Posts Tagged 'salatiga'

Film-film 2016 (Januari-Juni)

Sudah akhir September ya ternyata, blog sudah karatan dan daftar ini sudah ditagih beberapa teman. Aktivitas nonton tahun 2016 ini berjalan lebih berwarna dibanding dua tahun sebelumnya, salah satunya karena… PC saya rusak lagi akhir April kemarin, lagi-lagi disebabkan karena kesukaan PLN untuk memadamkan listrik. Berbagai usaha sudah dilakukan Atho tuk memperbaiki dengan ilmu dan alat yang ada tetapi selalu gagal. Sejak itu nonton film di rumah juga terpaksa berhenti dan hanya beberapa kali menonton di bioskop. Kemudian saya mulai melancong ke Jawa awal Juni dengan berbagai petualangan, alhasil daftar semester pertama tahun ini hanya setengah dibanding apa yang dicapai tahun lalu, plus ditulis sekarang sesudah pulang dari Jawa.
Kay, cukup ngoceh, mari melihat kembali apa saja yang saya nonton sampai akhir Juni. BTW sebagian besar catatan di sini sudah diarsipkan duluan di social media. Ini jadi kompilasi saja.

1. The Intern
Reset hitungan lagi di tahun baru dengan komedi yang sungguh menghangatkan hati. R. de Niro pas jadi opa sempurna, dan Anne Hathaway tatapan mata dia masih saja bikin meleleh.

2. Entourage
Reviewnya jelek, tapi karena tidak mengikuti serialnya jadi tetap merasa lucu dan seru melihat kisah persahabatan level Hollywood. Banjir cameo pula.

3. Love & Mercy
Biopic Brian Wilson. Jadi baca-baca soal musisi jenius ini dan karir dia, termasuk Beach Boys. Menarik.

4. Inside Out
Ide jenius dengan eksekusi rupawan. Jadi bertanya-tanya, kalau ada 5 personifikasi serupa dalam kepala sendiri, kek apa mereka dalam hidup saya sehari-hari, apa saja memori inti dan pulau-pulau yang saya ciptakan?
Bagus banget.
❤ ❤

5. Aloha
Plot latarnya bagus, bisa jadi film eksyen kalo gak pake lovey-dovey. 2 fokus menarik:
a. Gerakan nasionalisme tribal “Negara Hawaii” dan pemimpinnya Bumpy Kanahele, sangat mengingatkan pada Papua.
b. Plot kontraktor aeronautika swasta super kaya yang bisa mengontrol militer.
Romcom dia sendiri level wajib tonton dengan adanya Rachel McAdams dan Emma Stone, plus bonus Danielle Rose Russell. Cuantikk…

image

Jadi pilot AU pula…

 

6. Sicario
Cerita War on Drugs di AS dan keterlibatan black ops CIA di dalamnya. Ketika kejahatan harus ditumpas dengan cara yang juga jahat. Sangat menarik, terutama pada hubungan antar agensi pemerintah. Senang lihat Emily Blunt lagi.

7. Hotel Transylvania 2
Berasa beda lihat plotnya gak lagi romcom lovey-dovey cinta terlarang Johnny dan Mavis lagi tapi jadi kisah (grand)parenting yang tetap saja sangat kocak. Dennis gak jadi fokus sebaliknya Vlad malah mencuri perhatian.

8. Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull
Belum pernah nonton serius trilogi prekuelnya yang legendaris itu, paling lihat sepotong-sepotong di TV, telat pula nonton Indy 4 ini. Petualangan arkeologi seperti Indy atau Tomb Raider termasuk plot eksyen favorit saya, bahkan ekspedisi serupa oleh Donald Bebek.
:mrgreen:
Indy 4 ini penuh elemen familiar yang menyenangkan, termasuk klimaks aliennya. Jaman alien masih berwujud E.T., belum Transformers.
😆

9. Brotherhood of Blades (Xiu Chun Dao)
Terjebak intrik dan sistem politik kotor sudah cukup mematikan, tetapi tidak jujur dengan sahabat seperjuangan membuat kematian lebih pasti.
Film wuxia yang cukup bagus plotnya dan eksyennya.

10. The Last Witch Hunter
Hidup abadi, lalu melanjutkan permusuhan abad silam ke jaman modern. Plot fantasi yang formulaik dengan sejumlah aksi sihir yang cukup menarik. Wibawa Vin Diesel + pesona Leslie Rose lumayanlah.
Menyarankan Dolan mengganti buku dengan iPad tapi sendiri mempertahankan pedang. Halah..

11. Bridge of Spies
Sebagai penyuka aviasi militer, sejak kecil sudah akrab dengan insiden Francis G. Powers terutama tentang U-2 dan SA-2, tapi masih banyak hal lain berkaitan dengan misi pengintaian gagal itu yang belum saya dalami, termasuk akhir kisah sang pilot. Drama sejarah ini membahas dengan baik bagian itu dari sudut pandang James Donovan. Bagus.

12. Atonement
Beban hati sebab menghilangkan “hidup” orang lain, terbawa tua; kemarahan dan dendam korban yang sungguh terasa, terbawa mati muda. Tragedi menarik yang familiar.

13. The Hundred-Foot Journey
Dramedy menarik + food porn India + Prancis. Menyenangkan nontonnya, romantis akhirnya. Itu Charlotte Le Bon cuantiknyaaaa…

14. Spectre
Bertemu tema pengawasan global lagi, tapi semua yang bisa diharapkan dari film James Bond komplit di sini. Sayang tante Monica muncul bentar banget.
Jaguar yang ngejar Aston Martin si Bond itu keren..

15. Spotlight
Cerita warbyasak kisah nyata kekuatan jurnalisme membongkar kejahatan. Pengingat penting bagi ribuan korban pelecehan seksual para rohaniawan Katholik.
❤ ❤

16. Some Kind of Beautiful
Senang lihat si cantik Jessica Alba lagi, tapi gak suka lihat karakterisasi peran dia sebagai istri yang ninggalin suami demi cowok seumuran. Di luar itu, ini romcom biasa saja.

17. The Treacherous (Gansin)
Dramatisasi pemerintahan raja Yeonsan, diktator terburuk era monarki Korea. Brutal namun erotis, penuh kegilaan, intrik, darah dan payudara.
Menarik sejarahnya, penceritaannya dan visualisasinya.

image

Strip for the king..

 

18. The Magic of Belle Isle
Cerita pertetanggaan yang sederhana tapi menarik dan hangat. Menginspirasi tuk pindah rumah ke sebelah janda cantik.

19. Fantastic Four (2015)
Begitu Sue Storm muncul langsung lesu, kebanting abis sama Jessica Alba dari adaptasi sebelumnya. Plotnya cukup bagus dan realistis, tapi karakternya, dramanya dan eksyennya hancur. Cuma kerasa film pahlawan super di beberapa menit akhir.
👿

20. Everest
Peringatan akan bencana Everest 1996. Semua gunung bisa didaki, tapi tidak setiap orang harus mendaki hingga puncak tertinggi, bahkan sekalipun sudah di depan mata.

21. Love, Rosie
Kenangan bersama yang terlalu banyak + selalu ada untukmu = Teman Tapi Mesra (Make love pula). Malu bercinta, sesat di hubungan. Romcom bagus dan lucu. Banyak subplot familiar, tapi banyak kebetulan juga. Lagu-lagunya asyik-asyik.
❤ ❤

22. Dragon Ball Z: Resurrection “F”
Gak pernah nonton film-film DBZ tahu-tahu dah seri 15. Kebingungan lihat karakter-karakter Whis dan Beerus dari Battle of Gods. Freeza bangkit lagi, dan selanjutnya formulaik. Asyik buat fans.

23. Barely Lethal
Komedi eksyen murahan yang nanggung lucu dan nanggung seru, apalagi karena sudah pernah nonton serial Kill Me Baby untuk tema yang sama. Lumayanlah lihat Jessica Alba lewat-lewat.

24. The 33
Kisah nyata heroisme saat bencana tambang di Chili. Masih ingat 2010 silam cuma bisa ngikuti kasus ini di media. Entah mengapa di film tidak ada 6 petugas SAR yang turun ke tambang. Bagus dari sisi biografi.

25. Ichi
Goze (pemusik buta) cantik yang berkelana mencari sang master Zatoichi. Film Chanbara bagus, terutama pada karakter sidekick si swordman traumatik. Lagu penutupnya (SunMin – Will) syahdu.

26. 45 Years
Drama bagus tentang hantu kenangan. Ketika cinta terasa meragukan karena hubungan bertahun-tahun ternyata hanya pelarian.

27. Still Alice
Drama sedih melihat proses kepikunan menggerogoti memori. Menurun ke anak pula. Senang lihat Kristen Stewart dan Kate Bosworth di sini. Bagus.

28. Ted 2
Si beruang cabul kembali lagi mengocok perut, sayang gak dapat versi unrated. Humornya masih khas Seth McFarlane. Cocok dengan telingaku.
Karakter dari Mila Kunis terpaksa ditipex tapi ganti dia ada Amanda Seyfried idolaku. Norah Jones nyumbang lagu keren di akhir film, lalu abis itu saya gak paham Liam Neeson kenapa.
😆

29. The Family
Komedi mafia seru dan lucu. Banyak masalah memang bisa lebih efektif dan efisien diselesaikan dengan cara kekerasan, dan hasrat untuk itu sering muncul dalam hati, terwakili sangat baik oleh kisah film ini.

30. Memento
Salah satu film terbaik pada eranya. Penceritaannya lebih rumit dari ceritanya sendiri. Tema anterograde amnesia ini ngeri, opsi memilih khayalan yang ingin dipercayai sebagai kebenaran.

31. The Fall
Drama fantasi bagus. Terasa seperti penghormatan untuk para stuntman era film bisu. Suka pemandangan di berbagai settingnya, terutama bangunan-bangunan bersejarah India.

32. No Tears For The Dead
Eksyen Thriller khas Korea bertema rasa bersalah dan rindu ibu-anak. Bagus, seru dan konflik batinnya kerasa. Lagu penutupnya bagus. Entah apa..
🙄

33. Child 44
Investigasi pembunuhan berantai yang ketimpa suramnya setting Sovyet pasca Holodomor dan PD 2, plus suramnya rezim komunis. Tom Hardy keren, tapi film ini berlalu begitu saja.

34. Star Trek
Senang nonton ini, bagus, akhirnya mengerti awal mula reboot ini dan hubungannya dengan linimasa film-film terdahulu. Soalnya sudah nonton sekuel film ini duluan.

35. A Brilliant Young Mind
(Autisme + matematika) + cinta. Terinspirasi kisah nyata. Lebih mudah memahami film ini dari sudut interaksi karakter yang menderita sindrom Asperger daripada mengikuti linear ceritanya. Bagus.

36. Millenium Actress (Sennen joyu)
Nonton ini sekalian disambung The Making of Millenium Actress. Ngimpi nonton ini sejak baca ulasannya di Animonster 2003 atau 2004 silam. Kisah cinta abadi dalam penceritaan yang bagus banget, mengaburkan kenyataan, memori dan akting. ❤

37. The Revenant
Jadi baca ringkasan sejarah hidup Hugh Glass untuk lebih memahami film ini, juga hubungan dia dengan John Fitzgerald dan Jim Bridger. Walaupun sudah didramatisir hingga melenceng dari kisah nyatanya, film ini tetap terasa dingin dan monoton.

38. 20th Century Boys: Beginning of the End
Sudah beberapa tahun berlalu sejak khatam komik legendaris ini, harus mengingat-ingat lagi plot dan karakternya yang lumayan banyak. Asyik tuk nostalgia karena setia pada cerita dan casting-nya sungguh pas, terlebih lagi ada musiknya. Efek khusus terasa garing dan klimaks Kenji di dalam robot terlihat gelap banget di filmku tapi tidak mengapa.

39. 20th Century Boys 2: The Last Hope
Ceritanya jadi kolosal dan futuristik, makin linear dan apokaliptik. Senang lihat Kanna remaja dan Kyoko. Akhirnya ngerti gimana lagu “gutarara.. sudarara..” dinyanyikan.

40. Avatar (Extended Version)
Akhirnya kesampaian juga nonton film berpemasukan tertinggi ini. Semua-semua di film ini bagus, tapi terutama saya suka topografinya, keanekaragaman hayati dan model-model pesawatnya. Tema imperialismenya juga sangat kerasa, mengingatkan pada Freeport dan Papua.
❤ ❤

41. 20th Century Boys 3: Redemption
Malah sering bengong karena banyak bagian penting dari komiknya yang gak masuk film, belum lagi klimaks ‘kiamat’nya yang kurang epik. Usai nonton dan baca-baca baru paham kalau plotnya memang agak beda dari komiknya sehingga hasil akhirnya juga berbeda. Sayang banget.
😦

42. Pendekar Tongkat Emas
Dunia persilatan di sini terlihat sangat sempit, hanya sejumlah kampung kecil. Saking sempitnya hingga para pendekar seilmu saling kawin. Eniwei bagus.

43. Tomorrowland
Seperti biasa saya suka setting futuristik yang inovatif di Tomorrowland, terutama kolam renang bertingkat. Roket di Eiffel juga keren. Plotnnya antiklimaks, lihat Casey Newton hanya “gitu doang?”. Kurang epik. BTW Raffey Cassidy cantik.

44. 1911
Drama sejarah revolusi China yang menggulingkan dinasti Qing. Menarik, heroik, mencerahkan, dan lebih saya apresiasi ketimbang “generally negative/unfavorable reviews” di Wikipedia.

45. The Peanuts Movie
Film Charlie Brown dkk pertama yang kutonton. Senang lihat Peanuts geng ini beranimasi, 3D pula. Nostalgik karena familiar dengan komiknya. Snoopy lucu banget. Menggemaskan.

46. Pan
Kisah alternatif Peter Pan. Menarik juga, seru dan visualnya hebat, tapi terasa kehilangan beberapa elemen familiar seperti Wendy dan Tink.

47. Carol
Drama menarik soal hubungan terlarang. Kerasa banget situasi yang terbangun antar karakter. Saya suka setting 50an di sini. Mobil-mobil klasik dan piringan hitam. Berturut-turut nonton Rooney Mara nih.

48. Our Times
Kombinasi sempurna nostalgia, komedi dan dongeng romansa. Lin Truly muda ekspresi wajah dia komik sekali. Terhibur banget dan sangat kilas balik nonton ini.

image

Untung semasa sekolah gak pernah ikutan tren blateng…

 

49. Room
Memandang dan mempelajari dunia dari mata anak 5 tahun. Sangat menarik melihat interaksi Jack dengan ibu dia dan sekitar dia. Drama sangat bagus.

50. Anna Karenina (2012)
Saya suka gadis-gadisnya, setting ala panggung teater, kostum mewah, pesta dansa dan tema sosial imperial Russia. Musiknya juga asyik. Ceritanya sendiri dah klasik sih.

51. Monster Hunt
Lumayan seru walau gak seepik yang kuharapkan. Film keluarga makanya kurang sadis. Suka lihat Bai Baihe di sini, dan ada Tang Wei juga.

52. Love
Drama erotis tragis. Menggambarkan banyak hal yang (saat itu) ingin kulakukan dalam relationship plus hal-hal yang perlu kuhindari, misalnya drugs dan menghamili partner threesome.

53. Tazza: The High Rollers
Film judi keren. Lengkap dengan hutang segunung dan taruhan tinggi. Jadi tahu judi hwatu Korea walau tetep bingung cara mainnya. Kim HyeSoo sex appeal dia besar banget di sini.
BTW ini film terakhir sebelum PC dirusak PLN.
😥

54. Ada Apa Dengan Cinta 2
Ngebioskop di XXI Mall Jayapura. Alya dibunuh penulis cerita. Fuck. Rangga dan Cinta pernah pacaran selama jeda, bertemu kembali penuh kangen setelah sekian tahun kok masih drama duluan? Langsung ngamar dong. Lampiaskan dulu rindu dendam dan birahi selama ini, biar lepas semua rasa, abis itu komunikasi kan bisa enak, gak perlu muter-muter keliling Jogja dan Jateng dengan rute yang bisa jauh banget antar lokasi. Mo ciuman aja masa harus cinta yang nyuri duluan. Di luar itu, usaha menghidupkan kembali legenda Rangga dan Cinta ini cukup bagus sih, termasuk dialog soal pilpres yang jadi favorit saya. Saya suka karakter Cinta yang mau ninggalin tunangan demi mencoba lagi Rangga. Menurutku penggunaan karakter AADC dalam iklan Line sebelum ini agak merusak jalan cerita.  ❤

55. Captain America: Civil War
Ngebioskop di XXI Mall Jayapura. Masih agak kaget melihat (lagi-lagi) reboot Spiderman di sini, tapi dia memang jago. Andai saja Sipdey sudah ada sejak Avengers pertama. Dengan karakter-karakter yang sebagian besar sudah familiar, plot jadi cepat berjalan menuju konflik. Pertempuran kedua kubu berjalan seru, kadang lucu, imbang dan juga konstan sampai akhir dengan motif yang kuat. Saya suka karakter Cap yang setia kawan. Film ini bagus. Lebih bagus daripada Avengers 2 dalam hal himpunan jagoan, konflik dan logika.
❤ ❤

56. X-Men: Apocalypse
Ngebioskop di XXI Mall Jayapura. Mengecewakan, tidak seperti pendahulunya yang plotnya mindblowing. Magneto lagi-lagi harus menjadi penggerak cerita, menenggelamkan Apocalypse yang jauh dari terlihat sakti dan menakutkan. Sekali lagi kisah X-Men adalah Xavier versus Magneto. Karakter-karakter lain di The Four Horsemen sah cuma figuran. Gak sekuat yang kuharap, pertarungan mereka pun gak seru. Belum lagi kemunculan Angel dan Nightcrawler yang bertabrakan kisahnya dengan kemunculan mereka di X-Men terdahulu. Makin membuat bingung. Dengan Kairo yang mendadak dikuasai mutan jahat, mestinya kota itu sudah dibom nuklir duluan oleh Israel sebelum tim Xavier tiba.
:mrgreen:

57. Warcraft
Ngebioskop di XXI Mall Jayapura. Film pedang dan sihir yang seru, kolosal dan menjanjikan. Ras Orc jadi terlihat manusiawi di sini.

58. Deadpool
Harus pergi jauh dari rumah ke Salatiga tuk bisa nonton ini dengan laptop pinjaman dari mbak Neny. Lagi-lagi reboot. Deadpool muncul lagi setelah X-Men Origins: Wolverine dengan wajah yang sama tetapi cerita yang berbeda. Meh. Di luar itu ini film yang sangat seru, lucu dan brutal walau plotnya standar. Senang lihat Colossus lagi. Lebih besar dari versi terdahulu. Sangat menghibur.

59. SPL II: A Time for Consequences (Kill Zone 2 )
Film baku pukul tradisional yang seru banget. Plotnya juga menarik. Saya suka aplikasi global translator dan penggunaan emoticons sbagai jembatan komunikasi Thai-Canton.

image

Tony Jaa, Wu Jing & Max Zhang memang hebat bakupukulnya..

 

60. Cloudy with a Chance of Meatballs 2
Sekuel yang bagus tuk cerita mesin makanan jenius itu. Saya suka bentuk-bentuk hewan dari makanan di Swallow Falls.

61. Tazza: The Hidden Card
Seru seperti pendahulunya tetapi masih juga saya gak paham model judinya gimana orang-orang Korea ini. Penuh intrik, teruhan dan pengkhianatan dengan bumbu asmara. Shun SeKyung cantik banget, sementara TOP sangat keren.

62. Rayuan Pulau Palsu
Nonbar + diskusi di markas LSM apalah di pojok Salatiga. Dokumenter propaganda anti reklamasi Jakarta (terutama pulau G) demi kepentingan nelayan di kampung di Muara Angke. Jelek. Reklamasi di seluruh Indonesia disamaratakan jahat semua. Yang di Jakarta cuma dilihat dari kepentingan nelayan dan kapitalisme pengembang, gak ada dari konsep pembangunan Jakarta. Bahkan penggusuran kampung pun sepaket dalam cerita, tanpa membahas status tanah atau pembangunan peninggian tanggul penahan banjir.
👿

63. Star Wars VII: The Force Awakens
Sangat retro dan melodramatik, tapi sungguh-sungguh sekuel yang ditunggu setelah 30an tahun. Finn dan Rey sungguh karakter-karakter menarik, sementara BB-8 didesain sangat keren. Masih nggak paham mengapa Starkiller Base bisa dihancurkan segampang itu tapi yawdalah.
😛 ❤

64. Mojin – The Lost Legend
Plot arkeologi petualangan favorit dari salah satu adaptasi Ghost Blows Out the Light. Senang lihat kuburan kuno penuh jebakan dan mantra gini, seru. Sayang terlalu banyak drama dalam kuburan dan klimaks dengan Dang Sitian kurang berkesan.

65. Hitman: Agent 47
Lumayan seru tapi mestinya bisa jadi lebih bagus kalau eksyennya lebih masuh akal. Masa segitunya tembakan musuh meleset mulu?
Saya suka adegan di bengkel pesawat. Sayang Angelababy muncul sedikit sekali.
🙄

66. The Interpreter
Thriller politik yang menyindir Zimbabwe dan presidennya Robert Mugabe. Sudah bertahun-tahun pengen nonton ini, kesampaian juga lihat cantiknya Nicole Kidman di sini. Bagus. Film terakhir yang kutonton dengan laptop pinjaman. Terakhir juga di bulan Juni.

 

Segitu setengah tahun ini. Mestinya diposting awal Juli ya, tapi banyak bepergian, kerjaan, dan benwit melimpah di Salatiga malah bikin males ngeblog. 😆
Sampai ketemu lagi, dan jangan lupa selalu mencatat film-film yang kalian tonton yaa. 🙂

Tiga Puluh Tiga

Yap, ini postingan ulang tahun yang sudah terlewat seminggu lebih. Tapi tak mengapa, masih ada banyak hal yang bisa diceritakan dari hidup saya yang sederhana ini.

Nyokap:
Yang paling penting tentu kepergian saya lagi ke tanah Jawa tuk ngantar nyokap berobat. Seperti yang pernah diceritakan di beberapa postingan sebelum ini, tepat pada hari ulang tahun tahun saya yang ke 32 tahun lalu, nyokap yang sedang berada di Rote, NTT, mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang engkel kaki kirinya pecah. Setelah sesi operasi di Madiun dan rawat jalan di Salatiga yang akhirnya mengantar saya juga kesana, berlalu waktu sekian bulan tuk pemulihan yang akhirnya sampai ke tahap dimana harus dilakukan operasi lagi tuk mengeluarkan tiga kawat yang menyambung pecahan-pecahan tulang di kaki nyokap. Jadi tanggal 26 September kemarin saya menemani nyokap lagi pergi ke rumah di Salatiga. 29 September, di Minggu yang cerah, saya mengantar nyokap ke dokternya di Madiun lalu balik ke Salatiga hari itu juga. Operasi sukses dilakukan hari Selasa 1 Oktober. 4 hari kemudian saya dan adik menjemput nyokap (yang nebeng dokternya) di Solo. Mengajak jalan-jalan beliau ke Pasar Gede, PGS dan Paragon Solo sebelum balik ke Salatiga. Kami tak bisa berada di Jawa terlalu lama karena tepat dua minggu nyokap harus buka jahitan, dan bokap juga sedang kurang sehat. Akhirnya tanggal 13 Oktober kami pulang ke Jayapura via Jakarta dan tiba kembali tepat di hari ulang tahun saya 14 Oktober pagi. 2 hari kemudian, Rabu 16 Oktober, nyokap buka jahitan operasi di rumah. Tepat setahun sudah tuk pengobatan dan pemulihan. Masih ada dua pen lagi di kaki nyokap yang tidak mendesak tuk harus dikeluarkan. Entah kapan. Yang penting sekarang nyokap bisa berjalan kembali dengan cukup baik. 🙂

Kopdar:
Hanya dua mingguan di Jawa Tengah, seminggu pertama saya hanya di Salatiga saja. Kopdar dengan teman-teman yang saya miliki di kota ini. Mbak Neny, Evan, Erwin, Dini, Astri, Novieta, dll. Tak ketinggalan dengan selebnya Salatiga: Indra Yosodiharjo. Bersama Danny, Christa dan teman-teman Akber Salatiga lain saya juga sempat mengunjungi Chika Djati yang sedang sakit dan dirawat di RS setempat. Semoga segera pulih yaa. Tampaknya saya makin betah main di kota ini. Cuma butuh motor sendiri tuk mengurangi acara jalan kaki pulang tiap usai hangout. 😆
Selasa, 8 Oktober, saya main-main sehari ke Solo. Nginep di RBI seperti biasa, berbagi cerita dengan Hendri, Jun, Arit, Ael, Yos dan Pakde Blontank yang menemui saya disitu. Sempat juga nonton Gravity 3D di XXI Solo Square bareng Ael. Kurasa ini pertama kali saya masuk bioskop sejak nonton Unstoppable di Central Park sekitar tiga tahun silam. 😛
Esok (9 Oktober) siangnya saya sudah tiba di Jogja. Kali ini datang tuk nyari obat Mediabetea titipan bokap. Butuh dua hari tuk muter-muter komplex di sekitar Taman Siswa bareng Herdix tuk nemukan agen yg dicari. Ke Jogja kali ini ketemu Hamid, Utieed, Fachry, Arga dan mas Adrianus. Seperti biasa, bertemu mereka di Le Waroenk. Padahal gak janjian dan sudah lewat jam 9 malam saat saya dan Herdix singgah ngeteh disitu. 😀
Kamis siang saya dan GunRud akhirnya sukses kopdar dengan Rizma Adlia. Bloher era wordpress 2007 juga yang rupanya lagi rutin bolak-balik Palembang-Jogja tuk sekolah (lagi). Sementara Jumat siang esoknya saya dan Herdix makan siang bareng Carra, dengan bintang tamu Om Warm sebelum saya balik ke Salatiga sore harinya. Banyak teman di Jogja yang tak sempat kusapa, tapi saya pasti bakal balik lagi kesini. Empat kali ke Jogja tahun ini, lumayan juga tuk anak Jayapura. :mrgreen:

kafe merah putih

Di Kafe Merah Putih, Salatiga, dengan @gregoriusli @indrayust @EzekielRio @nenyish dan @jalu1111. Kamera milk mbak Neny. Dipotret oleh pelayan kafe.

dawet d'kraton

Di Dawet D’Kraton, Solo, dengan @aelfikry @iwnjw dan @mashendri. Kamera milk Jun, dipotret oleh pelayan kedai.

kalimilk with ma

Di Kalimilk Jakal, Jogja, dengan @herdixe @gunawanrudy dan @rizmaadlia yang ngambil gambar.

Ultah:
Akhirnya 33 juga tanggal 14 kemarin. Berkurang lagi setahun jatah hidup yang ntah sisa berapa. Tapi pokoknya semangat hidup masih sama seperti 10 tahun yang lalu. Semoga ke depan lebih sukses: Kerjaan, traveling, jodoh, dan semuanya. Terimakasih banyak tuk tiap teman-teman daring yang sudah mengirim ucapan dan doa. Via Twitter: Teh Nita Selya, Almas, Rere, Lea, Goenrock, Aelfikri, Mbak Ira Hairida, Carra, Enthong, Mbak Nenyish, Adrian Priyatna, Erwin Santoso, Ivan Prakasa, Adiitoo, Ziipy, Ghani Arasyid, Chichi Utami, Mas Karmin, Linda Ling, mbak Swastika, Fikri, Dwi Nengbiker, Ifanhere, Matilda, Zulhaq, Novia Candra, Yessy Muchtar, Memeth, Tikabanget, mbak Indah Juli, Gita Mbitmbot, Peter Lamanepa, P.S. Negoro dan Dian Aryanti; Via Fesbuk: Lambrtz, Jaka Ellinsworth, Moerjanto, Yudi Prasetyo, Daniel Hendrianto, Nia Sadjarwo, Haziran Nata, Priska Siagian, Nenda Fadhilah, King Akhmad, Ocha Milan, Rimura Arken, Andy Kurotsuchi, Dhita Maharrani, Jarwadi, Ivan Prakasa, Desti Utami, Yeni Setiawan, Dita Paradita, Biyung Nana, Gum Tiyangsae, Mina Ismawati, Chandra Iman, Fitria, Amed Hidayat, Alex Hidayat, Grace Kamila, Mas Haqiqie Suluh, Mas Lantip, dan Kounila Keo; Via Gugelples: Mas Karmin; Via SMS: Rindu Akiko, Kimi Rizkika, Hoek “Indra Aji” Soegirang, Eka Situmorang, Ajeng Lembayung dan Nonadita Puspitasari; dan Via milis KopdarJakarta: Ivan Prakasa, Billy Koesoemadinata, Chika Nadya, mbak Swastika, Oom Yahya, Simbok Venus, Mamski, Ervan Nurachman, Rhesya, Brama DR, Jafis, Ihwan dan Natalixia. Tuhan memberkati kalian semua. Terimakasih spesial tuk Athoe, Ipas dan Elko yang sudah memestakan ultah saya di Happy Puppy senin malam itu juga. Saya sayang kalian semua.  🙂

*bersulang*

Dari J.CO ke Le Waroenk ke Frame Coffee

Pulang ke Salatiga setelah Asean Blogger Festival di Solo, tak banyak yang saya lakukan selain makan tidur onlen dan maen PES2013 bersama adik-adik di rumah. Usai kegiatan sepekan yang padat seperti itu, rasanya sehari dua hari masih kurang unuk mengembalikan kebugaran ke level normal. Saya ingin jalan-jalan ke Jakarta hingga wiken, tapi tampaknya amunisi tak cukup.

Gita
Sabtu (18 Mei) akhirnya saya lewatkan dengan main ke Semarang. Rasanya saya nyasar hingga hampir sampai di terminal Terboyo karena tidak tahu kalo bis Solo-Semarang tidak melewati pusat kota. 😆 Tapi setidaknya ada pengalaman tuk jadi bisa merasakan bis Trans Semarang ke pusat kota, jalan-jalan di Carrefour DP Mall dan Gramedia Pemuda. Habis itu malah bisa ngerasain naik angkot karena diajak kopdar sama Gita di Java Supermall. Kami ketemu dan ngobrol di J.CO di salah satu sudut Mall. Satu dari sedikit teman yang justru lebih nyaman pindah kerja keluar dari Jakarta. Saya jadi belajar sedikit soal dunia pendidikan yang sangat dicintai dan dikerjakan oleh teman saya ini. God Bless you, Git.

Nana
Kamis (23 Mei) saya ke Jogja tuk ketiga kalinya dalam tahun ini. Menepati janji tuk menemui Nana, teman blogger dari Denpasar yang belum pernah kutemui dan sedang liburan ke Jogja juga. Kali ini nginap lagi di kosan baru GunRud, di Jalan Timor-Timur dekat Yonif 403. Dari segi transportasi tempat itu agak merepotkan karena saya harus berjalan lebih dari satu kilometer menuju/dari halte Trans Jogja terdekat, tetapi lama-lama terbiasa dan bisa diatasi. Malam itu juga kami kopdar di Kalimilk Jakal. Bersama Nana ada Mansup, sementara GunRud menemani saya. Berturut-turut lalu menyusul Pepeng, Iphan, Putro, Ucy dan Terryna. Kopdar yang menyenangkan. Semoga yang masih pada kuliah segera selesai ya? :mrgreen:

Jensen 1 crop

Berdiri: Mansup, GunRud, saya, Nana; Duduk: Terryna, Iphan, Pepeng, Lucia, Putro. Kamera milik Iphan, Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Ajeng
Esoknya (24 Mei) saya menemani Nana ke Candi Prambanan menumpang Trans Jogja. Karena perginya kesiangan nyampenya juga kesorean, tapi tetap saja saya menikmati karena ini pertama kali ke candi Prambanan, kapan lagi mo kesana kalo gak dengan sesama turis? :mrgreen:
Bubar dari Prambanan gak sempat pulang, langsung ke Le Waroenk dengan Trans Jogja plus jalan kaki. Ditunggu teman-teman dari dua grup disitu. Satu rombongan teman-teman Jogja; Adit, Bernad, Arga, Utieed, dan lupa siapa lagi disitu. Satunya lagi teman-teman dari Jakarta; Ajeng, Yudha, Diah dan Lia. Kemudian datang Matilda juga yang sebenarnya ngajak saya tuk ketemu Titut, tapi karena tiada kabar dari yang mau dikopdari, jadinya saya diajak Ajeng dkk ke Oxen Free. Ngebir disana dengan mereka dan banyak teman lain juga sampai jam satuan. Pulangnya ikut GunRud yang nyusul ngebir juga. Makasih Ajeng, juga teman-temanmu. You’re the best party organizer. :mrgreen:

Ifan
Sabtu pagi 25 Mei, tanggal merah tuk Waisak. Kelar mandi buru-buru cari ojek ke Gudeg Yu Djum dekat hotel Sheraton. Disana sudah ditunggu Bradley tuk makan pagi. Habis itu dateng Ifan, lalu Adrian dan Eka. Ini kopdar perdana saya dengan Ifan. Hari ini saya, Ifan dan Bradley nebeng acara Waisaknya Eka dan suami. Tujuan pertama adalah museum Ullen Sentalu di ujung Kaliurang. Saya baru tahu ada museum sebagus ini di Jogja. Isinya barang-barang dari para ningrat empat kerajaan dan kadipaten pecahan Kesultanan Mataram di Jogja dan Solo. Dari alat musik, kolesi batik, lusinan foto, lukisan hingga surat cinta terpajang rapi dengan cerita masing-masing yang mengalir dari pemandu museum. Sesekali terpikir kenapa para raja dan pangeran itu tidak pernah punya ide untuk menyatukan lagi wilayah mereka, tapi memang orang Indonesia itu berbakat tuk terpecah belah sih. 🙄 Teringat juga penjelasan pemandu museum tentang Pakubuwono XII yang tidak punya permaisuri, hanya enam selir , dan cerita dia putus disitu. Jadi saya cerita-cerita sendiri dengan Brad soal suksesi beliau karena ketiadaan putra mahkota. Kalo terjadi dua abad silam, kurasa kedua kontestan tuk Pakubuwono XIII pasti sudah berperang. :mrgreen: Saya tersiram hujan di museum ini, tapi sepadan dengan pengalaman saya. Thanx Eka. 😉

Jensen 2 crop

Berdiri: Ifan, Adrian, saya.; Duduk: Brad, Eka. Kamera milik Eka. Foto oleh pengunjung meja sebelah yang baik hati.

Adrian
Tujuan kedua adalah candi Borobudur. Sudah jam empat sore saat kami tiba di komplex Borobudur, dan butuh sejam lagi untuk akhirnya menyentuh candinya sendiri. Sayangnya jam lima adalah jam Borobudur ditutup sehingga saya hanya sempat naik setengah candi dan tidak sampai atas karena sudah tutup. FYI, ini pertama kali saya ke Borobudur, dan candi ini adalah satu-satunya tujuan saya mau nebeng rombongannya Eka yang mau lihat prosesi Waisak. Hari itu Borobudur dan sekitarnya jadi lautan manusia, sebagian diantaranya adalah turis lokal & fotografer norak. Mayoritas pengunjung pengen lihat parade ratusan (atau ribuan?) lampion di ujung acara, yang sayangnya tidak terselenggara hari itu karena acara molor dan hujan lebat turun. Lagi-lagi saya tersiram hujan. Lupa bawa payung itu dingin konsekuensinya. Salahnya menteri Agama ini. Tapi kalo kitab suci saja bisa dikorupsi gak heran waktu pun dikorupsi. 👿 BTW waktu nyari makan pas turun dari candi rombongan kami bertemu Umar dan Silvi. Dua orang itu saja yang ketemu dari sekian banyak teman yang saya tahu sedang di sekitar Borobudur hari itu. Sinyal sangat buruk (overload?) sehingga komunikasi pun susah. Saya berterimakasih pada Adrian Sir yang sudah membawa saya tepat waktu di perempatan Kentungan jam setengah satu. tak lama kemudian saya sudah dijemput GunRud tuk ganti baju dan nonbar final liga cempyen di kafe Susu Kambing. Sayang Dortmund tidak menang, tapi Muenchen pantas juara. Capeknyaaaa… 🙂

Topan
Minggu (26/5) sore, sudah jalan kaki lagi dari kosan ke Taman Kuliner Condongcatur. Saya nebeng keramaian dari acara ultah ke 4 CAC Jogja yang diadakan Karlina dan kawan-kawan. Serombongan teman (dan teman dari teman) yang kerap kutemui di Le Waroenk seperti Adit, Arga, Hamid, Anto, Bernad, Anna, Anni dan Celo juga hadir menyaksikan Dharma dan artis-artis lokal lain yang akustikan disana. Di meja sebelah saya ngumpul sendiri dengan Kitin, Mansup, GunRud dan bintang tamu malam ini: Topan Setiady. Susah juga ngajak anak ini kopdar padahal dia jago ngajar soal ekonomi dan keuangan global. :mrgreen: Walopun gerimis dan dingin tapi menyenangkan ngumpul-ngumpul. Esok (27/5) malamnya saya dan Topan masih ngobrol lagi sampai tengah malam di Le Waroenk bareng Hamid dan Arga.

J. Salatun
Selasa siang, satu lagi keinginan saya saat ke Jogja terpenuhi: mengunjungi Museum Mandala Dirgantara TNI-AU di ujung barat landasan lanud Adi Sucipto. Sayangnya sedang rame study tour dan piknik(?) dari banyak rombongan anak-anak sekolahan sehingga museum jadi sangat ribut. Saya meneliti tiap Marsekal yang pernah jadi pucuk pimpinan AU. Membayangkan beban mereka menjaga kedaulatan dan kebanggaan di udara RI saat pesawat dan senjata cuma sedikit. 🙄 Peragaan pesawat statis selalu jadi daya tarik utama museum seperti ini, dan karena pemandu museum sibuk dengan rombongan anak sekolahan (saya toh tidak butuh) saya jadi bisa berlama-lama memperhatikan (dan memanjati) tiap pesawat/helikopter. Selain pesawat-pesawat peninggalan TNI-AU saya memperhatikan juga 3 pesawat eks Jepang era PD II yang dulu diselamatkan dari bekas pangkalan udara Babo di Papua antara tahun 1977 dan 1981 lalu direstorasi: Sebuah Zero (Zeke), Sebuah Guntei (Sonia) dan sebuah Hayabusa (Oscar). Mestinya ada lebih banyak pesawat yang saat itu harusnya bisa diselamatkan sih. Dari era keemasan TNI-AU tahun 60an, setidaknya ada 3 pesawat yang tidak ada di museum: Il-28 Beagle, An-12 Cub dan heli raksasa Mi-6 Hook. Ini juga saya sayangkan. Kurasa tiket masuk yang cuma tiga ribu terlalu murah dan tidak berkontribusi dalam peningkatan kualitas museum. Saya harap di masa mendatang museum menyajikan lebih detil (tidak sekedar diorama) kisah-kisah TNI-AU dalam operasi-operasi militer seperti Trikora, Dwikora & Seroja, operasi-operasi kemanusiaan, bahkan yang belum diakui seperti operasi Alpha atau operasi Babut Mabur. 🙄

Mansup
Malam terakhir di Jogja saya habiskan bersama Putro dan Anno di lesehan depan mesjid Ahmad Dahlan, lalu besok paginya merayakan ultah Mansup di kampus dia di UNY sebelum balik ke Salatiga. Sayang gak sempat ketemu Amed yang masih tidur karena konon semalaman maen gim. Dua candi, dua museum, dan sejumlah ngumpul-ngumpul, selalu menyenangkan pergi ke Jogja. 🙂

Neny
Kamis malam (30/5) di Kafe Kopi Prijaji Salatiga, satu lagi teman sekomunitas yang belum pernah ketemu akhirnya kopdaran denganku: Indra Yosodiharjo. Warga asli Salatiga yang sedang pulkam. Bersama dia malam itu ada juga mbak Neny Isharyanti, (bakal) mantan kepsek Akber Salatiga. Obrolan seru malam itu berlanjut dengan keikutsertaan saya di kelas Akber keesokan malamnya (31/5) di tempat yang sama. Ketemu lagi dengan beberapa anggota Akber yang pernah kutemui waktu pertama kali saya ikut Akber Salatiga, juga beberapa kenalan baru: Danny, Christa dan Erwin. Senang ketemu kalian semua.

akber 2

Dari kiri: Fafa, Christa, mbak Neny, Danny, Ika, mbak Mon, saya. Foto oleh Erwin Santoso.

Agnes Monica
Malam minggu (1/6), malam terakhir saya di Salatiga, dilewatkan dengan karaokean bareng mbak Neny, Ika dan Christa di D’ Jozz. Selain nyanyi macam-macam, saya sukses membawakan dua lagu todongan teman-teman: Cinta di Ujung Jalan dari Agnezmo dan Gee dari Girl’s Generation. Hohoho.. 😈 Bubar karaokean, saya dan mbak Neny masih nongkrong lagi di kafe Frame Coffee, dan dapet kenalan baru lagi: Lindri dan Astri. Senang ketemu mereka semua. Minggu sore saya sudah dalam penerbangan kembali ke Jakarta dan sampai di Jayapura Senin (3/6) pagi. Tiap perpisahan, pasti ada pertemuan kembali. Jadi sampai ketemu lagi. Hopefully. 😉

Saat Cebongan Prison Raid terjadi, saya sedang di Jogja…

Suatu hari di Cileungsi…

Simbok: “[…] kamu harus pergi kesini, dan kesana, dan kesitu.. Bagus banget tempatnya… (menyebutkan beberapa tujuan wisata dengan pemandangan indah, sambil menunjukkan foto-foto yang bikin ngiri)
Saya: “nanti deh mbok. Saya gak ada teman yang mo ditemui kalo pergi ke tujuan-tujuan itu.. :mrgreen:
Simbok: 😆

Well, suatu hari nanti saya pasti akan ada di jejak para bloher™ traveler itu, pergi ke tempat-tempat eksotik. Tapi tuk saat-saat ini, catatan perjalanan saya masih akan dipenuhi cerita-cerita bertemu sesama teman onlen. *lirik jurnal* :mrgreen:

Nah, saya sudah 6 hari di rumah di Jayapura usai 3 bulan keluar kota. Perjalanan yang menarik dan bikin tambah gemuk. Kembali ke Salatiga usai dari Jakarta akhir Februari itu, saya akhirnya sempat pergi sehari ke Semarang hari Rabu siang tgl. 6 Maret. Ketemu Neng Ocha disana. Kali kedua ketemu sejak PB10, dan pertama kali ngobrol panjang. 😀 Semarang ini kota yang besar. Kuharap lain kali saya bisa bermalam dan keliling-keliling di kota ini. 🙂

Sabtu, 10 Maret 2013, saya disummon mbak Ainun yang lagi mudik ke Salatiga tuk menghadiri Akber Salatiga di Balai Dukuh. Dasar ndeso, walo dah datang sejak acara belum mulai saya gak berani masuk sampai pertengahan acara nunggu SMS konfirmasi dari mbak Ai (yang tentu saja lagi konsen ke pembawa materi) karena merasa gak ikut ndaftar. 😆 In th e nd saya akhirnya masuk, ikut sisa acara, kenalan dengan Ika, deputi akber setempat; Yoan & Fafa, yang ngajar hari itu, dan entah siapa lagi kawan-kawan mbak Ai. Saya juga dapet buku “Perempuan yang Melukis Wajah” dengan tandatangan mbak Ai. Acara hari itu ditutup dengan makan siang bareng dan wisata keliling kota naik delman. Macam turis saja. Thanx banget mbak. 😀

akber 1

Mbak Ai dan saya beserta Ika, Fafa, Yoan, dan peserta Akber

2 hari berikutnya, 12 Maret. Setelah mengeluh sakit pada jantung beberapa hari terakhir, saya akhirnya nemani nyokap check up ke Madiun. Sekalian ketemu dokter tulang. Rencananya saya hanya mengantar saja lalu pulang ke Salatiga sementara nyokap tetap tinggal disana. Sampai di Madiun nyokap berubah pikiran, jadilah saya tinggal seminggu di Madiun. Sayang banget di kota ini gak punya temen. Saya hanya jalan-jalan sekadarnya berdasarkan panduan dari Yudhi Prasetyo via HP. Thanx bro. 😉

Seminggu kemudian, Selasa 19 Maret siang, saya sudah dalam perjalanan balik ke Jawa Tengah. Nyokap tetap di Madiun tuk lanjut ke Kupang hari berikutnya, dijemput kakak sepupu dari sana. Kali ini memutuskan turun di Solo. Ini pertama kali menginjakkan kaki di Solo setelah 20 tahun, padahal kampung halaman sendiri. Dijemput pakde Blontank dekat hotel Sunan, langsung menuju ke Rumah Blogger Indonesia (RBI) & melapor ke Hendri yang jadi tuan rumah. RBI itu markas yang hebat. Saya bisa onlen dengan kencang sekuat saya mampu bertahan di depan PC. :mrgreen: Jalan-jalan malam plus makan malam bareng Hendri, lalu besoknya jalan-jalan pagi plus makan pagi bareng pakde Blontank. Rabu siang meluncur pulang ke Salatiga dengan oleh-oleh kaos, blontea dan undangan lisan tuk datang lagi bulan Mei. 😀

x2_11240469 crop_resize_resize

Di halaman istana Mangkunegara

Sampai Salatiga dengan muka datar. Rumah kebanjiran malam sebelumnya. Dan ransel (yang kutaruh di lantai) beserta isinya basah semua. Dua hari saya sibuk ngeringkan jurnal. Untung ditulis loose leaf, bisa dipisah-pisah dari binder-nya tuk dijemur. Catatan harian saya hitam semua karena tintanya meleleh. Syukur masih bisa terbaca tuk buat postingan ini. :mrgreen:

Jumat, 22 Maret 2013. Saya ke Jogja lagi tuk kunjungan 5 hari hingga Rabu (27/4). Kali ini Celo yang berbaik hati memberikan tumpangan dan pinjaman motor karena GunRud sedang keluar kota. Kali ini dateng mo ngambil HDD External rusak yang kutitipkan tuk diperbaiki saat terakhir datang. Ternyata tetap tak bisa berfungsi kembali. Ya sudahlah. Lanjut ke tujuan berikut yaitu belanja suvenir buat ortu di Malioboro, dari topi, kipas, tas sampai daster. :mrgreen:
Kali ini, selain ketemu lagi dengan teman-teman baik yang dah nemui saya kemaren seperti Celo, Kitin, Mansup, Matilda, Anno dan Putro, ada teman-teman lain di Jogja juga yang baru sempat ketemu: Funkshit, Enthong, Hamid (3 orang ini baru kulihat lagi sejak PB Jogja 10 :mrgreen: ) plus Arga, Novi dan Karlina. Senang ketemu kalian semua. 🙂
Tapi kopdar paling istimewa di Jogja adalah bertemu teman-teman dari Jawa Timur; Blogger Malang, Mbakneng (22-23/4) dan blogger Banyuwangi, Nurma (25/4). Walo tak banyak ngobrol karena keduanya ke Jogja dengan suami masing-masing tuk urusan keluarga, sudah sah banget disebut kopdar, dan mengurangi tanggungan saya tuk berkunjung ke kota mereka. :mrgreen:

2 April 2013, berangkat dari Semarang dan transit di Surabaya, saya tiba di Kupang. Sudah 10 tahun tidak pulang kesini, ke kota yang dipenuhi keluarga besar dari pihak nyokap. Kaget juga keponakan saya sudah bertambah banyak sekali! Sebenarnya saya tak kenal bloher™/onliner siapapun disini, tapi atas inisiatif Almas dan keajaiban twitter, saya akhirnya kopdar dengan Inda Wohangara (yang ternyata teman sepupu saya) dan Dicky Senda, para bloher dari komunitas Flobamorata. Kawan-kawan saat itu sedang sibuk dengan acara-acara menggalang dana tuk pengungsi letusan gunung Rokatenda. Salut tuk usaha mereka. 🙂

Sebenarnya nyokap hanya berencana seminggu di Kupang, ngambil barang tuk kemudian kuantar pulang ke Jayapura. Apa daya, kakak tertua nyokap yang masih hidup ingin kami tuk tetap di Kupang hingga acara pesta nikah emas kakak kedua nyokap tgl. 20 April. Bude ini dan suami dia dulu yang menyekolahkan dan menikahkan nyokap, sementara tiga anak-anak mereka yang tertua mengasuh saya ketika kecil di Malang. Apalagi acara ini akan jadi reuni keluarga besar. Lebih dari selusin keluarga bahkan datang dari Jawa. Merasa nyaman di Kupang, sayapun santai saja. 3 minggu menanti kurasa terbayar lunas banget usai pesta nikah emas itu. Senang banget ketemu banyak saudara dan keluarga. Tiap orang punya penjelasan panjang kek “ini anaknya si anu. Neneknya dia itu anak dari sepupunya kakek yang blablabla..” *bengong* 😆 Sebagai perantauan di Papua yang jarang pulang, sesekali berada di tengah akar sendiri membawa perasaan melankolis. Sayang bokapku gak bisa ikutan. Syukurnya kaki nyokap dah cukup baik tuk bisa mengikuti keseluruhan acara tanpa gips dan tongkat. 🙂

_JPG6860_resize kecil crop

Keluarga besar Papi Pim de Kock & Mami Jemi Kedoh. Saya ketiga dari kiri.
#NikahEmas

Selasa 23 April, saya dan nyokap ke Jakarta, transit 2 hari tuk jenguk tante di Cinere yang sudah lumayan pulih dari serangan stroke bulan lalu. Ada kesempatan tuk bisa jalan-jalan ditengah waktu yang mepet. Ketemu lagi dengan Sunako Nakahara, Eka Situmorang dan Hoek Soegirang; lalu bertemu Yudi Prasetyo, Daniel, Priska dan Icit yang keempatnya terakhir kujumpai di Jakarta 2 tahun silam. Bahkan ada Almascatie pula yang baru kopdar sejak 2010. Sedekat dekatnya Ambon dan Jayapura, kami ketemu selalu di Jakarta. :mrgreen:
Via Almas dan Ajeng, saya kenalan juga dengan Frenavit, Suryo Brahmantyo, Utieed -yang sebenarnya sering nongkrong disebelah saya saat saya di Jogja karena beliau teman baik Celo- dan sepupu dia Meita. Senang ketemu kalian semua. 🙂

dengan priska

Dnial, yud1, Hoek, Almas, Priska & saya.

Sabtu pagi 27 April saya dan nyokap balik ke Jayapura. Saya 3 bulan away, dan nyokap tiga kali lipatnya. Senang tidur lagi di kasur sendiri, ketemu teman-teman, ketemu SNSD di PC sendiri, dan segala suka duka di kota kecil ini. Tapi tak bisa santai-santai. 5 hari lagi, 8 Mei, kalo Tuhan mengijinkan, saya akan ke Solo, memenuhi undangan dari pakde Blontank kemarin & panitia ABFI. Semoga ada lebih banyak cerita lagi yang bisa dibagi.

Kamu, kapan terakhir ketemu teman di kota lain? 😉

Return to Jogja

Seperti yang sudah direncanakan, pada hari Valentine kemarin akhirnya saya menuju ke Jogja, nenteng tas punggung dengan isi seadanya dan lupa jaket. Kunjungan rekreasi dan lepas kangen setelah pertama kali ke Jogja Oktober 2010 (<-kenapa saya tak punya postingan trip itu ya? Padahal ada kisah Pesta Blogger Jogja 2010 disitu. Dasar pemalas.. 👿 ).

Hari pertama. Kamis 14/02/13.
Pengalaman pertama ke Jogja dari Salatiga. Keluar rumah 9.15AM. Naik angkot ke tempat bis-bis dari Semarang lewat, trus lompat aja ke bis yang ada tulisan Solo-Surabaya. Sesuai pesan dari Peter Lamanepa, saya turun di Ngasem didepan pabrik(?) Gudang Garam. Tak lama kemudian dijemput Peter ke rumah dia deket situ. Berkenalan dengan istri Peter yang sedang hamil tua, kami lalu ngobrol sejam diselingi makan siang. 11.30AM, Peter ngojekin saya ke pertigaan Kartasura. Tak lama kemudian saya sudah ada di bis menuju Jogja. Turun di Indomaret Janti dan menunggu sesaat sebelum dijemput Gunawan Rudy. Taruh barang di kosan Gunrud, lalu ke kampus dia di Antropologi UGM, numpang onlen sambil SMSin temen-temen di Jogja. Berhubung Matilda duluan nyebut lokasi yang tak jauh, jam 5PM meluncurlah saya dan Gunrud ke Dunkin Donut Jakal ditengah gerimis usai hujan. 20 menit kemudian Matilda datang dari kantornya ke Dunkin, disusul oleh Amed, lalu Om Warm. Tapi Om Warm hanya 30 menitan bersama kami karena ada urusan lain. Sesudah beliau pulang, Mansup dateng, dan terakhir Pepeng. Jam 7PM, saya mengontak Yeni Setiawan yang ternyata mau menjenguk Ekowanz di RS Happy Land. Jadilah saya, Gunrud, Mansup, Pepeng dan Amed ngeluyur ke RS juga, lagi-lagi nembus gerimis. Sementara Matilda balik ke kantor karena masih ada kerjaan. 😀 Tiba di RS Happy Land, kami disambut Ekowanz yang sedang senang dengan kelahiran anak pertama dia. Sayang Sandal & Lina malah gak bisa dateng karena tiada taxi pas hujan. Kami ngobrol di lobi lantai dua sejam lebih hingga 9.30PM, menyapa Nungki Putri dan sang bayi di kamar RS, lalu cabut. Makan malam di Bakmi pak Surandal di Pasar Demangan, nyoba nasi Magelangan. Saat itu Mansup dah kabur ntah kemana. 😆 Singgah Indomaret, balik ke kos, mandi sore malam, lalu tidur. Valentine yang menyenangkan. Sekali lagi selamat buat Ekowanz dan Nungki. 🙂

Hari kedua. Jumat 15/02/13.
Bangun telat, menyesuaikan dengan tuan rumah. :mrgreen: Kelar makan pagi jam 10AM di warung Sami Asih, trus diantar Gunrud ke warnet Merapionline di dekat Amplaz. 90an menit disitu, jam 12PM dah dijemput Gunrud lagi, janjian sama Kitin di Kalimilk Jakal. Pas Kitin dan Matilda dateng, Kalimilk malah penuh. Jadilah kami pindah ke Dunkin Donut lagi. Temen-temen lain gak bisa disummon karena pada jumatan. Ngobrol kurang dari sejam disitu, Kitin dan Matilda sudah harus kembali ke kantor mereka. Saya dan Gunrud lanjut ke RS Happy Land karena Lina ngajak ketemu disana. Kami sampai duluan, disambut Ekowanz, lalu sekitar 01.30PM Lina plus Lumen dateng bareng Memeth. Sejam ngobrol-ngobrol di RS, kami berlima meninggalkan Nungki tuk makan siang di Zamzamkuliner di Timoho. Usai makan jam 3.30PM, Lina, Memeth dan Ekowanz balik ke RS, sementara Gunrud kembali menurunkan saya di warnet Merapionline, dia sendiri balik ke kampus lalu pulang, tidur. Saya ngenet sendirian hingga jam 07PM, ke Alfamart beli minum, lalu nyebrang ke Ambarrukmo Plaza muter-muter nunggu teman-teman. 07.40PM, Matilda nyampe duluan. 20 menit kemudian Sandal, Lina dan Lumen nyampe, lalu 10 menit kemudian Mansup dan Hera. Hampir 8.30, kami langsung ke Foodcourt tuk makan malam hingga bubar 40 menit kemudian. Saya & Matilda masih jalan-jalan 20 menitan menikmati bubaran plaza sebelum berboncengan menuju kosan Gunrud. Say thanx & goodbye, naik ke kamar, mandi sore malam dan tidur. Hari yang menyenangkan. 🙂

Hari ketiga. Sabtu 16/02/13
Usai bangun dan mandi pagi, ngecek Harddisk external di PC Gunrud, ternyata gak bisa diakses. Pindah ke netbook sama saja. Siyal. Makan pagi di warung Sami Asih lagi. Menunya naik. Kemaren cuma nasi telor, hari ini nastelnet. Dari situ diojekin Gunrud ke warnet ntah apa deket swalayan Gading Mas Jakal. Sejam lebih disitu hingga 12.30PM, diluar ternyata dah hujan deras. Lari & berteduh sejam di emperan BII sebelum bisa dijemput Amed yang kos dia cuma sepelemparan batu dari situ. Utak-atik disana pun HDD tetep gak diakses. Sementara itu hujan mulai mereda dan Matilda sedang menuju ke Togamas Gejayan. 2.35PM, kami berdua boncengan nyusul ke toko buku tapi ditengah jalan hujan lebat turun lagi. Separuh kuyup, kami berteduh di kosan Mansup yang sedang berduaan dengan Hera entah dimana. :mrgreen: Akhirnya ketika hujan reda dikit jam 3, kami ngebut ke Togamas Gejayan menemui Matilda di sana. Baju basah dan agak kedinginan, tapi menyenangkan ngabisin waktu di situ sampai kaos kering di badan. Amed pulang duluan jam 05PM, sementara saya dan Matilda menunggu Mansup yang tak datang-datang (miskomunikasi) hingga jam 06PM. Mutar-mutar cari makan siang sore dengan motornya Matilda, akhirnya makan Soto Betawi(?) di dekat Fakultas Kehutanan UGM. Sotonya payah, tapi setidaknya berkuah anget. Seperti janji dengan mbak Fla (yang sayangnya malah tak bisa hadir), jam 7 teng saya dan Matilda tiba di Le Waroenk tuk malam mingguan. Celo nyusul pertama, lalu Amed, trus mas Haqiqie Suluh & keluarga, lalu Mansup. Mansup cabut duluan, disusul mas Suluh beserta keluarganya. Makin malam, Anno dan Putro bergabung, disusul Sandal dan akhirnya Shan-in Lee. Ngobrol hingga tengah malam menyisakan saya, Celo, Lee dan Amed. Amed pulang setelah ngantar Celo ngambil motor supaya tiga orang sisanya bisa nyari makan. Makan malam jam 1.20AM di nasi teri Demangan, balik ke kost lagi dah 2.25PM. Dah males mandi. Langsung tidur.

Minggu pagi kami hanya makan pagi saja dan Gunrud langsung ngojekin saya ke terminal Jombor. Nyasar-nyasar lewat jalan kampung karena ada pengerjaan jalan layang deket terminal. Kali ini naik bis via Magelang, lewat gunung seperti saran Gunrud, Amed dan Mas Suluh. Minggu sore jam 4.30PM, sudah di Salatiga lagi.

Ngumpul dengan teman-teman itu memang hebat rasanya. Seneng banget bisa ketemu lagi ama Peter, Gunrud, Pepeng, Amed, Mansup, Om Warm, Ekowanz, Celo, Sandal, Lina, Memeth, Kitin, Anno dan terutama Matilda. Cewek ini waktu ketemu 2010 gak pernah sempat kuajak ngobrol karena terlalu banyak teman yang mesti dikopdari, kali ini bisa tiga hari dia disamping saya terus. I feel much better now.. :mrgreen: Senang juga tentu bisa ketemu Mas Suluh, Hera dan Putro yang baru pertama kali ini ketemu. Terimakasih semuanya. Terimakasih khusus buat Gunawan Rudy yang dah memberikan tumpangan gratis. Terimakasih juga buat Matilda & Mansup yang mau repot dititipin HDD error. Yang lagi nunggu sidang dan yang lagi skripsi, semoga sukses ya!!
Tak ada foto atau dokumentasi apapun dari kopdar-kopdar kali ini, tapi yawdalah. Dikenang saja.. :mrgreen:
Akhir minggu ini saya akan ke Jakarta, nemani nyokap yang harus menjenguk orang sakit. Belum tahu jadwal disana, tapi semoga ada teman-teman yang bisa dikopdari.

Sampai ketemu. 😉

Salatiga

Halo, pakabar? Semoga semua baik-baik saja. Satu bulan lebih sudah berlalu di tahun 2013 ini, waktu cepat sekali berjalan, tentunya semua orang ingin tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.
Melewatkan seluruh 2012 hanya di Jayapura saja dengan segala suka-dukanya, saya bersyukur bahwa di awal tahun ini saya dapat kesempatan keluar kota, atau tepatnya keluar daerah lagi. Buat saya, tentu itu kemajuan besar.

Yup, sejak tanggal 24 Januari saya ada di Salatiga, Jawa Tengah. Jadi dah dua minggu lebih disini. Seperti juga “journey to the west” 2010-2011 dulu, perjalanan ini juga jauh dari aroma liburan. Saya datang tuk menjenguk nyokap saya yang sedang sakit.
Beberapa bulan silam, tepatnya di hari ulang tahun saya, nyokap yang saat itu sedang berada di kampungnya di Rote, NTT, mengalami kecelakaan. Beliau jatuh dari tangga rumahnya dan mencederai engkel kali kirinya. Engsel di bagian engkel itu patah, atau lebih tepatnya pecah. Setelah sebulanan dengan penanganan seadanya di Kupang tanpa banyak kemajuan karena masalah biaya dan lain-lain, akhir November akhirnya nyokap sukses menjalani operasi di Madiun (walaupun setelah sembuh bagian engkel itu tidak akan bisa mengayun lagi), tulang kakinya dipasangi pen, dirangkai kawat, dan sejak itu rawat jalan di Salatiga. Nyokap memilih ke Salatiga karena disini ada rumah keluarga jauh yang ditinggali adik saya, tempatnya nyaman dan cukup dekat untuk kontrol ke Madiun (ketimbang harus balik ke Kupang atau Jayapura).
Sebulan lebih berlalu memasuki tahun 2013, teman dan keluarga yang menemani nyokap selama operasi dan rawat jalan satu-persatu harus meninggalkan nyokap tuk kembali ke kehidupan masing-masing, meninggalkan nyokap berdua saja dengan adik cowok disini yang juga masih sibuk kuliah pasca sarjana. Dengan gips di kaki dan dua kruk tuk berjalan, nyokap sangat repot tuk banyak urusan, sehingga akhirnya mendatangkan saya ke Salatiga sini. Setelah gagal dapat tiket murah pada Natal 2012, akhirnya saya dapat tiket murah saat Maulid Nabi kemaren tuk terbang ke Semarang, dan akhirnya sampai di Salatiga tuk menemani nyokap.

Salatiga ini kota yang nyaman, tidak terlalu besar juga tidak terlalu ramai. Dari rumah cukup sekali angkot ke pusat kota. Sebenarnya saya belum terlalu banyak menjelajahi kota ini, hampir tiap hari siang malam dirumah saja karena fokus pada tujuan tuk merawat nyokap. Tapi sehari-hari di rumah juga cukup baik. Tanpa punya laptop tuk hiburan pribadi, saya masih bisa meminjam PC punya adik saat dia kuliah tuk nonton koleksi film atau onlen dengan koneksi internet yang cukup baik. Dilengkapi pula perangkat wifi tuk bisa mengakses socmed via HP (kebetulan sinyal Telkomsel di rumah ini malah buruk. Kalo nerima telepon sebaiknya naik ke atap). :mrgreen:
Yang lebih menyenangkan tentu saja melihat kaki nyokap makin membaik (sudah tak bengkak lagi) dan betapa terbantunya nyokap dengan keberadaan saya disini, terutama untuk masak. Minggu lalu (3/2) nyokap dah kontrol lagi ke dokter dia di Madiun, dan sudah diijinkan tuk berlatih jalan dengan satu kruk saja, walaupun ternyata sangat melelahkan. Saya jadi lebih sering ngurut beliau sekarang. Haha..

Sudah di pulau Jawa, saya tentu ingin jalan-jalan juga. Sejumlah teman di Jogja rajin menyemangati saya tuk segera kesana dan kopdar. Saya juga ingin lihat-lihat Solo dan Semarang, mumpung dekat. Barangkali ada teman-teman blogger juga yang bisa ditemui (syukur-syukur ngasi tumpangan 1-2 malam 😛 ). Bahkan ada pula yang kawan-kawan di Jakarta yang bertanya apakah saya akan kesana. *hitung recehan di dompet* :mrgreen:
Minggu depan, saya dapet quota empat hari tuk ke Jogja, kebetulan Gunrud menawarkan tumpangan. Belum bisa pergi lama-lama mengingat kondisi nyokap, tapi bisa balik lagi nantinya. Kalau tak ada perubahan rencana, hari Kamis (14/2) saya sudah ada di Jogja hingga hari Minggu. Semoga bisa bertemu teman-teman disana.

Sampai ketemu. 😉


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Juni 2017
M S S R K J S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter