Posts Tagged 'militer'

Operation Reckless

Teluk Hamadi ini dulu merupakan daerah awalnya para tentara sekutu mendarat, yang kemudian berjalan dan membuat barak pertahanan di bukit Mac Arthur (orang Papua biasa menamakan bukit Makatur), yang terletak di atas perbukitan Sentani. Jika perjalanan ke sana saat ini dengan kendaraan memakan waktu antara 45-60 menit dari Jayapura, saya tak terbayangkan berapa lama tentara Sekutu dulu mencapai atas bukit tsb.
~Bu Enny

Jawabannya adalah: seminggu! :mrgreen:

macarthur

Jend. D. MacArthur dan Mayjen H.H Fuller; panglima Div #41, sesaat sesudah mendarat di pantai Hamadi

Ya, bukit Ifar Gunung, tempat markas Komando Mandala Pasifik BaratDaya yang dipimpin Jenderal MacArthur terletak, dikuasai sekitar 2-3 hari sesudah pasukan AS menyelesaikan 4 hari operasi militer untuk menguasai 3 pangkalan udara Jepang di daerah Sentani.
Operasi militer Sekutu untuk merebut Jayapura (saat itu bernama Hollandia) dan Sentani dari pihak Jepang ini berlangsung tanggal 22-26 April 1944 dan dikenal dengan nama Operation Reckless, dan biasanya disebut secara simultan dengan Operation Persecution yang dijalankan secara bersamaan dengan target Aitape, 200km di sebelah timur Jayapura, di wilayah Papua New Guinea sekarang.
Saya melihat pernah ada usaha Bu Enny untuk mempelajari peristiwa ini, sayangnya, informasi yang didapat Bu Enny IMO agak kabur dan kurang spesifik tentang Battle of Hollandia itu sendiri. Jadi, ini versi singkat dari saya.
*sok tahu mode: ON*

Keep on reading!

Sedikit kompilasi tentang Hercules TNI-AU

When the Heracles falls down

3 September 1964; C-130B AURI registrasi T-1307, kode produksi c/n 3599, dari skadron 31. Pesawat dipiloti Letkol Djalaludin Tantu dan mengangkut satgas PGT pimpinan Kolonel S. Sukani dalam salah satu misi Operasi Dwikora. Hercules jatuh di Selat Malaka karena terbang terlalu rendah, diperkirakan karena dikejar pesawat tempur Javelin AU Inggris. Korban sedikitnya 47 orang. Ini adalah kecelakaan Hercules pertama diluar AB-AS.

16 September 1965; C-130B AURI registrasi T-1306, kode produksi c/n 3598, dari skadron 31. Pesawat ini dipiloti oleh Mayor Soehardjo dan Kapten Erwin Santoso. Lagi-lagi terjadi dalam Operasi Dwikora, Hercules jatuh di Landasan Long Bawang, Kalimantan Timur, karena salah tembak oleh pasukan Kostrad. Ada rumor mengatakan penembakan ini disengaja karena Panglima Kostrad (Soeharto) bertentangan sikap soal konfrontasi Malaysia dengan Panglima AU (Oemar Dhani) yang saat itu memimpin (Pangkolaga) Operasi Dwikora.

21 November 1985; C-130H-MP (versi patroli maritim) TNI AU registrasi AI-1322 (kemudian menjadi A-1322), kode produksi c/n 4898. Pesawat menabrak Gunung Sibayak, Sumatra Utara dalam rute penerbangan Medan-Padang. 10 awak pesawat gugur.

5 Oktober 1991; C-130H-30 TNI AU registrasi A-1324, kode produksi c/n 4927. Pilot pesawat adalah Mayor Syamsul Aminullah, didampingi Kopilot Kapten Bambang Soegeng. Pesawat menabrak gedung BLK di Condet tak lama setelah lepas landas dari Lanud Halim Perdanakusumah karena mengalami kerusakan pada dua mesin pada sayap kiri. 135 orang gugur dalam peristiwa ini, terdiri dari 2 warga sipil, 11 awak pesawat dan 119 prajurit Paskhas (empat peleton) dari Skadron 461 dan 462 yang bermarkas di Margahayu, Bandung. Para prajurit ini baru saja bertugas melaksanakan kolone senapan pada HUT ABRI ke 46. Ini adalah kecelakaan Hercules dengan jumlah korban terbesar, dan seluruh jenazah prajurit dimakamkan masal dalam satu liang 25 x 25 meter.

Keep on reading!

Lebih berharga mana?

Sepanjang senin (6/4) mulai sore sampai berjam-jam sesudahnya, semua stasiun TV dipenuhi berita seputar jatuhnya pesawat Fokker 27 TNI-AU di Bandung yang menewaskan 24 anggota TNI.
Berita itu masih hangat (breaking news) saat ayah saya nonton TV sore itu dan segera mengeraskan volume TV. Sayapun segera merapat ke dekat TV, menyimak beberapa liputan dari TKP. Tak lama kemudian saya berkomentar:
“orang tewas segitu sih gak masalah, tapi rugi pesawatnya.”
Ayah saya segera mendelik dengan pandangan tidak senang.
“Kamu ni gimana sih? Ya lebih berharga orangnya dong!”
“Tentara sih gampang diganti, tapi gak ada sejarahnya pesawat AURI jatuh trus diganti.”
“Tapi ini orang meninggal blablabla…”
“lebih mahal pesawatnya!”
“…”
Beliau masih ngomel-ngomel sendiri tanda tak setuju dengan saya, dan mungkin akan makin tersentuh dengan kecelakaan ini manakala berita-berita selanjutnya fokus ke suasana haru keluarga korban atau profil-profil korban.
Sementara saya -yang pemerhati militer dan aviasi- malah jadi masygul begitu stasiun TV mulai kilas balik pesawat-pesawat TNI yang jatuh setahun terakhir; statistik Fokker-27 (termasuk milik maskapai sipil) yang celaka beberapa tahun terakhir; dan hampir ngambil kalkulator waktu tau kalo pesawat yang jatuh ini merusakkan tidak kurang dari 6 pesawat dan helikopter lain di hangar yang jadi lokasi jatuhnya.

Yo, IMO, setiap individu memang spesial, tapi secara sumber daya tidak sulit (terjangkau secara biaya dan ketersediaan SDM) menggantikan personil TNI yang hilang, sekalipun andai yang meninggal Jenderal semua.
Sementara pesawat, well… dengan anggaran militer TNI sekarang, mahal untuk mengganti pesawat yang hancur dengan produk sejenis (yang sudah tidak diproduksi lagi), sementara masalah ini juga menimpa seluruh skadron TNI-AU yang arsenalnya pernah mengalami kecelakaan. Walhasil, makin sedikit saja jumlah pesawat militer kita yang rata-rata sudah perlu diganti itu, dan makin berkurang juga kekuatan udara TNI. 😐

Jadi, lebih berharga pesawatnya kan?


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Juni 2021
M S S R K J S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter