My slow rock files [4] Overture to Hiatus

Whitesnake-Don’t Fade Away







Setelah tahun demi tahun yang penuh masalah, termasuk urusan finansial, dengan sangat mengejutkan minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk membangun kembali hidup dan kehidupan saya melalui pekerjaan baru, jauh diluar kota tempat tinggal saya sekarang. Jadi, dengan ini saya menginformasikan full hiatus dari dunia maya mulai akhir minggu ini; dari blogsfer, dari Y!M, juga dari fesbuk. :)
Sesegera kehidupan saya nanti memberikan kesempatan untuk saya bisa onlen lagi -ntah kapan, dimana dan bagaimana caranya-, saya pasti kembali ke dunia menakjubkan ini, dan mudah-mudahan saat itu bukan lagi sebagai kuli kargo di bandar udara. :mrgreen:

Terimakasih untuk segalanya, dan sampai ketemu lagi. ;)







Aerosmith-Fly Away From Here

…And Then There Were Three…

Naruto_vol_41_cover___Akatsuki_by_Clay_Toenail

clockwise from 6 o'clock: Pain (God Realm); Konan; Deidara; Sasori; Zetsu; Kakuzu; Hidan; Orochimaru; Kisame; Itachi and Madara.

Dari semua kelompok kriminal fiksi yang pernah saya baca, Akatsuki, dari manga Naruto adalah salah satu favorit saya. Kelompok kecil, hanya sepuluh orang (orang #11 adalah pengganti anggota yang desersi), yang kekuatan tiap individunya hebat dan unik (hampir separonya bahkan immortal :P ), dan kostumnya keren! :mrgreen:
Di akhir kisah “berburu Naruto ke Konoha” kemaren, Akatsuki kehilangan dua lagi anggotanya, melengkapi lima (enam termasuk Orochimaru) anggota yang telah tewas sebelumnya. Sekarang sisa tiga… ;)

Sedikit kompilasi tentang Hercules TNI-AU

When the Heracles falls down

3 September 1964; C-130B AURI registrasi T-1307, kode produksi c/n 3599, dari skadron 31. Pesawat dipiloti Letkol Djalaludin Tantu dan mengangkut satgas PGT pimpinan Kolonel S. Sukani dalam salah satu misi Operasi Dwikora. Hercules jatuh di Selat Malaka karena terbang terlalu rendah, diperkirakan karena dikejar pesawat tempur Javelin AU Inggris. Korban sedikitnya 47 orang. Ini adalah kecelakaan Hercules pertama diluar AB-AS.

16 September 1965; C-130B AURI registrasi T-1306, kode produksi c/n 3598, dari skadron 31. Pesawat ini dipiloti oleh Mayor Soehardjo dan Kapten Erwin Santoso. Lagi-lagi terjadi dalam Operasi Dwikora, Hercules jatuh di Landasan Long Bawang, Kalimantan Timur, karena salah tembak oleh pasukan Kostrad. Ada rumor mengatakan penembakan ini disengaja karena Panglima Kostrad (Soeharto) bertentangan sikap soal konfrontasi Malaysia dengan Panglima AU (Oemar Dhani) yang saat itu memimpin (Pangkolaga) Operasi Dwikora.

21 November 1985; C-130H-MP (versi patroli maritim) TNI AU registrasi AI-1322 (kemudian menjadi A-1322), kode produksi c/n 4898. Pesawat menabrak Gunung Sibayak, Sumatra Utara dalam rute penerbangan Medan-Padang. 10 awak pesawat gugur.

5 Oktober 1991; C-130H-30 TNI AU registrasi A-1324, kode produksi c/n 4927. Pilot pesawat adalah Mayor Syamsul Aminullah, didampingi Kopilot Kapten Bambang Soegeng. Pesawat menabrak gedung BLK di Condet tak lama setelah lepas landas dari Lanud Halim Perdanakusumah karena mengalami kerusakan pada dua mesin pada sayap kiri. 135 orang gugur dalam peristiwa ini, terdiri dari 2 warga sipil, 11 awak pesawat dan 119 prajurit Paskhas (empat peleton) dari Skadron 461 dan 462 yang bermarkas di Margahayu, Bandung. Para prajurit ini baru saja bertugas melaksanakan kolone senapan pada HUT ABRI ke 46. Ini adalah kecelakaan Hercules dengan jumlah korban terbesar, dan seluruh jenazah prajurit dimakamkan masal dalam satu liang 25 x 25 meter.

20 Desember 2001; L-100-30 (versi sipil dari C-130H-30) TNI-AU, registrasi A-1329, kode produksi c/n 4824. Pesawat ini aslinya milik Mitsui Corp. yang disewakan ke maskapai penerbangan Pertamina, Pelita Air Service dengan registrasi sipil PK-PLU. Sempat berpindah tangan ke beberapa pihak yang menyewanya, Hercules ini akhirnya dibeli TNI-AU pada Februari 1997. Hercules mengalami kecelakaan saat mendarat di Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh karena mengalami overshoot (bablas) sehingga menabrak pagar bandara dan jatuh ke jurang sedalam 15 meter persis diluar pagar. Hercules lalu meledak dan terbakar 15 menit kemudian. Saat itu pesawat dipiloti Kapt. (Pnb) Rida Hermawan dengan 90 orang penumpang, termasuk 12 awak. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

20 Mei 2009, beberapa hari lalu; L-100-30(P) (versi penumpang dari L-100-30) TNI-AU, registrasi A-1325, kode produksi c/n 4917, dari skadron 31. Pesawat yang dipiloti Mayor (Pnb) Danu Setiawan ini jatuh di Desa Geplak Magetan, Jatim dalam perjalanan dari Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta ke Lanud Iswahyudi, Madiun. 101 orang penumpang & penduduk desa dinyatakan tewas dalam peristiwa tersebut. Penyebab kecelakaan belum diketahui secara pasti.

Ah ya, daftar yang menyedihkan, dan bisa saja bertambah lagi apabila anggaran pertahanan TNI masih tetap sesedikit sekarang. Dengan jumlah pesawat yang terus berkurang, -karena jatuh dan ketidaklaikan terbang- sementara pembelian baru hanyalah mimpi, tidaklah heran jika saya pernah mengatakan bahwa pesawat yang jatuh lebih berharga daripada korban yang ditimbulkannya. ;)
(sumber: 1, 2, 3, 4, 5, 6, etc)

The longest-serving arsenal

C-130 Hercules adalah pesawat dengan sejarah yang sangat panjang di dunia, termasuk di Indonesia. Indonesia sendiri mulai menggunakan pesawat Hercules pada tahun 1960. Saat itu Hercules berhasil didatangkan dari AS, menyusul lawatan Bung Karno kepada Presiden JFK yang menawarkan ‘imbal jasa’ atas pembebasan Pilot AS, Allan Lawrence Pope yang ditawan Indonesia karena terlibat pemberontakan Permesta tahun 1958. Karena itu Indonesia menjadi pengguna pertama C-130B diluar AS pada 1960. Delapan C-130B dan dua KC-130B ini menjadi awal lahirnya Skadron Angkut Berat Jarak Jauh TNI AU. September 1980, TNI-AU ketambahan lagi sekitar lusinan Hercules dari tipe C-130H, dan kemudian tahun 1997 ditambah dangan beberapa Hercules sipil bekas Pelita Air & Merpati Nusantara.

Dalam registrasinya, TNI menggunakan kode yang terdiri dari jenis pesawat, dua angka dari nama pesawat, dan dua angka dari nomor urut pesawat. Sehingga registrasi Hercules A-1325, artinya dari jenis “Angkut”, nama “C-130″ dan pesawat Hercules ke 25. (pada contoh lain diatas; “T” artinya “Transpor” -registrasi AU yang lama- & “AI” artinya ‘Angkut Intai’)

Pada pengoperasiannya, TNI-AU membagi arsenal Hercules di dua pangkalan. C-130B, C-130H dan tanker KC-130B, dipangkalkan di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, dibawah Skadron Angkut 32.
Sementara C-130H-30, L-100-30 (versi sipil -minus perlengkapan militer-) dan L-100-30(P) (versi penumpang), dipangkalkan di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta, dibawah Skadron Angkut 31. Ada pula yang bernaung dibawah Skadron VIP/VVIP 17 bersama beberapa jenis pesawat lain di pangkalan yang sama.

Sesuai doktrin kemampuan operasi TNI yaitu mampu mengatasi dua trouble spot di seluruh wilayah Indonesia sekaligus pada saat yang sama, penggelaran Hercules di kedua pangkalan tersebut ditujukan untuk menyokong mobilisasi dua satuan pemukul lintas udara TNI di dekat situ. Jadi Skadron 31 mendukung Brigif Linud 17/Kujang I, Divisi I Kostrad di Cilodong, Bogor dan Skadron 32 mendukung Brigif Linud 18/Trisula, Divisi II Kostrad di Malang.

Nah, sehubungan dengan kecelakaan kemarin, saya sempat mendengar pidato Presiden SBY di teve tentang pengetatan anggaran pertahanan TNI selama ini. Beliau berkata:

“Soal anggaran pertahanan terkait dengan efisiensi dan optimalisasi itu yang dipangkas. Bukan biaya operasional ataupun pemeliharaan pesawat. Tapi yang dipangkas adalah pembelian alutsista. Sedangkan untuk biaya rutin seperti pemeliharaan dan sebagainya itu tidak dikurangi.“

Saya hanya mendengarnya dengan lesu, karena walaupun tidak dikurangi, anggaran pemeliharaan yang tersedia selama ini jumlahnya sudah sangat kurang.
Dari markasnya di Bandung, Komandan Komando Pemeliharaan Material AU (Koharmatau), Marsda Sumaryo HW menyatakan menyatakan sedikitnya dibutuhkan Rp 1,6 triliun untuk perbaikan seluruh pesawat Hercules yang dimiliki TNI, atau setidaknya Rp 80 miliar untuk tiap pesawat. Tetapi dana pemeliharaan yang tersedia untuk seluruh Hercules hanyalah Rp 100 miliar/tahun. Akibatnya, dari sebanyak 23 Hercules TNI saat ini hanya 10 pesawat yang siap terbang. Dari 10 pesawat itupun kondisinya tidak 100%, rata-rata hanya 75% saja. Well, flying coffin..? :?
Sumber yang sama menyatakan kalau 13 pesawat yang tersisa sedang menunggu pengadaan suku cadang dari mabes TNI-AU yang ntah kapan, tapi ada sumber lain menyatakan TNI AU juga telah mengupayakan peremajaan Hercules, dimana Singapore Technology Engineering melalui anak perusahaannya, ST Aerospace, telah dipercaya untuk memudakan empat Hercules C-130B TNI AU menjadi tipe H dengan kontrak senilai 51 juta dollar AS.

Saya ingat hampir setahun yang lalu Nenda Fadhilah pernah menulis tentang hal-hal yang diharapkan dari capres baru Indonesia, dan saya dengan pasti mengharapkan adanya kenaikan signifikan anggaran pertahanan. Event yang kami bicarakan sekarang ada di depan mata, akankah harapan-harapan kami di postingan itu bakal terwujud? :roll:
(sumber: 1, 2, 3, 4, 5, 6, etc)

Hercules, Papua, and myself

Hal terakhir soal Hercules ini, waktu masih ngetik-ngetik saya blogwalking dan menemukan beberapa pertanyaan dari blog nusantaranews:

mengapa dalam kecelekaan ini pesawat Hercules TNI membawa penumpang anak-anak dan warga sipil. Hercules C-130 TNI AU bukanlah pesawat penumpang. apakah boleh fasiliter militer negara digunakan oleh anggota keluarga seorang militer dan non anggota keluarga militer?

Saya kaget sesaat, dan sedetik kemudian tersenyum kecil. Sesungguhnya ini pertanyaan yang bagus, tetapi juga IMO lucu (mungkin) karena ketidaktahuan. Saudara-saudara sekalian, sesungguhnya selama ini Hercules-Hercules TNI itu dipakai juga buat ngojek ngobyek!
Saya besar di lingkungan penerbangan, dan sekarangpun masih menjadi kuli kargo di bandara Sentani Jayapura. Bukan hal yang aneh untuk mendengar para agen kargo saling bertanya satu sama lain, “hari ini ada Hercules?” :mrgreen:
Ya, selama puluhan tahun Hercules TNI telah membantu pembangunan di Papua, dimana daerah-daerah pedalaman hanya bisa dijangkau lewat jembatan udara (terutama lewat Wamena) karena tiada akses darat dari pantai. Apalagi dulu, Hercules TNI adalah satu-satunya pesawat angkut berat yang ada. (sekarang ada pesawat angkut berat sipil)
Sekarang ini, siapapun yang pernah melewati terminal TNI-AU di bandara Sentani, Jayapura, akan melihat bahwa pangkalan tersebut tak berbeda dengan pasar, penuh dengan masyarakat pedalaman dan agen-agen kargo yang menanti datangnya Hercules untuk terbang Jayapura-Wamena. Tentu saja tersedia penerbangan komersil ke Wamena, tetapi biaya terbang pakai Hercules jauh lebih murah; tanpa tiket, tanpa asuransi, dan tanpa pajak. Bukan hal yang baru juga apabila ada saat-saat transportasi barang dari Jakarta ke Jayapura macet (karena kelebihan penumpang, misalnya) dan barang menumpuk di gudang Cengkareng, maka para agen kargo di Jakarta akan kasak-kusuk mencari Hercules yang akan terbang ke Jayapura dengan “sedikit” ruang kosong, lalu esoknya kami sudah sibuk memunguti kargo masing-masing yang dilempar begitu saja oleh para awak darat TNI-AU dari pesawat ke garasi terbuka di tepi pangkalan, tanpa Surat Muatan Udara tentu saja. Bersyukur sekali kalau semua utuh. :mrgreen:

Apakah hal-hal ini tidak sah? Mungkin, tapi negara tidak sedang perang, dan tidak selalu Hercules terbang dengan muatan militer penuh, tentu saja tersedia banyak ruang kosong yang tidak ada salahnya “diefisiensikan”. Terlebih karena Hercules itu “plat merah”, maka TNI-AU bisa mematok harga yang lebih murah, baik untuk penumpang dan barang. Yah, saya juga tidak tau uangnya dikemanakan, selain dibayarkan ke komandan pangkalan tempat Hercules lepas landas, yang konon nantinya menyetorkannya ke Panglima Operasional (Pangkoopsau I dan II) dan mungkin juga ke mabes AU, karena secara hitungan komersil rasanya pemasukannya gak cukup buat operasional. (kecuali kalau carter) Jadi yaa.. saya melihatnya sebagai upaya membantu masyarakat & pembangunan sajalah, toh belum pernah terjadi kecelakaan Hercules disebabkan oleh penumpang atau kargo komersil. ;)

Halaman Berikutnya »


JenSen99 is

28 years old mediocre PES 2009 player. Currently have no job & no girlfriend. Protestant by religion; Zionist by ideology. Better schemata in social field than science field. Fans of Chelsea, Internazionale & Persipura.

One-on-one

 

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

lookin’ for sumthin’ in Indo WP?

Search Engine provided by draguscn

Design, anybody?

CarraMedia