Archive for the 'Sosio-Politik' Category

Coblosan saya

Setelah lima tahun lalu mencontreng, pemilu legislatif tahun ini kembali ke sistem mencoblos. Sebagai warga negara yang kebagian undangan tuk memilih, saya pun memanfaatkan hak suara saya di TPS yang hanya sepelemparan batu dari rumah. Memilih anggota legislatif selalu sulit dengan banyak variabel, tapi tetap harus memilih kan? Maka dengan sejumlah pertimbangan inilah calon-calon yang mendapatkan suara saya di pemilu legislatif 2014 ini:

Tuk DPR-RI:
Laksdya (purn) Freddy Numberi. Partai Gerindra nomor urut 1.
Mantan gubernur Papua ini bukan nama yang asing di level nasional karena beberapa kali menjadi menteri. Menariknya, lima tahun silam saya juga memilih orang ini di level yang sama tetapi dari partai Demokrat. Pilihan yang sia-sia karena sesudah terpilih tuk ke Senayan, beliau dipanggil SBY untuk menjadi menteri perhubungan. Jabatan itu hilang saat reshuffle kabinet terakhir dan sepertinya beliau tersingkir pula dari Demokrat sehingga jadi petualang politik ke Gerindra. Rekam jejak 5 tahun terakhir mungkin tak mengesankan, tapi saya punya alasan tersendiri.
1. Ditengah gencarnya dukungan buat Jokowi lewat PDIP, saya ingin Prabowo bisa jadi kandidat penyeimbang tuk capres, karena itu saya menyumbang suara untuk Gerindra
2. Caleg-caleg DPR-RI tuk Papua dari partai-partai nasionalis lainnya tidak ada yang menarik. Jadi anggaplah ini pilihan teraman dari yang terburuk.

Keep on reading!

Iklan

Papua, sekilas masalah

Sabtu, 15 September 2011 jam 08:33 pagi, sebuah FaceBook message masuk dari teman saya Zeph Siddarth:

Seorang teman yang baru pulang dari Papua bercerita, bahwa kesenjangan antara penduduk asli dan pendatang itu memang ada, bahwa kesenjangan pembangunan antara Papua dan pusat (Jakarta) itu memang sangat mencolok, bahwa sebagian besar hasil sumber daya alam memang untuk “Jakarta”, bahwa ada memang pejabat di Papua yang lebih suka “kunjungan” ke Jakarta daripada “mengurus” keadaan Papua, sehingga “dirasa wajarlah” ketika teriakan untuk merdeka itu masih ada, konon kata teman saya itu, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pola penjajah.

Satu pendapat dari Acemoglu adalah perbedaan dari siapa penjajah mereka dan bagaimana mereka menjajah. Tapi pertanyaannya lagi adalah, mengapa para penjajah bisa berbeda memperlakukan wilayah jajahannya. Jawaban Acemoglu adalah malaria. Wilayah dengan tingkat malaria tinggi membuat penjajah tidak nyaman membangun peradaban di sana, mereka lebih memilih eksploitasi sumber daya alam dan kemudian pergi. itulah yang membedakan jajahan Inggris di Asia dengan jajahan Belgia di Afrika.

Mengapa Papua jauh tertinggal ketimbang wilayah bekas jajahan Belanda lainnya di nusantara. Ketika Belanda membangun kota dan sistem pemerintahan yang mapan terutama di Jawa dan Sumatera sementara di Papua, Belanda hanyalah menjadi rampok di malam hari. Tentu saja alasannya adalah malaria.

Seorang teman bercerita jika di Jawa dulu Belanda masih mau mengajarkan banyak hal, sementara di Papua, Belanda setiap pagi memberikan susu dan roti kepada penduduk setelah mengambil hasil alam mereka.

Dan sebagai orang yang tinggal dan hidup di Papua, apa opini Bang Jensen menaggapi hal tersebut. Terima kasih sebelumnya ^.^

Ah, pertanyaan yang menarik. Kalau dipendekkan saja masalahnya jadi bagaimana ini ya? Ketika Belanda menjajah Papua mereka tidak membangun karena faktor malaria, lalu.. ketika Indonesia menjajah menganeksasi Papua mereka juga ikut-ikutan tidak membangun karena malaria? Sehingga orang Papua yang tidak puas dengan keadaan ini kemudia minta merdeka. Begitu? 😕

Keep on reading!

1 Desember (2009)

1. Sebuah trailer dari film dokumenter Forgotten Bird of Paradise.
2. Resensi tentang film tersebut dan latar belakangnya bisa dibaca disini, disini atau di situs resminya sendiri (saya tidak ulas lagi -kali ini-).
3. Posting sekadarnya ini hanyalah sebuah apdet berkenaan dengan peringatan HUT kemerdekaan Papua yang jatuh pada hari ini (1 Desember). 😉

Blogwalking ke Israel; part three

 

Tidak mengerti komik strip diatas? Ya, tidak mengapa. Saya juga tidak mengerti berminat menjelaskannya.

Sebenarnya saya pengen posting komik strip itu gak lama sesudah Pesta Blogger kemaren, tepatnya habis baca ini, tapi batal karena pengaruh keselnya ternyata lama. Minggu kemaren jadi teringat lagi karena beberapa hal di Fesbuk. Terutama notes masbro Hariadhi soal isu seputar ke-Yahudi-an JHR Kohler, dan sedikit sharing bagaimana hal-hal yang menyangkut Israel, Yahudi atau Zionisme bisa menjadi isu besar di Indonesia. Lalu berikutnya ada omelan beberapa teman saat saya mendukung pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur. Suatu wilayah sengketa berpenduduk -sementara ini- mayoritas Arab yang dicita-citakan menjadi ibukota Palestina merdeka, tapi oleh Israel dianggap sebagai wilayah tak terpisahkan dari Yerusalem barat (ibukota Israel).

Keep on reading!

Tentang Menegkominfo (yang baru)

Apa saja PR Menteri Negara Komunikasi dan Informasi yang baru dalam 5 tahun ke depan? Kata beberapa sumber sih, tugas-tugas menteri para blogger dan netizen RI itu termasuk penyelesaian proyek Palapa Ring, proyek 7 cincin jaringan serat optik pita lebar di seluruh RI, yang akan menjadi tulang punggung perkembangan telekomunikasi Indonesia di masa depan. Pada infrastruktur itu nantinya akan bergantung banyak penerapan tehnologi, seperti e-payment di perbankan, VOIP di telekomunikasi, e-govt di institusi pemerintahan, e-learning di sekolah-sekolah, dan sebagainya. 😀

peta palapa ring

Semoga nantinya internet kita menjadi lebih cepat lagi. 😉

Selain itu ada pula pelaksanaan hasil tender USO akses telepon bagi 38ribu lebih desa terpencil di seluruh RI, dan berikutnya pelaksanaan hasil tender USO akses internet untuk 4700 desa. Ini penting karena sejauh ini hanya tersedia 6,7 juta SST dibanding 220 juta penduduk, atau hanya 3 telepon per 100 orang. Dan internet masuk desa? Perlu itu… 😉
Berikutnya ada juga masalah registrasi pelanggan selular prabayar, regulasi yang dulunya sempat bikin gugup ini ternyata malah tidak berjalan baik. Inspeksi Ditjen Postel dan BRTI ke sembilan operator seluler menunjukkan persentase data pelanggan yang dianggap valid terbilang rendah. Masih soal seluler ada tugas tentang penerapan Permenkominfo mengenai Standar Kualitas Pelayanan Jasa Telepon Dasar Pada jaringan Bergerak Selular, misalnya jumlah call yang tidak mengalami dropped call dan blocked call harus diatas 90%, serta maksimum 3 menit interval sampainya sms dari pengirim ke penerima harus diatas 75%. Perlu diseriusi juga masalah kode etik iklan operator seluler. Perang tarif dan program promosi dari operator yang sekarang sudah menuju ke tahap pembodohan masyarakat. 😐

Keep on reading!

Blogwalking ke Cookie Jar

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan lagi sebuah komik strip menarik saat sedang blogwalking. Namanya Cookie Jar. Komik strip ini digambar oleh Rajan Sedalia, seorang seniman Amerika kelahiran 73. (Wikipedia). Komik strip yang digambarnya sangat unik, karena menampilkan sperma dan sel telur sebagai tokoh utamanya. Dengan karakter utama yang seperti itu, tentu saja setting tiap kisahnya ada didalam vagina! 😀

Sejauh yang bisa saya mengerti, kisah-kisah dalam komik strip beliau menggambarkan masalah relationship, politik, seks, sosial, ekonomi, dan berbagai isu-isu dalam negeri AS lainnya yang kadang-kadang agak sulit saya pahami (maklum, orang Indonesia). Bahkan pemilu AS tahun lalu mendapat cukup banyak porsi. Tentu saja Rajan menyampaikannya dengan “bahasa selangkangan”. Nakal tapi jenius! :mrgreen:

Sayang sekali temen kita Catshade sedang hiatus, padahal blogger ini pengamat ahli komik strip online yang biasanya bakal menjelaskan dengan lebih baik. 😛

Seperti biasa, saya menampilkan beberapa contoh untuk dinikmati bersama, apabila terlihat terlalu kecil, klik saja pada gambarnya. 😉

spermhomelandsecurity

Keamanan dalam negeri

Keep on reading!

Reaksi dari (warga) Malaysia?

syabas

Itu skrinsyut dari komen terakhir di post Don’t fuck with our Pendet! Baru saja dibebaskan dari akismet. Kelihatannya kiriman warga negara-tetangga. Ntah kenapa pake nama syabas…

Membaca komen itu, saya jadi inget tulisan masbro gentole kemarin:

It maybe true that many Malaysians suffer a sort of superiority complex and there’s a lot to be done to protect our migrant workers there; but telling the whole world that Malaysia has stolen many of our cultures is downright childish. I am surprised and also irritated to know that our media have blatantly show their nationalistic point of view in presenting all the “Ganyang Malaysia” stories.

:mrgreen:

Ya, intinya sih, apa memang mereka sering cari masalah, atau orang kita (atau media kita) terlalu bereaksi berlebihan ya? 🙄


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Januari 2019
M S S R K J S
« Des    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter

Iklan