Posts Tagged 'Curhat'

Saya dan Komunitas Blogger (Jayapura)

Yasudah Jens, kau buat sajalah komunitas blogger disana. Biar cuma dua orang gakpapa.

~Blogger C, dari komunitas C di kota C, via telepon milik blogger F, dari komunitas F di kota F, sesaat setelah keduanya bertemu menjelang acara Asean Blogger Community, Bali. Saat itu C bertanya mengapa saya tidak datang ke Bali, yang saya jawab kalau blogger non komunitas itu tidak diperhitungkan dalam acara-acara blogger, makanya saya tidak diundang.*

*inisial nama orang, nama komunitas dan nama tempat bukanlah yang sebenarnya

Yah, jawaban itu bercanda, memang, karena waktu ada blogger lain lagi yang menanyakan hal yang sama, saya menjawab kalau Papua belum merdeka, dan belum menjadi anggota ASEAN, karena itu perwakilan bloggernya tidak diundang. 😆
Tapi candaan itu bukan ide baru sebenarnya. Teman-teman yang sering baca blog ini pasti inget kalau saya sudah pernah ocehkan hal tersebut dua tahun silam. Saat itu Pesta Blogger Nasional 2009, yang tidak bisa saya hadiri. Dalam sambutan yang sudah tidak bisa lagi saya temukan arsipnya di situs resmi, ketua panitia ngomong begini:

Keep on reading!

Quote of the Day (7)

Peringatan: ini cuma curhat. Kalau bukan teman saya tidak usah baca, silahkan blogwalking ke blog lain saja. 😉

Dibiarkan pun segala sesuatunya akan mengalir ke arah yang seharusnya mereka mengalir. Dan betapapun kita berusaha melakukan yang terbaik, seseorang kalau sudah waktunya terluka akan terluka juga. Seperti itulah hidup, suka atau tidak, kadang tidak banyak yang bisa kita lakukan soal itu.

~yud1; 12 April 2011, 08:07PM. FB status

Iya, saya lagi terluka akhir-akhir ini. Hasil dari pertemanan(?) yang gagal dengan seseorang. Dan seperti kata yud1 diatas: memang sudah waktunya. Soalnya ini akumulasi dari berbagai pertengkaran perbedaan pendapat selama berbulan-bulan. Tapi saya sok optimis, berpendapat kalo segala masalah pasti ada jalan keluarnya kalau mau sabar dan toleran. Akhirnya waktu sadar kalo gak ada gunanya mempertahankan pertemanan itu, kerugian yang saya alami sudah jauh melewati batas kemampuan saya tuk memperbaikinya. Bodoh sendiri, sering nasihati orang kalo kehilangan satu-dua teman gak masalah daripada sering makan hati, tapi sendirinya selalu ragu tuk eksekusi hal yang sama.

Ya sudahlah, sudah terlanjur hangus. Renungkan saja jadi pelajaran hidup. Seperti satu kalimat bagus yang saya pelajari dari sini:

Losing such a friend can make you doubt your character and personality, and makes you ask, “If only I had not done this or said that…” but also you find yourself wondering “If only I didn’t care so much about this person…”

BTW, sekarang orangnya sadar saya sakit hati, trus minta maaf. Tentu sudah kumaafkan, tapi ya cuma segitu. Tidak menyembuhkan luka, sayangnya… 😐

Lose-lose Solution

Kemarin malam, seorang kawan menyapa saya via Y!M dengan nada panik sesaat sesudah Y!M saya aktifkan.
“Mas, dah saya tunggu dari tadi. Saya ada masalah super pelik!”
“He?”
Okay, saya memang sering jadi tempat curhat dan konsultasi, di dunia nyata maupun maya, tapi jarang yang setergesa ini. Belum juga saya bertanya…
“Saudara perempuan saya dipaksa nikah!”

Ugh, okay, this is shit…

“Siapa yang paksa menikah?”
Refleks investigasi saya langsung bereaksi dengan mengumpulkan informasi.
“Ibunya. Keluarga menilai calon mantu yang dipilih mereka itu baik, padahal saudari saya tahu bagaimana brengseknya orang itu!”
“Umur berapa si cewek?”
“21, mas. Pernikahan ala Siti Nurbaya ternyata masih ada ya~”

Ya, masih ada. Saya membatin. Pikiran saya melayang ke kasus-kasus sikap-otoriter-orangtua serupa yang pernah saya temui pada teman dan kenalan. Mereka yang dinikahkan paksa untuk memuaskan hasrat orangtua, dan ada juga yang tuk mbayar hutang. Atau pada tingkat yang lebih rendah, mereka-mereka yang tidak direstui melanjutkan hidup dengan pasangan pilihannya. Orangtua pasti tau yang terbaik? Sebodoh itukah kita?

Keep on reading!


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
September 2021
M S S R K J S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter