Posts Tagged 'pesta blogger'

Nostalgia Pesta Blogger: Pesta Blogger Nostalgia

Makasih tuk foto ini ya, Dewi

Eh, ko Agustus sibuk ka tidak? Kalo ko sempat, sa mau undang ko datang ke acara pernikahanku di Bali πŸ™‚ ,
Acaranya tanggal 10 dan 11 Agustus. Akomodasi tempat tinggal buat tamu kita sediakan buat 2 malam itu. Tiketnya sih yang kemungkinan agak mahal. Ko kan sa punya teman paling lama sejak kita kecil, best friend gitu lah… hehehe jadi sa ingin sekali ko bisa hadir di hari pentingku ini πŸ˜‰ Sa tau memang untuk tiketnya bakalan agak berat sih, jadi coba ko cek suda kira2 harga tiketnya berapa, nanti sa bantu, bagaimana?
Sa sangat berharap ko bisa datang…
Kasi kabar e…

Demikian bunyi sepotong pesan via FB Messenger yang kuterima dari sahabat dekatku, Johan, yang saat itu seingatku sedang berada nun jauh di negara lain. Ketika itu bulan Juni 2010, 4 bulan sebelum Pesta Blogger 2010.

Dengan Omded, Enda, Omith, Ndoro etc

Jumat malam, 27 Oktober 2017 di Restoran Omah Sendok, daerah Senopati, Jakarta, saya menghadiri acara kecil Pesta Blogger Nostalgia 2017. Kopdar terbatas (karena tempatnya terbatas) blogger-blogger yang rindu ngumpul ala Pesta Blogger 2007-2010 silam. Banyak wajah lama muncul di situ, orang-orang yang dulu meramaikan blogsphere nasional. Sebuah sukacita dan kebanggaan bisa menjadi bagian dari acara kopi darat itu, dan tentu saja sebuah privilege, kalau kata pacar saya. Iya, hak istimewa. Karena tidak semua blogger bisa menjadi bagian sejarah yang bernama Pesta Blogger, baik dulu maupun kemarin.

Dengan om Nukman, Didut, Pitra, Fikri, Om Yahya, Adham, Omith, Fany, Nena, Nonadita, etc

Layar proyektor di Omah Sendok tak putus menanyangkan berbagai momen dari acara Pesta Blogger 2007, 2008 dan 2009. Saya berdiri menatap foto-foto yang bergantian itu. Mengenang kembali keriuhan blogsphere tiap akhir Oktober dulu ketika ramai-ramai muncul posting tentang Pesta Blogger. Tema nostalgia memang kuat di acara ini. Selain momen di layar, juga lewat dekorasi dan games yang dimainkan. Saya juga bernostalgia sendiri mengenang kehadiran di Pesta Blogger 2010, Pesta Blogger satu-satunya yang pernah kuikuti. Tidak mudah pergi ke Pesta Blogger dan ada alasan tak terbantahkan kenapa itu privilege alias istimewa: JAUH. Iya, jauh. Pesta Blogger selalu diadakan di Jakarta, Sehingga butuh usaha ekstra tuk blogger luar Jakarta menghadiri Pesta Blogger. Buat saya yang pengangguran dan berdomisili di ujung timur negara luas ini, pergi ke Jakarta saat itu dengan biaya sendiri adalah kemustahilan. 😦

Dengan Swastika

Saat Pesta Blogger 2007 dan 2008 berlangsung, saya masih merasa cukup ngeblog hanya dengan posting dan blogwalking, tetapi sesudah punya banyak teman di dunia maya dan melihat begitu banyak postingan kopdar, saya sungguh ingin kopdar juga seperti teman-teman lain. Keinginan tak kesampaian itu lama-lama menjadi rasa frustrasi yang memuncak pada perhelatan Pesta Blogger 2009 yang juga gagal saya hadiri. Saat itu ngeblog masih ramai komentar, cukup terhibur melihat ramainya teman yang peduli atau senasib. Satu komentar dari Ainun Nazieb disitu ternyata menjadi nubuat: see ya next year bro πŸ˜€

Dengan Pitra, Nath, Iphan, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Dimas

Hari-hari berlalu tanpa harapan sampai akhirnya pesan lewat Facebook di atas itu tiba. Undangan pernikahan di Benoa, Bali, Agustus 2010. Singkat cerita, keluarga Johan memutuskan menanggung seluruh keberangkatan dan kepulangan saya, juga akomodasi selama acara. 8 Agustus 2010, saya berangkat ke Denpasar. Pertama kali ke luar kota setelah tujuh tahun. Perjalanan saya ke Bali menghadiri pernikahan Johan nantinya menjadi awal petualangan panjang demi menghadiri Pesta Blogger 2010 di Jakarta. Dua setengah bulan mengembara di 4 Provinsi, menumpang di rumah dan kamar berbagai sanak famili dan teman. Mungkin cerita dari perjalanan ini akan saya bagi di postingan lain. Banyak cerita suka duka di situ termasuk cerita segala kopdar atau dimarahi keluarga yang menganggap saya menelantarkan orang tua di rumah. πŸ™„

Dengan Saiful, Utet, Nonadita, Fikri, Om Yahya, Choro, Icit

Jarak ke Jakarta tidak jadi mendekat sesudah mengikuti Pesta Blogger 2010. Saya masih tetap blogger Jayapura yang kejauhan kalau pengen ngumpul dengan blogger dari kota lain. Sebuah kebetulan bahwa kemarin saya sedang ngekos di Salatiga dan mampu ke Jakarta, tapi kopdar bukan lagi pengalaman tak terjangkau. Banyak sudah teman ditemui, bahkan dari saat acara nostalgia ini sampai saat postingan ini ditulis, sudah berjumpa dengan tiga kawan blogger untuk yang pertama kalinya. πŸ˜€

Yang di meja sebelah kanan: Rere, Swastika, mbak Eny, Dewi etc

Malam beranjak larut. Pesta pun usai setelah pelepasan balon. Saya masih minta panitia tuk foto bersama yang sayangnya tidak diikuti oleh teman-teman yang terlanjur pulang duluan. Tak ada lagi after party seperti dulu. Hanya ada orang-orang yang sibuk menanti ojek/taksi online. Usai sudah nostalgia, segala kenangan kehebohan tren sesaat yang namanya ngeblog itu. Mari kembali ngobrol di media sosial dan grup chat, dan apabila sempat berdekatan, mari kopdar. πŸ˜‰

Iphan, Yudis, etc etc Nico :))

Iklan

Saya dan Komunitas Blogger (Jayapura)

Yasudah Jens, kau buat sajalah komunitas blogger disana. Biar cuma dua orang gakpapa.

~Blogger C, dari komunitas C di kota C, via telepon milik blogger F, dari komunitas F di kota F, sesaat setelah keduanya bertemu menjelang acara Asean Blogger Community, Bali. Saat itu C bertanya mengapa saya tidak datang ke Bali, yang saya jawab kalau blogger non komunitas itu tidak diperhitungkan dalam acara-acara blogger, makanya saya tidak diundang.*

*inisial nama orang, nama komunitas dan nama tempat bukanlah yang sebenarnya

Yah, jawaban itu bercanda, memang, karena waktu ada blogger lain lagi yang menanyakan hal yang sama, saya menjawab kalau Papua belum merdeka, dan belum menjadi anggota ASEAN, karena itu perwakilan bloggernya tidak diundang. πŸ˜†
Tapi candaan itu bukan ide baru sebenarnya. Teman-teman yang sering baca blog ini pasti inget kalau saya sudah pernah ocehkan hal tersebut dua tahun silam. Saat itu Pesta Blogger Nasional 2009, yang tidak bisa saya hadiri. Dalam sambutan yang sudah tidak bisa lagi saya temukan arsipnya di situs resmi, ketua panitia ngomong begini:

Saya yang sudah sangat bete gak bisa hadir, saat itu jadi tambah bete lagi baca itu. Selain yang non komunitas gak diperhitungkan, rentang wilayah yang disebut jelas-jelas gak menghitung lokasi tempat tinggal saya. Padahal waktu itu masih rajin posting. Rasanya gak dianggep berkontribusi di blogsfer. Ungkapan kesel itu akhirnya muncul, walaupun saya yakin sangat mas Iman pasti tidak ada niatan tuk mengabaikan saya atau siapapun juga yang tidak punya komunitas. :mrgreen:

Buat saya sendiri, tidak punya komunitas itu sebabnya dua:
Pertama, teman-teman blogger saya ada diluar kota semua. Mayoritas ada di pulau Jawa, selebihnya di pulau-pulau lain, dan ada juga yang lain negara. Saya tidak mungkin mengajak atau diajak mereka tuk jadi satu komunitas. Pula banyak teman baik yang eksis ngeblog tanpa komunitas, bahkan anonim, makanya saya (yang agak anonim juga sebelum punya akun FB) jadi tak terlalu mikir soal komunitas.
Kedua, di kota saya tidak ada komunitas blogger. Seandainyapun ada, modelnya yang deklarasi sendiri. Ini bukan pertama kalinya nemu yang seperti itu sih. Jelas gak bakal menarik minat saya tuk terlibat. Salah prosedur, dan salah tujuan; tidak ada pentingnya bikin komunitas hanya supaya ada komunitas. Dan intinya ya balik lagi ke poin pertama: berkomunitas itu musti dengan teman. πŸ˜‰

Sesudah postingan itu saya makin jarang apdet blog, bahkan sampai 7 bulan beruntun pun pernah gak apdet, saat saya melancong di Jawa. Hebatnya saya justru makin eksis, dalam arti makin banyak teman. Sebabnya sederhana saja, karena kopdar; ntah itu di acara-acara tuk blogger, menghadiri acara yang ada teman blogger, maupun nongkrong dalam komunitas blogger. Itu jadi pelajaran berharga buat saya, bahwa untuk eksis penting banget tuk ngumpul bareng sesama blogger, plus ngetwit, plus foto-foto. Soal postingan dan komennya itu jadi bahan cerita nostalgia saja. Untuk itu, komunitas dan sejenisnya memegang peranan yang sangat penting. Saya jadi tak heran bahwa ide “blogger dalam komunitas lebih eksis” itu jadi gak hilang juga dari kepala saya. πŸ™„

Pesta Blogger Nasional 2010, saya akhirnya mampu datang sendiri. Sebelum hari H baik via sms maupun lisan saya sudah mengabari ketua panitia kalau di Jayapura gak ada komunitas blogger, tetap saja undangan yang dikirim buat saya mengharapkan partisipasi mengisi acara dari komunitas blogger di Papua. Pake hadiah tiket pula. Tiket buat blogger non komunitas tampaknya tidak ikut ditawarkan. :mrgreen:

Saat komunitas Angingmammiri akan mengadakan acara dalam rangka ulangtahun keempat mereka Desember 2010, undangan di email saya malah ditujukan buat komunitas Blogger Papua. Walah. Kok bukan buat JenSen? πŸ˜†

Malam Muktamar Blogger 2010, saya juga kena todong berdiri untuk memperkenalkan diri. Pertanyaan dari hadirin yang tidak bisa saya lupakan (IIRC sepertinya mbak Ainun ya?) adalah: “bagaimana perkembangan komunitas blogger di Papua?”. Matek. Saya jawab lurus-lurus saja kalau disini belum ada komunitas. Saya bahkan tak tau siapa saja yang ngeblog di Jayapura selain saya dan Fritz.
Saat acara ultah kedua komunitas dBloggers, hampir saja saya juga kebagian tampil di depan bersama wakil-wakil berbagai komunitas karena dianggap blogger Papua, padahal saat itu saya sudah hampir 5 bulan di pulau Bali dan Jawa. πŸ˜†

Saya masih lumayan senang bahwa undangan tuk Kopdar Blogger Nusantara memang ditujukan tuk saya pribadi sih. Sayang gak bisa dateng. πŸ˜›

Ntahlah, tampaknya memang tidak bisa ditolong. Di satu sisi, “blogger Papua” sudah seperti personal branding buat saya; tapi disisi lain, saat ada hal-hal soal komunitas blogger dari Papua, paling tidak ada 40% kemungkinan saya duluan yang diinget. Padahal saya cuma blogger biasa, yang kebetulan sedang berdomisili di Jayapura, bukan blogger dari komunitas blogger Jayapura atau Papua, yang ntah kapan adanya. :mrgreen:

Yah, itu cuma bagi-bagi cerita saja. Apakah komunitas-komunitas blogger memang lebih diperhitungkan dalam acara-acara blogger daripada blogger non komunitas, silahkan masing-masing punya pendapat. Lalu, balik lagi ke kutipan paling atas, tentu saja timbul pertanyaan:

kenapa gak bikin komunitas blogger di Jayapura?

Satu, seperti disebut diatas: tak ada teman blogger sekota yang sedekat teman-teman blogger saya selama ini, tuk bisa membentuk komunitas yang bagus. OK, ada Fritz, teman seperjuangan sejak belum belum ngeblog. Tapi sejak 2009 dimana Fritz mengungkapkan keberatannya andaikata di komunitas blogger Jayapura bergabung juga blogger-blogger yang pro separatisme, saya tak pernah lagi menyinggung soal ini pada dia. πŸ˜†
Dua, yang paling penting: ada penolakan batin. Saya ini bercita-cita untuk merantau, tapi belum pernah kesampaian dengan sukses. Kedua orang tua saya perantau (ke Jayapura), dan adik angkat saya diijinkan mereka merantau di Jakarta sejak 2000, wajar saya juga mengharapkan pengalaman itu. Saya mencintai Jayapura dan Papua, tapi saya sudah terlalu lama tinggal disini, dan kota ini sudah lama saya rasakan bukanlah tempat yang cocok untuk saya mengembangkan diri sesuai harapan saya. Ketika internet mampu memproyeksikan seseorang keluar dari batasan fisiknya, sayapun ngeblog, sebagai pembuka jalan tuk menemukan dunia luar, mendapat teman-teman baru, mengembangkan wawasan, dan putus dari bermacam-macam masa lalu yang gak enak di kota ini. Oleh karena itu membangun komunitas blogger disini saya rasa bertentangan dengan impian keluar kota itu. Itu hanya akan membuat saya semakin berakar dan beridentitas di kota ini. That’s sux.

Karena itu, ketika sekitar awal tahun ini di Jakarta, saya diterima teman-teman dari (milis) Kopdar Jakarta sebagai anggota, bagi saya itu bukan cuma karena saya memenuhi persyaratan dari komunitas tersebut, tapi juga karena Kopdar Jakarta adalah komunitas di tanah rantau yang sesuai keinginan saya, yaitu teman-teman baru di tempat baru. Sayangnya saya harus balik ke Jayapura, tapi keanggotaan itu tetap jadi motivasi kuat tuk mengejar harapan mengeluarkan diri dari sini (lagi). Soalnya jauh dari pusat itu hanya akan membuat saya macet jadi blogger daerah. Apalagi sekarang ada kasta blogger ASEAN, makin tertinggallah saya disini. πŸ˜†

Mungkin, di suatu masa depan saya bisa saja bergabung atau mendirikan komunitas regional disini apabila mendapat teman-teman online sekota yang pas di hati, juga kalau saya masih disini tentunya. Tapi ntah kapan itu bakal terjadi, sementara saya makin jarang online karena pekerjaan.

Hari ini sebagian teman-teman saya di Kojak ngumpul tuk merayakan ulang tahun milis kami yang ketiga. Saya ucapkan selamat ulang tahun saja dari jauh. Semoga Kopdar Jakarta selalu elit dan eksis. Terimakasih banyak sudah mengajarkan saya banyak hal soal kehidupan dalam sebuah komunitas, dan memberikan saya lebih banyak lagi teman. πŸ˜‰
Bersulaaaaaaangg!!! (^_^)_cU __ Uo_(^_^)

Oiya, Pesta blog.. eh, ON|OFF 2011 sudah didepan mata. Saya keknya gak datang nih. Jauh dan mahal, seperti biasa, kecuali dikirimi tiket. Kalian datang? πŸ™‚


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
November 2017
M S S R K J S
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter