiri bawah peta; sementara Jabbal Al-Mukabber, tahap #3, ada di sebelah barat Nof Zion

Baidewei, artikel detil rencana pembangunan pemukiman yang saya link diatas, saya ambil dari sebuah blog perjuangan Palestina. Blog itu emang agak repot bacanya, loading-nya berat, dan apdet perharinya bisa beberapa artikel sekaligus, tapi isinya lumayan tuk jadi penyeimbang informasi konflik Palestina-Israel dari kubu Palestina. Bagi yang pro perjuangan Palestina, sebaiknya memperkaya wawasan disana saja, daripada misuh-misuh di blog ini yang pemiliknya jelas-jelas zionist. Sementara kalo pengen informasi yang fokus pada aktivitas Israel di “wilayah pendudukan” saja, bisa mengaksesnya di situs ini. 😉

Oh ya, BGM hari ini adalah Beautiful Life dari Ace of Base. (special credit to Rise)

Sampai ketemu di konflik selanjutnya.
*setrika pakaian*

 

Tentang Menegkominfo (yang baru)

Apa saja PR Menteri Negara Komunikasi dan Informasi yang baru dalam 5 tahun ke depan? Kata beberapa sumber sih, tugas-tugas menteri para blogger dan netizen RI itu termasuk penyelesaian proyek Palapa Ring, proyek 7 cincin jaringan serat optik pita lebar di seluruh RI, yang akan menjadi tulang punggung perkembangan telekomunikasi Indonesia di masa depan. Pada infrastruktur itu nantinya akan bergantung banyak penerapan tehnologi, seperti e-payment di perbankan, VOIP di telekomunikasi, e-govt di institusi pemerintahan, e-learning di sekolah-sekolah, dan sebagainya. 😀

peta palapa ring

Semoga nantinya internet kita menjadi lebih cepat lagi. 😉

Selain itu ada pula pelaksanaan hasil tender USO akses telepon bagi 38ribu lebih desa terpencil di seluruh RI, dan berikutnya pelaksanaan hasil tender USO akses internet untuk 4700 desa. Ini penting karena sejauh ini hanya tersedia 6,7 juta SST dibanding 220 juta penduduk, atau hanya 3 telepon per 100 orang. Dan internet masuk desa? Perlu itu… 😉
Berikutnya ada juga masalah registrasi pelanggan selular prabayar, regulasi yang dulunya sempat bikin gugup ini ternyata malah tidak berjalan baik. Inspeksi Ditjen Postel dan BRTI ke sembilan operator seluler menunjukkan persentase data pelanggan yang dianggap valid terbilang rendah. Masih soal seluler ada tugas tentang penerapan Permenkominfo mengenai Standar Kualitas Pelayanan Jasa Telepon Dasar Pada jaringan Bergerak Selular, misalnya jumlah call yang tidak mengalami dropped call dan blocked call harus diatas 90%, serta maksimum 3 menit interval sampainya sms dari pengirim ke penerima harus diatas 75%. Perlu diseriusi juga masalah kode etik iklan operator seluler. Perang tarif dan program promosi dari operator yang sekarang sudah menuju ke tahap pembodohan masyarakat. 😐
Satu isu mahapenting dunia maya, tentu kita semua ingat akan pasal karet didalam UU ITE yang akhirnya memakan korban. Tentunya tidak ada yang ingin hal ini terulang terus. Walopun nantinya menang, tapi kalo musti ke pengadilan kan capek lahir batin. Selain dari UU ITE itu masih ada pula ancaman dari RUU Rahasia Negara, lagi-lagi pasal karet. Menteri kominfo yang baru tentulah harus memperhatikannya. 😉

Yah, begitu banyak tugas-tugas penting menyangkut masa depan bangsa dibidang Komunikasi dan Informasi, dan amanat itu (diproyeksikan -berdasar informasi media massa-) jatuh ke pundak… Tifatul Sembiring! Cih, mengecewakan… 😦

Saya tahu Tifatul Sembiring punya latar belakang IT. Beliau lulusan STIMIK, dan pernah membidangi bidang telekomunikasi dan data processing di PT PLN, bagian Pusat Pengaturan Beban Jawa, Bali, dan Madura. Saya juga percaya pada kemampuan manajerialnya, karena beliau presiden partai besar, dan pasti beliau bakal dibantu banyak pakar IT dalam tugasnya. Tapiiii™, tetap saja saya merasa masih ada pakar-pakar IT profesional yang lebih dewa dari TS, dan lebih pantas jadi menteri negara Kominfo. Dan somehow, saya merasa Pak SBY agak meremehkan arti penting Kementrian Kominfo dengan menjadikannya potongan kue bagi parpol sekutu. 😕

Agak menyebalkan bahwa tren membagi-bagi kue ini tidak berubah juga. Apa yang terjadi 5 tahun lalu ketika SBY adalah Presiden dari partai kecil, dengan sedikit suara di DPR, yang mesti berkoalisi dengan partai Golkar, terulang lagi ketika SBY menjadi Presiden dari partai terbesar, dan partai-partai sekutunya hanya tempelan saja. Padahal IMO kalo politikus-politikus partai kawan itu tidak diakomodir seharusnya tidak masalah. Mau menjadi koalisi karena diakomodir, dan menjadi oposisi karena tidak diakomodir? Begitulah politik praktis! Mati saja..! 👿

Tapi ya nasi sudah menjadi lontong, sudah diputuskan, dan tinggal nunggu dilantik saja. Teman-teman sendiri mungkin juga punya kandidat lain yang dirasa lebih pantas pada posisi menteri-menteri yang lain, tapi toh tidak bisa apa-apa juga. Kita hanya bisa mengawal saja jalannya pemerintahan sambil berharap tidak ditangkap karena tulisan kita. Mau harap siapa lagi kalo oposisi di Gedung Dewan begitu kecil? :mrgreen: Hedoop pemerintahan absolut!
Bagaimanapun juga, tulisan ini sesungguhnya hanya lahir dari firasat buruk sahaja. Firasat buruk tentang seorang pemimpin partai islam yang akan menjadi administrator internet di negeri ini. Firasat buruk bahwa barangkali dalam lima tahun kedepan (atau mungkin minggu depan) mendadak saya tidak bisa lagi memposting ********, mengakses situs *********, atau mendonlot film-film ***** *****, atau ntahlah. Kalian tentu mengerti maksudnya. :mrgreen:

Hari ini Pak SBY dan Pak Boediono dilantik, dan saya turut senang. Ada banyak rancangan besar mereka (dan kabinetnya) untuk bangsa ini, yang semuanya harus dijalankan dengan anggaran terbatas, sambil berharap tak ada bencana alam atau krisis ekonomi lagi. Semoga lancar jaya. Sukses, pa’bos!!! 😀

Blogwalking ke Cookie Jar

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan lagi sebuah komik strip menarik saat sedang blogwalking. Namanya Cookie Jar. Komik strip ini digambar oleh Rajan Sedalia, seorang seniman Amerika kelahiran 73. (Wikipedia). Komik strip yang digambarnya sangat unik, karena menampilkan sperma dan sel telur sebagai tokoh utamanya. Dengan karakter utama yang seperti itu, tentu saja setting tiap kisahnya ada didalam vagina! 😀

Sejauh yang bisa saya mengerti, kisah-kisah dalam komik strip beliau menggambarkan masalah relationship, politik, seks, sosial, ekonomi, dan berbagai isu-isu dalam negeri AS lainnya yang kadang-kadang agak sulit saya pahami (maklum, orang Indonesia). Bahkan pemilu AS tahun lalu mendapat cukup banyak porsi. Tentu saja Rajan menyampaikannya dengan “bahasa selangkangan”. Nakal tapi jenius! :mrgreen:

Sayang sekali temen kita Catshade sedang hiatus, padahal blogger ini pengamat ahli komik strip online yang biasanya bakal menjelaskan dengan lebih baik. 😛

Seperti biasa, saya menampilkan beberapa contoh untuk dinikmati bersama, apabila terlihat terlalu kecil, klik saja pada gambarnya. 😉

spermhomelandsecurity

Keamanan dalam negeri

031407spermeggcheatliarcartooncomiclove

Selingkuh & kebohongan

122506spermegghandsfreecartooncomiclove

Handphone (hadiah akhir tahun)

RajanCartoon7a

Pria dan komitmen

041207spermeggrealitytvcartooncomiclove

Reality Show

110406spermeggmbacartooncomic

Nilai gelar MBA

Apabila suka, silahkan baca-baca yang lainnya di blog aslinya. Semoga menghibur… 😉

Reaksi dari (warga) Malaysia?

syabas

Itu skrinsyut dari komen terakhir di post Don’t fuck with our Pendet! Baru saja dibebaskan dari akismet. Kelihatannya kiriman warga negara-tetangga. Ntah kenapa pake nama syabas…

Membaca komen itu, saya jadi inget tulisan masbro gentole kemarin:

It maybe true that many Malaysians suffer a sort of superiority complex and there’s a lot to be done to protect our migrant workers there; but telling the whole world that Malaysia has stolen many of our cultures is downright childish. I am surprised and also irritated to know that our media have blatantly show their nationalistic point of view in presenting all the “Ganyang Malaysia” stories.

:mrgreen:

Ya, intinya sih, apa memang mereka sering cari masalah, atau orang kita (atau media kita) terlalu bereaksi berlebihan ya? 🙄


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Juli 2018
M S S R K J S
« Apr    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter

Iklan