Tiga Puluh Sembilan

Dalam episode: wisatawan mancanegara.

Tiga sembilan gaes! Setelah tiga tahun beruntun merayakan ulang tahun di luar kota, tahun ini kembali santai merayakan ulang tahun dari rumah. 12 bulan ini berjalan dengan relatif menyenangkan, yah memang kalo ada yang cinta sangat menunjang tuk kestabilan emosi jiwa. πŸ˜‰ Achievement unlocked: akhirnya bisa ke luar negeri dengan pantas tuk pertama kalinya: pake paspor dan lewati imigrasi di bandara internasional, jadi turis dan ngunjungi tempat wisata. Kalo sekedar melewati perbatasan sih di “belakang rumah” dah negara tetangga juga. πŸ˜† Lebih bersyukur lagi kalo mengingat bahwa tujuan wisata kemarin: Hong Kong, sedang didera demonstrasi berbulan-bulan. Teman yang pergi sebelum saya sempat terjebak demo, yang mau pergi sesudah saya malah batal karena aksi massa makin parah. Pulangnya masih sempat maen di Jakarta lagi, bertemu teman-teman (tentu saja), dan nonton Lord Didi Kempot konser. Seru banget, mabuk ciu pula. :mrgreen: Tentu ada cerita sedihnya juga, tahun ini saya sempat sakit lebih dari biasanya -iya sering sakit- sehingga perlu dioperasi dan rawat inap; juga belum lama situasi keamanan memburuk di seluruh Papua termasuk kota saya, terjadi kerusuhan dan pembunuhan, internet mati empat minggu. Syukurlah saya melewati semuanya tanpa kekurangan suatu apapun. Nyokap juga dah tiga bulanan sakit di luar kota dan sampai sekarang belum pulang, tapi kondisi belio makin membaik. GWS mom. πŸ™‚

Mulai hari ini, jatah 30 something saya tinggal setahun lagi. Semoga bisa dilewati minimal sebaik setahun ini. Saya cuma pengen sehat dan bisa membaca banyak buku tuk nambah ilmu, juga bisa nambah tabungan dari beberapa tawaran teman, syukur kalo bisa bepergian lagi. Terima kasih tuk kedua orang tua tercinta, tuk pacar, geng lari sore dan teman-teman lainnya, dan semua yang dekat di hati. Terima kasih Tuhan Yesus.

Happy birthday to me.

Iklan

Film-film 2019 (Mei-Agustus)

Seperti postingan sebelumnya, yang ini juga ditulis dalam keadaan internet blackout terkait situasi keamanan di Papua dan Papua Barat. Kalo sebelumnya diposting dengan koneksi Astinet di kantornya Athoe sehari sebelum kerusuhan 29 Agustus merusak kantor itu, kali ini pakai koneksi Indihome di rumahnya Jones. Ini film-film saya di caturwulan kedua tahun ini.

55. Master Z: The Ip Man Legacy
Spin off dan sekuel bagus dari Ip Man 3 tanpa Ip Man. Plotnya standar dan klise, tapi deretan pertarungannya disajikan dengan koreo yang mengesankan, juga gak perlu bumbu asmara berlebih. Max Zhang dan Liu Yan sama-sama terlihat awet muda.

56. The Night Comes for Us
Plot dan motifnya kurang jelas, tapi eksyennya juara dunia, bahkan para ‘cannon fodder’ pun menyuguhkan adegan mati yang menghibur. Menarik karakter-karakternya berbicara dengan berbagai bahasa. Gak nyangka ada Julie Estelle dengan penampilan misterius yang keren betul, juga Salvita Decorte. Konon bersambung karena masih ada tokoh-tokoh Six Seas lainnya. Joe Taslim dan Iko Uwais semoga jadi aktor kelas dunia.

57. Detective Conan the Movie 22: Zero the Enforcer
Intriknya menarik sekali antara Biro Keamanan Publik, Kejaksaan, dan Kepolisian, yang menyeret Kogoro, Eri, dan Conan, dan takjub bengong klimaksnya mesti sespektakular itu melibatkan wahana NASA dan melawan gravitasi. Haha, gila, JSDF kemana saja.

58. Manikarnika: The Queen of Jhansi
Waktu liat posternya kukira film animasi. Biografi drama periode tentang Rani Lakshmibai, kehidupan dia sebagai ratu dan kemudian memimpin pemberontakan melawan Inggris 1857. Bagus, epik, dan sangat patriotik tuk membakar nasionalisme. Karakter Rani kuat dan dominan banget.

59. Spider-Man: Into the Spider-Verse
Sempurna ni film. Ceritanya seru dengan ide multiverse menarik; animasinya bagus, dan macam komik bergerak; lagu-lagunya asyik; rame jagoan dengan kepribadian unik masing-masing, dan humornya segar. Suka lihat ada Gwen Stacy di sini.

60. The Girl in the Spider’s Web
Gak paham kenapa filmnya flop. Suka cerita dan eksyennya, berasa Jason Bourne, walo setelah dibandingkan plotnya ternyata cukup berbeda dari novelnya, bukan cuma dikompres. Dibanding film sebelumnya karakter dan pemeran Lisbeth juga lebih pas. Suka rangkaian adegan di bandara dan klimaks, kombinasi pas antara peretasan dan eksyen.

61. Mirage/Durante la Tormenta
Scifi thriller Spanyol bagus. Setelah akrab dengan konsep multiverse di Endgame atau Spider-verse, balik lagi ke konsep Back to the Future. Frustrasi karakter utamanya kerasa banget ketika sejarah berubah. Banyak subplot saling berkaitan, termasuk drama romansa.

62. Mother
Sungguh terpesona lihat J-Law dengan karakter yg manis lembut dan penuh close up shots. Itu saja motivasi nonton ini. Psikologi horror jelas bukan selera saya, bahkan lebih mengganggu dari nonton Black Swan dulu dari sutradara yang sama. Gak peduli temanya dari Alkitab, tetap bikin mual. 3 hari baru kelar.

63. The Wandering Earth
Bumi akan baik-baik saja sekalipun separo populasi kena snap Thanos, tapi ini level masalahnya jauh lebih brutal. Plot dan visualnya luar biasa, epik dan cantik. Suka ceritanya mengedepankan kerjasama antar bangsa meski fokus dan jagoannya RRC. Bagus ada cerita sekaliber ini temanya bukan Amerika menyelamatkan dunia. Sungguh wajib tonton.

64. Banda: The Dark Forgotten Trail
Dokumenter bagus kisah kepulauan Banda dari perebutan pala era kolonial, pengasingan Hatta Sjahrir dkk, perang sipil Maluku, hingga situasi sekarang dan harapan masa depan. Penuh sejarah, cerita, dan visual menarik. Sayang tidak ada cerita dari warga Banda asli di diaspora, turunan dari para penyintas pembantaian di Banda era VOC.

65. Chronicles of the Ghostly Tribe
Satu lagi adaptasi Ghost Blows Out the Light tapi beda studio dari seri Mojin. Konon plotnya banyak berubah dari novelnya jadi agak membingungkan. Timelinenya lama juga kalo Hu Bayi ketemu Shirley 1979. Suka eksplorasinya, tapi banyak plothole dan klimaksnya kurang memuaskan. Apa gunanya membawa banyak senjata dan peluru perak kalo tidak terlihat ada hyena yang sukses terbunuh?

66. Shoplifters
Sebuah drama Jepang tentang kemiskinan dengan cerita yang sangat kaya. Awalnya lambat dan sukar memahami hubungan antar karakter, tapi jadi menarik ketika Yuri/Lin ‘menemukan’ keluarga baru. Sungguh nonton ini jadi berharap ada happy ending tuk semua, terutama Yuri, Shota, dan Aki.

67. Mortal Engines
Adaptasi novel tentang imperialisme Inggris yang akhirnya gagal menjajah China. Haha. Visual dunia steampunknya luar biasa imajinatif, tapi cerita dan karakter-karakternya gagal memikat hati. Filmnya jadi datar saja bahkan ketika para jagoan beraksi heroik. Menarik memperhatikan petanya, sepertinya Laut Hitam nyambung sampai Laut Kaspia.

68. Miniscule: Mandibles from Far Away
Petualangan si ladybug berlanjut lagi hingga ke seberang Atlantik. Gila banget operasi penyelamatan pake kapal terbang. Cerita kali ini lebih melibatkan manusia dan ada isu lingkungan juga. Bagus banget, sesuai yang diharap.

69. Late Afternoon
Film pendek tentang dementia. Salah satu fitur sedih dari menjadi tua. Menarik melihat Emily menyelami kembali memori dia.

70. Sobibor
Samar-samar teringat dulu nonton versi Inggris 1987 Escape from Sobibor di TV. Versi Rusia kali jauh lebih bagus dan terasa akurat dalam banyak detil, termasuk penggunaan bahasa Yiddish dan politik internal kamp. Selalu sedih liat adegan kamar gas.

71. Extreme Job
Film terlaris kedua dalam sejarah Korsel cukuplah menjelaskan bagusnya film ini. Plotnya menarik, kocaknya standar Korea, dan eksyennya (terutama klimaks) seru. Cepat suka juga dengan kelima karakter utama. Dapet subtitles gak mutu tadi tapi gak masalah.

72. Kesari
Dramatisasi Battle of Saragarhi dari sudut pandang komandan unit Sikh Havildar Ishar Singh. Konon salah satu last stand terhebat dalam sejarah. Sejam awal hanya buang waktu saja, tapi 90 menit sisanya sungguh pertempuran brutal penuh heroisme, nasionalisme, patriotisme, dan spirit relijius Sikh. Keren.

73. Mongol
Walopun ada 1-2 bagian yang gak akurat sejarahnya tapi ini dramatisasi awal karir Genghis Khan yang sangat epik menarik. Terbuai dengan bahasa asli yang dipake, pemandangan alam dan budaya, pertempuran brutal, dan interaksi antara Temudgin, Borte, dan Jamukha. Sayang sekuelnya gak jadi.

74. Laputa: Castle in the Sky
Akhirnya kesampaian juga nonton anime legendaris ini. Teringat skypea arc di Wanpis. Bagus ceritanya, seru banget petualangannya dalam tema steampunk yang menarik. Jadi penasaran apa yang akan dilakukan Pazu dan Sheeta sesudah cerita ini. πŸ˜†

75. Detective Conan the Movie 23: The Fist of Blue Sapphire
Ngebioskop di CGV GI Jakarta. Gak paham gimana Conan bisa mendadak menjadi Arthur begitu saja. Suka settingnya di Singapura. Plotnya menarik tapi ujungnya agak berbelit terutama setelah Sonoko menjadi target. Keputusan Makoto tuk bertarung ‘bareng’ Sonoko sungguh berbahaya walaupun alasannya dimengerti.

76. Parasite
Ngebioskop di CGV GI Jakarta. Plot dan ceritanya jenius. Kemiskinan bisa membuat orang menjadi kreatif bertahan hidup dengan bermacam cara, tapi yang seperti ini gila juga. Komedi gelap bertema ketimpangan kelas sosial yang sungguh menarik. Plot twistnya gak ketebak.

77. Spider-Man: Far From Home
Ngebioskop di XXI Gandaria City Jakarta. Keren banget. Serasa Spider-Man menghadapi Genjutsu. Film ini menunjukkan salah satu ancaman terbesar militer di masa depan: swarming drone with AI. Gak paham kenapa tuk skenario itu Peter tidak memilih kostum tempur dengan tangan ekstra yang dipake melawan Thanos. Setelah dua film, saya masih belum bisa terpikat pada MJ.

78. Hobbs & Shaw
Ngebioskop di XXI Mal Jayapura. Sesuai harapan, penuh eksyen dan teknologi keren khas tradisi Fast and Furious. Motor transformer Brixton Lore (lengkap dengan suara berubahnya) jadi fokus utama, lalu jet siluman yang mengantar kedua protagonis ke Ukraina. Karena jagoannya dikit, jadi bisa lebih mengeksplorasi tema rekonsiliasi keluarga tuk keduanya dan bagus banget. Karakter Madame M menarik dan misterius, semoga muncul lagi kelak.

79. Asterix: The Secret of the Magic Potion
Ngebioskop di XXI Mal Jayapura. Lama juga nunggu sampai versi dubbing Inggrisnya maen di bioskop. Cukup menghibur. Ketawa lihat parodi Yesus. Suka dengan pemilihan Pectin yang cewek sebagai pewaris Druid.

80. Squadron 303/Dywizjon 303
Satu film lagi tentang Skadron 303 RAF saat Battle of Britain yang murni produksi Polandia. Penuh dogfight yang lebih realistis. Diselingi sejumlah flashback tuk membuat subplot karakter lebih menarik. Suka adegan Raja George VI mengunjungi mereka. Sayang ceritanya tidak sampai akhir perang, tapi ada statistik dan profil para pilot utama.

81. Bumblebee
Prekuel, spin off, dan konon reboot Transformers yang jauh lebih bagus dari yang kukira. Adegan-adegan tarungnya terbaik. Suka banget lihat Blitzwing jadi F-4 Phantom, lalu Shatter dan Dropkick triple changer jadi GTX -> Harrier dan Javelin -> SuperCobra. Asyik nuansa 80annya, termasuk para robot dalam mode klasik.

82. Hotel Transylvania 3: Summer Vacation
Bagus ini ceritanya berkembang hingga bisa muncul Abraham van Hellsing, Segitiga Bermuda, Atlantis (dua ini lokasinya asyik), dan bahkan Kraken. Ada petualangan ala Indiana Jones juga dan ‘DJ Tiesto’. Menghibur.

83. Bumi Manusia
Sekarang saya ngerti kenapa novelnya (yang gak pernah kubaca) disebut mahakarya. Yang divisualkan mungkin tidak sedetil yang diinginkan pembaca novel, tapi saya menikmati setiap adegannya, dan mata saya basah di akhir film. Sepertinya saya bisa suka film ini karena belum pernah nonton kedua film Dilan sehingga gak terpengaruh kuaitas akting Iqbal. Apa sesudah ini nyari Dilan ya? :mrgreen:

84. Hotel Mumbai
Dramatisasi bagus dari peristiwa 2008 Mumbai attacks. Dua jam yang menegangkan tuk mengkompres kengerian 4 hari serangan teroris Lashkar-e-Taiba dengan ratusan korban jiwa. Salut buat para staf hotel yang berani mati demi mendampingi para tamu.

85. Ignacio de Loyola
Drama sejarah biografi Ignatius of Loyola dan perjalanan spiritual dia dari seorang perwira Navarre hingga menjadi pendiri Jesuit. Lumayan menarik melihat latar belakang playboy Inigo, juga visualisasi spiritual exercise dan pertemuan dia dengan Lucifer dan Yesus.

86. Mirai
Anime sebagus ini bodohnya kubiarkan ngendap lama di laptop. Suka banget ceritanya, bagaimana kamu mengerti posisimu di tengah keluarga dan berbagai hal kecil dalam sejarah keluargamu yang berkontribusi menciptakan dirimu sekarang. Menghangatkan hati.

Segitu saja, lebih sedikit dari daftar Januari-April. Empat bulan terakhir ngegas baca buku dan jalan-jalan soalnya. πŸ˜€ Semoga di postingan berikut koneksi internet di sini sudah normal lagi. Kalo gak ya mungkin saja Papua sudah merdeka. 😈

Museum

Suka ke museum? Saya suka, entah sejak kapan. Buat saya museum adalah tempat yang menarik untuk belajar sejarah dan mendapat informasi, sekedar main dan menikmati bermacam koleksi, dan untuk anak kota kecil di pinggiran negara seperti saya, sebagai pengingat sudah sejauh apa saya pernah pergi jalan-jalan. Sepanjang yang bisa kuingat dan kucatat, ini museum-museum yang pernah sa kunjungi dengan sedikit komentar:

Di Hong Kong Museum of History

1. Museum Negeri Papua, Jayapura. 199?
Saya ingat pernah ke sini jaman masih sekolah, lupa tahun berapa. Sedikit sekali yang masih bisa kuingat. Mungkin setelah 20an tahun saya harus kembali lagi, siapa tau sudah lebih menarik. Itupun kalo gak trauma karena kantornya mantan pacar dulu di dalam kompleks museum juga. :mrgreen:

2. Museum AD Brawijaya, Malang. 2003
Ini kemungkinan besar museum pertamaku, saat masih kecil dibawa jalan-jalan ke sini dan berfoto di pajangan senjata artileri di depan museum. Puluhan tahun kemudian baru bisa kembali lagi dan berkunjung dengan benar, sepertinya 2003, saat saya ngilang satu semester dari kampus. Koleksi yang paling saya ingat adalah helm alm. Aryoko yang berlubang ditembus peluru saat ybs gugur di Papua, juga gerbong kereta maut.

3. Museum Negeri Bali, Denpasar. 2010
Museum pertama dari trip menuju Pesta Blogger Nasional IV di Jakarta. Saya jalan-jalan sendirian di pusat kota Denpasar dan nyampai di sini. Asyik juga ditemani pemandu museum sehingga gak sendirian saja.

4. Museum Benteng Vreedeburg, Jogja. 2010
Museum kedua dari “perjalanan ke barat” yang sama. Pertama kali datang ke Jogja, hari pertama juga. Nyampe di sini setelah menjelajahi Malioboro. Teringat ada peta dengan lampu kelap-kelip menggambarkan berkembang dan surutnya kekuasaan Mataram di Jawa.

5. Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. 2010
Ke sini dalam rangka acara blogger jadi lebih terasa kopdarnya ketimbang menikmati koleksi museum yang rasanya gak seberapa juga. Banyak hal menarik di acara ini termasuk menjadi pemeran pengganti dalam proyek Sumpah Pemuda 2.0.

6. Museum Penerangan, Jakarta. 2010
Taman Mini Indonesia Indah, dikunjungi bersama teman-teman blogger satu geng. Masuk situ langsung ingat Harmoko yang legendaris. Isinya arsenal Deppen, TVRI, dan RRI.

7. Museum Transportasi, Jakarta. 2010
Taman Mini Indonesia Indah, hari dan teman-teman yang sama. Museum terbaik hari itu dengan banyak koleksi sarana transportasi termasuk sebuah DC-9 dan berbagai lokomotif+gerbong.

8. Museum Keprajuritan Nasional, Jakarta. 2010
Taman Mini Indonesia Indah, hari dan teman-teman yang sama. Museum paling membosankan hari itu. Mungkin karena buru-buru juga. Tidak banyak yang kuingat selain diagram berbagai formasi pasukan.

9. Museum Sejarah Nasional, Jakarta. 2011
Museum di dasar Monumen Nasional yang dikunjungi saat libur tahun baru 2011 bersama teman-teman blogger satu geng. Isinya lebih banyak orang piknik daripada pengunjung museum sesungguhnya. Sayang gak sempat naik ke puncak Monas karena antrinya selevel stasiun kereta di jam sibuk.

10. Museum Purbakala, Sangiran. 2013
Ke sini sebagai bagian dari tur hari kedua acara Festival ASEAN Blogger II di Solo. Kalo sendirian gak mungkin datang karena saat itu rasanya kejauhan. Sangat menarik mengingat sumbangsih fosil-fosil Sangiran bagi ilmu pengetahuan.

11. Museum Batik Kaoeman, Solo. 2013
Ke sini sebagai bagian dari tur hari kedua festival yang sama. Kalo sendirian gak mungkin datang karena gak tau ada museum di kampung batik Laweyan, bukan peminat batik juga. Yang saya ingat cuma gak boleh berfoto di sini.

12. Museum Ullen Sentalu, Jogja. 2013
Overstay di Jawa setelah festival di Solo usai. Ke Jogja lagi dari Salatiga dan diajak ke sini saat libur Waisak bareng beberapa teman blogger Jakarta. Museum pribadi yang sangat mengesankan dengan berbagai koleksi dari monarki-monarki di Solo dan Jogja.

13. Museum AU Dirgantara Mandala, Jogja. 2013
Masih dari overstay yang sama. Cita-cita sejak kecil sebagai penyuka aviasi militer yang baru kesampaian. Koleksinya menarik walau masih kurang lengkap, gak nemu Il-28, An-12, atau Mi-6 yang pernah dipake AURI dulu. Semoga kelak museum ini bisa lebih bagus gedungnya.

14. Museum Loka Budaya Uncen, Jayapura. 2015
Jaman masih sekolah saya sekali saja berkunjung ke pusat penelitian antropologi ini. Saat itu museumnya lebih mirip gudang dengan koleksi patung berhala dari seluruh Papua. Sesudah itu tidak pernah tertarik lagi datang walaupun pernah nyaris tujuh tahun kuliah di Uncen. Baru datang lagi 2015 menemani serombongan blogger ibukota yang meliput FDS. Ketika itu museum sudah direnovasi bagus dengan standar internasional. Lumayan mengurangi aura gelapnya. πŸ˜†

15. Lawang Sewu, Semarang. 2016
Main ke Semarang lagi setelah ngekos di Salatiga. Berbeda dari cerita seram yang sering kudengar, bangunan berpintu banyak ini juga menjadi museum sejarah kereta api dengan banyak koleksi menarik. Sayang saya datang sudah kesorean dan memilih jalan tanpa pemandu, walo sudah keliling-keliling masih tidak menemukan akses ke penjara bawah tanah yang legendaris itu. πŸ™„

16. Museum Sejarah Jakarta, Jakarta. 2017
Pertama kali pacaran ke museum. Museum ini rasanya overrated tapi tetap menyenangkan ke sana. Konon sekarang layout-nya sudah berubah.

17. Museum Wayang, Jakarta. 2017
Kencan di Kota Tua berlanjut dari museum Fatahillah ke sini. Segitu banyak wayang membuat aura museum jadi mistis, pacar jadinya kabur keluar duluan begitu melihat tanda panah jalur exit. :mrgreen:

18. Museum Bank Indonesia, Jakarta. 2017
Kencan di Kota Tua berlanjut dari museum wayang ke sini. Museum terbaik di hari itu dengan nuansa modern dan banyak koleksi menarik termasuk gudang emas. Koleksi numismatiknya entah kapan kelar kalo dilihat satu-satu. Cuma ruangan itu terasa terlalu gelap, saya harus pake lampu HP tuk memperhatikan detil koleksi uang koin. 😦

19. Museum Nasional, Jakarta. 2017
Pacaran di museum berlanjut dua hari berikutnya. Saya masih ingat sopir transportasi online yang kami pake dengan percaya diri menurunkan kami di Monumen Nasional alih-alih di Museum Nasional. πŸ˜† Suka banget ke sini, terutama ke ruang harta di lantai teratas melihat harta rampasan dari monarki-monarki nusantara yang dilikuidasi Belanda. Sayang pacar dah kelelahan sehingga saya gak bisa lama-lama. πŸ˜›

20. Museum Keris Nasional, Solo. 2017
Ngekos lagi di Salatiga, ke Solo lagi, lalu jalan kaki ke sini. Belajar banyak soal tosan aji di sini, lihat-lihat berbagai macam keris. Museum ini modern dan bagus tapi saat sepi mistis juga suasananya dengan diorama empu bikin keris dan aroma kembang. :mrgreen:

21. Museum Radya Pustaka, Solo. 2017
Lanjut jalan kaki ke sini dari museum keris. Koleksinya juga bagus-bagus tapi museum ini sepertinya perlu renovasi. Banyak arca teronggok begitu saja. πŸ™„

22. Museum Monumen Jogja Kembali, Jogja. 2017
Keesokan harinya sesudah dari Solo. Penuh peninggalan dari perang kemerdekaan, dan saya jadi belajar banyak soal organisasi militer kita (dan lawan) jaman revolusi. Penuh glorifikasi terhadap Soeharto, tentu saja. πŸ˜‰

23. Museum Ranggawarsito/Museum Negeri Jawa Tengah, Semarang. 2017
Ke Semarang lagi cuma pengen ke sini. Habiskan tiga jam dalam sepi. Museum ini besar tapi macam kurang terurus. Perasaan yang semakin familiar setelah makin sering ke museum. πŸ™„

24. Museum Kereta Api, Ambarawa. 2017
Naik go-ride dari Salatiga ke sini. Puas ngeliatin bermacam-macam lokomotif klasik plus ikut tur kereta uap ke Tuntang PP lewati pemandangan indah.

25. Museum Isdiman, Ambarawa. 2017
Museum kecil di pojokan Palagan Ambarawa, isinya pernak-pernik perjuangan yang dimonumenkan di situ. Koleksi paling menarik jelas P-51 Mustang di pojok monumen.

26. Museum Satria Mandala, Jakarta. 2017
Kesampaian juga ke sini. Puas-puasin diri muter-muter sendirian melihat segala macam koleksi, dan yang paling menarik justru seragam PDU bintang lima Soeharto dan AH Nasution. Sayang Ruang Pahlawan dan Museum Waspada Purbawisesa (museum dalam museum) gak bisa diakses, tapi gak mengurangi kesenangan. Gak nyangka menemukan A-4 Skyhawk di luar yang belum lama diinstall. Sebuah pengakuan akan Operasi Alpha.

27. Museum Negeri Nusa Tenggara Timur, Kupang. 2018
Bolak-balik ke Kupang akhirnya ke museum juga pas hari museum nasional. Koleksi kainnya menarik, sayang gak nemu informasi apa-apa tentang monarki-monarki di NTT.

28. Hong Kong Museum of Education, Hong Kong. 2019
Museum pertamaku di luar Indonesia. Gak sengaja nemu saat menelusuri kampus IKIP Hong Kong. Pamerannya tematis: Hong Kong School Uniforms Past and Present. Sederhana tapi menarik.

29. Flagstaff House, Museum of Tea Ware, Hong Kong. 2019
Jalan kaki jauh dari Victoria Park ke Hong Kong Park, lalu nemu museum ini dalam taman. Museum teh, isinya ya bermacam teh dan teko. πŸ˜‰

30. Hong Kong Museum of History, Hong Kong. 2019
Pacaran lagi di museum sejarah Hong Kong. Menghabiskan 4 jam di sini mempelajari sejarah Hong Kong dari jaman Cina kuno, direbut Inggris, pendudukan Jepang, hingga kembali lagi ke kekuasaan Cina. Saya skip saja sih pameran kondisi Hong Kong setelah 1997. :mrgreen:

31. The University Museum and Art Gallery, Hong Kong. 2019
Ini museum dalam kompleks kampus The University of Hong Kong. Bareng pacar ngunjungi tiga pameran: 1] Art of the Iron Brush: Bamboo Carvings from the Ming and Qing Dynasties; 2] Years of Bauhaus: Erich Consemuller’s Photography of the World’s Most Famous Design School; 3] From Paris to Venice, a Photographic Journey by Willy Ronis.

30 Museum sejauh yang teringat dan tercatat dalam 20 tahun terakhir. Semoga ke depan makin banyak museum menarik yang bisa dikunjungi sambil jalan-jalan ke kota-kota lain. Masbro dan mbaksis, museum apa yang terakhir dikunjungi? Apakah menarik?

Film-film 2019 (Januari-April)

Sejauh ini usaha untuk lebih banyak membaca di 2019 tampaknya berjalan cukup baik karena terlihat dari lebih sedikitnya film yang saya tonton sampai akhir April, meskipun ini juga lebih banyak selusin dari perkiraan. Semoga kedua target berjalan konsisten.


1. Ralph Breaks the Internet
Pilihan yang tepat tuk membuka 2019. Plotnya bagus, dramanya menghangatkan hati, visualisasinya -terutama bagaimana internet bekerja- jenius, karakter-karakternya menyenangkan -para putri Disney! Lalu Shank, tentu saja-, dan humornya kocak. Balapan di slaughter race keren total. Jangan lupa cek ulang cameos abis nonton.

2. The Equalizer 2
Sekuel yang lama ditunggu. Beda dengan informasi dulu, Mack ternyata ex USMC/DIA. Ceritanya bagus, walo butuh waktu tuk plot utamanya berkembang dan terpisah dari subplot lain. Klimaksnya seru pake badai, dan ending penyintas holocaustnya bikin haru. Ada banyak pesan penting dalam film ini.

3. They Shall Not Grow Old
Karya restorasi yang luar biasa, dokumenter perang yang juga luar biasa. Melihat kembali brutalnya PD 1 di front barat, mendengar tuturan puluhan veteran Inggris, dan belajar lagi banyak hal menarik (atau memilukan) dari perang parit, dan bahkan kehidupan sesudah perang. Salut, Peter Jackson!

4. Venom
Berbeda dari opini pedas kritikus film, Venom ternyata kisah antihero yang asyik. Nunggu lama tuk lihat Brock dan Venom menemukan simbiosisnya, tapi terbayar lunas melihat aksi mereka menyelamatkan dunia. Masing-masing juga menjadi karakter yang mendapat simpati. Dua pecundang bersatu tak bisa dikalahkan.

5. Detective Conan the Movie 7: Crossroads in the Ancient Capital
Sekali lagi Kyoto menunjukkan daya tarik kunonya, kali ini bertema Minamoto Yoshitsune dan Benkei. Tentu saja ada Geisha cantik juga. Lagu anak-anak yang dinyanyikan Kazuha magis sekali rasanya. Selalu suka plot yang ada Shinichi dan Heiji kerja sama.

6. Detective Conan the Movie 8: Magician of the Silver Sky
Cerita detektifnya dikit, sisanya petualangan menegangkan mendarat daruratkan pesawat. Kedua pilot menurutku bakal dihukum berat. Kecelakaan besar terjadi karena mengijinkan penumpang masuk cockpit. Tanpa pilot lalu lintas ke cockpit malah makin buruk. B 747-400 probably written off. Suka pertunjukan drama Josephine, terutama saat Napoleon dimahkotai Paus. Sayang gak ditunjukkan utuh.

Keep on reading!

Coblosan saya (2)

Melanjutkan tradisi lima tahunan, saya akan posting siapa-siapa yang saya tusuk di Pemilu 2019 kemarin. Postingan ini sangat terlambat sih, tapi ya apa boleh buat, kondisi saya tidak memungkinkan untuk mengetik posting blog usai mencoblos. Ketik ini pun masih dengan empat jahitan di jari telunjuk kiri yang belum dibuka. πŸ™‚

Cerita flashback sedikit, saya ada masalah kesehatan yang mengharuskan menjalani operasi di Rumah Sakit pada Minggu 14 April kemarin, sehingga pada hari H Pemilu Rabu 17 April pagi saya masih menjalani rawat inap dan belum diijinkan pulang. Tentunya saya sudah siap harus mencoblos di TPS RS Bhayangkara bermodal KTP saja, sudah diinformasikan akn difasilitasi walopun rumah saya hanya sepelemparan batu dari RS, yang mestinya TPS saya tidak jauh andai diijinkan pergi. Tapi Pemilu kali ini berbeda level kacaunya: Nama saya (dan ortu) tidak ada di DPT TPS dekat rumah atau TPS manapun dalam kompleks, tidak ada undangan memilih, dan situs KPU tuk ngecek TPS tentu saja kelebihan beban gak bisa diakses. Menambah buruk kekacauan, entah ada konspirasi apa dari KPU Kota, seluruh kecamatan saya dan kecamatan sebelah tidak mendapat logistik Pemilu sama sekali sehingga setengah Kota tidak ada pencoblosan. Pemilu resmi ditunda besok (18 April). Rabu sore itu saya sudah diijinkan pulang tuk rawat jalan walo luka operasi dan bekas infus masih sangat sakit.

Kamis pagi, setelah malamnya memastikan secara daring dan paginya melihat langsung DPT, saya mengetahui kalo nama saya terdaftar di TPS 15. Sudah di luar kompleks walau gak terlalu jauh, di SD Inpres. Ngantrilah saya tuk mencoblos dengan perban di kedua tangan dan wajah, kucel karena belum bisa mandi. Brengseknya, walaupun terdaftar saya ditolak mencoblos dengan alasan tidak mendapat undangan. Saya diperlakukan sama dengan pemilih tak terdaftar yang memakai KTP: harus mencoblos siang. Lewat jam 8 pagi saat itu, berarti harus menanti 4-5 jam lagi, bangsat. Bertengkar dengan panitia KPPS tidak membawa hasil sekalipun saya didukung para saksi yang tampaknya lebih paham peraturan. Saya menahan diri saja dan duduk menunggu, tidak ada gunanya melanjutkan keributan dengan panitia yang bodoh, lelah, dan sibuk melayani pemilih lain. Sempat ditawari bokap tuk mencoblos saja pake KTP di TPS 24 dekat rumah tanpa perlu nunggu siang (karena panitanya tetangga), tapi saya nolak. Jam 11 lewat, seorang pemuda memanggil, rupanya ibu Kepsek SD (lokasi TPS 15) menawarkan saya tuk memakai undangan anak beliau yang sedang di luar kota. Gobloknya adalah semua panitia KPPS mengkonfirmasi (karena kenal) kalo si empunya undangan memang di luar kota dan saya boleh pake undangannya tuk mencoblos. Entah di DPT nama siapa yang dicentang, yang penting saya bisa menggunakan hak pilih.

IMG_20190427_124501

Jadi ini nama-nama yang saya tusuk:

Presiden dan Wapres:
Joko Widodo dan siapalah itu kyai anti Ahok. Cukup jelas.

DPR RI:
Sulaeman Hamzah. Partai NasDem nomor urut 1.
Orang ini petahana, dari partai nasionalis anggota koalisi, domisili Jayapura, dan bisa dibilang kenal karena beliau asal NTT juga. Tidak ada caleg-caleg lain dari partai nasionalis yang menarik dengan banyaknya muka lama. Sudah tidak realistis juga mencoblos PSI yang caleg jagoannya pun bukan anak Jayapura.

DPR Papua:
Yacob Ingratubun. Partai Golkar nomor urut 4.
Dua pemilu sudah memilih caleg Hanura yang selalu tembus, sekarang partainya terjun, saatnya memilih caleg nasionalis lain dari partai yang selalu aman. Muka lama di dewan, dan dari partainya Wagub. PSI juga bukan pilihan kecuali mereka punya yang selevel Tsamara Amany tuk dapil saya.

DPRD Kota Jayapura:
Jimmy Jones Asmuruf. Partai Gerindra nomor urut 1.
Teman satu geng dan muka lama juga. Gak mungkin milih orang lain.

DPD RI:
Habelino Sawaki.
Selalu sulit milih senator, yang kupilih kemarin gak masuk. Ini adik kelas saat SMA, jadi lumayan kenal. Satu Universitas juga walau lain Fakultas.

Begitulah cerita Pemilu kemarin. Semoga pilihan politik tidak sia-sia dan lima tahun ke depan makin baik walo negara ini makin terbelah dua.

Membaca buku

Apalagi berniat lebih banyak membaca buku non fiksi juga setelah tahun 2017 kemarin ternyata cuma baca dua buku.

Begitulah “resolusi” di awal 2018 silam. Saya sungguh ingin lebih banyak membaca buku lagi, Sudah lama bacaan saya hanya artikel media, postingan blog, laman wikipedia, dan sejenisnya. Selain karya-karya fiksi tentunya yang didominasi manga dan komik.

Berita buruknya, setelah ditelusuri lewat Path dan Twitter, ternyata pada tahun 2017 saya hanya baca satu buku, satunya lagi dibaca akhir 2016. Dua buku dalam dua tahun jelas statistik yang buruk. 😐

Ini dibaca Desember..

Ini April..

Berita baiknya, saya bisa menyelesaikan 16 buku di 2018. Senang ada harapan yang tercapai. Saya jadinya membuat akun di Goodreads untuk merayakan itu, terinspirasi juga oleh teman-teman yang punya akun di situ. :mrgreen:

Skrinsyutnya dari Goodreads

Januari 2019, satu buku tebal sudah diselesaikan, dan sekarang masuk buku kedua.

Ini bagus..

Semoga terus konsisten menyelesaikan buku-buku yang sudah dikoleksi, sambil membagi waktu luang dengan menonton film seperti biasa.

*kembali membaca*

Film-film 2018 (Oktober-Desember)

Happy Holidays!

191. The Thousand Faces of Dunjia
Favorit banget film kek gini, plot dan subplotnya gak jelas dari mana ke mana, begitu juga banyak karakter dan item itu gimana ceritanya, bahkan konsep qimen dan dunjia sendiripun gak jelas, tapi eksyen serunya nyaris gak putus. Haha.. Gak ketebak banget ceritanya.

192. Merah Putih Memanggil
Nonton di penerbangan GA659. Terlalu banyak hal yang bisa jadi bahan kritik dari segi plot, akting, syuting, penceritaan, hingga prosedur, taktik dan strategi militer, tapi berpikir positif saja kalo ini film propaganda tentang pasukan berani mati (atau operasi khusus) TNI, jadi nikmati dan pahami saja kenapa begitu. πŸ˜‰

193. Ocean’s Eight
Kaget juga Danny Ocean sudah tiada. Film menyenangkan. Heist mulus tanpa drama atau khianat –suka film yang hemat emosi-, sedikit tema royalty, plot twist jenius, dan banyak wanita mempesona, baik para pemeran maupun cameo. Anna Hathaway is so lovely, juga Sarah Poulson, dan tentu Sandra Bullock yang begitu kalem.

194. Ant-Man dan the Wasp
Cerita Superheroes ringan dan lucu, bahkan musuhnya pun gak jahat. Tiap karakter kebagian porsi cukup untuk melawak dalam cerita. Suka chemistry Scott dan Hope. Keseluruhan eksyen dengan banyak jurus membesar dan mengecil makin menarik, juga perkelahian dengan Ghost.

195. Fathers and Daughters
Gak paham kenapa mahasiswi jelita PhD psikologi masih bergantung pada one night stand tuk mengobati haus kasih sayang tapi takut terikatΒ relationship. Timeskip kedua timeline kejauhan. Melodramanya menyentuh menghangatkan hati menggugah simpati tapi juga receh.

Keep on reading!


JenSen99 is

I got a heart full of pain, head full of stress, handfull of anger, held in my chest. And everything left’s a waste of time~
Oktober 2019
M S S R K J S
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip

Lapak Berkicau

Follow me on Twitter

Iklan