Posts Tagged 'mencintai'

My slow rock files [5] True Love?

Sekitar seminggu yang lalu, seorang teman karib mendadak meminta opini saya tentang sesuatu (via Y!M). Rupanya dia lagi kesal melihat status FB seorang kawan SMP kami dulu (yang tentu saja tidak ada di FB saya 😛 )

*Dengan editan dan penyesuaian ke bahasa Indonesia yang umum*

***

ipas: kamu setuju nggak kalo cinta sejati itu harus berkorban demi kau membahagiakan orang laen, walau kau tersakiti sendiri?

saya: tidak
saya: cinta yang betul itu dua arah
saya: memberi dan menerima

ipas: maksudnya?

saya: kamu mo bilang kalo “saya bahagia lihat dia bahagia (jalan dengan orang lain)” gitu?

ipas: yo!

saya: saya anggap itu sebagai “menerima kenyataan”, tapi bukan “cinta sejati”
saya: terlalu bullshit
saya: “dia jalan dengan orang lain” itu sesuatu yang kita gak bisa rubah. Mau rela atau gak rela sama saja

ipas: nah, saya sependapat
ipas: apa artinya kita berkorban tapi ujung-ujungnya malahan buat kta tersiksa seumur hidup
ipas: malas yah yg kayak gitu

saya: bikin susah diri 😆

ipas: nah itu dia yg namanya cinta yg menyusahkan diri sendiri, (rofl)
ipas: abisnya saya kesel banget ni temen, selalu tulis cinta sejati mulu apalagi ada berkorbannya lagi
ipas: makanya saya hajar2 dia dulu

***

Feh, lagi-lagi begini, dihanguskan cinta trus buat justifikasi aneh-aneh, dan lagi-lagi orang yang dikenal pula. Cuma kalo yang waktu itu ngelesnya: cinta tak harus memiliki; yang kali ini pembelaannya berbunyi: cinta sejati harus berkorban. Puih, gimana sih? Berkorban itu ada yang didapetin, kalo hangus gini namanya jadi korban! 😆
Masih tetep punya perasaan tu wajar, apalagi bagi pihak yang ditinggal, makanya kalo liat dia senang, rasanya ikut senang juga. Tapi itu ilusi saja, sebenarnya sedih banget, jadi gak usah mengklaim kredit dengan bilang berkorban, apalagi bawa-bawa cinta sejati. So? Just Shut the Fuck up! Jangan bikin definisi aneh-aneh tentang cinta. Bilang aja lagi mellow karena gini gitu~. Temen-temen ngerti kok, semua juga palingan pernah ngalami. 😉

Yo, ntah kenapa saya selalu misuh-misuh kalo ada omong kosong semacam ini. Padahal mungkin terlalu kejam kalo mengharapkan semua orang berlaku wajar saat patah hati, level tiap orang kan beda. 😛 Lagian argumen saya juga blum tentu bener. 😈

Anyway, tak lama sesudah chatting itu, saya membaca curhat mbak Hanny di blognya. Butuh 3 kali baca untuk memahami curhat itu (eh, itu beneran curhat kan?), tapi, itu mungkin termasuk tulisan terbaik tentang hikayat kasih tak sampai. Hanya tuturan pengakuan & perasaan yang ada disitu, tak ada pembenaran macam-macam. Disatu sisi menyentuh, tapi juga menginspirasi. Seperti kata-kata penutup mbak Hanny yang juga telah lama saya percayai:

Saya akan tetap menunggu hingga rasa yang ada tergantikan dengan sendirinya.

Great! (applause) Semoga mbak Hanny, dan temen saya itu juga, bisa menemukan akhir yang indah tuk untaian perasaan mereka masing-masing. Sekalian menyemangati diri sendiri XD
In th e nd, mengakhiri posting gak jelas ini, saya persembahkan sebuah lagu keren dari Scorpions & Lyn Liechty: “Here in My Heart”. Enjoy! 😉

Sometimes there’s a time you must say goodbye
Though it hurts you must learn to try
I know I’ve got to let you go
But I know anywhere you go
You’ll never be far ‘
Cause like the light of a bright star
You’ll keep shining in my life
You’re gonna be right

Here in my heart
That’s where you’ll be
You’ll be with me
Here in my heart
No distance can keep us apart
Long as you’re here in my heart

Won’t be any tears falling from these eyes
‘Cause when love’s true love never dies
It stays alive forever
Time can’t take away what love we had
I will remember our time together
You might think our time is through
But I’ll still have you

Here in my heart
That’s where you’ll be
You’ll be with me
Here in my heart
No distance can keep us apart
Long as you’re here in my heart

I know you’ll be back again
And ’till then
My love is waiting

*Back to reffrain~*

Iklan

Sedikit kompilasi tentang kesimpulan (kasus CTHM)

2 minggu yang lalu (5/12), saya menulis kritik saya tentang penggunaan kalimat “cinta tidak harus memiliki” pada situasi gagal cinta yang saya anggap tidak benar. Argumen saya tidak lebih dari sepotong flashback percakapan jaman kuliah beberapa tahun silam yang saya rasa sudah cukup mengungkapkan apa yang ingin saya sampaikan. Entri juga kemudian menginspirasi mbak Ira tuk menceritakan kembali pengalamannya menghibur diri dengan kalimat tersebut. Sesuatu yang jujur mengejutkan saya walopun ternyata kisah beliau berakhir happy ending.

Dalam perkembangan yang saya ikuti lewat kolom komentar, juga di entri mbak Ira, ternyata ada banyak pernyataan dan pertanyaan sehubungan dengan premis “cinta tidak harus memiliki” (selanjutnya disingkat CTHM) yang tidak bisa hanya dijawab dengan mengatakan: “cuma orang gagal yang bilang begitu!” :mrgreen:
Saya berpikir keras (halah!) untuk menghadapi banyak argumen, dan belajar sangat-sangat banyak dari setiap masukan, kasus, tanya-jawab, serta sudut pandang yang disampaikan oleh setiap blogger. Itu berharga sekali.

Tetapi, hampir seluruh materi berharga itu tercerai berai diantara barisan komentar yang membuat repot untuk mencarinya, bahkan oleh saya sendiri. Karena itu saya coba kompilasikan hal-hal penting yang saya pelajari dan simpulkan dari postingan tersebut. Untuk arsip, mumpung belum lupa, dan supaya tidak perlu lagi capek-capek scroll up & down di kolom komentar.

OK, mari saya mulai saja:

I. “cinta itu apa dulu??” (definisi cinta)

IMO pertanyaan yang paling mendasar dalam masalah ini. Ini ditanyakan oleh ManSup dan Bu edratna di post mbak Ira.

Setau saya, ada dua pengertian cinta yang akhirnya masuk dalam setiap diskusi yaitu: (a). cinta sebagai perasaan afeksi/kasih sayang yang sangat kuat dan (ingin) memiliki terhadap orang lain, lalu (b) cinta sebagai sebuah hubungan asmara antar pribadi/interpersonal. Dalam opini saya, (a) harus mengarah ke (b).

(dari wiki: 1, 2)

II. Ada berapa bentuk hubungan cinta? (kenapa istilah CTHM itu salah)

Ini harus dijelaskan sejak semula setelah Diaryeki dan Nike berkomentar serupa:

Cinta tidak harus memiliki, tapi lebih indah/bahagia kalo memiliki.

Kalo kata Kopral geddoe analoginya seperti ini:

Sama aja saya kalah mulu main catur terus ngeles; “kemenangan bukan segalanya”.

Doh…! Sour grapes banget laa~ 👿

*facepalm*

Jadi, kalimat CTHM menurut saya salah karena mengisyaratkan bahwa ada dua macam hubungan cinta yaitu: (a) cinta yang memiliki/berbalas/dua arah, dan (b) cinta yang tidak memiliki/tak berbalas/searah. Orang yang sedang jatuh cinta (seolah-olah) bisa memilih dan menjalani salah satu dari dua bentuk hubungan itu. 😐
Pendapat yud1, sang dokter cinta, selalu menjadi acuan saya tuk menjelaskan ini:

technically, this (CTHM) is hopeless. karena sebenarnya cinta itu hubungan dua arah, alias dari pihak cewek dan cowok yang bersangkutan.

Kalo kata CY:

Cinta tidak harus memiliki, tapi harus mengakuisisi.

Yang disimpulkan Catshade:

Cinta sejati sesungguhnya adalah merger.

ThankU brothers!

Jadi, cinta harus saling memiliki; dua arah. Tidak ada pilihan lain. Titik! 😎

III. Kapan CTHM terucap

Meskipun saya sebelumnya berpendapat bahwa semua kegagalan asmara bisa berujung pada menghibur diri dengan CTHM, mayoritas blogger menekankan hanya pada kegagalan pra pacaran, yaitu: (a) gagal menyatakan cinta, dan (b) gagal diterima/ditolak saat menyatakan cinta. Gagal menyatakan cinta bisa disebabkan karena kurangnya keberanian, atau keduluan pesaing (seperti kasus TS di postingan saya). Tetapi penyebab yang kedua tidak pernah muncul dalam komen dimanapun.

IV. Bertaruh. (katakan cinta)

Seperti kelakar bang Fertob di post mbak Ira:

makanya, berani mengungkapkan perasaan…. 😆

Penting sangat untuk mengungkapkan perasaan. Karena orang yang ditolak punya kepastian tuk nyerah dan move on, tetapi orang yang gak bisa mengungkapkan perasaan, tidak punya kepastian tuk nyerah dan move on. Ini bisa saja berlangsung sia-sia bertahun-tahun. Saya menegaskan ini karena sempat ada usul tuk jadi stalker saja kalo tak mampu nyatakan cinta. Semboyannya:

daripada mati karena cinta, lebih baik matiin orang karena cinta.

😆 😆
Desti kemudian membahas sendiri topik ini dari sudut pandang cewek melankolis. Mantap! 😀

Tentu saja ada kemungkinan ending lain: yaitu yang dicintai menyadari sendiri dan merespon (ntah positif atau negatif); atau yang mencintai mencapai tahap “unconditional love”, tak mengharap balasan lagi. Tapi ini tetap sia-sia buat saya.

(dari wiki)

V. Lalu harus bilang apa? (Alternatif pengganti CTHM yang rasional)

Menghibur hati yang kosong dan luka saat gagal cinta, memang sebaiknya ada hal yang bisa dikatakan buat nabah2in diri™ tetapi tidak “salah kaprah”. Sejauh ini kelihatannya “masih ada/cari saja yang lain” dan berbagai variasinya menjadi favorit para blogger.
Ada juga yang bagus dari Resi Bismo:

I’m a loser, but I won’t be fail again

dari dnial:

sudah, pake tangan saja…

dari saya (tidak direkomendasikan):

cintaku tak bisa memiliki

Tapi kalo dari sudut pandang pria, kata-kata yud1 yang terhebat:

if you love her, just do. stand tough, don’t take the fall. karena apa yang menjadikan seorang laki-laki bukanlah air mata dari hati yang remuk redam, melainkan penghormatan dan pengakuan akan keterbatasan diri.

*sembah-sembah* m(_ _)m

Saya juga spendapat dengan mbak hawe kalo kalimat: “ah, bukan jodoh saya kali ini” juga tidak layak dipakai, mengingat pengertian jodoh yang makin kabur.
Ada yang punya ide lain? 😀

VI. Cinta dan Benci

Masalah ini diangkat oleh Mina dengan pernyataan berikut:

jangan terlalu mencintai atau membenci orang, karena bisa jadi nanti kita berbalik mencintai orang yang kita benci atau membenci orang yang kita cintai.

Catshade, yud1 dan Rukia mengklaim bahwa hubungan sebab-akibat tersebut itu bisa terjadi dalam kehidupan nyata, sementara pengalaman saya baru sebatas cinta tapi benci, jadi saya tidak komentar banyak disini. Silahkan yang mau menambahkan. 😛

VII. Selingkuh wannabe

Ini variabel yang orisinil karena tidak terpikir oleh saya sebelumnya. Disampaikan oleh Memeth dan Mina, juga oleh jijie di post mbak Ira. permasalahannya adalah, apakah dalam dua kasus berikut ini, orang bisa merasa jadi pecundang?: (a) seseorang yang mencintai/naksir orang yang sudah punya pasangan; dan (b) seseorang yang sudah punya pasangan yang mencinta/naksir orang ketiga. Kita anggap saja bahwa keduanya gagal mendapatkan yang dicintai.
Menurut saya, orang dalam kasus (a) jelas gagal, karena niatnya mengisi kekosongan hati (bolehlah menghibur diri); sementara dalam (b) tidak gagal, karena niatnya mendua hati. 😉

VIII. Arti memiliki (komitmen dan seks)

Ini pokok bahasan yang dewasa. Teman kuliah saya, sunsettowner, mengangkatnya lewat studi kasus: apabila ada dua orang yang menjalin hubungan lalu bercinta di hotel, sementara salah satu (atau keduanya?) adalah pasangan orang lain, sehingga mereka tidak bisa saling memiliki secara utuh. Patutkah itu disebut CTHM?
Well, IMO walaupun itu hubungan gelap, HTS or whatever, tetap saja itu hubungan dua arah dan dengan komitmen. Kedua pasangan itu adalah pemenang, bukan pecundang. 😉

Fritzter melengkapi postulat ini dengan beberapa variabel tambahan:

Meniduri tak harus cinta; Ditiduri tak harus cinta; Meniduri tak harus memiliki; Cinta tak harus ditiduri; dan Memiliki tak harus cinta.

(contoh tiap istilah bisa dilihat di post prequel)

IX. Pertukaran posisi

Masalah ini diposting Nike di blognya sendiri. Saya bahas karena ngomong CTHM juga. Kasusnya demikian:

lebih pilih mana, (a) mencintai seseorang yang tidak mencintai kita atau (b) dicintai seseorang yang tidak kita cintai?

Berdasarkan pengalaman sendiri pada kedua kasus, saya memilih (b). Tak terlalu sulit bagi saya tuk membaca sinyal dari cewek, menolaknya (bahkan sebelum mereka menyatakannya), memastikan mereka baik-baik saja, dan (kelak) melihat mereka bahagia dengan pasangannya yang sekarang. Saya juga sudah memverifikasi beberapa diantaranya tuk tau bahwa mereka tidak sakit hati dengan saya. Tidak ada masalah buat saya.
Sebaliknya tuk kasus (a), hadooh… setiap kali menanti orang berikutnya yang mau mengumpulkan kepingan-kepingan hati saya lalu menyatukannya kembali itu kok, memakan resource pikiran dan perasaan yang besar sekali… 😐

*malah curhat sendiri* :mrgreen:

*dibakar massa*

Segitu dululah, mungkin nanti ada apdet kalo tiba-tiba teringat hal baru lagi, atau ada masukan lagi.

Cuma pecundang yang bilang begitu!

3 hari lalu (2/12) saya membaca sebuah entri di blognya ulan, judulnya Maris. Cerita sederhana tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Walopun tidak happy ending, tapi cerita ditutup dengan sebuah kalimat mengesankan dari Wori-si cewek yang ditolak cintanya-:

“…aku hanya sedang kehilangan satu orang yang tidak pernah mencintai ku, tapi Maris kehilangan satu orang yang benar benar mencintai dan perduli dengan nya”

Benar-benar harga diri yang tinggi, salut. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Dari kolom komentar, muncul dua kali kalimat klise yang konon (IMHO) mengungkapkan sikap besar hati (nrimo?) yang luar biasa:

Cinta tidak harus memiliki…

Yahahahahaha…. 😆
Saya tertawa sinting sendirian. Hari gini masih ada juga yang percaya kata-kata penghiburan itu… 😈

Saya jadi teringat sesuatu. Flashback.

Beberapa tahun lalu, saat masih kuliah, pernah sekali kalimat serupa mencuat dalam pembicaraan antara saya dan teman-teman. Saya lupa hangout dimana waktu itu, tapi yang jelas, kami membahas teman kami yang lain, yang tidak hadir saat itu, sebut saja TS. Sederhana saja: TS naksir cewek dari kelas lain , tapi setelah melalui berbagai usaha, dia harus menyerah pada seorang pesaing yang akhirnya sukses memacari cewek itu. Tentu saja, TS sempat down. Lalu ntah siapa yang mengomentari, kalimat itu terucap:
“Memang cinta tak harus memiliki….”
Saya menukas cepat:
“Bodoh, tidak ada yang seperti itu! Cuma orang gagal yang bilang begitu…
“Kenapa begitu?” Seseorang bertanya.
“Karena orang pasti bicara begitu setelah mengalami kegagalan. Tidak mungkin langsung ngomong tanpa gagal dahulu.”
Saya melanjutkan:
“Gagal menyatakan cinta pada yang ditaksir; Gagal diterima sama yang ditembak; Gagal mempertahankan hubungan, trus diputusin, tapi masih cinta; Gagal jadi satu-satunya, trus pacarnya selingkuh, tapi masih nyimpen perasaan…”
“Jadi betul-betul gak ada hebatnya orang yang mencintai tapi gak memiliki. Kecuali dari semula samasekali tidak punya niat memiliki, tapi itu bukan mencintai namanya kalo gak naksir. Itu cuma suka, atau kagum.
Gagal memang menyedihkan, tapi tidak perlu dibenarkan dengan kata-kata itu. blablabla…”

Tidak ada yang membantah. Ntah setuju, ntah gak punya argumen sanggahan, dan kami lanjut ke topik berikutnya. Satu hal yang pasti, beberapa tahun kemudian sampai hari ini, semua peserta hangout hari itu (saya juga) sudah terlibat berbagai kegagalan hubungan, tapi tak satupun yang menghibur dirinya atau temannya dengan kalimat seperti itu lagi. 😉







Notes:
[1] Entri (mungkin) berhubungan bisa dilihat di: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7.
[2] BGM: White Lion-Broken Heart


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Oktober 2018
M S S R K J S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter

Iklan