Posts Tagged 'jakarta'

Nostalgia Pesta Blogger: Pesta Blogger Nostalgia

Makasih tuk foto ini ya, Dewi

Eh, ko Agustus sibuk ka tidak? Kalo ko sempat, sa mau undang ko datang ke acara pernikahanku di Bali πŸ™‚ ,
Acaranya tanggal 10 dan 11 Agustus. Akomodasi tempat tinggal buat tamu kita sediakan buat 2 malam itu. Tiketnya sih yang kemungkinan agak mahal. Ko kan sa punya teman paling lama sejak kita kecil, best friend gitu lah… hehehe jadi sa ingin sekali ko bisa hadir di hari pentingku ini πŸ˜‰ Sa tau memang untuk tiketnya bakalan agak berat sih, jadi coba ko cek suda kira2 harga tiketnya berapa, nanti sa bantu, bagaimana?
Sa sangat berharap ko bisa datang…
Kasi kabar e…

Demikian bunyi sepotong pesan via FB Messenger yang kuterima dari sahabat dekatku, Johan, yang saat itu seingatku sedang berada nun jauh di negara lain. Ketika itu bulan Juni 2010, 4 bulan sebelum Pesta Blogger 2010.

Dengan Omded, Enda, Omith, Ndoro etc

Jumat malam, 27 Oktober 2017 di Restoran Omah Sendok, daerah Senopati, Jakarta, saya menghadiri acara kecil Pesta Blogger Nostalgia 2017. Kopdar terbatas (karena tempatnya terbatas) blogger-blogger yang rindu ngumpul ala Pesta Blogger 2007-2010 silam. Banyak wajah lama muncul di situ, orang-orang yang dulu meramaikan blogsphere nasional. Sebuah sukacita dan kebanggaan bisa menjadi bagian dari acara kopi darat itu, dan tentu saja sebuah privilege, kalau kata pacar saya. Iya, hak istimewa. Karena tidak semua blogger bisa menjadi bagian sejarah yang bernama Pesta Blogger, baik dulu maupun kemarin.

Dengan om Nukman, Didut, Pitra, Fikri, Om Yahya, Adham, Omith, Fany, Nena, Nonadita, etc

Layar proyektor di Omah Sendok tak putus menanyangkan berbagai momen dari acara Pesta Blogger 2007, 2008 dan 2009. Saya berdiri menatap foto-foto yang bergantian itu. Mengenang kembali keriuhan blogsphere tiap akhir Oktober dulu ketika ramai-ramai muncul posting tentang Pesta Blogger. Tema nostalgia memang kuat di acara ini. Selain momen di layar, juga lewat dekorasi dan games yang dimainkan. Saya juga bernostalgia sendiri mengenang kehadiran di Pesta Blogger 2010, Pesta Blogger satu-satunya yang pernah kuikuti. Tidak mudah pergi ke Pesta Blogger dan ada alasan tak terbantahkan kenapa itu privilege alias istimewa: JAUH. Iya, jauh. Pesta Blogger selalu diadakan di Jakarta, Sehingga butuh usaha ekstra tuk blogger luar Jakarta menghadiri Pesta Blogger. Buat saya yang pengangguran dan berdomisili di ujung timur negara luas ini, pergi ke Jakarta saat itu dengan biaya sendiri adalah kemustahilan. 😦

Dengan Swastika

Saat Pesta Blogger 2007 dan 2008 berlangsung, saya masih merasa cukup ngeblog hanya dengan posting dan blogwalking, tetapi sesudah punya banyak teman di dunia maya dan melihat begitu banyak postingan kopdar, saya sungguh ingin kopdar juga seperti teman-teman lain. Keinginan tak kesampaian itu lama-lama menjadi rasa frustrasi yang memuncak pada perhelatan Pesta Blogger 2009 yang juga gagal saya hadiri. Saat itu ngeblog masih ramai komentar, cukup terhibur melihat ramainya teman yang peduli atau senasib. Satu komentar dari Ainun Nazieb disitu ternyata menjadi nubuat: see ya next year bro πŸ˜€

Dengan Pitra, Nath, Iphan, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Dimas

Hari-hari berlalu tanpa harapan sampai akhirnya pesan lewat Facebook di atas itu tiba. Undangan pernikahan di Benoa, Bali, Agustus 2010. Singkat cerita, keluarga Johan memutuskan menanggung seluruh keberangkatan dan kepulangan saya, juga akomodasi selama acara. 8 Agustus 2010, saya berangkat ke Denpasar. Pertama kali ke luar kota setelah tujuh tahun. Perjalanan saya ke Bali menghadiri pernikahan Johan nantinya menjadi awal petualangan panjang demi menghadiri Pesta Blogger 2010 di Jakarta. Dua setengah bulan mengembara di 4 Provinsi, menumpang di rumah dan kamar berbagai sanak famili dan teman. Mungkin cerita dari perjalanan ini akan saya bagi di postingan lain. Banyak cerita suka duka di situ termasuk cerita segala kopdar atau dimarahi keluarga yang menganggap saya menelantarkan orang tua di rumah. πŸ™„

Dengan Saiful, Utet, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Icit

Jarak ke Jakarta tidak jadi mendekat sesudah mengikuti Pesta Blogger 2010. Saya masih tetap blogger Jayapura yang kejauhan kalau pengen ngumpul dengan blogger dari kota lain. Sebuah kebetulan bahwa kemarin saya sedang ngekos di Salatiga dan mampu ke Jakarta, tapi kopdar bukan lagi pengalaman tak terjangkau. Banyak sudah teman ditemui, bahkan dari saat acara nostalgia ini sampai saat postingan ini ditulis, sudah berjumpa dengan tiga kawan blogger untuk yang pertama kalinya. πŸ˜€

Yang di meja sebelah kanan: Rere, Swastika, mbak Eny, Dewi etc

Malam beranjak larut. Pesta pun usai setelah pelepasan balon. Saya masih minta panitia tuk foto bersama yang sayangnya tidak diikuti oleh teman-teman yang terlanjur pulang duluan. Tak ada lagi after party seperti dulu. Hanya ada orang-orang yang sibuk menanti ojek/taksi online. Usai sudah nostalgia, segala kenangan kehebohan tren sesaat yang namanya ngeblog itu. Mari kembali ngobrol di media sosial dan grup chat, dan apabila sempat berdekatan, mari kopdar. πŸ˜‰

Iphan, Yudis, etc etc Nico :))

Iklan

Saat Cebongan Prison Raid terjadi, saya sedang di Jogja…

Suatu hari di Cileungsi…

Simbok: “[…] kamu harus pergi kesini, dan kesana, dan kesitu.. Bagus banget tempatnya… (menyebutkan beberapa tujuan wisata dengan pemandangan indah, sambil menunjukkan foto-foto yang bikin ngiri)
Saya: “nanti deh mbok. Saya gak ada teman yang mo ditemui kalo pergi ke tujuan-tujuan itu.. :mrgreen:
Simbok: πŸ˜†

Well, suatu hari nanti saya pasti akan ada di jejak para bloherβ„’ traveler itu, pergi ke tempat-tempat eksotik. Tapi tuk saat-saat ini, catatan perjalanan saya masih akan dipenuhi cerita-cerita bertemu sesama teman onlen. *lirik jurnal* :mrgreen:

Nah, saya sudah 6 hari di rumah di Jayapura usai 3 bulan keluar kota. Perjalanan yang menarik dan bikin tambah gemuk. Kembali ke Salatiga usai dari Jakarta akhir Februari itu, saya akhirnya sempat pergi sehari ke Semarang hari Rabu siang tgl. 6 Maret. Ketemu Neng Ocha disana. Kali kedua ketemu sejak PB10, dan pertama kali ngobrol panjang. πŸ˜€ Semarang ini kota yang besar. Kuharap lain kali saya bisa bermalam dan keliling-keliling di kota ini. πŸ™‚

Sabtu, 10 Maret 2013, saya disummon mbak Ainun yang lagi mudik ke Salatiga tuk menghadiri Akber Salatiga di Balai Dukuh. Dasar ndeso, walo dah datang sejak acara belum mulai saya gak berani masuk sampai pertengahan acara nunggu SMS konfirmasi dari mbak Ai (yang tentu saja lagi konsen ke pembawa materi) karena merasa gak ikut ndaftar. πŸ˜† In th e nd saya akhirnya masuk, ikut sisa acara, kenalan dengan Ika, deputi akber setempat; Yoan & Fafa, yang ngajar hari itu, dan entah siapa lagi kawan-kawan mbak Ai. Saya juga dapet buku “Perempuan yang Melukis Wajah” dengan tandatangan mbak Ai. Acara hari itu ditutup dengan makan siang bareng dan wisata keliling kota naik delman. Macam turis saja. Thanx banget mbak. πŸ˜€

akber 1

Mbak Ai dan saya beserta Ika, Fafa, Yoan, dan peserta Akber

2 hari berikutnya, 12 Maret. Setelah mengeluh sakit pada jantung beberapa hari terakhir, saya akhirnya nemani nyokap check up ke Madiun. Sekalian ketemu dokter tulang. Rencananya saya hanya mengantar saja lalu pulang ke Salatiga sementara nyokap tetap tinggal disana. Sampai di Madiun nyokap berubah pikiran, jadilah saya tinggal seminggu di Madiun. Sayang banget di kota ini gak punya temen. Saya hanya jalan-jalan sekadarnya berdasarkan panduan dari Yudhi Prasetyo via HP. Thanx bro. πŸ˜‰

Seminggu kemudian, Selasa 19 Maret siang, saya sudah dalam perjalanan balik ke Jawa Tengah. Nyokap tetap di Madiun tuk lanjut ke Kupang hari berikutnya, dijemput kakak sepupu dari sana. Kali ini memutuskan turun di Solo. Ini pertama kali menginjakkan kaki di Solo setelah 20 tahun, padahal kampung halaman sendiri. Dijemput pakde Blontank dekat hotel Sunan, langsung menuju ke Rumah Blogger Indonesia (RBI) & melapor ke Hendri yang jadi tuan rumah. RBI itu markas yang hebat. Saya bisa onlen dengan kencang sekuat saya mampu bertahan di depan PC. :mrgreen: Jalan-jalan malam plus makan malam bareng Hendri, lalu besoknya jalan-jalan pagi plus makan pagi bareng pakde Blontank. Rabu siang meluncur pulang ke Salatiga dengan oleh-oleh kaos, blontea dan undangan lisan tuk datang lagi bulan Mei. πŸ˜€

x2_11240469 crop_resize_resize

Di halaman istana Mangkunegara

Sampai Salatiga dengan muka datar. Rumah kebanjiran malam sebelumnya. Dan ransel (yang kutaruh di lantai) beserta isinya basah semua. Dua hari saya sibuk ngeringkan jurnal. Untung ditulis loose leaf, bisa dipisah-pisah dari binder-nya tuk dijemur. Catatan harian saya hitam semua karena tintanya meleleh. Syukur masih bisa terbaca tuk buat postingan ini. :mrgreen:

Jumat, 22 Maret 2013. Saya ke Jogja lagi tuk kunjungan 5 hari hingga Rabu (27/4). Kali ini Celo yang berbaik hati memberikan tumpangan dan pinjaman motor karena GunRud sedang keluar kota. Kali ini dateng mo ngambil HDD External rusak yang kutitipkan tuk diperbaiki saat terakhir datang. Ternyata tetap tak bisa berfungsi kembali. Ya sudahlah. Lanjut ke tujuan berikut yaitu belanja suvenir buat ortu di Malioboro, dari topi, kipas, tas sampai daster. :mrgreen:
Kali ini, selain ketemu lagi dengan teman-teman baik yang dah nemui saya kemaren seperti Celo, Kitin, Mansup, Matilda, Anno dan Putro, ada teman-teman lain di Jogja juga yang baru sempat ketemu: Funkshit, Enthong, Hamid (3 orang ini baru kulihat lagi sejak PB Jogja 10 :mrgreen: ) plus Arga, Novi dan Karlina. Senang ketemu kalian semua. πŸ™‚
Tapi kopdar paling istimewa di Jogja adalah bertemu teman-teman dari Jawa Timur; Blogger Malang, Mbakneng (22-23/4) dan blogger Banyuwangi, Nurma (25/4). Walo tak banyak ngobrol karena keduanya ke Jogja dengan suami masing-masing tuk urusan keluarga, sudah sah banget disebut kopdar, dan mengurangi tanggungan saya tuk berkunjung ke kota mereka. :mrgreen:

2 April 2013, berangkat dari Semarang dan transit di Surabaya, saya tiba di Kupang. Sudah 10 tahun tidak pulang kesini, ke kota yang dipenuhi keluarga besar dari pihak nyokap. Kaget juga keponakan saya sudah bertambah banyak sekali! Sebenarnya saya tak kenal bloherβ„’/onliner siapapun disini, tapi atas inisiatif Almas dan keajaiban twitter, saya akhirnya kopdar dengan Inda Wohangara (yang ternyata teman sepupu saya) dan Dicky Senda, para bloher dari komunitas Flobamorata. Kawan-kawan saat itu sedang sibuk dengan acara-acara menggalang dana tuk pengungsi letusan gunung Rokatenda. Salut tuk usaha mereka. πŸ™‚

Sebenarnya nyokap hanya berencana seminggu di Kupang, ngambil barang tuk kemudian kuantar pulang ke Jayapura. Apa daya, kakak tertua nyokap yang masih hidup ingin kami tuk tetap di Kupang hingga acara pesta nikah emas kakak kedua nyokap tgl. 20 April. Bude ini dan suami dia dulu yang menyekolahkan dan menikahkan nyokap, sementara tiga anak-anak mereka yang tertua mengasuh saya ketika kecil di Malang. Apalagi acara ini akan jadi reuni keluarga besar. Lebih dari selusin keluarga bahkan datang dari Jawa. Merasa nyaman di Kupang, sayapun santai saja. 3 minggu menanti kurasa terbayar lunas banget usai pesta nikah emas itu. Senang banget ketemu banyak saudara dan keluarga. Tiap orang punya penjelasan panjang kek “ini anaknya si anu. Neneknya dia itu anak dari sepupunya kakek yang blablabla..” *bengong* πŸ˜† Sebagai perantauan di Papua yang jarang pulang, sesekali berada di tengah akar sendiri membawa perasaan melankolis. Sayang bokapku gak bisa ikutan. Syukurnya kaki nyokap dah cukup baik tuk bisa mengikuti keseluruhan acara tanpa gips dan tongkat. πŸ™‚

_JPG6860_resize kecil crop

Keluarga besar Papi Pim de Kock & Mami Jemi Kedoh. Saya ketiga dari kiri.
#NikahEmas

Selasa 23 April, saya dan nyokap ke Jakarta, transit 2 hari tuk jenguk tante di Cinere yang sudah lumayan pulih dari serangan stroke bulan lalu. Ada kesempatan tuk bisa jalan-jalan ditengah waktu yang mepet. Ketemu lagi dengan Sunako Nakahara, Eka Situmorang dan Hoek Soegirang; lalu bertemu Yudi Prasetyo, Daniel, Priska dan Icit yang keempatnya terakhir kujumpai di Jakarta 2 tahun silam. Bahkan ada Almascatie pula yang baru kopdar sejak 2010. Sedekat dekatnya Ambon dan Jayapura, kami ketemu selalu di Jakarta. :mrgreen:
Via Almas dan Ajeng, saya kenalan juga dengan Frenavit, Suryo Brahmantyo, Utieed -yang sebenarnya sering nongkrong disebelah saya saat saya di Jogja karena beliau teman baik Celo- dan sepupu dia Meita. Senang ketemu kalian semua. πŸ™‚

dengan priska

Dnial, yud1, Hoek, Almas, Priska & saya.

Sabtu pagi 27 April saya dan nyokap balik ke Jayapura. Saya 3 bulan away, dan nyokap tiga kali lipatnya. Senang tidur lagi di kasur sendiri, ketemu teman-teman, ketemu SNSD di PC sendiri, dan segala suka duka di kota kecil ini. Tapi tak bisa santai-santai. 5 hari lagi, 8 Mei, kalo Tuhan mengijinkan, saya akan ke Solo, memenuhi undangan dari pakde Blontank kemarin & panitia ABFI. Semoga ada lebih banyak cerita lagi yang bisa dibagi.

Kamu, kapan terakhir ketemu teman di kota lain? πŸ˜‰

Jakarta, revisited

Sabtu, 23 Februari 2013, akhirnya saya dan nyokap ke Jakarta, menjenguk kawan beliau (sudah seperti keluarga bagi kami) yang kumat sakit ginjalnya di RS Cikini. Ngebut ke Solo pagi-pagi karena harus check-in lebih awal berhubung nyokap perlu pakai kursi roda. Nyampai di Bandara Adi Sumarmo jam 9.30AM. Telat 15 menit dari seharusnya. Buru-buru ke counter Sriwijaya Air malah penerbangan kami delay hingga 12.25PM. Kata tukang pel deket toilet: “Sriwijaya delay? Sudah biasa mas…” πŸ‘Ώ Delay berlanjut hingga 1PM hingga baru take-off 30 menit kemudian. Keluar dari Soekarno Hatta sekitar 3PM, dan baru sampai di Cinere 7PM (sempat singgah beberapa menit di RS Cikini). Batal sudah rencana malam mingguan di Jakarta. Tidak akan pernah jelas kapan akan ke Jakarta lagi kan? Jadi walopun misi utama nganter nyokap, harus tetap nyuri kesempatan tuk kopdar. Jangan sampai jadi Mike Collins. πŸ™‚

Minggu, 24 Februari 2013.
Susah skip gereja kalo di Cinere (Saya benci dipaksa beribadah, tapi sudahlah…), jadi saya ke gerejaku yang lama, IES South deket Pondok Indah. Saya sudah gak dikenali pastor lagi. Dikira pengunjung perdana. πŸ˜† Bubar gereja jam 10an, bingung mau kemana. Akhirnya ke Blok M, cari tempat yang agak ditengah, biar gampang kemana-mana siapa tau ada teman yang lagi di jalan. Lima blogger seleb yang dihubungi ternyata tiada yang bisa keluar, sementara Alex Hidayat yang katanya ke Kampung Rambutan, konon error telpon selularnya. Akhirnya janjian dengan Hoek Soegirang di Kopitiam Oey Jln. Sabang. Nyampe sana pas tengah hari, ketemu Hoek dan langsung ditraktir macam-macam (soto Tangkar disitu asli enak) sambil ngobrol segala macam. Seneng banget. Blogger legendaris ini. Dari jaman jahiliyah dulu baru ketemu sekarang. Sudah bukan admin warnet yang kusut lagi, sekarang pejabat di Kopitiam. πŸ˜€ Siang itu Alex Hidayat sedang ada di Kalibata, tapi rupanya tak bisa nyusul karena bareng keluarga. Moerjanto nyusul jam 5PM, dan masih ikut ngobrol sampai usai sholat magrib. Menjelang 7PM, kami bertiga cabut bareng dari Kopitiam Oey ke halte Busway terdekat. Moer pulang, sementara saya dan Hoek lanjut ke ITC Fatmawati. Ada kopdar berikutnya deket situ. Sekitar 8.30PM Joe Satrianto dateng mengojek Oelpha. Karena nasi kucing yang jadi tujuan semula tutup, kami nongkrong di Sevel Fatmawati hingga 10.30PM. Kopdar berempat yang menyenangkan, dan saya masih bisa loncat ke Metromini tuk pulang ke Cinere, walopun nyampe rumah jam 11.30PM. πŸ™‚

Senin, 25 Februari 2013.
Sehari yang hilang percuma karena harus nganterin nyokap ke Cikini. πŸ‘Ώ

Selasa, 26 Februari 2013.
Jam 10.20AM saya sudah cabut dari rumah. Naik angkot 110 dari Cinere ke terminal Depok, lanjut angkot 112 ke Kampung Rambutan, lanjut lagi angkot 121 ke Cileungsi, lanjut lagi angkot 92 ke arah Bantar Gebang, turun di komplex Cileungsi Hijau. Sudah jam 1PM saat saya mencapai rumah yang dituju, rumahnya Simbok Venus. Simbok sedang kurang sehat sehingga tak bisa kemana-mana, dan saya juga tiada undangan lain siang itu. jadi tak ada salahnya berpetualang sedikit. Buset jauh nian! Di peta lusuh Jabodetabek yang kubawa pun tak ada itu Cileungsi. πŸ˜† Kopdar dengan Simbok sampai 3PM, balik ke terminal Kampung Rambutan trus ngambil TransJakarta ke Blok M. Kelamaan gak naik busway bikin saya sedikit nyasar di Kampung Melayu. Ditengah jalan, SMSan dengan Ajeng Lembayung, ternyata gadis cantik ini juga mau transit di Blok M. Jadilah saya dan Ajeng kopdar di basement Blok M dari jam 6.45-8PM. Cewek ini tujuh kali lebih menyenangkan dari versi twitternya. :mrgreen: Kelar dari situ saya langsung pulang. Ada bencana susulan hari ini. Tante di Cinere mendadak stroke dan harus segera operasi malam itu juga karena pendarahan di kepala. Semua sudah panik, bahkan bokap dari Jayapura pun nelpon maksa saya segera pulang. FYI operasi sukses, tapi kondisi tante payah.. 😦

Rabu, 27 Februari 2013.
Lagi-lagi siang terbuang percuma karena tidak ada kejelasan nyokap bakal dijemput jam berapa ke RS Cikini. Jam 4PM barulah kakak sepupu njemput saya & nyokap pakai taxi. 6PM nyampe Cikini, saya buru-buru cabut. Sempat bingung transportasi sejenak dan tak tahu cara mencapai Bundaran HI (Tuk naik busway ke Blok M dari situ), akhirnya naik Metromini 17 ke Manggarai. Gak sampai 30 menit, jadi memutuskan tuk naik Kopaja 66 ke Blok M. Blunder besar. Butuh 2 jam menembus macetnya Kuningan hingga nyampe Blok M. Baru juga turun bis, 9.30PM saya sudah ditelpon nyokap yang bilang urusannya sudah kelar dan saya mesti balik. Damn. Saya jalan secepat-cepatnya ke Es Teler 77, tempat Pecha Kucha Jakarta malam ini berlangsung. Hanya basa-basi dengan Nia, Sharon, Dian, Mas Hedi, juga ngobrol bentar dengan Nonadita dan pakde Mbilung. 9PM saya pamit dan kabur pake busway ke Bundaran HI lalu cegat taxi ke RS Cikini tuk membawa nyokap pulang ke Cinere. Serba mepet. 😐

Kamis, 28 Februari 2013.
Sudah keluar rumah jam 9AM nebeng sodara-sodara yang menjenguk tante di ICU RS Cinere. Tak bisa lama-lama karena bakal mengganggu. 9.30AM saya dah cabut, menembus kepadatan Fatmawati ke Blok M. 11AM nyampe, dari situ lanjut pake bus TransJakarta ke Cawang. Nyampe 12.05PM, dah janjian diajak makan siang Eka Situmorang di warung Sate & Sop Kambing bang Mansur di Kampung Melayu. Enak banget. Saya masih nongkrong + ngeteh di kantornya Eka sebelum dianter ke Tebet. Sore-sore sudah di Kuningan, dan menjelang matahari terbenam sudah nongkrong di Bundaran HI, depan Plaza Indonesia. Ada kopdar perdana dengan dua cewek malam ini. Jam 6PM Rise kutemui di west mall Grand Indonesia, lanjut nongkrong di Food Lover mall yang sama. Sekitar 7.30PM, Linda (Ling Ling) bergabung. Senang bertukar cerita dengan mereka. Sayang saya cuma bisa sampai jam 8 karena harus segera pulang tuk packing buat balik ke Salatiga via Semarang besoknya. Padahal sebenarnya jam 8 itu sudah harus sampai rumah sih.

Jumat di bulan yang baru, saya sudah balik di Salatiga lagi. Luar biasa lelahnya di Jakarta karena capek di jalan dan dikejar-kejar keperluan nyokap. Hanya sedikit teman yang sempat kutemui. Makasih buat Moerz, Joesatch, Simbok Venus dan Eka Situmorang. Senang ketemu kalian lagi setelah 2 tahunan. Makasih buat Nonadita yang dah ngajak ke Pecha Kucha dan bisa menyapa teman-teman lain disana. Maaf banget saya cuma sekelebat. Lain kali kita ngobrol panjang yaa~. Buat teman-teman yang kopdar perdana;Β Hoek, Ulfa, Ajeng, Rise dan Linda (kuhitung kopdar perdana karena dulu kita gak ngobrol apapun waktu pertama kali ketemu di Jogja :mrgreen: ), senang sekali akhirnya bisa jumpa kalian. Maaf sebesar-besarnya buat begitu banyak teman yang gak sempat ketemu, semoga lain waktu ada kesempatan.

Belum tahu habis ini mau kemana sih.. *melirik ke utara* πŸ™„

Fuck, sudah hari H! [2]

Hari ini Pesta Blog.. EH, ON|OFF 2011 di Jakarta. Saya gak bisa hadir. Gak ada sponsor. 😐

Kalian juga gak dateng kan? :mrgreen:
*nyari temen*

Saya puter lagu sajalah dan berakhir pekan. Lagu Korea biasanya efektif tuk memberi efek ceria.. Β (dance)

Papua, sekilas masalah

Sabtu, 15 September 2011 jam 08:33 pagi, sebuah FaceBook message masuk dari teman saya Zeph Siddarth:

Seorang teman yang baru pulang dari Papua bercerita, bahwa kesenjangan antara penduduk asli dan pendatang itu memang ada, bahwa kesenjangan pembangunan antara Papua dan pusat (Jakarta) itu memang sangat mencolok, bahwa sebagian besar hasil sumber daya alam memang untuk “Jakarta”, bahwa ada memang pejabat di Papua yang lebih suka “kunjungan” ke Jakarta daripada “mengurus” keadaan Papua, sehingga “dirasa wajarlah” ketika teriakan untuk merdeka itu masih ada, konon kata teman saya itu, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah pola penjajah.

Satu pendapat dari Acemoglu adalah perbedaan dari siapa penjajah mereka dan bagaimana mereka menjajah. Tapi pertanyaannya lagi adalah, mengapa para penjajah bisa berbeda memperlakukan wilayah jajahannya. Jawaban Acemoglu adalah malaria. Wilayah dengan tingkat malaria tinggi membuat penjajah tidak nyaman membangun peradaban di sana, mereka lebih memilih eksploitasi sumber daya alam dan kemudian pergi. itulah yang membedakan jajahan Inggris di Asia dengan jajahan Belgia di Afrika.

Mengapa Papua jauh tertinggal ketimbang wilayah bekas jajahan Belanda lainnya di nusantara. Ketika Belanda membangun kota dan sistem pemerintahan yang mapan terutama di Jawa dan Sumatera sementara di Papua, Belanda hanyalah menjadi rampok di malam hari. Tentu saja alasannya adalah malaria.

Seorang teman bercerita jika di Jawa dulu Belanda masih mau mengajarkan banyak hal, sementara di Papua, Belanda setiap pagi memberikan susu dan roti kepada penduduk setelah mengambil hasil alam mereka.

Dan sebagai orang yang tinggal dan hidup di Papua, apa opini Bang Jensen menaggapi hal tersebut. Terima kasih sebelumnya ^.^

Ah, pertanyaan yang menarik. Kalau dipendekkan saja masalahnya jadi bagaimana ini ya? Ketika Belanda menjajah Papua mereka tidak membangun karena faktor malaria, lalu.. ketika Indonesia menjajah menganeksasi Papua mereka juga ikut-ikutan tidak membangun karena malaria? Sehingga orang Papua yang tidak puas dengan keadaan ini kemudia minta merdeka. Begitu? πŸ˜•

Dari pengalaman dan pengetahuan saya tentang Papua, faktor malaria ini hal yang baru pernah saya dengar. Berdasarkan paper Constructing Papuan Nationalism: History, Ethnicity, and Adaptation, aspirasi bangsa Papua untuk merdeka merupakan manifestasi dari gerakan nasionalisme Papua yang tumbuh dan berkembang dari faktor-faktor sejarah berikut ini:
1. Sejarah integrasi Papua ke dalam Indonesia. Ini adalah topik menarik tentang gagalnya proses dekolonisasi Papua oleh Belanda. Indonesia, dengan semangat anti kolonialismenya di satu pihak, berpendapat bahwa wilayah mereka haruslah terdiri dari seluruh bekas jajahan Belanda di Nusantara (Hindia-Belanda), sehingga harus termasuk Papua. Papua, di lain pihak, berpendapat bahwa mereka sudah merdeka sejak 1 Desember 1961 ketika bendera Bintang Kejora berkibar diiringi lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua. Selebihnya dari sini adalah Operasi Trikora yang (versi Indonesianya) sudah kita pelajari bersama di bangku sekolah, nantinya berujung pada aneksasi Papua oleh Indonesia. Perjanjian New York pada tahun 1962 antara Belanda dan Indonesia dibawah pengawasan PBB dan AS yang menyetujui pengalihan kekuasaan di Papua kepada Indonesia, jelas menunjukkan bahwa dalam penentuan nasib tanah mereka, orang Papua hanya menjadi obyek, dan bukan partisipan. Masalah partisipasi ini kemudian dicoba dijustifikasi Indonesia dengan mengadakan Pepera 1969 yang oleh banyak pihak disebut cacat hukum dan penuh rekayasa.
2. Sejarah administrasi Papua. Sejak sebelum kedatangan Jepang, banyak posisi administrasi di Hindia-Belanda sudah diisi oleh orang-orang lokal, sementara di Papua yang begitu terbelakang, semua administrasi tetap dipegang oleh orang-orang Belanda. Ketika KMB 1949 menghasilkan pengakuan kedaulatan bagi Indonesia, pihak Belanda mulai berusaha mengejar ketertinggalan di Papua dengan menyiapkan banyak tenaga lokal untuk mengurusi administrasi sipil dan banyak urusan lain. Sayangnya, ketika Indonesia menduduki Papua pada 1963, segala urusan administrasi dan birokrasi di Papua segera diambil alih oleh orang-orang Jakarta. Para birokrat lokal yang tersingkir ini kemudian menjadi angkatan pertama gerakan nasionalisme di Papua yang nantinya memunculkan Organisasi Papua Merdeka dan pemimpin-pemimpin mereka di perantauan.
3. Ketertinggalan Papua secara ekonomi dan ketatausahaan. Disini kita sampai pada poin-poin yang dibicarakan Zeph diatas. Ekspolitasi sumber daya alam secara luar biasa tanpa hasilnya dinikmati oleh orang Papua disertai ketertinggalan dalam segala bidang pembangunan. Seberapa tertinggalnya Papua soal pembangunan seharusnya sudah jadi pengetahuan umum di Indonesia ya? Memang eksploitasi SDA dan ketertinggalan daerah bukan hanya monopoli Papua, tetapi sejarah Papua menjadikan faktor ini sebagai pemicu kuat perasaan berbeda secara identitas antara orang Papua dan orang Indonesia, apalagi (konon) memang orang Indonesia memandang berbeda orang Papua.
4. Perubahan demografi dalam masyarakat Papua. Seperti yang pernah saya singgung sedikit dalam tulisan terdahulu, kehadiran jutaan penduduk migran dari wilayah Indonesia lainnya, baik perantauan, penugasan maupun transmigran, telah membawa perubahan besar bagi komposisi penduduk di Papua beserta segala efek politik, sosial, ekonomi, budaya dan agama yang menyertainya. Hal ini membawa perasaan bahwa penduduk Papua tersingkir dan termarjinalisasi diatas tanah mereka sendiri, dan menimbulkan ketakutan akan kepunahan.
Empat faktor itu sajalah yang saya yakini menjadi sumber masalah di Papua. Kalaupun ada yang mau ditambahkan, saya pikir hanyalah begitu banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militer Indonesia, baik untuk tujuan menumpas separatisme maupun untuk melindungi kepentingan bisnis.Β Sebagai perbandingan bisa dilihat di artikel ini; yang tidak memasukkan poin kedua, tetapi menekankan faktor rasismeΒ dimana penduduk asli Papua kesulitan mendapat tempat dalam bidang ekonomi, sektor pendidikan, birokrasi (PNS) dan menjadi TNI/Polri.

Soal malaria? Tulisan Daron Acemoğlu dkk yang berjudul: Disease and Development in Historical Perspective sayangnya tidak membahas mengenai Papua sebagai studi kasus, walaupun penyakit malaria disini adalah endemik, sehingga saya juga tidak yakin apakah itu termasuk faktor penghambat pembangunan Belanda di Papua atau bukan. Tapi saya mencoba meringkas sendiri sejarah Papua yang saya tahu. Mula-mula kita lihat saja perbedaan situasinya ketika bangsa-bangsa kulit putih datang ke Indonesia, dan ketika pihak yang sama datang ke Papua. Saya tahu bahwa Belanda mebangun banyak hal di Indonesia, tapi sejarah juga menceritakan bahwa sudah ada peradaban di Indonesia jauh sebelum Eropa datang. Ada kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang punya hubungan sampai ke China dan India, lalu tumbuh kerajaan-kerajaan Islam dari Aceh hingga Ternate. Ketika Belanda datang, mula-mula sebagai pedagang, lalu kemudian sebagai penjajah, sudah ada sumber daya manusia yang setidaknya bisa mengusahakan hasil bumi untuk (perdagangan) Belanda, mulai dari rempah-rempah di Maluku; gula di Jawa; hingga tembakau di Sumatra. Sementara para raja dan sultan lokal bisa menjadi kepanjangan tangan Belanda untuk mengurus administrasi, terutama di Jawa, Sumatra dan Bali yang daerahnya sudah dijelajahi hingga ke pedalaman. Di sepanjang pesisir Jawa dan Sumatra penuh dengan pelabuhan-pelabuhan besar di jalur-jalur dagang utama antara Asia timur dan Asia selatan/Asia barat/Eropa, yang menjadi kekuatan utama kerajaan-kerajaan lokal plus magnet bagi kolonialis Eropa.

Lalu, ada apa di Papua ketika orang Eropa datang? Tidak ada apa-apa, sama sekali tidak ada apa-apa. Papua hanyalah hutan lebat, yang dipenuhi oleh suku-suku yang tidak ramah, bahkan kanibal. Mereka hidup di jaman batu dan terisolasi dari dunia luar selama ribuan tahun, kecuali di beberapa daerah pesisir dimana Sultan Tidore mengadakan perdagangan budak dan burung Cenderawasih. Bagi pelaut-pelaut Eropa, jangankan masuk ke Papua, mencari lokasi tuk mendarat saja sulit. Belanda mengakui kedaulatan Tidore atas Papua tahun 1660, tapi tidak pernah menginjak Papua. Inggris pernah mencoba membangun pos di dekat Manokwari pada 1793 tetapi gagal, begitu juga dengan usaha Belanda di dekat kaimana tahun 1828. 4 tahun sebelumnya Inggris dan Belanda menyepakati bahwa Papua bagian barat adalah wilayah Belanda. Baru tahun 1855 para penginjil Jerman berhasil mendirikan pos di Mansinam, dekat Manokwari. Pos-pos Belanda sendiri barulah didirikan tahun 1896 untuk mengimbangi aksi serupa oleh Australia yang mengklaim bagian timur dari pulau Papua. Mula-mula di Fak-fak dan Merauke, lalu di Manokwari. Hingga tahun 1930an, selain aktifitas penyebaran injil (pendidikan dasar sebagian besar diselenggarakan oleh misi keagamaan Protestan dan Katolik), hanya ada eksplorasi minyak di daerah kepala burung. Daerah lembah Baliem baru ditemukan Belanda tahun 1938, dan banyak pemukiman lain di pedalaman baru ditemukan sesudah Papua masuk Indonesia. Pun hingga 50 tahun sesudahnya, semua daerah pedalaman masih saja cuma bisa dicapai dengan pesawat udara, kalau tidak dengan perahu menyusuri sungai. Tak ada kerajaan-kerajaan makmur yang menantang tuk ditaklukkan atau tanah vulkanis subur. Dengan kondisi geografis dan peradaban yang seperti itu, saya tak heran kalau Belanda tak pernah bisa banyak membangun di Papua, bahkan seandainyapun tak ada Malaria. Karena itu, menyebut Belanda sebagai rampok di malam hari rasanya kurang tepat. Justru Soeharto dan kroninya yang jadi rampok siang malam. :mrgreen:

Dilain pihak, situasi sebagai negeri yang lebih akhir ditinggalkan Belanda memberikan Belanda banyak kesempatan untuk memperbaiki perlakuan mereka pada daerah jajahan apabila dibanding pada Indonesia dulu. Kebijakan “politik etis gaya baru” ini dapat dilihat pada ungkapan “roti dan susu setiap pagi” diatas. Kala itu, sebagai usaha dekolonisasi Papua sesudah KMB 1949 gagal menentukan nasib Papua, Belanda melakukan pembangunan besar-besaran dalam berbagai bidang di Papua berdasarkan ketetapan Ratu Belanda tanggal 27 Desember 1949 yang disebut Besluit Bewindsregeling Nieuw Guinea sebagai persiapan menghadapi sengketa dengan Indonesia. Sebagai hasilnya, memasuki tahun 1960an standar hidup di Papua menjadi tinggi. Mengutip buku Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka oleh J.R.G. Djopari:

Bagi orang Irian barat yang memang memasuki perekonomian modern dan ditambah lagi dengan pemberian subsidi yangbesar oleh pemerintah Belanda, upah dan gaji mereka sangat tinggi dibandingkan dengan penduduk di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Menurut peraturan gaji tahun 1957, seorang pelaut mendapat upah $42 sebulan, pekerja kasar/buruh $50, calon pegawai $57, guru sekolah dasar $65 dan guru berijazah $124. Karena biaya import yang rendah serta pengangkutan yang teratur dan bersubsidi, di kota-kota harga barang-barang dagangan import relatif lebih rendah dan dapat dijangkau oleh daya beli masyarakat.

Karena itu tidaklah mengherankan di kalangan generasi tua Papua, mereka mengenang jaman Belanda sebagai jaman yang paling enak. The good old times. πŸ˜‰

Tapi cerita-cerita soal Papua sejak jaman Belanda hingga Indonesia tentu tidak lengkap tanpa menyinggung satu kalimat yang terselip pada pertanyaan Zeph:

bahwa ada memang pejabat di Papua yang lebih suka “kunjungan” ke Jakarta daripada “mengurus” keadaan Papua,

Oh, jujur saja, itu Gubernur kami yang terakhir, Barnabas Suebu. Kabarnya beliau memang pengurus pusat partai Golkar sehingga harus rajin keΒ di Jakarta. Kalo pejabat-pejabat dibawahnya juga mengikuti jejak beliau, ya siapa yang salah? :mrgreen:
Ya, cerita Papua dan Belanda sudah menjadi dongeng “the good old times“; sementara cerita Papua versus Indonesia (dan nasionalisme Papua) secara nyata hanyalah perjuangan sebagian golongan di Papua saja, yang tidak melihat penyelesaian masalah-masalah Papua di dalam bingkai RI (seberapa besar golongan ini secara persentase, tidak diketahui karena belum pernah ada referendum); apa yang digambarkan oleh kutipan diatas justru merupakan masalah yang paling krusial dan mendesak sekarang ini: cerita Papua tipu Papua. Cerita yang sudah 10 tahun berjalan sejak era otonomi khusus, dimana semua sektor lokal pemegang kebijakan dan kekuasaan diduduki oleh orang Papua sendiri, disertai limpahan dana yang luar biasa besar untuk mengejar ketertinggalan. Cerita tentang para elit politik Papua yang mengabaikan (atau mengorbankan) rakyat demi kepentingan pribadi dan golongan. Cerita para kepala daerah dan lingkaran birokratnya yang sangat korup, tidak ketinggalan anggota dewan yang seharusnya mengawasi mereka; Cerita tentang ramainya pemekaran wilayah dari Provinsi hingga kampung, tuk menampung aspirasi para elit dan golongan yang tidak kebagian kursi dan guyuran duit; Cerita tentang MRP, simbol kultural orang Papua yang dipecah; Cerita mereka yang peduli pada bangsanya sendiri, dan lebih sering turut dicap separatis; Cerita tentang Jakarta yang mengabulkan apapun juga keinginan para elit Papua, selama kepentingan mereka terjaga; dan cerita tentang rakyat yang lebih banyak menuntut merdeka daripada mengoreksi pemimpin mereka. Pada akhirnya, hanya sebuah perulangan sejarah ketika rakyat Papua dijajah oleh elit politik dan birokratnya sendiri. Sayang sekali, mengingat dana Otsus hanya tinggal 15 tahun lagi. πŸ˜‰

Akhir kata, Zeph, itu saja dulu ocehan saya. Jelas banyak kekurangannya, tapi semoga memuaskan. πŸ˜‰

*gambar diambil dari sini*

Hello world! part 3: Return to Country’s End

Hi, I’m home.

Yup, akhirnya saya pulang ke rumah. Ke rumah, kamar, komputer dan koneksiku di Jayapura. Sebuah kisah panjang journey to the west yang dimulai sejak Minggu 8 Agustus 2010 akhirnya berakhir Sabtu 26 Maret 2011 kemarin. Suatu perjalanan panjang sekitar setengah tahun yang penuh dengan suka dan duka, kenangan dan trauma. Suatu pengalaman melintasi negara mulai dari Jayapura, Bali, Malang, Jogja, sampai Jakarta, tuk memenuhi keinginan sahabat, memuaskan keinginan sendiri, sampai berantakan karena memenuhi keinginan orang tua. 😐

Ngetwit, @ suatu tempat ibadah di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta.

 

Sebagai blogger, saya juga bukan orang yang sama lagi setelah perjalanan itu. Saya meninggalkan Jayapura sebagai seorang blogger yang hampir-hampir tidak pernah kopdar, dan kembali ke Jayapura setelah menemui lebih dari 200 kawan bloggers dan onliners; dari kawan lama seperti Memeth sampai yang kenalan on-the-event seperti Nanath; dari selebblog seperti Chika sampai blogger anonim seperti Sora-kun. Tentu saja, ziarah blogβ„’ ini juga lengkap dengan menyempatkan diri menghadiri Pesta Blogger Jogja 2010, Muktamar Blogger 2010 dan Pesta Blogger+ Nasional 2010. Di minggu terakhir extended vacation saya di Jakarta, saya bahkan bergabung dengan KopdarJakarta, salah satu komunitas blogger paling top di negara ini. πŸ™‚

Disisi lain, perjalanan panjang ini juga memisahkan saya dari PC dan koneksi internet saya. Sebagai hasilnya, saya hiatus dan blog ini tak pernah lagi di-update selama saya keluar kota terkecuali sebuah posting asal-asalan saat sedang di Bali. Blogwalking pun hampir tak pernah, kecuali waktu mengikuti perang posting soal PYD Februari kemaren. πŸ˜†
Tentunya, sekarang setelah pulang ke rumah, akan menyenangkan kalau bisa menulis lagi, mungkin berbagi pengalaman selama perjalanan kemarin, sepertinya banyak yang bisa saya kisahkan, atau sekedar posting saja seperti biasa. Yah, lihat sajalah nanti, semoga kemampuan menulis saya yang tidak seberapa itu tidak hilang tergerus kopdar dan hiatus. :mrgreen:


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
November 2017
M S S R K J S
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter